
Asmara keluar kamar dengan senyum senyum sendiri.
"Hahaha, akhirnya kamu menurutiku. Akan kubuat kamu selalu menuruti permintaanku, Alfano" gumam Asmara ketika sudah diluar kamar. Ia membuka hp yg ia bawa untuk memanggil Rian.
"Hello, yan" sapa Asmara ketika panggilannya diterima.
"Iya kak, ada apa?" sahut Rian.
"Kakak boleh minta tolong, pinjem sepeda motor karyawan di restauran ya , buat beliin kakak iparmu obat. Dia habis di hajar sama ayah. Tolong beliin, salep memar dan obat anti nyeri ya. Pakai uangmu dulu, bawa uang kan?" jelas Asmara.
"Iya, aku bawa uang. Seharusnya, kakak gak perlu peduliin dia, biarin dia masuk rumah sakit lagi gara2 dihajar ayah. Untung aja gak dibikin dead" ujar Rian jadi kesal karena kakaknya peduli dengan pria yg seharusnya tidak harus dipeduliin.
"Pinginku gitu, tapi masa aku baru nikah dia udah dead aja. Apalagi di tangan ayah, bisa bisa keluarga kita makin berantakan. Udah deh ya, kakak minta tolong. Kakak tunggu dirumah" ucap Asmara tidak mau dibantah.
"Iya" jawab singkat Rian.
"Kalau aku bisa mukul kamu, pasti aku juga akan buat kamu babak belur, kakak ipar" ucap Rian sambil mengepalkan tangannya ketika panggilan dengan Asmara selesai.
Namun meskipun merasa kesal, tapi Rian tetap melakukan apa yang disuruh oleh Asmara. Pria muda itu menghampiri Bunga di kasir dan memberitaukan perintah kakaknya itu.
"Kak Bunga, inu barusan Kak Asmara telepon minta tolong aku buat beli obat , boleh pinjem motor karyawannya?" pinta Rian tanpa menjelaskan siapa yg sakit atau butuh obat, karena ia malas menyebut Alfano.
"Obat? Siapa yang sakit?" tanya Bunga mulai khawatir.
Dengan nafas berat, Rian pun akhirnya menjelaskan untuk siapa obat itu.
"Si Alfano tuh, dia habis dihajar sama ayah kata kakak" jawab Rian dengan malas. Bunga terkikih mendengar info dari adik sahabatnya itu.
"Hahahhaa, seharusnya biarin aja yakan. Memang cowok itu perlu dikasih pelajaran. Tapi yaudah beliin aja sana , mungkin pria itu udah kesakitan sekarang. Kasian kemarin baru keluar rumah sakit masa masuk lagi kan haha" sahut Bunga dengan ketawa.
"Iya kak. Pinjem motornya ya" minta Rian lagi.
"Oh iya, ini pake motor restauran aja. Honda warna hitam ya ada helm hijau" ujar Bunga sambil menyerahkan kunci motor.
"Oke, makasih kak bunga" sahut Rian lalu berjalan menuju parkiran.
Rian pun pergi ke apotik yang tidak jauh dari restauran dan kawasan rumah Asmara. Tidak lama berada dijalan, lelaki itu sudah sampai tujuan dan membeli obat yg diminta oleh Asmara.
__ADS_1
Tak buang buang waktu, Rian membawa obat yang telah ia beli menuju rumah kakaknya. Sesampainya di rumah Asmara, Rian langsung masuk karena pintu tidak dikunci dan melihat Asmara sedang duduk di ruang tamu sambil scroll hpnya.
"Kamu udah dateng ya" sapa Asmara kepada adiknya yang memasang wajah kesal.
Rian tidak menjawab, ia hanya menyodorkan kresek yg berisi obat kepada Asmara.
"Makasih ya. Jangan cemberut gitu dong adiknya kakak yang paling tampan. Nanti kakak kasih bonus ke rekeningmu deh" bujuk Asmara.
Namun, Rian tidak seperti Rani yang bisa dibujuk oleh uang. Pria muda dan calon dokter itu memilih tak menyahuti kakaknya dan berjalan keluar rumah lagi menuju restauran enak kabeh.
"Dasar anak cowok, keselnya gemesin banget" gumam Asmara dengan kikihan karena melihat sikap Rian yang lagi kesel,
Asmara pun berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Ketika masuk, ia melihat suaminya sedang menjalankan ibadah dhuhur.
"Oh, dia sholat juga ternyata" batin Asmara takjub ternyata lelaki yg ia nikahin meskipun bersikap seperti anak anak, suka bikin kesel dan nyakitin, tapi ia ternyata sudah dewasa secara agama yang mengerti kewajiban.
Setelah Alfano salam, barulah Asmara menutup pintu kamarnya yang menandakan ia sudah masuk kamar.
Alfano menoleh kebelakang dan melihat istrinya sudah masuk kamar dengan membawa kresek obat. Lelaki itu langsung tersenyum senang, selain karena permintaan Asmara namun memang dirinya merasa lega ada obat untuk lukanya.
Asmara tak menyahuti Alfano, ia langsung berjalan ke ranjang dan duduk di tepinya.
Setelah Alfano selesai berdoa, ia membereskan alat sholat. Pria itu berjalan hingga depan Asmara.
"Ini obatnya? Perlu aku ganti biayanya?" tanya Alfano lagi lagi dengan nada angkuh tapi senyum tetap ia berikan kepada wanita didepannya ini.
