
Asmara dan Alfano menikmati malam pernikahan pertama mereka di rumah dan kamarnya masing masing.
Pukul 5 pagi, Alfano sudah memesan taxi online menuju bandara untuk terbang ke Jakarta. Pria itu sengaja pesan tiket pagi agar tidak terlalu siang sampek perusahaannya yg udah ia tinggal bolos kemarin.
Meskipun Jaka tidak menghubunginya karena kerjaan tapi Alfano sebagai CEO merasa pekerjaannya banyak tertunda karena acara nikah dadakan.
Asmara yang juga sudah bangun subuh, mendengar ada suara mobil taxi berhenti didepan rumah suaminya. Ia mengintip dari jendelanya dan melihat Alfano sambil membawa koper kecil masuk ke taxi itu tanpa pamit langsung padanya meskipun ya tadi malam Alfano sudah pamit.
"Hmmm, meskipun dia tadi malam dah infoin aku kalau mau balik pagi , tapi kenapa melihat dia pergi gitu aja hatiku gak seneng?" lirih Asmara ketika taxi yang ditumpangi Alfano mulai jalan dan meninggalkan kawasan rumahnya.
"Ah biarin, bodoh amat. Dia pergi , nggak ngaruh dihidupku" ucap Asmara berusaha cuek lalu ia kembali ke kamar dan tidur lagi karena merasa ngantuk.
Di dalam taxi, Alfano juga tertidur hingga dibangunkan drivernya saat sudah sampek. Pria itu langsung bangun dan membayar taxi lalu berjalan masuk ke pintu keberangkatan bandara.
Ketika pesawat yang ia tumpangi lepas landas, Alfano tiba tiba teringat wajah Asmara yang sedang tersenyum dengannya sambil mengelus elus perutnya.
"Wanita itu memang gak mau lepas dari pikiranku. Balasan atas kesalahanku , masa dia ganggu aku terus deket atau jauh dari dia. Hmm" keluh Alfano mencoba mengalihkan pikirannya dengan menidurkan dirinya ketika pesawat sudah terbang.
Tidak sampai 1 jam, Alfano sudah sampai di Jakarta dan asisten setianya Jaka , sudah menjemput sang bos.
"Hellooo, bos yang baru aja nikah. Gimanaa rasanya babak belur di tangan mertua sendiri" sapa Jaka sekaligus mengejek Alfano yang masih terlihat memar wajahnya meskipun tidak separah kemarin setelah dikasih salep dan minum obat anti nyeri.
"Oh gini sambutanmu sama bosmu?" sindir Alfano.
"Hahahhahaa, kemarin aku gak bisa sindir kamu kayak gini atau mau bela juga gak bisa karena siapa aku jadi aku tau posisi lah. Dan memang wajar sih kalau kamu dapet pukulan dari Pak Wawang, ayah mana yang terima anaknya diperlakukan tidak baik sama orang yakan? Untung aja Bu Asih baik hati menghentikan suaminya" ucap Jaka sambil berjalan membawa koper kecil Alfano menuju parkiran mobil.
"Udah deh, Asmara mulu. Capek aku dengernya. Sekarang tugas lu adalah jadi asisten gue ya. Kalaj kamu mau jadi temen, please jangan bahas wanita itu lagi. Biarkan aku beberapa hari ini kerja mengejar ketinggalan ku kemarin bolos , sebelum harus balik ke Bandung weekend ini" sahut Alfano dengan nada tak bertenaga.
Jaka hanya tertawa kecil melihat Alfano seperti memang frustasi memikirkan hidup dan kerjaannya secara bersama.
Lalu tak dirasa mereka ngobrol hal lainnya sampai tiba tiba berada di parkiran mobil mewah khusus tamu VIP bandara.
Alfano langsung masuk mobil , sedangkan Jaka menaruh koper milih bosnya dulu baru duduk di bangku driver dan menjalankan mobil mewah milik CEO Batu Bara menuju perusahaan langsung karena pagi pagi males mendapatkan ceramah atau omelan dari mami dan kembarannya.
