
Benar seperti yang dikatakan Bu Lian, jika mengukir inisial hanya akan memakan waktu 10 menit malah kali ini mungkin 8 menitan, Bu Lian sudah datang membawa sepasang cincin dengan inisial A didalamnya.
"Cepet amat, Jeng. Memang Rumah Perhiasan Berlian , terbaik!" seru Bu Laras ketika melihat Bu Lian berdiri didepannya dan menunjukkan 2 cincin yang sudah tertulis inisial A seperti yang diminta Alfano.
"Bagus banget. Rapi lagi. Meskipun cepat tapi kualitas perhiasan dari Tante Lian memang tidak diragukan lagi" celetuk Alfani yg segera melihat cincin yang dibawa Bu Lian padahal dia tadi masih berkeliling mencari perhiasan yg ia inginkan disekitar ruang tamu.
"Alhamdulillah, memang kita mengutamakan kecepatan namun kualitas yang terbaik" sahut Bu Lian dengan senyum.
Alfano pun ikut tersenyum puas melihat cincin yang ia akan gunakan untuk pernikahannya besok lusa.
"Gimana, suka dengan cincinnya Alfano?" tanya Bu Laras memastikan.
"Suka banget mi, makasih ya" jawab Alfano bahagia.
"Sama sama. Mami pingin kamu ngasih yang terbaik untuk Asmara" sahut Bu Laras.
Cincin nikah sudah didapat, tinggal Alfani yang memilih perhiasannya.
"Cepetan, aku mau kerja nih" celetuk Alfano ketika sudah 10 menit menunggu saudaranya itu keliling rumah perhiasan berlian didampingi Bu Lian dan Bu Laras sedangkan dia duduk di ruang tamu sambil memegang kotak perhiasan berisi cincinnya dan cicin istrinya.
"Sebentar dong, sabar" sahut Alfani cuek.
Tak lama kemudian, wanita itu menemukan kalung emas cantik dengan liontin berlian putih dengan inisal R dan ia terkesima dengan desain pada kalung itu.
"Tante, aku mau kalung itu. Yang ada inisal R nya sama kalau ada aku juga minta inisial A juga ya tp yang modelnya sejenis" minta Alfani.
"Pasti R itu Rama ya?" tebak Bu Laras dengan senyum smirk.
"Iya dong mami. Doakan kita segera ke pelaminan , nyusul Alfano sama Asmara dan ngasih mami banyak cucu" sahut Alfani dengan bahagia membayangkan wajah Rama dan imajina berkeluarga dengan pria itu.
"Iya, mami doain yang terbaik untuk kamu sayang. Anak mami baik pasti dapet suami yang baik malah lebih baik. Lihat aja Alfano tuh dia yang baik tapi dapet istri yang lebih baik dari dia" ucap Bu Laras sambil menyindir putranya. Alfano hanya diam saja dan senyum menatap kotak perhiasan yg ia bawa. Apa yang diomongkan maminya itu benar, Asmara jauh lebih baik dari dirinya.
Akhirnya, kalung Alfani sudah ia dapatkan dengan liontin RA menggantung di kalung itu. Bu Laras langsung membayar menggunakan black card miliknya. Biasa orang super kaya mah mainnya bukan cek lagi tapi atm berwarna hitam yang terkenal unlimited limitnya, katanya sih soalnya author belum pernah lihat langsung apalagi megang đ
Setelah mendapatkan perhiasaan yang anak anaknya pilih, Bu Laras mengajak Alfano Alfani untuk berpamitan kepada Bu Lian sebelum pulang dan mengantar Alfano ke kantor terlebih dahulu.
Di tengah perjalanan , Alfano menyadari maminya cuma mengantar dia dan saudaranya beli perhiasan tapi maminya itu gak beli.
"Mami" panggil Alfani yang duduk disebelah driver.
"Iya sayang?" sahut Bu Laras.
