
Setelah sarapan keluarga selesai, Bu Laras langsung membawa anak kembarnya untuk ikut ke tempat dimana ia sudah membuat janji temu dengan pemilik tempat.
Sekitar 20 menit, mobil yang dijalankan oleh supir terpercaya Bu Laras yaitu Pak Broto pun sudah sampai di rumah jogja jawa yang megah dan didepannya tertuliskan "Rumah Perhiasan Berlian".
Bu Laras tersenyum melihat Alfano yang masih belum tau maksud maminya membawanya kesini. Alfani hanya ikut tersenyum melihat kebingungan saudara kembarnya itu.
"Mami mau ngapain bawa aku kesini?" tanya Alfano dengan raut wajah bingung.
"Kamu emang beda banget sama papi mu, tanpa mami minta , dia selalu memberikan perhiasan mewah dan pasti bertuliskan inisial nama kita di perhiasan itu. Mami kesini pingin kamu bikin cincin nikah sama Asmara yang bener bener pilihan kamu" jawab Bu Laras langsung menjelaskan maksudnya.
Alfano pun malu sama dirinua sendiri dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Hehe, maaf mi. Aku kelupaan soal beginian" celetuk Alfano sambil terkekeh kecil karena merasa dirinya bodoh banget sampek melupakan barang yang sangat berarti untuk sebagian orang yang menganggapnya seperti itu dalam pernikahan.
"Emang dasar lu, suami gak peka. Kalau aku jadi Asmara, ketika besok lusa dinikahi lelaki kaya yg gak bawa cincin pernikahan , bisa bisa aku pending tuh ijab qabul atau ya kudiemin seharian karena gak peka banget di moment penting" sahut Alfani mengompori Alfano.
"Ya untung kamu bukan istriku, Asmara pasti tidak akan marah semisal aku lupa bawa cincin nikah buat dia. Lagian kan kita udah punya cincin nikah yang maki belikan di teman mami di Bandung kan?" ucap Alfano gak mau terlalu disalahkan malah mendapatkan pukulan di punggungnya dari sang mami.
"Aaakh ! Sakit mami, Alfano dan besar. Dipukul pukul aja" protes Alfano.
"Mangkanya, kalau salah ngaku salah gak malah bela diri dan membenarkan perbuatanmu yg tidak baik. Meskipun Asmara tidak marah pasti dalam hatinya mungkin berharap kamu memberikan sesuatu barang yg berasal dari hatimu. Udah deh, ayo masuk. Mami udah janjian sama pemiliknya , Tante Lian" ajak Bu Laras berjalan lebih dulu lalu disusul Alfani dengan senyuman smirk menatap Alfano yang berjalan dibelakangnya.
"Semoga kamu dapet suami yang gak peka dan gak romantis!" doa Alfano yang ia katakan agak keras sehingga Alfani pun mendengarnya dan menghentikan langkah kakinya.
"Apa kamu bilang? Kamu doain kembaranmu tersiksa apa ? Cabut buruan!" kesal Alfani yang sudah berhadapan dengan Alfano.
"Hahahahhaa, didoain gitu aja marah. Weeeek" ejek Alfano lagi lalu ia berjalan mendahului Alfani yg masih kesal dibelakangnya.
"Alfano! Tarik omonganmuuuuu!!!" seru Alfani berlari kecil menyusul Alfano yang sedang ngerjain dia.
Bu Laras yang mendengar seruan putrinya itu hanya geleng geleng kepala ketika melihat Alfani sudah meloncat ketubuh Alfano seperti bergelantung dan membuat pria itu kesulitan berjalan.
"Ayoooo! Kalian jangan berkelahi di jalan, sini cepat!" seru Bu Laras memanggil anak kembarnya agar segera menyusulnya masuk ke Rumah Perhiasan Berlian.
"Ayo lepasi aku. Iya iya aku cabut omonganku. Semoga saudara kembaranku ini punya suami yang romantis banget melebihi aku" ucap Alfano mengalah.
"Gitu dong. Bikin kesel pagi pagi aja" cibik Alfani sambil melepas gelantungannya di tubuh Alfano dan berjalan terlebih dahulu menyusul Bu Laras.
__ADS_1
"Dasar wanita! Mau nya dimengerti tapi gak bisa ngerti" gumam Alfano sambil geleng geleng kepala. Ia pun ikut masuk rumah perhiasan ini.
