BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Nasi kotak


__ADS_3

Asmara yang sudah ganti baju khusus untuk dia masak, berjalan keluar ruang istirahat yang sekaligus ada ruang ganti dan loker karyawan menuju dapur. Namun Bunga buru buru menghampiri sahabatnya itu dan menggodanya.


"Eh cieeeeeee, dianter suami. Gandengan tangan pula" goda Bunga sambil mengalungkan tangannya di pundak Asmara.


"Ih kamu apaan sih, Bun? Ngejek aku ya? Dia maksa nganter aku tadi pake bawa bawa keselamatan si twins jadi ya mau gak mau aku nurut" sahut Asmara dengan nada malas untuk membahasnya.


"Ah alasan aja tuh. Dia udah terikat sama kamu kayaknya, udah ada rasa" ucap Bunga.


"Ngawur kamu tuh. Jangan bikin aku berharap. Dia gak mungkin bisa ada rasa sama aku, kerjaanya bikin aku marah marah dan kesel sama dia" ujar Asmara dengan nada kesal.


Bunga pun tersenyum smirk, ternyata memang benar sudah ada perasaan antara mereka. Dari nada kesel Asmara terdengar seperti ada harapan. Bunga pun melepas tangannya dari pundak Asmara dan menatap sahabatnya itu dengan dalam.


"Coba aku lihat matamu. Hmmm, kayaknya memang, kamu udah ada rasa ya sama si Alfano itu? Hayoo ngaku??" goda Bunga dengan menebak perasaan Asmara.


"Aduuuh, tebakanmu gak beralasan. Emang kamu gak bisa lihat wajahku kalau ngomongin dia itu bawaannya marah terus dan kesel gak habis habis, gimana bisa ada rasa sampek cinta segala. Kamu ya, jangan ngomong aneh2 kayak gitu apalagi didepannya" ucap Asmara memberikan peringatan.


"Hahahahahahhaha, coba kita lihat setelah kalian nikah sah minggu depan, apakah ada perubahan perasaan antara kalian ya? Aku sih yes, karena seminggu kalian nikah aja kayaknya udah ada benih benih cinta tumbuh. Aku udah nikah, Asmara. Jadi ya taulaah perasaan kesel suami istri itu bumbu rumah tangga. Kesel tapi cinta, kesel tapi kangen, marah tapi sayang. Ya gitu deh" ucap Bunga membagikan sedikit pengalamannya berumah tangga.


"Itu kan rumah tanggamu, bukan rumah tanggaku. Jangan disama sama kan deh. Udah ah, aku mau masak" ujar Asmara sambil berjalan melalui Bunga menuju dapur.


"Hahahaa, dasar gengsian. Manusia gengsi itu gak akan hilang gengsinya sebelum memahami perasaanya. Pasti kamu akan merasakan apa yang dirasa banyak istri diluar sana kalau lagi kesel dan marah sama suami. Ada aja yang bikin baikan" gumam Bunga sambil tersenyum menyeringai lalu kembali ke kursi kasirnya.


.


Jam 10 pagi, 2 tukang bangunan yang diminta Alfano pada mandor Zaenal datang dan Alfano langsung mengeser kulkas dan membongkar tripleks yang menutupi pintu penghubung dari rumah Asmara. Pria itu itu di Jakarta jadi CEO tapi di Bandung jadi tukang bangunan juga karena Alfano ikut membongkar tripleks , terus ngaduk semen, dan ngecat dindingnya.

__ADS_1


Tukang bangunan yang disewa juga Alfano suruh untuk membenarkan bekas bocor di atap rumahnya buat jaga jaga bulan depan sudah hujan. Terus pintu penghubung yang sudah terbuka , Alfano ganti pintu itu dengan pintu baru yang lebih enak dipandang karena yang lama sudah terlihat jelek dan kayunya sudah mulai lapuk.


Alfano juga melihat rumah Asmara ada sisa bocor di atap langitnya tengah dapur, maka ia pun menyuruh tukang bangunan memperbaikinya juga.


Waktu jam makan siang, Alfano menelepon nomor restauran enak kabeh untuk memesan 3 nasi kotak untuk dirinya dan para tukang. Bunga yang menerima panggilan itu pun menerima pesana Alfano.


"Asmara, suamimu pesan 3 nasi kotak rames untuk makan siang" kata Bunga ketika masuk ke dapur dan menyampaikan langsung pesanan suami sahabatnya itu.


"Kok ke aku sih pesennya? Kalau itu bisa kasih ke Hani aja, tinggal nyiapin nasi kotak , gak masak baru" sahut Asmara yang masih sibuk memasak oseng oseng daging pesanan pelanggan.