"Mami gak beli perhiasan tadi? Cuma beliin kita aja?" tanya heran Alfano.
Bu Laras pun tersenyum namun Alfani ikut menyadari hal itu.
"Tenang, mami mah udah punya banyak perhiasan dari papi mu dan itu adalah perhiasan berharga untuk mami. Sekarang kalau beli lagi meskipun harganya lebih mahal tapi bagi mami tidak sebegitu berarti daripada pemberian papi kalian" ucap Bu Laras dengan memaksakan senyum karena ia merindukan suaminya itu.
Alfani dan Alfano pun saling tatap dengan tatapan sendu juga.
"Maaf mami. Kita juga merindukan papi" ucap Alfano.
"Iya mami. Besok pagi apa kita mampir ke makam papi ya sebelum malamnya ke Bandung?" ajak Alfani tiba tiba.
"Boleh juga tuh. Gimana mami mau?" tanya Alfani dengan penuh harap.
Karena tidak ingin mengecewakan anak anaknya dan menutupi kesedihan serta kerinduannya pada sang suami, Bu Laras pun mengiyakan ajakan Alfano.
"Oke, besok pagi kita ke makam papi" jawab Bu Laras dengan senyum manisnya.
Mereka pun melanjutkan obrolan kecil mengenai persiapan apa saja yg perlu dibawa ke Bandung besok malam.
.
Terlalu asiknya memilih perhiasan tadi, Alfano sampai lupa mengecek hp nya yg ia silent. Memang kebiasan pria ini hp nya di silent jadi kalau ada panggilan di hp nya tidak bergetar atau bersuara.
"Astaga! Asmara!" teriak Alfano yang bikin Bu Laras dan Alfani kaget.
"Ada apa ? Kenapa Asmara?" panik Bu Laras.
__ADS_1
Alfano yg buru buru mengambil hp di saku jasnya belum bisa menjawab kepanikan maminya. Setelah mendapatkan hp ditangannya ia langsung membuka layar dan melihat 10 panggilan dari Macan Tutul dan 10 pesan dari orang yg sama hampir 2 jam yang lalu.
"Maafin aku, Asmara. Lupa banget aku" gerutu Alfano pada dirinya sendiri.
Bu Laras pun makin panik dan langsung memegang pundak Alfano yg duduk didepannya hingga wajah putranya itu menghadapnya.
"Ada apa Alfano? Kok panik gitu? Asmara kenapa?" tanya Bu Laras tak bisa membendung kekhawatirannya.
"Aku lupa tadi kita udah janjian teleponan, tapi karena aku menikmati momen sama Mami dan Alfani terus milih perhiasan lagi jadi lupa. Aku silent lagi hp ku" ucap Alfano penuh penyesalan.
"Emang dasar! Kebiasaan hp nya disilent! Aku harap menantu mami gak kesel sama kamu" sahut Bu Laras ikut kesel mendengar cerita Alfano.
Alfani hanya bisa geleng geleng kepala mengetahui sikap kembarannya itu yg suka silent hp kapanpun , kecuali memang sudah disuruh matiin silentnya dalam kondisi tertentu.
Setelah mendapatkan omelan dari maminya, Alfano langsung mengalihkan pandangannya ke hp nya lagi. Ia buka pesan Asmara terlebih dahulu biar tau kondisi dan suasana yang akan ia hadapi.
