BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Pengakuan


__ADS_3

#FLASHBACK - pertemuan 2 keluarga#


Sebelum Bunga masuk ke ruang tamu mengikuti keluarga Asmara dan Keluarga Alfano yang sudah berada didalam, ia menyuruh salah satu karyawannya untuk menjaga kasir. Tentunya karyawan yang ia percayai yang bernama Rahma.


Setelah kasir diambil alih sementara oleh Rahma, maka Bunga berjalan dengan berat menuju ruang tamu. Pikirannya, ia akan diinterogasi oleh 2 keluarga itu untuk mengetahui keberadaan Asmara dan Alfano saat ini.


"Aduh. Mampus akuuuuu. Pasti aku akan ditanyai oleh mereka. Udah pasti gak bisa bohong" batin Bunga ketika akan membuka pintu ruang tamu.


Setelah memantapkan hatinya dan siap untuk diinterogasi, Bunga membuka pintu ruang tamu dan melihat Bu Laras bersimpuh dibawah kaki Bu Asih yang sudah menangis dan Pak Wawang yang wajahnya begitu kusut seperti meminta ampun. Namun ada Alfani dan Jaka disamping Bu Laras untuk meminta wanita paruh baya itu segera berdiri.


Bunga mendekat berlahan dan mengamati situasi.


"Mohon maafkan anak saya, Pak Wawang dan Bu Asih. Saya sangat bersalah karena tidak bisa mendidik Alfano. Anak itu memang tidak tau bertanggung jawab. Saya taunya Asmara sudah menikah sehingga saya tidak bisa meminta Alfano untuk bertanggung jawab namun saya paksa anak itu untuk bisa mendapatkan maaf dari Asmara. Saya kira juga, Asmara hamil anak suaminya" kata Bu Laras dengan deraian air mata.


"Apa Asmara hamil? Ibu bilang dia sudah menikah?" tanya Pak Wawang terkejut. Ia sebagai ayah tidak tau hal penting itu karena setiap kali video call dengan Asmara, memang tidak pernah terlihat seluruh tubuh putrinya.


Bu Asih hanya bisa menangis saja mengetahui jika putrinya sudah disakiti begitu parah oleh seorang pria tak bertanggung jawab.


"Saya mengetahui bahwa Asmara sudah menikah dan hamil anak suaminya dari Jaka, asisten Alfano yang berbicara langsung dengan Asmara. Mbak Bunga juga mengatakan jika Asmara memang sudah menikah. Betul ya Mbak Bunga?" jelas Bu Laras lalu menatap Bunga yang berdiri agak jauh disampingnya.


"Apa? Kok kamu bisa berbohong seperti itu Bunga? Dan bagaimana kamu bisa ikut menyembunyikan keadaan Asmara pada kami?" tanya Pak Wawang dengan menahan amarah.


Bunga terdiam dan menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Jawab mereka, Bu Bunga. Jelaskan pada mereka apa yang kamu ketahui tentang Asmara dan bagaimana keadaanya hidup sendiri selama hampir 5 bulan. Katakan juga jika kamu berbohong terkait pernikahan Asmara untuk membuat Alfano jauh darinya" sela Jaka yang membuat Bunga akhirnya memberanikan diri membuka suara. Wanita itu juga tidak mau disalahkan dan dianggap sebagai pembohong pada para orang tua.


"Maafkan saya. Saya akan menjelaskan semuanya pada kalian" ucap Bunga dengan nada sendu.


Akhirnya Bunga menceritakan apa yang dialami oleh Asmara sejak tinggal di rumah kontrakan, membuka restauran, dan bertahan hidup sendiri hingga akhirnya datanglah Alfano untuk meminta maaf. Tapi Bunga belum menceritakan keberadaan Alfano dan Asmara, karena hanyut menceritakan keadaan Asmara selama ini.

__ADS_1


Para orang tua tercengang mendengar cerita Bunga. Bu Laras sebagai ibu Alfano benar benar merasa gagal mendidik anak laki laki pewaris keluarganya itu.


