
2 hari menuju SAH secara hukum, hari ini hari Rabu, keluarga Asmara datang ke rumahnya. Pak Wawang, Bu Asih, Rian dan Rani serta ternyata membawa Pakde Jarman dan Bude Lastri ikut.
Pakde Jarman adalah kakak dari Pak Wawang. Ayah Asmara itu ingin kakaknya menjadi saksi pernikahan putrinya. Ia pun akhirnya menceritakan kepada kakanya itu bahwa Asmara sudah menikah siri hampir 2 minggu lalu dan mengatakan jika putrinya saat ini sudah hamil.
Pak Wawang berani bercerita tentang aib anaknya kepada Pak Jarman karena kakaknya itu sangat baik dan tidak pernah menyalahkan apa yang sudah terjadi. Bu Lastri juga sama, ia hanya mengikuti suaminya saja tanpa mau berkomentar lebih.
Akhirnya dengan pertimbangkan dan pengertian yang diberikan Jarman serta Lastri, mereka pun ikut keluarga Wawang menuju rumah Asmara.
Di pagi hari, Asmara sudah diinfokan kedatangan keluarganya dari desa sekitar habis magrib bersama pakde bude nya. Awalnya ia seperti keberatan karena aibnya diketahui orang lain meskipun mereka masih keluarga dari ayahnya, namun dengab pengertian Pak Wawang dan Bu Asih, Asmara pun menerimanya.
Kedatangan keluarganya untuk beberapa hari kedepan, membuat Asmara merasa perlu menyiapkan berbagai kebutuhan seperti kasur lipat , makanan dan cemilan serta minuman kopi atau teh.
Ia pun berencana berbelanja besar ke supermarket di Kota Bandung. Sebelum rencananya ia lakukan, Asmara meminta izin dan pamit kepada suaminya melalui panggilan sekitar jam set 7 pagi.
Asmara duduk di kursi sofa ruang tamu setelah ia melakukan yoga di area keluarga yang terdapat space kosong dan didepannya ada tv. Memang ruang tamu dan ruang keluarga rumah Asmara itu seperti jadi satu tidak ada sekat, namun ada jarak pemisahnya.
Sambil mengatur nafasnya setelah melakukan yoga hamil, wanita itu merileksakan diri dengan bersandar di bangku sofa dan memegang hpnya untuk menelepon suaminya.
Alfano yang saat itu sedang mandi, tidak dapat menerima panggilan dari istrinya. Asmara pun menelepon hingga 3 kali belum ada sahutan.
"Kemana sih Mas Alfani? Masa jam segini belum bangun? Apa dia lagi mandi ya? Seharusnya sih mandi karena pasti habis jogging" gerutu Asmara sambil menatap layar handphonenya yang memanggil 'lelaki itu' namun belum diterima.
"Yaudah deh, aku juga mandi dulu. Aku kirim chat aja kalau mau izin belanja" ucap Asmara lalu mengetik pesan kepada Alfano mengenai tujuannya. Takut suaminya itu akan menelepon dia ketika Asmara sedang mandi, ia pun memberikan info juga kalau setelah pesan ini terkirim dia akan membersihkan diri alias mandi pagi.
__ADS_1
Setelah pesan sudah terkirim, wanita hamil itu berdiri sambil memegang punggungnya dan perutnya bersamaan karena sudah terasa berat untuk menompang tubuhnya sendiri. Ia berjalan menuju kamarnya lalu mengambil baju ganti di lemari san langsung menuju kamar mandi.
Baru saja Asmara masuk kamar mandi, Alfano sudah selesai mandi. CEO tampan itu dengan lilitan handuk di pinggangnya belum tau jika ia mendapatkan panggilan dan pesan dari Asmara. Alfano memilih berjalan menuju walk in closet miliknya untuk memilih baju yang akan ia pakai kerja hari ini. Ia memilih menggunakan kemeja putih, jas plus celana hitam dan dasi biru.
Setelah memakai pakaiannya , Alfano berjalan keluar dengan tampan sambil membawa handuk yang tadi ia lilitkan di pinggangnya untuk ia letakkan di tempat baju kotor. Memang Alfani tipe yang suka kebersihan, handuk sekali pakai langsung cuci jadi di kamar mandinya tersedia banyak handuk.
Lalu ia pun berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya. Hp yang terletak di nakas ia ambil dan terkejut melihat panggilan Asmara 3 kali yg tidak ia angkat.
"Kenapa dia ? Apa terjadi sesuatu sampai telepon 3 kali?" tanya Alfano mulai khawatir dan berfikir aneh aneh hingga fikiran itu hilang ketika membuka pesan dari istrinya itu.