-Pesan Asmara-
(1)
"Mas , kamu kemana lagi sih kok susah banget ditelepon? âšī¸"
(2)
"Mas, bener bener ya. Aku telepon kamu udah 5 kali tapi gak kamu jawab jawab, katanya kalau aku habis mandi suruh telepon kamu. Eh kamunya gak bisa ditelepon đ"
(4)
"Ih beneran ya, kamu bikin kesel aku pagi pagi. Kalau semisal nyuruh nyuruh tapi akhirnya kamu gak ngelakuin apa yg seharusnya kamu lakuin ya percuma aja dong đ"
(5)
"Udah jam 8 pagi kamu juga belum angkat teleponku, Mas? Where are youuuuuu? Maaaaas Alfanoooooo !!!! đđđ"
(6)
"Beneran ya, kalau jam 10 pagi kamu belum telepon balik, aku akan tetap belanja ke supermarket. Yang penting aku udah izin kamu dan kamu tadi udah izinkan aku. Tapi beneran mas, aku kesel kalau diingkari janji atau kesepakatan gini đ"
"Mas, apa mami ngajak kamu pergi ke hutan ya sampai teleponku nggak kamu angkat? Katanya mami ngajak kamu pergi, kemana? Jangan bikin aku kepikiran dong đĨ"
(8)
"Aku mau telepon mami atau Alfani malu takut dikiranya aku istri yang gak percaya suami atau posesif ke kamu. Kamu buat aku khawatir tau nggak sih, Mas. Please jawab dong teleponku yg udah ke 9 ini atau jawab chatku deh, terus lanjutin lagi aktifitasmu"
(9)
"Udah ya, ini udah jams set 9. Aku udah manggil kamu 10 kali tapi gak kamu jawab. Kayaknya aku memang harus belanja ke supermarket jam 10 nanti. Aku harap kamu segera bales chatku atau telepon balik sebelum aku berangkat belanja biar tenang, Mas"
(10)
"Aku kesel sama kamu, Mas! Aku gak nyangka kamu akan secuek ini sama aku yg lagi hamil 2 anakmu. Awas aja kalau ketemu ya, kamu gak boleh pegang perutku! đĄ"
-Pesan Selesai-
Semua pesan Asmara sudah terbaca oleh Alfano dan membuat pria itu ketakutan sendiri dan merasa bersalah karena sudah melupakan panggilan dengannya. Tepat selesai membaca 10 pesan itu, Pak Broto sudah menghentikan mobil yg ia kendarai di depan lobby perusahaan Batu Bara.
"Den, udah sampek" panggil Pak Broto kepada anak majikannya yg sedang serius menatap hpnya.
"Alfano, udah sampek. Segera turun! Mami pokoknya gak mau tau kalau Asmara marah atau kesel sama kamu, urus sendiri! Sana kerja sana" suruh Bu Laras dengan kesal mengingat sikap Alfano yang terlihat tidak tanggung jawab.
"Hmm , iya mami. Salim dulu" sahut Alfano lemas karena udah merasa bersalah dapet omelan dari maminya lagi.
Bu Laras dengan kesalnya tetap mengulurkan tangannya agar dicium putranya sebagai tanda bakti. Setelah itu, Alfano langsung turun mobil mewah Alpard milik Bu Laras sambil membawa tas kerjanya. Mobil itu langsung meluncur keluar perusahaan setelah menurunkan Alfano.
"Biarin Alfano mengurus rumah tangganya sendiri, mami tenang aja ya" ucap Alfani menenangkan maminya.
"Hmmm, kakakmu itu emang. Yaudah , mami percaya dia akan menyelesaikan kesalahannya dengan baik. Kamu hari ini nggak kerja? Kalau nggak kerja ikut mami renang terus jalan ke mall buat beli baju couple kita dan keluarga Asmara besok. Biar keluarga kompak gitu" ajak Bu Laras yang moodnya menjadi baik lagi ketika mengajak Alfani shopping dan renang sebentar mendinginkan kekesalannya.
"Hari ini aku libur mami, khusus nemenin mami. Tapi besok setelah dari makam papi, aku harus segera ke proyek dan mungkin sampai malam tapi bisa nyusul pesawat ke Bandung" sahut Alfani.
__ADS_1
"Oke, kita meluncur ke sport gym swim Pancoran ya Pak Broto" minta Bu Laras.
"Siap, nyonya" sahut Pak Broto yang sudah tau lokasinya karena setiap minggu hampir kesana untuk mengantar Bu Laras renang kadang dengan teman teman atau group sosialitanya atau sendiri juga sering.
