
Setelah sarapan tersaji di ruang tamu rumah Asmara, barulah mereka semua makan bersama penuh dengan kehangatan. Masakan rumahan memang terbaik apalagi memang Bu Asih dan Bu Lastri pinter masak, makin mantul sarapannya.
Wanita hamil diantara mereka pun tak tertinggal untuk menikmati hidangan, sangat lahap hingga suaminya aja heran
"Istriku makannya banyak banget ya. Wajar sih ada dua anakku didalam perutnya hihi" batin Alfano yang mengamati istrinya diam diam.
Hingga jam set 7 pagi, sarapan sudah habis disantap. Semua orang pun bersiap menggunakan baju khusus untuk hari ini menyambut pernikahan Alfano dan Asmara.
Tepat pukul 7 pagi, Alfano dan Asmara sudah memakai baju spesial dari Bu Sekar, penjahit teman Bu Laras di Bandung.
"MasyaAllah, cantik amat menantu mami" celetuk Bu Laras yang sudah bersama lainnya di ruang tamu menunggu pengantin.
"MasyaAllah, tampan juga nih menantu ibu" sahut Bu Asih yang juga memuji Alfano.
Alfano dan Asmara yang dipuji oleh mertua masing masing hanya saling tatap dan tersenyum terlihat gigi mereka.
"Ayo berangkat. Penghulunya sudah siap di KUA" sela Pak Wawang yang memang sudah mengenal penghulunya.
"Iya, ayah" sahut Alfano.
Ternyata ketika mereka keluar, sudah ada mobil Alpard beserta drivernya.
"Alfano dan Asmara. Mami udah pinjem mobil teman mami buat menjadi mobil pengantin kalian hari ini. Niatnya beli buat hadiah pernikahan kalian di sini tapi Alfani melarang mami katanya kalian gak perlu mobil besar besar gini, jadi mami pinjemin aja" jelas Bu Laras memberitaukan info tentang mobil alpard didepan rumah.
"Ah mami, kita bisa naik bareng bareng. Aku juga udah ada mobil cukup buat kita" ucap Alfano yang terlihat kurang senang maminya terlalu effort untuknya dan terkesan pamer kekayaan di keluarga sang istri. Padahal keluarga Pak Wawang sangat senang jika memiliki besan yang bisa menerima putrinya sebaik ini.
Perkataan Alfano itu membuat Asmara menyenggol tangan suaminya dan menatap dengan tatapan intimidasi bahwa yg diomongin itu bisa saja tidak menghargai usaha Bu Laras.
"Terima kasih banyak, mami. Kami berdua sangat bahagia , mami begitu memperdulikan kami. Kak Alfani benar, sepertinya kita berdua belum butuh mobil sebesar ini , jadi Alhamdulillaah mami hanya pinjam hihi" sela Asmara dengan tatapan bahagia membuat Bu Laras tidak terlalu kecewa setelah mendengar respon anaknya.
Alfano pun ikut berterima kasih kepada sang mami karena upaya untuk membahagiakan dirinya dan istri.
"Maaf mi, tadi Alfano cuma gak mau mami repot2 tapi karena sudah ada mobilnyaa untuk kita, makasih banyak ya mamiku sayang. I love u" ucap Alfano sambil memeluk Bu Laras.
Sang ibu pun menerima pelukan itu sambil tersenyum dan semua orang yang melihatnya ikut bahagia melihat interaksi anak dan ibunya yg begitu hangat.
Akhirnya, Alfano dan Asmara menaiki mobil Alpard yang sudah disiapkan, kemudian mobil baru Pak Wawang dikemudikan Pak Jarman beserta istri dan kedua keponakan kembarnya yaktu Rani Rian , sedangkan mobil camry milik Alfano dikemudikan Alfani dengan membawa Bu Laras, Bu Asih dan Pak Wawang.
Ketiga mobil itu berangkat ke KUA. Di perjalanan, Bu Laras mendapatkan telepon dari saudaranya yg menyempatkan ikut hadir di pernikahan Alfano dan Asmara , menginformasikan jika mereka langsung menyusul ke KUA dimana keponakan mereka akan menikah. Bu Laras pun mengirimkan lokasinya.
