BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Misi baru


__ADS_3

Setelah melihat Alfano makan habis bersih tak tersisa, Asmara meminta tempat makan yang dibawa suaminya itu untuk ia bawa ke dapur lalu ia berniat mencucinya.


"Tempat makannya sini, biar aku bawa ke dapur sekalian aku cuci" minta Asmara.


"Gak usah, biar aku aja yang nyuci. Tapi kita ke dapur bareng bareng aja sama lihat pintu penghubung yang aku sebutin tadi pagi sama renovasi kecil kecil didapurmu. Ayo ikut aku" sahut Alfano sambil berdiri dari kursi sofa dan berjalan menuju dapur.


Asmara pun ikut berdiri dan mengikuti langkah sang suami.


"Jeng jeng jeng. Ini dia connection doornya. Kamu suka?" tanya Alfano dengan sumringah.


Asmara terpaku dengan pintu terhubung yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang bagus banget inisial A dengan hiasan ukiran lainnya.


Wanita itu tak bisa berkata apa apa ternyata ada pintu seperti ini dirumahnya.


Melihat istrinya bengong dan terpaku dengan pintu terhubungnya, Alfano bertanya lagi.


"Kamu suka ? Atau perlu aku ganti pintunya kalau gak suka?" tanya Alfano.


"Enggak kok. Aku suka. Bagus, gak usah diganti. Tabung aja uangmu buat si twins" jawab Asmara.


"Beneran kamu suka? Alhamdulillah kalau kamu beneran suka. Ini tadi aku pesen ekspress di temenku yang usaha mebel, minta diukiran iniasial nama kita A. Di balik pintu ini juga sama ada inisial A nya. Ya meskipun kita belum ada rasa, boleh lah sok romantis gini hihi" sahut Alfano dengan terkekeh kecil.


Asmara tersenyum mendengar omongan Alfano.


"Kalau terusan kayak gini hubungannya, lama lama kita bener bener jadi suami istri. Aku harus seneng atau takut ya?" batin Asmara bimbang akan perasaanya sendiri. Disisi lain ia senang karena Alfano berubah baik sama dia tapi ada ketakutan untuk disakitin lagi sama pria ini yang emosinya masih labil padahal Asmara juga labil perasaanya, jadi mereka berdua itu masih sama sama labil dengan ketakutan masing masing.


"Hei, bengong aja dari tadi. Udah ngantuk ya? Tidur sana gih. Oh iya belum buat susu hamil? Mau aku buatin?" tanya Alfano yang lagi lagi pertanyaan ini membuat Asmara terkejut dengan perhatian dari suaminya.


"Aku bisa bikin sendiri. Kamu cuci aja tempat makan itu. Terus kamu pulang ke rumahmu sendiri. Udah malem" jawab Asmara mencoba cuek dan bersikap dingin lagi karena menyembunyikan perasaanya bahagianya diperhatiin sama Alfano.


"Oh oke deh" sahut Alfano lalu berjalan menuju tempat cuci piring dan mencuci tempat makan yang ia bawa. Sedangkan Asmara mengambil gelas di rak piring dan membuat susu hamil untuknya.


Beberapa saat , kegiatan mereka selesai. Alfano sudah selesai mencuci tempat makan plus sendok garpunya dan Asmara sudah selesai membuat susu hamil untuknya. Seperti biasa, wanita hamil itu duduk dulu sebelum meminum susunya.


"Mau aku temenin minum susu?" tawar Alfano lagi membuat Asmara tersedak.


"Uhuk..uhuk.." batuk Asmara karena terkejut lagi lagi Alfano memberikan pertanyaan yang menujukkan perhatian pria itu padanya.

__ADS_1


Alfano sontak langsung menghampiri Asmara dan mengambil kan tissue untuk wanita itu.


"Kamu gapapa? Hati hati kalau minum" kata Alfano panik.