__ADS_1
Sesampainya di perusahaan batu bara, Alfano langsung masuk kamar di ruangan kantornya dan mandi. Jaka yang sudah berpakaian rapi sebelumnya hanya tinggal pakai jas yang ia letakkan di mobilnya yang ia parkir di perusahaan.
Pagi hari ini Alfano dan Jaka akan menghadiri banyak meeting yang tertunda dari kemarin. Hingga Alfano tidak sempat makan siang dan kelaparan menjelang sore. Dan tadi pagi pun ia hanya minum susu dan sereal yang ada di kulkas kamar dalam ruang kantornya itu.
"Jaka, aku laper banget. Tolong beliin Pecel nasi double sama telur ceplok ya" suruh Alfano ketika break meeting kepada Jaka.
Jaka pun heran tumben tumbenan , Alfano pesan nasi double gitu. Tapi yasudahlah , namanya juga bos bisa minta semaunya.
"Iya, Pak Alfano yang terhormat" sahut Jaka lalu keluar ruangan CEO Batu Bara.
Disela sela menunggu makanannya datang, ia melihat ponselnya dan tidak ada notifikasi telepon atau chat dari 'si macan tutul' dari kontak nomor yang ia save.
"Dia bener bener gak butuh aku" gumam Alfano dengan ekspresi datar dan mungkin ada sedikit perasaan kecewa.
"Kok aku kayak nungguin telepon atau chat dari dia sih. Gak mungkin dia hubungi aku dulu. Aku gak usah ngarep. Buat apa juga kali ngarep dia hubungi loe , Alfano." lanjut Alfano berbicara pada dirinya sendiri.
Alfano pun mengalihkan fokusnya pada layar komputer didepannya dari pada layar hp.
.
Wanita itu memilih untuk bekerja seperti sedia kala dan seperti tidak ada yang berubah dari dirinya kecuali cincin di jari manis tangan kanannya.
"Aku kerja gini , ngerasa lebih baik. Masak buat banyak pelanggan dan beraktifitas seperti semula" batin Asmara sambil memasak masak pesanan yang banyak disiang ini.
Bunga sampek heran melihat sahabatnya itu, jadi pengantin baru langsung ditinggal suami tapi si Asmaranya terlihat senang.
"Memang mereka itu suami istri aneh. Aku dulu sama suamiku, boro boro bisa keluar kamar semenit, ke kamar mandi aja dia ikut. Hadeeeh emang" sindir Bunga dari kasirnya melihat Asmara sibuk memasak di dapur.
Seperti biasa, restuaran enak kabeh sangat rame kalau siang dan menjelang sore , pelanggan sudah berkurang dan kembali rame lagi jika makan malam. Asmara sangat sibuk hingga malam hari baru ia bisa ngobrol dengan Bunga saat Enak Kabeh mau tutup.
"Asmara sini, duduk dulu. Aku mau ngobrol dan wawancara sama kamu sebagai pengantin baru" panggil Bunga kepada Asmara yang baru ganti baju untuk pulang menuju meja kosong restaurannya.
Asmara tersenyum karena mendapatkan panggilan Bunga itu.
__ADS_1
"Nih, udah aku pesenin ke Rahma buat bikinin kamu es blewah" ucap Bunga ketika Asmara sudah duduk didepannya.
"Makasih banyak, bos Bunga. Mau ngomongin apa sih? Biasa aja jadi penganti baru, gak ada yang spesial" ucap Asmara sambil meminum es blewahnya.
"Hahahahahaha, gak ada yang spesial atau memang belum ada yang spesial?" ejek Bunga.
"Gini loh ya. Aku tau kamu dan pria itu nikah karena terpaksa bener nggak? Terpaksa boleh tapi yang enak enak itu ya tetep dilakuin dong" lanjut Bunga berniat menyindir Asmara.
Asmara mengerutkan dahinya mendengar ejekan dan sindiran dari sahabatnya itu.
