
Setelah ibadah isya' dilaksanakan berjamaah lagi di kamar Bu Laras, Alfano dan Asmara kembali ke kamar mereka untuk berganti baju sebelum pergi makan malam.
Bu Laras pun berganti baju juga menggunakan dress khas ibu ibu cantik dan terlihat berkelas. Tak lama mereka semua sudah berada di mobil dan seperti biasa selama perjalanan suara yang dominan terdengar adalah suara para wanita yang tidak lain adalah ibu dan istri sang supir.
"Mami pasti suka nasi goreng ini, soalnya Mas Alfano yang awalnya gak mau jadi suka" ucap Asmara.
"Oh iya kah? Mami percaya sama lidah Alfano karena dia tuh meskipun agak pilih pilih tempat makan tapi gak pilih pilih jenis makanan. Tapi kalau semisal tempatnya gak sesuai tapi rasanya enak di lidahnya, dia mah makan makan aja" sahut Bu Laras.
"Mami tau aja" celetuk Alfano setuju dengan yg diomongan maminya.
"Ya kan, mami adalah ibumuuu, Fanooo. Ya mana gak kenal anak mami sendiri" ujar Bu Laras.
"Hehe, iya mami Alfano Alfani memang terbaik" puji Alfano.
"Oh yaa, Alfani. Mami belum telepon dia sore ini. Mami biasanya telepon dia sehari 3 kali kalau beda tempat sama dia. Cuma dia yg bisa mami telepon semau mami gak kayak suami mu" sindir Bu Laras pada Alfano sambil mengambil hp di tas yg ia bawa dan menekan nomor Alfani.
Asmara yang mendengar sindirian mertua kepada suaminya itu hanya senyum kecut karena ia juga belum pernah mencoba menelepon Alfano ataupun ditelepon pria itu.
Alfano banya terkikih pelan ya karena memang dia sulit ditelepon sang mami sampek Jaka yang keseringan jadi pelampiasan Bu Laras kalau lagi kesel sama putranya yg gak bisa ditelepon.
"Halo mam, gimanaa di Bandung? Udah ketemu Alfano sama Asmara?" sapa Alfani melalui panggilan telepon Bu Laras.
"Halo, anak mami. Udah nih, ini lagi perjalanan makan malam. Kamu udah makan?" tanya Bu Laras perhatian.
"Ini juga mau makan sama Jaka, mam. Tadi kita gak sengaja ketemu di jalan terus sekalian makan malam" jawab Alfani.
"Wowowow, sama Jaka teruuus nih. Awas jatuh cinta, kasihan Rama di Ausi kamu tinggal sama cowok lain" ejek Bu Laras membuat Alfano melihat maminya di spion tengah mobil.
"Ah mami jangan ngomong gitu dong. Itu doa tau, masa mami mau anaknya jadi wanita berselingkuh sih. Ayo tarik kata mami" kesal Alfani.
"Hehehee, maaf sayaang. Mami cuma goda kamu. Mana mungkin mami mau kamu jadi wanita gak setia dan mami tau kamu wanita yg sangat setia sama pasangan, so maafin mami yaa. Mami tarik omongan mami hahahaa, tapi lucu juga kalau kamu sama Jaka dan akhirnya dia jadi adik ipar bosnya sendiri" Bu Laras masih tetap ingin menggoda Alfani sekaligus Alfano.
Dalam hati wanita paruh baya itu sebenarnya berharap Alfani bisa sama Jaka karena sudah terlanjur menganggap Jaka sebagai anaknya juga. Dia juga tau seberapa bertanggung jawab seorang Jaka sehingga ia bisa menyerahkan putrinya dengan tenang. Tapi, Rama pun tidak kalah baik sebenarnya. Hanya saja memang masih terbesit harapannya itu.
Alfano yang disebut sebut pun mengangkat alisnya dan mengerutkan dahi merasa tidak suka dengan pembicaraan maminya. Ia merasa belum siap jika asisten setia serta sahabat baiknya menjadi adik iparnya.
"Jangan sampek Jaka jadi adik iparku, amit amit" batin Alfani sambil geleng geleng kepala.
Asmara yang melihat tingkah suaminya pun penasaran, tapi nanti aja dibahas jika mereka berdua.