Bunga ikut menangis karena merasa bersalah menyembunyikan kehamilan dan memberikan ide untuk memalsukan status pernikahan Asmara. Ia hanya sebagai sahabat yang ingin melindungi Asmara dari pria yang telah menyakitinya.


Soal ia ikut menyembunyikan kehamilan Asmara, karena sebenarnya ia tidak berhak memberitaukan kehamilan itu pada keluarga Asmara karena bukan wewenangnya. Bunga juga bilang pada semuanya, jika kehamilan Asmara memang niat disembunyikan oleh wanita hamil itu dari keluarganya sampai ia siap menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Bu Asih dan Pak Wawang hanya bisa saling menguatkan. Rani dan Rian juga ikut duduk di samping ayah ibunya dan memeluk mereka. Keluarga Asmara memang begitu hangat, saling menguatkan dan memberikan dukungan.


Sama hal nya dengan Bu Laras yang akhirnya mau berdiri dari simpuhannya dihadapan orang tua Asmara dan duduk di kursi yg masih kosong lalu dipeluk oleh Alfani. Jaka hanya bisa mengelus punggung ibu dari sahabatnya itu.


Ruang tamu restauran Enak Kabeh menjadi ruangan penuh kesedihan. Namun tiba tiba, ponsel Bu Laras berbunyi dan menampilkan nama 'Lana temen SMA'.


"Ngapain si dokter telepon ya? Gak tau apa lagi kondisi urgent begini. Hmm yasudahlah mungkin ada yg ingin dia omongin" batin Laras sambil mengusap sisa air matanya.


Karena penasaran, ia angkatlah telepon itu.


"Halo, Lan. Ada apa tumbenan telepon sore sore begini?" sapa Laras to the point dengan suara yg agak serak khas habis nangis.


"Hmmm, aku lagi gak bisa bercanda sekarang. Ngurusin urusan anakku yg bikin aku nangis nangis didepan orang tua seorang wanita" ucap Laras sambil curhat pada Dokter Lana yang ternyata memang mereka berdua itu temen deket waktu sekolah sampai kuliah tapi ketika masing2 sudah menikah , mereka memiliki kehidupan berbeda. Namun akhir akhir ini memang grup SMA mereka sedang aktif lagi jadi mereka deket lagi.


Dokter Lana tertawa terbahak - bahak , hingga membuat Laras heran.


"Hahahahahahahaha. Kok bisa pas, aku ini juga mau cerita soal anak cowok mu itu. Baru aja aku bertemu sama dia barengan wanita hamil" ucap Dokter Lana membuka kejutan untuk Laras.


"Apaaa??? Memang kamu tau wajah anakku?" tanya Laras dengan terkejut.


"Ya taulah. Dia adalah CEO muda perusahaan Batu Bara. Kamu sama suamimu keren bisa ngedidik anak sampai sukses begitu karirnya, tapi maaf ternyata dia salah langkah soal mengejar cinta hahaha" jawab Dokter Lana awalnya memuji Laras dan mendiang suaminya eh tiba tiba dijatuhkan dengan fakta yang ada.


Laras sampai berdiri karena tidak sabar menanyakan keberadaan Alfano dan siapa wanita hamil yg bersamanya.

__ADS_1


"Cepetan, Lan. Ceritakan dimana kamu ketemu sama dia dan siapa wanita hamil itu. Aku nyariin dia dari tadi siang sampek sore nggak ketemu" ucap Laras dengan kesal.


"Sabar sabar. Aku ketemu dia di rumah sakit umum Bandung. Dia berperan sebagai suami yang sayang istrinya sedang hamil. Tapi aku udah curiga soal hubungan mereka, karena kamu aja gak pernah ngirim undangan nikah anakmu yang seorang CEO , jadi kapan nikahnya? Masak CEO dan anak dari Bu Laras gak dirame rame ? Jadi aku bisa nyimpulkan anakmu telah salah langkah diawal tapi belum tentu salah terus langkahnya" jelas Dokter Lana sebagai pembuka.


