BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Pintu penghubung


__ADS_3

Setelah makan soto ayam, Alfano langsung mengajak Asmara pulang karena jalanan sudah sepi dan hari semakin malam dan menjelang tengah malam. Ketika sudah sampai depan rumah mereka, ternyata Asmara tertidur. Mungkin karena kekenyangan akhirnya ia mengantuk dan tidur ketika perjalanan pulang.


"Hmmm, dia tidur. Aku bangunin atau gendong ya?" batin Alfano yang bingung mau ngapain Asmara yang sedang tidur padahal sudah sampek rumah.


"Bangunin aja deh. Nanti dia bisa salah paham" lirih Alfano mengambil keputusan.


"Asmara bangun, udah sampai" panggil Alfano tanpa kontak fisik.


Asmara masih belum merespon.


"Asmara ayo bangun, udah sampek rumah nih. Aku juga mau tidur" panggil Alfano untuk kedua kalinya masih tanpa kontak fisik.


"Aduh cewek ini, susah banget dibangunin" keluh Alfano yang mulai lelah.


"Asmara bangun. Ayo bangun, udah sampai rumah" panggil Alfano dengan memegang lengan sang istri dan menggoyang goyangkan pelan.


Akhirnya baru dengan kontak fisik, Asmara bisa terbangun dari tidurnya.


"Udah sampai ya?" tanya Asmara dengan suara khas bangun tidur.


"Iya udah sampai. Aku bangunin kamu susah banget" cibik Alfano.


"Yakan namanya udah tidur, kalau gampang dibangunin berarti gak tidur atau pura pura tidur" sahut Asmara membela diri.


Alfano menghembuskan nafas berat.


"Yaudah, ayo turun. Udah malem, kamu harus tidur buat si kembar juga" ujar Alfano.


"Iya iya, sabar" ucap Asmara dengan wajah mengantuk dan kesal sekaligus, Alfano tidak peka kalau wanita hamil susah ngatur posisinya untuk turun dari mobil apalagi baru bangun tidur.

__ADS_1


Asmara pun dengan mata seperti udah susah terbuka karena ngantuk berat akhirnya keluar mobil dan diikuti oleh Alfano.


Asmara ngantuk dengan tidak hati hati ia berjalan sedikit sempoyongan dengan memegang perutnya. Alfano yg berjalan dibelakangnya, seperti udah bisa menduga apa yg terjadi pada wanita hamil itu jika tidur sambil berjalan.


"Bahaya banget sih wanita ini kalau jalan. Pasti habis ini dia..." batin Alfano belum selesai diomongin dalam hati beneran, Asmara menginjak kerikir kecil yang membuat dirinya tergelincir dan hampir jatuh kebelakang tapi suaminya sudah sigap untuk menangkap istrinya.


"Aaaakhh!!!" teriak Asmara ketika tergelincir kerikir di kakinya.


Alfano langsung menangkap tubuh Asmara dan memeluk wanita hamil itu dari belakang.


"Kalau jalan itu hati hati! Disini ada anakku!" entah kenapa Alfano jadi marah kepada Asmara yang ia peluk dari belakang dengan tangannya melingkar diperut sang istri.


Asmara yang tadinya ngantuk berat dan hampir tidak bisa membuka matanya ketika berjalan seakan akan langsung bangun dan tidak ngantuk lagi ketika ia hampir jatuh namun syukurlah suaminya ada dibelakangnya. Tapi ia merasa bersalah juga hampir mencelakai si twins karena memaksakan untuk jalan padahal udah ngantuk berat dan menerima amarah Alfano tanpa membela diri.


"Kenapa diem aja hah? Kalau kamu jatuh gimana, Asmara? Kalau mereka kenapa kenapa gimana? Dipikir dong kalau jalan hati hati. Kalau ngantuk bilang buat aku gendong. Jadi cewek gak usah sok kuat gitu deh" omel Alfano tanpa henti karena jantungnya hampir copot melihat wanita yang hamil anaknya itu hampir jatuh didepan matanya.


Alfano marah marah tapi posisinya masih memeluk Asmara dari belakang dan mengelus perut wanita yg ia peluk itu.


Alfano menghembuskan nafas kasar karena ia juga merasa terlalu emosi pada Asmara.