"Apa Mas Alfano gak setuju jika Kak Asmara harus bareng sama Bang Jaka?" batin Asmara.
"Ih mami, aku laporin ke Mas Rama ya karena mami godain aku bareng Jaka" ucap Alfani dengan cemberut.
__ADS_1
"Hahahaha, kamu tuh ya udah gede mau nikah jugaa masih main lapor laporan sama kekasihmu. Gitu yaaaa, mami disingkirkan" goda Bu Laras yang tak henti hentinyaaa membuat Alfani cemberut terus didepan Jaka sambil menerima telepon maminya.
"Ah mami nih, bikin aku cemberut aja. Mami kangen kan sama aku mangkanya kok godain Alfani teruuus? Mami kalau rindu bilang biar Alfani sekarang berangkat menemui mami di Bandung" tantang Alfani yang berniat membalas balik menggoda Bu Laras.
"Ih anak mami tau aja kalau mami kuangen banget sama kamu sayaang. Baru sehari gak ketemu kamu, kangen banget. Tapi kalau kamu kesini, mama kelihatan egois banget jadi ibu. Yaudah besok kamu harus tidur sama mami ya" sahut Bu Laras penuh kasih sayang dan manja ada putrinya.
"Hahahaa, iya mami ku sayaang. Yaudah mam, ini makananku udah datang. Aku makan dulu yaa. Good evening mam, see you besok" pamit Alfani yang merasa tidak enak kepada Jaka yang menunggu didepannya untuk menyantap makan malam mereka.
"Iya sayang, good evening. Have fun sama Jaka hehe" sahut Bu Laras dengan kekehan membuat Alfani lagi lagi kesel dikerjain maminya terus.
"Muaach" kecupan Alfani dari teleponnya untuk Bu Laras lalu menutup panggilan itu.
"Maaf ya, Jaka. Biasa memang mami tuh sayang aku banget sampek digodain terus. Jangan dipikirin ya, pasti tadi kamu denger kan omongan kita. Aku harap kita selalu jadi saudara gini ya" ucap Alfani dengan gugup karena takut Jaka diberi harapan oleh Bu Laras mendapatkan putrinya.
"Iyaaa, santai ajaa. Aku paham kok" sahut Jaka dengan memaksa senyumnya meskipun hatinya sakit kebangetan.
"Memang sepertinya aku harus merelakan perasaanku ini untuk kebahagiaan Alfani. Aku tidak boleh membuat dia tidak nyaman dengan perasaanku atau sikapmu yg aneh" batin Jaka.
Kembali ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Alfano, pria itu masih berwajah datar dan sibuk memikirkan candaan maminya tadi.
Asmara tau jika suaminya itu memikirkan soal Alfani dan Jaka. Sedangkan, maminya terlihat acuh dengan wajah cemberut dan datar sang putra malah sibuk mengelus perut sang menantu.
"Mas, kamu nanti mau makan apa? Nasi goreng biasa atau nasi goreng mawut? Aku pesenin" tanya Asmara memecah keheningan.
"Oke. Mami mau pesen apa? Biar Asmara pesenin dan Mas Alfano sama mami bisa duduk dulu di tempat makannya di warung itu biar ndak terlalu kena asap jalanan" tanya Asmara pada mertuanya.
"Hmm, mami temenin kamu pesen aja deh sayang. Biar Alfano yang duduk dulu di warung sekalian cari tempat buat kita. Mami gak mau jauh jauh dari cucu mami" jawab Bu Laras sambil mengandeng tangan menantunya.
"Oke mami, its okay. Mas kamu mau kan cari tempat buat kita?" tanya Asmara ketika melihat Alfano sudah memarkirkan mobilnya dengan pas.
"Iya" jawab singkat Alfano.
Asmara pun senyum kecut, dia merasa gak berbuat salah apa apa eh kena efek keselnya dia.
"Ayok deh keluar Asmara, biarin Alfano cuek begitu tapi dia melakukan apa yg dia omongin kok. Kita turun aja buat pesen ya" ajak Bu Laras membuka pintu mobil disisinya dan berjalan ke sisi pintu mobil Asmara dan menunggu menantunya itu untuk keluar mobil.
Asmara pun langsung keluar mobil bersamaan dengan Alfano.