"Ya kan aku infoin ke kamu khusus , mungkin kamu pingin siapin pesanan suamimu sendiri yakan. Jarang jarang kan dia pesen nasi kotak" goda Bunga yang tidak ada henti hentinya sejak tau sikap Alfano membaik untuk sahabatnya itu.


Asmara tidak menyahuti godaan Bunga lagi tapi ia melimpahkan pesanan Alfano pada asisten chefnya.


Bunga hanya terkikih melihat sikap sahabatnya itu.


"Hahaha, dasar istri malu malu kucing ya kamu ini. Yaudah, aku tunggu nasi kotaknya didepan. Alfano minta dikirim jadi aku minta tolong Pak Parjo yang ngirim" ucap Bunga lalu berjalan keluar dari dapur.


"Tuh orang kenapa sih , hari ini godain aku mulu si Bunga tuh" gerutu Asmara sambil memindahkan oseng oseng daging yg sudah matang ke piring pelanggan.


Tidak lama kemudian, Hani membawa 3 kotak nasi rames ke kasir untuk diberikan ke Bunga tapi bosnya menginstruksikan untuk dikasihkan ke Par Parjo tukang parkir restauran didepan yang sudah standbye mau ngirim pesanan itu ke Alfano.


Hani pun membawa 3 nasi kotak itu kedepan dan diterima Pak Parjo lalu dibawalah pesanan itu ke rumah pemesan. Tadi Bunga sudah menginformasikan alamat pengiriman di rumah Asmara , jadi Pak Parjo tidak kesulitan mencari rumah pemesan dan jaraknya lumayan deket.


Kurang dari 5 menit, motor Pak Parjo sampek ke rumah Asmara yang pintunya terbuka. Ia turun dari motor dan berniat untuk memanggil orang yang didalam rumah. Namun sebelum Pak Parjo sampai didepan pintu, Alfano sudah keluar rumah Asmara terlebih dahulu.

__ADS_1


"Pak Alfano ya?" sapa Pak Parjo sambil membawa kresek berisikan 3 nasi kotak.


"Betul, Pak Parjo dari Enak Kabeh ya? Barusan saya ditelepon restauran katanya bapak yang mengantar pesanan saya" jawab Alfano dengan halus.


"Benar, Pak. Ini pesanan bapak" sahut Pak Parjo sambil menyerahkan kresek yang ia bawa. Alfano pun menerima kresek itu dan mengambil sesuatu di sakunya yang ternyata uang.


"Ini untuk bapak. Terima kasih sudah ngantar pesanan saya" ucap Alfano sambil memberikan uang berwarna merah tapi terlipet lipet mungkin biar tidak terlihat nominalnya kali ya. Ya gimana yaa tapi orang Indonesia tau kalau uang merah itu pecahan terbesar mata uangnya yaitu 100 ribu jadi ya meskipun dilipet lipet udah ngertilah 😝


Pak Parjo malu malu menerimanya hingga tangan Alfano yang menyerahkan langsung ke tangan bapak itu.


"Yaampun, Pak. Banyak banget. Nanti saya dimarahin Neng Bunga kalau menerima ongkos kirim sebanyak ini" ucap Pak Parjo seperti ketakuta.


"Tenang, Pak. Bu Bunga gak bakal marah toh, pesanannya udah saya bayar melalu transfer. Ini memang rejeki untuk bapak, diterima ya. Gak boleh nolak rejeki" kata Alfano dengan lembut.


Sang CEO itu memang dibalik sikap angkuh dan dinginnya, diam diam dia suka berbagi rejeki kepada orang tua atau seseorang yang sudah membantu dia hal kecil maupun besar. Sayangnya, dia tidak suka mengumbar umbar kebaikan ini jadilah ia tetep dikenal sebagai Alfano Sang CEO angkuh.


Pak Parjo pun melihat ketulusan dari Alfano dan nenerima rejeki itu dengan senang.


"Terima kasih banyak, Pak Alfano. Semoga keluarga bapak dengan Neng Asmara langgeng sampek kakek nenek dan diberkahi anak anak yang sholeh sholehah. Saya senang jika Neng Asmara mendapatkan suami yang baik seperti bapak. Saya kenal Neng Bunga dan Neng Asmara ketika restauran buka. Mereka baik banget sama saya" doa dan curahan hati seorang Pak Parjo.


Alfano memberikan senyuman tulusnya mendengar doa baik untuk dirinya dan Asmara.


"Amiin, terima kasih doanya Pak Parjo" sahut Alfano mengaminin doa baik.


Lalu Pak Parjo izin kembali ke restauran karena parkirannya sedang ramai. Alfano pun kembali masuk ke dalam rumah Asmara sambil membawa kresek makan siang untuknya dan para tukang yg ia sewa. Pria itu menghentikan kerja tukang dan menyuruh mereka untuk makan siang bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2