Sekitar 30 menit, mereka semua sudah hadir di KUA yang dituju tak berselang lama 1 mobil yang berisi 4 orang yaitu keluarga dari Bu Laras datang. Ada Om Ibrahim dan Bibi Cici serta Om Hendra dan Tante Ussy. Kedua om dari Alfano Alfani ini adalah adik dari Bu Laras dan Bibi serta Tante adalah adik ipar Bu Laras.
Di depan KUA sudah ada 2 petugas dan 1 penghulu yang menyambut rombongan iringan keluarga Asmara & Alfano. Syukurlah KUA nya cukup besar sehingga memang ada 1 ruangan khusus seperti aula untuk melakukan akad.
Ketika masuk ke KUA, Alfano tidak pernah melepaskan tangan Asmara hingga mereka duduk di kursi yang berdampingan. Pak Wawang sebagai wali nikah sudah duduk disamping Pak Penghulu.
Sebelum acara sakral dimulai, Petugas KUA memberikan berkas nikah berupa map yang berisi dokumen2 kepada Pak Penghulu lalu ditunjukkan kepada mempelai apakah benar data data yang sudah tertera.
Alfano dan Asmara sudah membacanya hingga dapat memberikan konfirmasi jika datanya benar kepada Penghulu.
Semua berkas aman, nah saatnya masuk acara inti yaitu menikahkan secara agama dan hukum kedua manusia didepan penghulu dan wali nikah.
__ADS_1
"Bapak sudah siap menikahkan, putri kandung bapak bernama Asmara Raniata dengan seorang pria yang bernama Alfano Yudhistira?" tanya Penghulu.
"InshaAllah siap" sahut Pak Wawang dengan mata yang mulai memerah menahan air mata haru mkarena putri sulungnya akan ia nikahkan untuk kedua kalinya tapi dengan suasana dan rasa yang berbeda.
"Alhamdulillah, mari kita mulai dengan bacaan Bismillah bersama sama lalu Pak Wawang bisa membacakan ijab dan akan disahuti saudara Alfano sebagai qabul" ucap Penghulu.
"Bismillahirrahmanirrohim" serentak semua orang dalam ruangan.
Pak Wawang mengulurkan tangannya diatas meja dan diterima oleh Alfano, lalu mereka berjabat tangan. Tangan mempelai pria satunya, mengengam tangan sang istri dengan erat dibawah meja. Asmara menatap wajah Alfano dengan tatapan terharu serta bahagia yang menjadi satu. Wanita cantik yang berbalut kebaya berwarna gold itu hanya menatap wajah tampan suaminya tidak berpindah sampai ijab qabul diucapkan.
"Saya nikahkan putri kandung saya , Asmara Raniata dengan saudara Alfano Yudhistira dengan uang senilai 5 juta rupiah dan logam emas 50 gram dibayar tunai"
Alfano dengan tegas dan penuh penghayatan menjawab dengan kalimat qabul, lebih yakin daripada pertama kali ia ucapkan 2 minggu lalu.
"Saya terima nikahnya, Asmara Raniata binti Bapak Wawang dengan uang senilai 5 juta dan logam emas 50 gram dibayar tunai" sahut Alfano dengan 1 tarikan nafas.
Mahar yang diberikan sama dengan mahar saat menikah siri kemarin.
"Bagaimana para saksi, SAH?" tanya Pengulu kepada Pak Jarman sebagai saksi dari keluarga Asmara dan Om Hendra sebagai saksi dari keluarga Asmara.
"SAH!!!" seru semua orang di ruangan.
Lalu terdengaran ucapan Hamdalah yang juga menggema di ruangan.
"Alhamdulillah"
Untuk kedua kalinya namun dengan perasaan berbeda tanpa paksaan, Alfano dan Asmara SAH menjadi suami istri secara agama dan hukum.