"Aku tunggu disana" ujar Alfano sambil berjalan menuju warung.
Bu Laras menggandeng tangan Asmara untuk berjalan menuju rombong.
Setelah sampi di abang nasgor, Asmara tanya lagi ke Bu Laras mau pesen apa.
__ADS_1
"Mami, mau pesen apa?" tanya Asmara lembut.
"Samain kayak kamu aja" jawab Bu Laras sambil melihat abang nasgor ngoreng nasi di wajah besarmya.
"Bang, kita pesen 4 nasi goreng mawut ya" pesan Asmara membuat Bu Laras heran kok pesan 4 padahal mereka bertiga aja.
"Siap, neng. Di warung ya? Tadi abang lihat suaminya kesana. Nanti abang kirim kesana" sahut abang nasgor yang sudah mengenal Asmara dan wajah suami wanita itu sejak Alfano makan di samping rombongnya kemarin lusa dengan lahaap malah super lahap.
"Oke bang. Kita tinggal warung ya" sahut Asmara lalu mulai berjalan dengan gandengan Bu Laras yang belum terlepas dari tangannya.
Bu Laras bertanya tentang hal yang membuat ia penasaran tadi ketika mendengar pesanan Asmara "kok 4 sayang , kita kan bertiga?"
Sontak membuat Asmara tersenyum dengan pertanyaan mertuanya itu dan menoleh ke Bu Laras.
"Maaf mami, sejak sebulan lalu kayaknya nafsu makanku berlipat ganda hehe. Si twins juga suka nasi goreng ini daripada nanti nunggu lama lagi, jadi sekalian deh" jawab Asmara dengan terkikih kecil.
Bu Laras pun tertawa kecil karena ia tak menyadari jika cucu cucunya juga abutuh asupan nutrisi dari sang ibu.
"Hahahaa, bener banget Asmara. Waktu mami hamil Alfano dan Alfani juga nafsu makannya bener bener meningkat tajam. Untung dulu mami rajin olahraga hamil juga jadi badan mami masih sexy waktu hamil. Tapi badanmu juga masih tetep langsing kayaknya ya hanya perutmu aja nih yang buncit" sahut Bu Laras sambil mengelus perut sang mantu dalam perjalanan ke warung.
"Iya mam. Asmara juga udah mulai ikut olahraga hamil meskipun masih baru mulai beberapa minggu. Semog makin rutin karena akan bantu proses lahiran juga" ujar Asmara.
"Betuuul" sahut Bu Laras dan tak terasa mereka sudah berada di meja makan dengan 2 bangku kosong didepannya serta Alfano yg sudah duduk.
Asmara pun duduk disebelah Bu Laras dan membiarkan Alfani duduk sendiri tapi berhadapan dengannya.
"Mas, aku didepanmu. Senyum dong" goda Asmara ketika melihat wajah datar suaminya sambil memainkan hp.
Mendengar suara istrinya, Alfano pun menatap lurus Asmara yang berada didepannya.
"Cium dulu" goda Alfano dengan senyuman smirk membuat Asmara menatap tajam padanya. Bisa bisanya sang suami memberikan permintaan vulgar seperti itu ketika di tempat umum dan ada mertuanya.
"Nanti yaa, nanti aku kasih cium kalau mas senyum didepan aku sama mami sampek makan malam kita selesai gimana?" tantang Asmara.
"Boleh" tantangan diterima Alfano.
Akhirnya pria kaku dan dingin itu tersenyum dihadapan Asmara dan Bu Laras hingga makanan yang mereka pesan datang lalu menyantap nasi goreng mawut alun alun Kota Bandung dengan lahap.
Ternyata Bu Laras juga menyukai nasi goreng yang ia makan bersama anak dan mantunya, lalu ia memesan 1 porsi lagi dan ia memberikan separuhnya kepada Alfano.
Asmara pun memakan dengan lahap 2 porsi nasi goreng yg ia pesan untuk dirinya namun ketika sisa separuh, ia berikan ke suaminya karena ia sudah kekenyangan.
"Mami sama istri bener bener kompak bikin aku ngembang" celetuk Alfano ketika menerima porsi tambahan dari istri dan maminya.
__ADS_1
Asmara dan Bu Laras hanya bisa terkekeh mendengar celetukan pria didepan mereka.