-Isi pesan Asmara-
"Mas, aku mau izin belanja di supermarket Kota Bandung ya. Disana lengkap belanjanya. Tadi subuh, ayah ngabarin kalau akan datang sore ini, InshaAllah habis maghrib sampai tapi bawa pakde dan budeku. Awalnya aku takut kalau mereka akan ngomong aneh aneh soal kita kepada keluarga ku yang lain, tapi kata ayah sama ibu sih mereka akan menjaga nama keluarganya. Ayah berniat menjadikan Pakde Jarman sebagai saksi pernikahan kita dari pihak wanita. Tapi memang pakde dan bude baik, aku yang terlalu berfikiran buruk, takut aja bikin malu ayah sama ibu.
Maafin ya, aku jadi curhat hehe...
Oh ya, habis ngetik pesan ini aku mandi, jadi bentar ya. Mas boleh bales chat ini atau nunggu aku habis mandi nanti aku telepon lagi"
-Chat selesai-
Alfano yang membaca pesan panjang istrinya ini merasa bahagia, seperti ini ya kalau jadi suami terus istrinya minta izin. Ada rasa baru yang ia rasakan dan rasa ini membuat ia merasa dihormati dan dihargai sebagai suami.
"Kok aku seneng ya baca ini? Dia izin kayak gini berarti untuk anggap aku suami dia beneran ya hahaha, seneng jadinya punya istri yang membuat aku merasa ada" lirih Alfano dengan senyum senyum sendiri membaca ulang pesan dari Asmara.
__ADS_1
Setelah puas membaca pesan dari istrinya itu, Alfani pun membalas melalui pesan juga.
-Isi pesan Alfano-
"Hey, Asmara. Selamat pagi sayang. Salam dulu dong. Iya gapapa, belanja aja. Selama kamu hati hati yaa nyetirnya nanti , jangan bawa atau angkat angkat berat. Nanti minta tolong karyawan supermarket buat angkatin ke mobil atau kalau perlu nyewa pick up buat bawa ke rumah. Kalau beli kasur lipat kayaknya gak cukup kamu masukin mobil itu, sayang.
Kalau kamu habis mandi , telepon aku ya biar enak ngobrolnya"
-Chat selesai-
Setelah mengirim pesan balasan itu, Alfano keluar kamar membawa tas jinjing kantornya untuk turun menuju meja makan karena akan sarapan bersama ibu dan saudara kembarnya. Mengingat pagi ini, Bu Laras mengajak Alfano dan ditemani Alfani disuatu tempat yang masih ia rahasikan dari putranya. Sedangkan Alfani sudah tau kemana mami nya itu akan mengajak mereka.
"Ayo sarapan, Fano. Jam 7 lebih 15 menit kita harus segera menuju tempat yang mami bilang kemarin ya. Mami udah janjian sama temen mami" sapa Bu Laras ketika melihat putranya turun dari tangga.
"Iya mami. Mau kemana sih pagi pagi bener?" sahut Alfano sambil berjalan mendekat ke meja makan dan duduk di kursi kosong dihadapan Alfani.
"Udah deh, ikut mami aja. Buruan makan, mami udah minta tolong Bik Ningsih buat masakin sarapan favoritmu , telur ceplok sama sambel kecap kan. Alfani juga udah dimasakin tahu penyet kesukaannya. Hari ini memang mami mau nyiapin sarapan favorit buat kalian, karena kita akan susah makan bareng lagi ketika Alfano udah nikah terus disusul Alfani juga" jawab Bu Laras diakhiri dengan nada sendu.
Alfani san Alfano pun kompak memegang tangan maminya di atas meja makan.
"Alfano akan tetap jadi putra mami. Kalau mami kangen makan bareng kita bertiga, aku akan langsung datang" ucap Alfano dengan nada lembut.
"Alfani juga mami. Meskipun nanti aku akan menikah sama lelaki yang berjodoh denganku, mami masih bisa manggil aku buat makan bareng. Jadi kita tetep satu keluarga dan malah nanti makin banyak anggotanya" sahut Alfani ikut menenangkan Bu Laras.
__ADS_1
"Kalian memang putra putri terbaik mami sama papi. Papi kalian pasti bahagia melihat kalian tumbuh menjadi seseorang yang dewasa , sukses dan sholeh sholehah. Yaudah, buruan selesain makan, kok tambah jadi sedih begini. Mami juga makan 2 menu didepan mami ini" ujar Bu Laras mengubah suasana sendu dan terkesan sedih menjadi happy lagi.
Alfano dan Alfani pun menikmati sarapan favorit mereka bersama mami yang paling mereka sayangi.