"Kamu tuh ya, udah tau aku minum malah ditanya pertanyaan yang aneh gitu. Aku jadi tersedak" omel Asmara malah menyalahkan Alfano.


"Loh , aneh gimana sih? Kan aku nawarin buat nemenin kamu minum susu daripada minum sendirian. Kok bisa dibilang aneh, aku perhatiaan sama twins yaaaa tapi melalui kamu apa gak boleh?" ujar Alfano serius.


Asmara menenangkan dirinya dan tenggorokannya terlebih dahulu baru menyahuti suaminya.


"Maaf. Aku gak biasa kamu perhatiin gini , jadi kaget dapet perhatianmu mendadak" ucap jujur Asmara.


"Hmmm. Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan perhatian yang akan aku berikan, demi twins juga" sahut Alfano yang menjauh dari posisi Asmara menuju pintu penghubung karena ia akan kembali ke rumahnya.


Asmara terdiam tak memberikan balasan kata apa apa kepada suaminya itu dan membiarkan Alfano pulang kerumahnya.


"Apa yang harus aku perbuat? Bisa bisa aku menyukainya lalu mencintainya duluan kalau dia baik gini ke aku? Aku gak siap disakiti lagi kalau aku udah menaruh hatinya padanya" gumam Asmara sambil melihat pintu penghubung dirumahnya itu.


Dengan pikiran yang campur aduk akan perasaanya, Asmara tetap melanjutkan meminum susu kehamilannya hingga habis. Lalu mencuci gelasnya dan masuk ke kamar.


Di rumah sebelah, Alfano sudah merebahkan diri di atas ranjangnya sambil menatap langit langit kamarnya itu.


"Aku telepon Jaka aja deh buat curhat dan ngasih saran. Dia kan pinter banget tuh memahami perasaan" kata Alfano sambil mengambil hp di nakas sebelah ranjangnya.


Tidak lama berdering, panggilan itu terhubung.


"Hello, Jaka" sapa Alfano duluan.


"Hai, Fan. Gimana liburanmu di Bandung udah mulai nyaman?" goda Jaka.


"Ini aku mau curhat dan minta saranmu buat menganalisis perasaanku" kata Alfano jujur.


"Hah? Emang aku psikolog yang bisa analisis perasaanmu. Tapi sini deh aku coba melihat perasaanmu sekarang. Aku juga penasaran banget gimana kabarmu Asmara , kok tumbenan gak ada berita atau keluhan dari kamu haha" sahut Jaka.


"Ya syukurlah, sekarang udah semakin membaik. Tapi aku belum tanya keputusannya lagi buat ngelanjutin pernikahan ini minggu depan secara hukum atau nggak" ujar Alfano.


"Alhamdulillah kalau membaik, ada harapan lah kalian bener bener nikah secara sah hukum dan agama. Tapi kalau dari kamu sendiri, kamu beneran udah siap nikah secara hukum sama wanita itu? Nanti kamu sakitin lagi" ucap Jaka.

__ADS_1


"Hmmm, ya itu yang aku bingungin sekarang. Aku merasa saat ini wanita itu kayak ngasih aku guna guna buat mikirin dia terus. Bikin aku pingin perhatian sama dia tapi perhatiannya aku bilang buat anakku. Aku malu kalau ngakuin , aku juga peduli sama dia. Padahal sebenarnya, aku sendiri memang yang ingin perhatian dan peduli sama dia ya otomatis ke anakku juga sih" jelas Alfano yang membuat Jaka tertawa terbahak bahak di apartemennya.


"Hahahahahahahhaha, cieee Alfano jatuh cintaa" ejek Jaka.


"Ngawur banget sih kamu, Jak. Masa perhatian gitu dibilang udah cinta" kesal Alfano mendengar ejekan sahabatnya itu.


"Beneran, kamu ini udah ada rasa sama Asmara. Ya gapapa kamu sekarang belum menyadari kalau itu cinta, cuma biarin aja sampek kamu nikah sah nanti makin gimana perasaanmu" sahut Jaka sambil terkikih pelan.