Lalu Pak Penghulu memberikan doa untuk pengantin dan diamini seluruh orang yang ada diruangan. Selanjutnya, suami istri tersebut menanda tangani buku nikah dan beberapa dokumen pernikahan.
Semua orang pun bersuka riang mengucapkan selamat dan berfoto.
Acara keluarga dan foto bersama selesai di KUA, Asmara Alfano beserta wali nikah yaitu Pak Wawang dipanggil untuk datang ke ruangan penghulu karena ingin membahas sesuatu.
Mereka bertiga pun masuk ke ruangan penghulu dan dipersilahkan duduk didepan meja kerja.
"Saya ucapkan selamat untuk pernikahan Mas Alfano dan Mbak Asmara, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah ya. Dan selamat juga untuk Pak Wawang sudah berhasil menikahkan putrinya dengan lancar" sapa Penghulu.
"Alhamdulillah, terima kasih Pak" sahut Pak Wawang.
"Amiin. Terima kasih Pak" sahut Alfano bergantian dengan mertuanya.
"Saya ingin menjelaskan sesuatu terkait hukum menikah dengan wanita hamil. Saya tidak berniat buruk atau menginformasikan hal hal yang tidak baik bagi pengantin yang baru saya nikahkan. Jadi kalian jangan tegang ya" ucap Pak Penghulu yang berusaha mencairkan suasana karena melihat ketiga tamu yang sudah mulai tegang karena mendengar sebutan wanita hamil.
"Agar tidak terjadi kesalahpahaman, saya jelaskan terlebih dahulu ya. Mohon maaf sebelumnya untuk mempelai, apakah benar jika istri hamil sebelum melakukan pernikahan?" tanya penghulu dengan lembut tanpa ada niatan buruk.
Alfano dengan tegas menjawab "Itu karena kesalahan saya, Pak. Benar, jika anak anak kami hadir sebelum kami menikah, namun kami akan membuat mereka tidak merasa diskriminasi dengan kenyataan itu"
Pak Penghulu tersenyum mendengar ketegasan Alfano.
"Wah suaminya gentlement sekali ya. Saya salut dengan anak muda yang jujur mengakui kesalahannya" sahut Pak Penghulu. Asmara dan Pak Wawang hanya menatap Alfano dengan tatapan tak percaya, lelaki yang 2 minggu lalu sangat angkuh dan seperti tidak ingin mempertanggungjawabkan kesalahannya, sekarang menjadi sangat berkebalikan.
__ADS_1
"Baik. Nah, saya sebutkan dulu aturan hukum di Indonesia bahwa pada peraturan Pasal 53 Kompilasi Hukum Islam (KHI) dari pasal tersebut berisi tiga (3) ayat, yaitu: 1. Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dinikahkan dengan pria yang menghamilinya. 2. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dulu kelahiran anaknya. 3. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Untuk posisi anak kalian dalam hukum nanti akan dijelaskan seperti ini, pada Pasal 99 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyatakan ada dua pengertian anak yang sah. Pertama, anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. Kedua, anak hasil pembuahan suami istri yang sah di luar pernikahan dan dilahirkan oleh istri tersebut.
Jadi, InshaAllah nanti anak kalian akan lahir dengan sah sebagai anak dari kedua orang tua kalian. Namun ya ketika mereka menanyakan kenapa kok mereka lahir tidak lama sejak kalian menikah, itulah tugas kalian menjelaskan dengan bijaksana" jelas panjang lebar penghulu.
Alfano, Asmara dan Pak Wawang pun tersenyum karena mengetahui informasi yang memang benar benar mereka butuhkan. Pernikahan ini akan membawa anak yang akan dilahirkan Asmara memiliki status yang jelas.
"Terima kasih banyak Pak, sudah dijelaskan hal penting seperti ini. Sangat saya butuhkan mengenai status anak saya kelak dan tidak ingin menyakiti istri saya" sahut Alfano dengan senyum lega.