"Terus? Ceritamu ini jangan dipotong potong dong. Semoga wanita hamil yang kamu maksud bareng Alfano itu bernama Asmara, bener nggak?" tanya Laras tidak sabaran.


"Hahahaa. Tebakanmu bener. Wanita itu bernama Asmara" jawab Dokter Lana dengan suara tawanya yg khas.


Bu Laras yang merasa lega akhirnya mendudukan tubuhnya lagi. Pak Wawang, Bu Asih dan semuanya pun mengamati gerak gerik Bu Laras karena menyebut nama Asmara.


"Alhamdulillaah, mereka ketemu. Aku belum tau kalau mereka dirumah sakit" ucap Bu Laras dengan nada lebih santai.


"Memang anakmu itu kayak bapaknya, penuh rahasia, bercandaa ya. Aku baru saja melihat berkas rawat inap Alfano, ternyata dia tadi malam kena diare parah terus opname di kamar kelas 1. Yang ndaftarin itu Asmara. Nah tadi siang entah ada insiden apa diantara mereka, Asmara mengalami pendarahan ringan, tapi Alhamdulillah bayinya gapapa. Dan selama wanita itu dirawat, Alfano dengan wajah pucatnya tetap berada disamping Asmara. Kayaknya anakmu itu akan bertanggung jawab. Mereka sudah pantes lah jadi suami istri. Cepetan dinikahkan, aku tunggu undangannya" jelas Dokter Lana lagi hingga membuat Bu Laras menangis bahagia.


Semuanya heran, kenapa tiba tiba Bu Laras menangis tapi dengan senyuman.


"Pasti. Nanti akan aku undang kamu ke Jakarta ya, awas aja kalau gak datang. Terima kasih banyak dokter Lana atas informasi penting ini. Aku benar benar hampir putus asa mencarinya dan menyelesaikan masalah anak itu gimana" ucap Laras.


"Tenang. Anakmu hebat karena ibunya hebat. Jika didepanmu ada keluarga Asmara, yakinkan bahwa Alfano akan menjadi suami yang baik untuk putrinya. Mereka pasti bangga memiliki mantu seperti Alfano" kata Dokter Lana sebagai penyemangat untuk Laras.


"Oh iya, baru saja aku mendapatkan informasi tentang mereka jika mereka sedang mengurus administrasi rawat jalan. Alfano kondisinya masih belum pulih. Ia terlalu banyak kehilangan cairan , aku baca di riwayat pemeriksaannya. Nanti kalau ketemu jangan dimarahi dia. Kalau bisa kamu buat keluarga Asmara juga menerima Alfano serta kehamilan wanita itu. Aku mengira kehamilan Asmara ini masih disembunyikan dari keluarganya? Iya kan? Hahaha" lanjut Dokter Lana memberikan informasi lalu menebak sesuatu dengan tertawa.


"Kamu itu dokter apa peramal sih Lan haha" sahut Laras yang sudah bisa membalas candaan dokter Lana.


"Yaudah, sehat sehat untuk keluargamu. Semoga aja segera ada reunian lagi SMA kita ya atau setidaknya undangan resepsi CEO Batu Bara aja deh" goda Dokter Lana.


"Iya iya. Tenang pasti aku undang. Yaudah, aku mau nyelesein masalah dengan keluarga Asmara. Terima kasih banyak untuk semua info dan bantuannya ya. Lain kali aku traktir bareng istrimu dan anak anakmu. Aku juga bawa keluargaku" ucap Laras.


"Oke ditunggu undangan makan makannya" sahut Dokter Lana.

__ADS_1


Lalu telepon antar teman SMA itu selesai. Eh ternyata, Dokter Lana adalah teman sekolah Bu Laras tooooo 😂


__ADS_2