"Maksudmu hubungan itu?" tanya Asmara dengan raut wajah datar.
"Ya iya dong. Udah sah, kalian mah bebas lakuin apalagi kalau kamu lagi hamil, udah deh rasanya itu ada sensasi lain yang wajib kamu coba" jawab Bunga sambil mengedipkan matanya menggoda.
"Emang pemahamanmu soal nikah cuma karena gituan aja ? hah? Ya kali kalau gak gituan jadi kayak gak nikah. Aneh aneh ajaa. Kamu udah nikah bertahun tahun loh yaaaa tapi kok pikiranmu itu ajaa. Aku yang heran kali ini sama cara pikirmu" sahut Asmara dengan raut muka mulai kesal, tapi Bunga biasa aja dan masih ingin menggoda wanita hamil didepannya.
"Hahhaha, karena hubungan suami istri itu berlaku sampek kita tua jadi aku nikah baru beberapa tahun ya masih panas panasnya lah kan aku sama suami masih muda haha. Dan yang lebih bikin aku heran, masa si Alfano itu gak mau menyentuhmu lagi padahal bisa ia lakukan lebih bebas daripada malam di mobilnya hahahhahahaa" tawa Bunga makin pecah untuk meledek Asmara dan membuat wanita yang ia ajak ngomong capek diledek terus lalu memilih untuk berdiri.
"Daripada kamu ejek terus, mending aku pulang aja. Istirahat" sahut Asmara dengan ekspresi kesal pada Bunga.
Bunga merasa berhasil menggoda Asmara lalu ikut berdiri dari duduknya dan berlari memeluk Asmara.
"Maaf maaf. Sebenarnya aku senang kalau pada akhirnya pria itu mau tanggung jawab sama kamu dan si kembar. Aku cuma mau memastikan aja kamu bisa bahagia dengan pernikahan ini meskipun ya aku yakin gak semudah itu dengan masa lalu kalian yang kayak begitu. Kamu jangan marah yaaa" ucap Bunga dengan lembut dan mencoba meluluhkan hati Asmara agar tidak kesal lagi.
Asmara mengerti niat baik sahabatnya, makanya ia menerima pelukan dari Bunga dan merubah raut wajah keselnya jadi senyum.
"Iya, Bun. Aku tau kamu bercandaaa. Aku juga tau niat baikmu untukku. Aku anggap ini kamu ngasih saran buat aku segera gituan sama dia gitu ya biar lebih sah nikahku sama dia. Tapi kalau pun dia mau ya ngelakuin lagi sama aku karena sebenarnya entah sejak kapan perasaan trauma kejadian bermalam dengannya sekarang kayak samar samar gitu. Terus kalau dia nyentuh aku , aku juga udah gak terlalu takut malah jadi kesel aja deket dia" jelas Asmara mengenai perasaaanya pada Alfano ketika berpelukan dengan Bunga yang sontak membuat Bunga menjauhkan pelukannya dan melihat mata Asmara.
"Kamu serius udah gak trauma lagi sama dia? udah gak benci? secepat itu kah perasaan bencimu jadi cinta, Asmara?" tanya Bunga dengan tatapan tak percaya.
"Apaan sih nyebut nyebut cinta. Gak benci lagi bukan berarti cinta kali, Bun" elak Asmara.
"Iya bukan berarti cinta tapi menuju kesana. Wah wah wah, kalau kebanyakan wanita korban perkaos dinikahkan sama tersangka terus jadi pemaaf dan luluh hatinya, Bahaya nih, penjara buat tersangka perkaod kosong" ejek Bunga lalu Asmara refleks memukul lengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aaaakh sakit tau! Jadi istri orang makin galak aja" seru Bunga dengan canda.
Mereka pun tertawa bersama hingga para karyawan keluar dari ruang istirahat setelah berganti baju untuk pulang. Akhirnya bersamaan dengan karyawan mereka pulang, para bos ikut pulang dan Bunga mengantar Asmara ke rumahnya.