Sesaat setelah masuk, Alfano dan Alfani seperti tersihir dengan berbagai banyak perhiasan yang ada dengan taburan berlian dan beraneka ragam. Bu Laras sudah bertemu temanya Bu Lian, seperti biasa pertemuan ibu ibu sosialita pasti cipika cipiki dulu.
"Terima kalih loh Jeng, udah mau menerima permintaanku pagi pagi buat berkunjung. Soalnya, Alfano akan menikah lusa takut tidak sempat memilih cincin nikah sesuai seleranya dan mantuku. Sama aku juga mau beliin Alfani kalung, biar makin mempesona dan menarik banyak pria haha" ucap Bu Laras membuat Alfani malu.
"Ih mami, jangan gitu dong. Aku udah cantik kok tapi kalau dibeliin kalung juga mau hehe" sahut Alfani menyembunyikan malunya dengan bercanda.
"Hahaha, putrimu ini memang cantik dan humoris. Pasti suaminya nanti tampan dan baik hati juga" ujar Bu Lian.
"Amiin. Saya sih apapun pilihan anak ya saya setuju aja selama memang mereka bisa menjaga komitmen. Ya sudah Jeng, bisa ditunjukan pilihan cincin edisi spesialnya untuk Alfano? Dia juga harus balik ke perusahaan setelah dari sini" minta Bu Laras.
"Ayo ayo silahkan, ikut saya ya" ucap Bu Lian sambil berjalan menuju ruangan khusus cincin saja yang mungkin ada 1000 lebih produknya.
"Ini dia, ruangan cincin Rumah Perhiasan Berlian. Nanti jika ingin ditambahkan ukiran atau inisial atau tulisan apapun bisa langsung dibuat di belakang. Mungkin hanya memakan waktu 10 menit" lanjut Bu Lian ketika sudah masuk ke ruangan yang diminta Bu Laras tadi.
"Wow, cantik dan banyak sekali" celetuk Alfani yang takjub dengan berbagai jenis dan model cincin yang ia lihat, namanya juga perempuan ya pasti terlena dengan pemandangan emas emasan serta berlian.
Alfano juga terkesima namun ia tidak sefrontal Alfani sampek bersuara.
"Sini, Nak Alfano. Ibu tunjukkan yang edisi spesial mungkin ada yang cocok" panggil Bu Lian.
Alfano melihat melihat kotak yang mungkin ukuran 1 meter x 1 meter dan matanya ke kanan ke kiri ke atas kebawah , dan setelah beberapa saat mengedarkan pandangannya, akhirnya tertuju pada sepasang cincin yang berbeda bahan namun dengan ukiran yang hampir sama. Cuma ukurannya berbeda. Cincin yang berwarna silver berukuran besar dan yang berwarna emas berukuran kecil.
"Aku mau yang itu, tante" ucap Alfano sambil menujuk sepasang cincin yang ia maksud.
"Wah kamu memang lelaki yg tau aturan agama juga ya jika lelaki tidak boleh pakai emas. Memang disini juga menyiapkan cincin sepasang tapi berbahan beda dan kamu memilih salah satu model itu" puji Bu Lian terhadap selera Alfano.
"Iya tante. Saya belajar dari papi saya karena beliau juga selalu memakai cincin nikah dengan mami tapi warnanya bukan emas namun silver. Bagi saya itu terlihat keren" sahut Alfano dengan senyuman mengembang.
Bu Laras dan Alfani yang memperhatikan pilihan Alfano pun tersenyum.
Bu Lian pun mengambil cincin sepasang itu dan ia letakkan di atas kotak agar Alfano bisa melihat dan mengambilnya.
"Bisa kamu coba dulu cincin yang silver apakah muat? Sama kira kira cincin emas ini cukup buat istri kamu nggak, Alfano?" tanya Bu Lian.
Bu Laras dan Alfani pun mendekat, pasti pria itu tidak tau ukuran cincin Asmara karena ketika membeli cincin nikah siri , Bu Laras yang melakukan tentunya bersama Alfani yang selalu menemani maminya ketika mempersiapkan nikah dadakan Alfano dan Asmara.
