
Setelah Alfano masuk kamar sang istri, ia tidak melihat Asmara namun mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.
"Buru buru amat dia langsung mandi, seharusnya aku dong karena badanku gerah" celetuk Alfano yang menyadari istrinya sedang mandi. Ia pun ingat jika di kamar Asmara belum ada bajunya karena ia letakkan semua di kamarnya. Dengan cepat ia masuk ke rumahnya melalui connection door dan langsung mengambil koper miliknya yang ia letakkan di kamar yang ia gunakan untuk dirinya beristirahat.
"Untung, mami udah masuk kamar" lega Alfano ketika sudah kembali ke kamar Asmara sambil membawa kopernya tanpa ketahuan Bu Laras.
Dengan detak jantung yg masih tak beraturan karena lari lari dan gugup, Alfano memilih merebahkan tubuhnya di ranjang Asmara. Beberapa menit kemudian, Asmara keluar kamar mandi dengan memakain dress rumahan tapi bukan daster biasa.
Wanita yang sudah terlihat segar, mencoba memanggil suaminya agar segera mandi karena ia tau Alfano pasti merasa risih dengan tubuhnya yg lengket karena keringat.
Ia pun berjalan mendekat ranjang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Mas, bangun. Aku udah mandi" panggil Asmara.
Alfano pun langsung membuka matanya dan mendudukan tubuhnya diatas ranjang lalu menoleh ke arah istrinya yg terlihat mempesona dengan rambut basah.
"Kamu menggodaku ya?" tanya Alfano menantang.
Asmara merasa ia biasa aja dan tak ada niatan menggoda suaminya itu pun mengangkat alisnya heran dengan pertanyaan tak masuk akal Alfano.
"Maksudmu menggoda gimana, Mas? Aku hanya bangunin kamu dibilang menggoda" gerutu Asmara.
"Tuh, kamu pake dress yang belahan dadanya lebar banget, terus ngeringin rambut basah didepanku sampai menampakkan lehermu yg jenjang dan putih itu. Kamu menyiksaku kali ya" sahut Alfano seolah ia menjadi korban.
"Ya pikiranmu itu yang minta dicuci. Namanya juga orang hamil, ya pasti suka pake dress yang kebesaran dan tidak sesak di tubuh" ujar Asmara membela diri.
"Hmmmm, yaudah kamu boleh pake baju dress kayak gini waktu ada aku aja. Kalau gak sama aku, kamu gak boleh pake, ngerti?" perintah Alfano tiba tiba sok jadi suami posesif.
Asmara gak paham dengan perubahan Alfano itu, ia pun memilih berjalan menuju meja riasnya tanpa menjawab suaminya.
Alfano pun menjadi kesal karena dicuekin Asmara. Ia turun dari ranjang dan berjalan menghampiri istrinya yang mulai mengeringkan rambut menggunakan hairdryer.
__ADS_1
"Sini aku bantu" minta Alfano ketika sudah berdiri dibelakang Asmara dan bisa melihat pantulan mereka berdua melalui kaca rias yg cukup besar.
"Kamu kenapa sih mas? Aneh banget. Udah mandi sana" perintah Asmara.
"Iya aku mandi tapi habis ngeringin rambut mu dulu" paksa Alfano sambil mengulurkan tangannya disamping Asmara.
"Nih suami kesambet apaan sih baik banget sama istrinya" batin Asmara merasa heran tapi seneng juga di perhatikan Alfano.
"Kamu maksa loh ya, aku gak nyuruh" ucap Asmara lalu memberikan hairdryer ke tangan suaminya.
Alfano pun tersenyum menang ketika ia mulai menyalakan alat pengering rambut untuk istrinya.
"Dia mahir juga ngeringin rambut cewek, apa jangan jangan banyak wanita udah diginiin sama dia?" tiba tiba batin Asmara menjadi mencurigai niat baik Alfano.
"Jangan mikir aneh - aneh. Aku bisa ngeringin rambut gini karena aku waktu remaja sering ngeringin rambu Alfani kalau dirumah karena gara2 dia , kita sering telat ke sekolah. Mangkanya waktu kita masih sekolah sampek lulus SMA, kalau Alfani keramas pagi pasti dia bilang mami papi dan aku jadi pas aku selesai nyiapin barang2 untuk sekolah, aku malah ke kamar Alfani buat ngeringin rambutnya dan mami datang ke kamar buat nyuapin kita berdua demi bisa sarapan sebelum sekolah" jelas Alfano tanpa ditanya tapi bisa melihat ekspresi Asmara dari pantulan kaca jika sedang sendu dan memikirkan sesuatu.