"Kalau semisal aku bener bener akan punya rasa cinta sama dia tapi dia gak cinta aku atau akan ninggal aku kayak dilakuin Alexa gimana?" tanya Alfano dengan nada sendu.


"Ya itu konsekuensi mencintai. Tapi kalau kamu berani cinta maka juga berani sakit hati. Aku kira sekarang waktunya kamu lupain jauh jauh si Alexa , ular berbisa itu. Kamu yang sampek saat ini sakit hati sama dia mungkin perasaanmu sama dia itu bukan cinta tapi obsesi yang membuatmu terluka. Kalau kamu cinta dia, gak bakal kamu terpuruk sampek gak mau mencintai wanita lain padahal kamu seorang CEO, tampan, pemuda banyak duit tapi sayang sekarang udah punya istri jadi kurang menggoda lagi hahahaha" saran Jaka yang diakhir dengan olok an kepada sahabatnya yg lagi galau.


"Minta dipotong gaji nih orang" ancam Alfano kesal lagi.


"Ah gak seru, bawa bawa gaji. Profesional dong bos, sekarang kan aku berperan sebagai sahabatmu bukan asistenmu, Alfano" bela Jaka.


"Iya sih hihi, tapi bagiku suami orang lebih menggoda tau. Coba diluar sana, banyak wanita wanita muda yang tergiur dengan uang terus mau jadi simpenan pria yang sudah bersuami" ucap Alfano yang juga membela nilai dirinya dimata wanita.


"Hahahaha. Bener juga. Berarti kamu mencari kesempatan buat digoda wanita lain padahal kamu udah punya istri ?" pertanyaan jebakan dari Jaka.


"No! itu bukan aku. Papiku adalah pria setia sampai akhir hayatnya, aku juga pingin seperti itu" jawab Alfano dengan yakin.


"Yaudah, setia aja sama Asmara dan buktikan kamu seperti papimu" sahut Jaka dengan enteng ngomongnya.


"Hmmm, aku merasa kurang pantas kalau sama dia, Jak. Merasa terlalu banyak nyakitin dia sampai aku aja gak percaya dia bakal ada rasa sama aku" ucap Alfano.


"Kamu tuh pesimis banget soal cinta. Perjuangin dong. Kamu kan suka tantangan. Misimu sebelumnya kan mendapatkan maaf dari dia dan udah kamu dapet dengan menikahinya terus keadaanya juga udah membaik. Sekarang , coba misi mu ganti jadi menaklukan hati istri. Udah deh, kamu akan siap melalui rintangan yang ada" saran Jaka yang dipikir pikir masuk akal.


"Boleh juga saranmu ini. Memang kamu jos markotop jadi bang comblang haha" sahut Alfano sambil tertawa puas karena mendapatkan rencana baru untuk menyakinkan perasaanya.


"Iya dong, Jaka memang Raja wkwk. Pokoknya kalau misimu ini berhasil, jangan lupa bonus ya" goda Jaka.


"Tadi katamu harus profesional, gak bahas gaji bonus soal perasaan gini kalau peranmu jadi sahabat. Jadi, so sorry gak ada bonus buat saran antar sahabat" kata Alfano balas mengoda Jaka.


"Hahaha makin pinter aja kamu, bos. Yaudah, aku mau tidur dulu. Sampai ketemu di hari Senin, siap siap meetingnya numpuk" pamit Alfano.


"Oke" jawab singkat Alfano lalu mematikan panggilan dengan Jaka.

__ADS_1


"Mulai malam ini, tantangan yang harus kutaklukan adalah mendapatkan hati Asmara" gumam Alfano dengan senyum merekah di bibirnya lalu karena pikirannya sudah lebih tenang, pria itu mulai menidurkan tubuhnya yang memang sudah lelah beraktifitas berat hari ini.


__ADS_2