"Aku juga minta maaf udah marah marah sama kamu. Beneran aku kayak kena serangan jantung kalau kamu beneran jatuh didepanku" sahut Alfano dengan nada lembut dan sendu.


Tangan Asmara yang sebelumbya dibiarkan mengantung disamping ia angkat dan taruh diatas tangan Alfano diperutnya. Ia bisa merasakan kekhawatiran suaminya itu meskipun bukan khawatir tentang dirinya tapi anak yang ia kandung , namun Asmara bisa merasakan tulusnya Alfano perhatian untuk twins.


"Iya, aku minta maaf. Lain kali kalau aku tidur di mobilmu lagi, gendong aku aja biar aku gak jalan sambil ngantuk. Aku gak akan marah sama kamu kalau kamu gendong aku tanpa izin dengan kondisi aku tidur" ucap Asmara lembut.


Alfano menghembuskan nafas lega dan ia mulai merasa semakin rileks dari ketegangannya tadi menolong Asmara.


"Nyaman banget dipeluk gini sama Alfano" batin Asmara yang sepertinya juga merasa semakin rileks dari keterkejutannya dan kepanikannya tergelincir batu kecil.

__ADS_1


Beberapa saat Alfano membiarkan dirinya memeluk Asmara dari belakang di trotoar rumah mereka.


"Nyaman banget meluk wanita ini posisi begini , apalagi bisa ngelus ngelus my twins juga" batin Alfano hanyut dalam kenyamanan.


Mereka kaget ketika ada suara meneriaki mereka dari jalan perumahan rumah mereka.


"Woy, masuk kamar aja sanaa jangan di trotoar mesraannya!" seru orang lewat pake motor.


Langsung aja Alfano melepas pelukannya karena merasa tersindir dan salah tingkah.


"Bisa bisanya aku hanyut meluk dia sampek dipergoki orang di jalan. Aduh Alfano, batasi hati mi untuk dia" batin Alfano menenangkan hatinya karena lagi amburadul sekarang.


Asmara pun diam saja ketika tangan kekar yg melingkar diperutnya tiba tiba terlepas.


Asmara pun menoleh kebelakang dimana ada Alfano yg menghadapnya.


"Makasih ya udah nolong aku sama anak anak kita. Aku juga minta maaf udah bikin kamu panik" ucap Asmara dengan lembut.


"Iya, lain kali hati hati kalau jalan itu" sahut Alfano yg masih kesal dengan perasaannya yg dag dig dug dengan cepat.


"Iya. Yaudah aku mau masuk rumah dulu" pamit Asmara membalikkan badannya lagi lalu berjalan menuju rumahnya. Alfano masih berdiri di trotoran dan melihat Asmara sampai masuk ke rumahnya.


"Sepertinya, aku harus lebih perhatian sama si twins. Ibunya ceroboh gitu , bahaya buat mereka" lirih Alfano sambil berjalan menuju rumahnya sendiri setelah memastikan Asmara masuk rumah.


"Apa aku buka aja pintu penghubung antar 2 rumah ini ya? Biar kalau ada apa apa bisa langsung masuk" lanjut batin Alfano mempertimbangkan membongkar rahasia kecil dari rumah itu yang informasinya ia dapatkan dari Jaka waktu membeli.


Sambil memikirkan keputusan apa yang ia ambil, Alfano masuk ke rumahnya dan berjalan menuju pintu penghubung yang ia maksud terletak di tengah tengah rumah itu dan tembus ke rumah Asmara melalui pintu rahasia yang berada di dapur yang ditutup oleh cat yang sama seperti dinding.


"Ini dia pintunya. Untung beneran ada pintu connection ini , biar aku bisa lebih sering ngawasin wanita itu dari dekat tapi no love just talking ya Alfano" sahut Alfano membalas omongan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Alfano berdiri didepan pintu penghubung tidak lama, mungkin sedang berfikir bagaimana memberitaukan Asmara bahwa posisi rumah yang ia tinggali sekarang terdapat penghubung nya dengan rumah sebelah.


Tapi ketika melihat jam di tangannya waktu sudah menunjukkan tengah malam, Alfano memilih ke kamarnya dan tidur malam.


__ADS_2