Mendengar penjelasan dari suaminya itu, seakan akan ia merasa Alfano bisa membaca pikiran dan hatinya lalu tersenyum smirk sambil melihat pria yang dibelakangnya sedang telaten mengeringkan rambut.
"Siap, Nyonya" sahut Alfano yang mengiyakan perintah sang istri.
Mereka pun tertawa bersama karena mengingat tingkah satu sama lain yg saling memanggil dengan panggilan Tuan dan Nyonya.
Dengan hubungan yang lebih baik antara suami istri itu, mereka sudah tidak canggung berinteraksi.
Tangan Alfano yang telaten dan lembut memegang rambut istrinya, bisa mengeringkan rambut itu dengan memuaskan Asmara.
"Wah, memang kamu hebat mas. Ini udah kayak di salon aja rambutku jadinya kamu gelombangin juga" puji Asmara ketika Alfano menyelesaikan tugasnya dan menaruh hairdryer di meja rias sang istri.
"Iya dong, siapa dulu CEO muda berbakat dan tampan seperti aku tidak ada duanya. Apalagi aku suami mu yang juga luar biasa patut kamu banggakaaaan" sombong Alfano tapi berniat untuk bercanda dengan Asmara sambil mencubit pipit wanita didepannya ini.
"Mas , kok cubit cubit sih? Udah mulai nih main fisiknya?" protes Asmara.
__ADS_1
"Hihi, gemes banget sama istriku satu ini. Aku gak bayangin sih, 2 hari sama kamu aja aku udah jatuh cin..." sahut Alfano terputus karena hampir aja menyatakan cinta. Ekspresi pria itu langsung diam dan kaku di tempat.
"Aduh, keceplosan" batin Alfano menyadari kecerobohannya.
Asmara langsung menoleh kebelakang dan mendonggakan wajahnya menatap wajah suami yang berdiri di belakangnya.
"Apa dia bakal nyatain cintanya secepat ini?" batin Asmara dengan tatapan masih penuh tanda tanya.
"Lanjutin mas, kok kepotong?" goda Asmara dengan senyuman smirk.
Wajah Alfano yang sudah memerah karena malu, memilih untuk berjalan menuju ranjang dan merebahkan dirinya dengan alasan capek habis nyetir.
"Udah, aku mau tidur dulu bentar. Nanti adzan mahrib bagunin" ucap Alfano dengan nada kaku dan terdengar angkuh, lalu memejamkan matanya.
Asmara tersenyum puas, meskipun sang suami belum sepenuhnya menyatakan cinta tapi keceplosan Alfano itu udah mengarah pada arah itu. Apalagi udah keluar kata "jatuh cin.... kalau bukan jatuh cinta" batin wanita hamil itu dengan senyum senyum sendiri sambil menatap punggung Alfano yang membelakanginya.
"Gak boleh mas tidur sore sore begini" sahut Asmara karena dari pemahamannya, kata orang tidur sore tidak baik untuk kesehatan dan kewarasan.
"Hmmm, bentar aja" tawar Alfano yang masih belum tidur ternyata.
"Yaudah, aku tau mas capek. Tapi beneran 10 menit lagi udah adzan magrib, mas nanti bisa pusing cuma tidur secepat itu. Mau aku kasih penawar capek sementara?" ucap Asmara yang membuat Alfano membalikkan tubuhnya menatap sang istri yg masih duduk didepan meja rias.
"Apa penawarnya?" tanya Alfano.
"Hmmm, mau apa nggak ? Jawab dulu" ucap Asmara mencoba membuat sang suami penasaran dengan apa yg akan ia lakukan.
"Yaudah dari pada pusing karena cuma tidur sebentar, mending kamu bikin aku gak capek lagi deh. Tapi jangan aneh aneh loh ya" sahut Alfano dengan waspada tapi membuat Asmara tersenyum manis.
Wanita dengan perut buncitnya itu berdiri dari kursi riasnya dan berjalan menuju sisi ranjang dimana suaminya sedang menatap.
"Geser" pinta Asmara menggusur posisi Alfano untuk memberikan space dirinya agar bisa mendudukan tubuhnya di ranjang sambil bersandar.
__ADS_1
Alfano pun menurut saja karena penasaran dan menunggu apa yang akan dilakukan istrinya pada dirinya.