.
Kembali ke perusahaan Batu Bara, saat tadi sudah masuk lobby perusahaan, Alfano langsung menelepon istrinya namun gantian tidak mendapatkan jawaban.
Ia mengirim beberapa pesan untuk meminta maaf kepada Asmara dan menyuruh istrinya itu mengangkat teleponnya.
-Pesan Alfano-
"Sayang, maafin mas dong. Kebiasaan kalau hp aku silent. Please, jangan marah. Tadi mami ngajak aku ke suatu tempat untuk membelikanmu sesuatu sebagai kejutan. Jangan marah ya. Angkat telepon ku"
-Pesan selesai-
Asmara yang saat ini sedang kesal tapi ia netralkan dengan menonton film di tv ruang santai rumahnya pun mengalihkan pandangannya mendengar suara pesan masuk di teleponnya dan ternyata pesan dari suaminya. Dari tadi memang 3 panggilan Alfano ia abaikan sebagai tanda kekesalannya. Namun setelah membaca pesan itu, ia pun menunggu Alfano menelepon lagi dan berniat akan menerimanya.
Dan tak lama kemudian dari pesan yang ia baca, Alfano melakukan panggilan ke 4 dan diterima Asmara.
"Alhamdulillah, kamu angkat sayang" ucap Alfano lega namun beberapa detik setelah ia menyapa istrinya itu , belum juga ada balasan suara dari hp yg ia letakkan di telinganya.
"Asmara, sayangku. Please jangan marah dong. Beneran aku lupa dan hari ini mami sangat melow bahas papi jadi aku berusaha menikmati momen bersama mami dan Alfani. Ayolah balas omonganku sayang" lanjut Alfano dengan suara pasrah dan penuh harapan.
Asmara yang bisa mendengar suara suaminya yg lemah dan merasa bersalah itu pun akhirnya bersuara.
"Awas aja ya kalau kamu nyuruh aku telepon kamu terus kamu nggak angkat sebelum ada pemberitauan, aku jadi khawatir tau gak sih mas? Takut kamu kenapa kenapa karena awalnha nyuruh telepon eh gak diangkat. Ya karena pagi ini memang kamu nemenin mami, aku maafin" sahut Asmara dengan nada kesal dan tegas.
"Makasih sayang. Aku jadi bisa konsen kerja kalau begini. Videocall bentar yuk, 10 menit terus udahan karena aku akan meeting jam set 10 dan kamu juga katanya mau ke supermarket jam 10 pagi. Yuk videocall" ajak Alfano lalu ia menekan gambar peralihan video.
Ia hadapkan layar hp nya dan menampakan wajah cantik Asmara meskipun masih dengan wajah cemberut.
"Cantik amat, istriku kalau cemberut tapi lebih cantik lagi kalau senyum sama aku dong" rayu Alfano.
Asmara masih mempertahankn ekspresi kesalnya. Alfano pun tidak memaksa istrinya itu untuk tersenyum padanya karena tau kekesalan yg wanita itu rasakan.
"Nanti jadi beli kasur lipat berapa sayang?" alih pembicaraan Alfano dengan memberikan senyuman tampan.
"Jangan senyum, Mas. Bikin aku kangen kamu aja" celetuk Asmara dengan wajah cemberut tapi terlihat makin lucu.
"Yaudah aku senyum aja kalau gitu biar kamu kangen aku" goda Alfano sambil tersenyum smirk.
"Kalau aku kangen daddy twins, nanti aku paksa dia buat datang dihadapanku sekarang juga" ancam Asmara.
"Yaaah, kok gitu sih sayang. Daddy twins masih kerja buat kalian, sabar yaaa. InshaAllah lusa udah ketemu kita. Jawab dulu dong, berapa kasur lipat yang kamu mau beli, sayang?" tanya Alfano lagi.