"Terima kasih Pak, saya sebagai calon ibu pun tidak lagi takut dengan kejelasan status anak anak saya ini. Saya juga sebelumnya pernah dengar jika hamil diluar nikah harus menikah lagi namun dari penjelasan bapak tadi ternyata jika memang sudah sah menikah ketika hamil tidak perlu menikah lagi. Alhamdulillaah kalau begitu, saya dan suami saya InshaAllah akan menjalankan kewajiban kami sebagai orang tua yang baik untuk anak kami" sahut Asmara dengan mata berbinar bahagia serta lega karena penjelasan ini membuatnya mengerti status nikah dan anaknya kelak.
Pak Wawang yang hanya mendengarkan saja pun ikut bahagia. Akhirnya putrinya bisa menjadi seorang istri sah.
"Alhamdulillah, Yaa Allah. Engkau telah memberikan anak kami kebahagiaan setelah sakit yang ia rasakan. Berilah Asmara dan Alfano kehidupan pernikahan yang bahagia" batin Pak Wawang.
Setelah dirasa apa yang disampaikan Pak Penghulu sudah diterima oleh ketiga orang itu, akhirnya pertemuan tersebut selesai. Alfano menggandeng Asmara berjalan mengikuti Pak Wawang didepan mereka menuju ruang aula KUA dimana semua keluarganya masih berada disana menunggu mereka.
Bu Asih menghampiri suaminya dan menanyakan apa yang dibicarakan Penghulu.
"Ayah, ngomongin apa sih kok lumayan lama?" tanya Bu Asih penasaran.
"Cuma pesan pesan aja untuk pengantin baru" jawab singkat Pak Wawang agar tidak terlalu menjelaskannya dan istrinya itu percaya saja.
"Semua saudara yang hadir disini, saya sebagai ayah Asmara mengucapkan terima kasih sudah berkenan hadir untuk menyaksikan hari bahagia putri saya bersama mantu saya ini" ucap Pak Wawang dengan senyum.
Semuanya pun ikut tersenyum kepada Pak Wawang.
"Mohon izin, Pak Wawang. Setelah ini kita ke studio foto dulu ya, karena kita akan melakukan foto distudio untuk mengabadikan momen bahagia ini" sela Bu Laras.
"Boleh, Bu Laras" sahut Pak Wawang.
Mereka semua pun keluar kantor KUA dan menuju parkiran mobil masing masing.
"Yaampun sayang, aku lupa belum ngasih amplop ke pak penghulu" celetuk Alfano ketika sudah masuk mobil Alpard.
"Ya sudah, Mas ke kantor Pak Penghulu lagi sana aja. Aku tunggu disini, mami juga udah ngirim alamat studionya ke aku" sahut Asmara.
"Bentar ya, tunggu aku" ucap Alfano.
"Pak, tolong jaga istri saya sebentar ya. Saya masuk ke kantor KUA lagi" lanjut Alfano kepada driver.
"Siap pak" sahut driver.
Alfano pun keluar mobil dan berlari masuk ke kantor KUA. Akhirnya tak lama kemudian, pria yang sudah SAH menjadi suami Asmara itu sudah kembali masuk ke mobil.
"Alhamdulillah, udah" ujar Alfano lega.
"Alhamdulillah. Pak Penghulunya sudah bersedia nikahkan kita dan memberikan penjelasan penting kayak tadi, memang kita harus memberikan apresiasi" sahut Asmara sambil mengenggam tangan Alfano.
"Iya sayang. Akhirnya dapet buku nikaaaah!!!" seru bahagiaa Alfano membuat Asmara malu karena ada driver tapi wanita hamil ini hanya senyum saja.
__ADS_1
"Pak, boleh jalan ya" ujar Asmara yang mengarahkan driver menuju studio foto.
Mobil yang lain sudah jalan 15 menit lalu, tapi Asmara sudah mengirim pesan ke ibu dan maminya jika tadi suaminya masuk ke kantor KUA lagi menuju Pak Penghulu karena kelupaan ngasih amplop. Kedua ibu itu hanya bisa geleng geleng kepala sambil menertawakan kelupaan Alfano.