__ADS_1
"Ukuran jari manis kakak ipar saya sama dengan ukuran jari saya, tante. Biar saya coba" kata Alfani mengambil cincin emas di atas kotak dan ia pasangan di jari manisnya.
"Oh cukup, pas. Tapi sekarang Asmara sedang hamil, kayaknya nanti kekecilan dijarinya" ucap Alfani tanpa sadar menyebutkan kehamilan saudara iparnya, ia pun melirik Alfano dengan tersenyum malu dan merasa bersalah tapi saudara kembarnya itu biasa aja. Namanya juga udah menikah meskipun siri kan kalau hamil udah wajar. Ya jangan sampek cerita kalau waktu nikah siri nya udah hamidun duluan, kayak buka aib sendiri dong.
"Maaf" ucap Alfani tanpa bersuara kepada Alfano.
"Santai, gapapa" lirih Alfano dengans senyuman biasa , tidak mempermasalahkan keceplosan Alfani.
Bu Lian yang mengetahui keheningan sementara dan ekspresi kaku Alfani pun mengetahui dan mengira ngira apa yang sedang terjadi. Sebisa mungkin, pemilik Rumah Perhiasan Berlian ini profesional tidak akan mencampuri urusan pelanggannya.
"Wah, Jeng Laras udah mau punya cucu yaa? Selamat ya, Jeng. Semoga cucunya lahir dengan sehat" sahut Bu Lian dengan senyuman tulus bahagia tanpa ingin bertanya apa apa lagi.
"Terima kasih banyak. Biasa anak muda sekarang memang suka buru buru bikin anak. Hahahahhaa" ucap Bu Laras sambil bercanda tapi menyindir Alfano. Bu Lian makin yakin dengan dugaannya sehingga bisa menyesuaikan percakapan berikutnya tanpa menyinggung.
"Kalau semisal ukurannya ini terlalu pas, sebentar ada ukuran yang lebih besar sedikit. Untuk cincin Alfano udah pas?" tanya Bu Lian sebelum ia melangkah ke kotak selanjutnya dimana cincin untuk Asmara berukuran lebih besar dari yang dicoba oleh Alfani.
"Cukup dan nyaman" jawab Alfano. Bu Lian pun tersenyum dan mengambil cincin untuk Asmara dari kotak sebelah.
"Coba Alfani yang ini" ujar Bu Lian sambil menyodorkan cincin yg ia bawa.
Alfani pun melepas cincin yg pertama tadi dan menaruhnya diatas kotak lalu menerima cincin yang diberikan Bu Lian lalu memasangkan di jari manisnya.
"Wah ini pas dan nyaman banget. Tidak terlalu pas sih buat aku tp untuk Asmara aku yakin pas buat dia" ucap Alfani dengan girang.
Bu Laras, Bu Lian dan Alfano pun tersenyum setelah menemukan cincin yang pas untuk wanita yang akan dinikahi pria itu untuk kedua kalinya namun pertama kali secara hukum.
"Oke. Saya ambil sepasang ini ya Tante" ucap Alfano juga dengan ekspresi bahagia.
"Oke siap. Mau ditambahi tulisan?" tanya Bu Lian.
"Boleh, kasih inisial A saja untuk kedua cincin ini" jawab Alfano.
"Siaap. Tunggu diruang tamu dulu sambil menikamti cemilan pagi yang khusus aku siapkan untuk keluarga Jeng Laras" minta Bu Lian kepada pelanggannya ini dan setelah memastikan semuanya berada di ruang tamu, ia izin untuk meninggalkan mereka ke tempat produksi, Bu Lian pun berjalan kedalam tempat pengukiran perhiasan.
"Oh ya, mami katanya mau beliin aku kalung?" ingat Alfani kepada Bu Laras.
"Oh iya, bentar nunggu Bu Lian datang ya atau kalau kamu mau silahkan lihat dulu disekitar sini mana perhiasan yang kamu inginkan. Tinggal bilanh ke mami ya tapi ingat hanya 1 loh ya, kalau kalung ya kalung , gelang ya gelang, cincin ya cincin atau yg lain. Tapi mami berharap sih kamu milih kalung aja biar bisa dipakai kemana mana dan gak gampang lepas" ucap Bu Laras.
__ADS_1
"Oke mami, mami sayang" ucap Alfani dengan riang lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke sekitar tempat perhiasan yang beraneka macam beragam.