"Hmm, mungkin 3 Mas. Untuk Rani Rian, untuk Jaka dan mungkin untuk kita hihi. Oh ya, mami bawa keluarganya juga nggak Mas? Kayak pakde bude atau om tante kamu?" tanya balik Asmara yang sudah terlihat normal kembali ekspresi wajahnya.
"Kalau semisal kamarnya nanti kurang biar aku tidur di kasur lipatnya aja, kamu sama mami dan Alfani. Ya mana tega aku kamu tidur di kasur lipat dibawah, mending aku bookingin semuanya di hotel aja" jawab Alfano serius mendengar jika dirinya dan Asmara akan tidur di kasur lipat.
"Bercanda mas, lagian keluarga juga pasti gak bolehin pengantin baru tidur di kasur lipat apalagi aku nya juga hamil. Jangan serius gitu ih" sahut Asmara jadi takut dengan nada serius suaminya.
"Hmm, nah itu masa mereka tega buat kita tidur mengumbar kemesraan di ruang terbuka haha. Soal keluargaku yg mau ikut, Mami sih belum bilang apa apa sama aku, tapi kayaknya cuma Alfani sama Jaka aja deh karena kelurga besar kita kebanyakan di luar kota dan ada yg di Australia, Jepang, Amerika. Jadi kalau mau ajak mereka gak bisa ndadak" lanjut jawab Alfano dengan nada lembut lagi yang masih setia menatap istrinya dengan damba.
Asmara yg menyadari tatapan suaminya itu terlihat penuh cinta pun jadi tersipu malu dan menjauhkan posisi hp nya makin jauh dari wajahnya.
"Kenapa dijauhin hp nya, Asmara? Mas gak bisa lihat wajahmu deket dong?" tanya Alfano heran.
"Gapapa, aku suka kalau kamu lihat aku dengan posisi ini" bohong Asmara karena ia tidak ingin suaminya tau jika ia malu dengan tatapan Alfano yang membuat jatungnya berdebar kencang.
"Yaudah senyaman kamu sayang. Besok lusa aku akan memuaskan diri untuk menatapmu dengan dekat sekali" goda Alfano lagi membuat Asmara bereskpresi kesal menutup kegugupannya.
"Yaudah mas udah mau jam set 10 , semenit lagi. Aku izin ke supermarket yaaa, kamu ada titipan cemilan atau minuman?" tanya Asmara mengalihkan obrolan.
"Hmmm, aku mau snack Lays rumput laut yg jumbo yaa. Aku suka banget keripik kentang itu. Sama minumannya aku mau jus buavita jambu biji. Itu aja sayang" jawab Alfano.
"Oke, Mas. Nanti aku beliin. Aku pamit dulu ya, selamat bekerja sayang" ucap Asmara sambil memberikan kecupan jauh untuk suaminya dengan ekspresi sudah tidak kesal atau marah malah membalas senyuman suaminya yg dari tadi tersenyum padanya.
Alfano pun membalas kecupan jauh Asmara dan berkata sesuatu sebagai penutup sebelum panggilan itu selesai.
__ADS_1
"Bye bye sayang, I love you Asmara" ucap Alfano dan disenyumin oleh Asmara lalu panggilan itu tertutup.
"Tatapan Mas Alfano tulus banget. Beda sama tatapan dia di mobil itu. Apa ketika aku memberikan haknya dari tubuhku ini, ia akan memandangkanku seperti ini atau kembali penuh nafsu dan hasrat yg menyakitiku, membutku takut meskipun ya lama kelamaan terasa enak juga tapi aku tidak suka tatapan menakutkan itu. Semoga, kejutanku untuknya ketika kita sudah menikah mendapatkan tatapan seperti hari ini" lirih Asmara sambil menatap wallpaper hpnya yang menampakan selfie dengan Alfano ketika sebelum suaminya itu pergi ke Bandara dengan mertuanya hari senin pagi kemarin.