"Nggak usah, aku gak semiskin itu" jawab Asmara tak kalah sengit sambil menyodorkan kresek obatnya.
Alfano pun menerima kresek itu dan lagi lagi memberikan senyuman manis untuk Asmara.
"Aduh, permintaanku salah deh kayaknya ini. Bisa bisa kalau disenyumin terus kayak gini, akunya yg gak tahan buat marahin dia karena udah bikin hatiku gak tenang" batin Asmara memalingkan wajah.
"Hayoo kamu udah terpesona kan lihat senyumku? Mangkanya kalau minta sesuatu itu dipikir dulu, Asmara. Kamu meremehkan senyuman seorang Alfano yang bikin wanita klepek klepek" goda Alfano.
"Siapa yang terpesona. Aku memalingkan wajah darimu tadi karena udah capek dan bosen lihat wajahmu yg selalu bikin aku marah aja kalau inget kata katamu tadi pagi bilang terpaksa nikahin aku" sahut Asmara dengan memberikan alasan untuk menutupi hatinya yg berdebar.
__ADS_1
"Oh gara gara itu ya kamu masih kesel sama aku. Kan kita tadi udah sepakat kalau kita sama sama terpaksa jalanin ini. Yaudah kamu gak usah mikirin itu, jalanin aja. Aku aja meskipun memang terpaksa nikahin kamu dan tanggung jawab secepat ini, tapi aku gak marah marah terus" ucap Alfano dengan nada si paling benar.
Asmara pun berdiri, kali ini ia harus menyadarkan Alfano jika pernikahan ini tidak semata mata karena keterpaksaan dari orang tua mereka atau hanya karena dipaksa tanggung jawab tapi pasti karena hal lain yang ditutupi oleh kegengsian dan ketakutan masing masing dari mereka.
Wanita hamil itu mendekat hingga ujung kakinya menyentuh ujung kaki Alfano.
Alfanonya yg sekarang tiba tiba diam kaku karena gerakan spontan Asmara. Malah pria itu memundurkan kakinya selangkah agar ada jarak antara mereka. Namun sang istri mulai berulah. Ia capek selalu menjadi wanita lemah dan diremehkan oleh Alfano beberapa jam ini. Ia mulai memberikan serangan 1 langkah mendekat dengan suaminya.
"Kalau aku bilang, aku tidak sepenuhnya terpaksa menikahimu gimana?" serangan pertama Asmara yang membuat Alfano memundurkan kakinya lagi.
"Kalau semisal aku masih berharap kamu menikahiku karena keinginanmu sendiri gimana?" serangan kedua Asmara yang menbuat Alfano lagi lagi mundur.
"Kalau semisal kemarin aku tidak ingin menikahimu, apakah saat ini kamu bahagia?" serangan ketiga Asmara yang membuat Alfano makin membeku dan merasa grogi.
"Kalau semisal perasaanku kemarin sudah memberikan kesempatan untuk kamu isi ketika kita sama sama dirumah sakit, kamu udah peduliin aku dan anak kita , aku menjadi tersentuh dengan perhatianmu , apakah aku salah telah memberikan kesempatan padamu seperti itu hingga kamu merusak semuanya?" serangan terakhir Asmara yang bertepatan dengan Alfano menatap dinding.
"Aaakh!" seru Alfano ketika punggungnya menatap dinding dengan keras karena tidak mengira ia akan mundur dan menabrak dinding.
Asmara tersenyuk smirk melihat pria yang tadinya angkuh jadi diam tak bisa menjawab.
"Jujur ya, Alfano. Aku tadi pagi sangat marah sama kamu sampek aku pingin bunuh kamu kalau aku bisa. Aku udah menahan untuk tidak memperdulikan kata 'terpaksa' dan 'tanggung jawab' darimu tapi ternyata tidak bisa karena 2 kata itu sungguh mengganggu ku. Seolah olah aku mengemis tanggung jawab padamu sampek kamu terpaksa menikahiku. Aku tarik permintaanku tadi yg nyuruh kamu senyum ketika bertemu dengan ku dan jangan marah marah sama aku" curahan hati Asmara.
Wanita hamil itu ambil nafas lagi untuk melanjutkan omongannya.
"Aku ganti sekarang permintaannya, tarik omonganmu dan jangan pernah sekali kali menyebutkan dua kata itu lagi dihadapanku dengan alasan apapun. Jika kamu mengatakannya lagi apalagi dengan nada angkuh, siap siap aja harta warisanmu akan jatuh ke tanganku dan anak anakku. Itu yang mami bilang padamu kan jika menyakitiku lagi itu akibatnya" lanjut Asmara dengan senyuman smirk yang memberikan kelegaan untuknya karena bisa memberikan serangan pada Alfano hingga mati kutu.
"Kok bisa dia tau ancaman mami ya? Bahaya ini kalau bener bener mami cabut semua warisannya" batin Alfano yang mulai menganggap omongan asmara serius dan menjadi takut miskin mendadak.
"Rasain lu! Sekarang aku yang terpaksa menggunakan kartu AS yang diberikan oleh kak Alfani untuk menakuti mu" batin Asmara dengan bahagia.
Tadi pagi ketika Alfani bersama Asmara setelah memakai gaun. Saudara kembar suaminya itu memberikan saran dan tips tips menghadapi Alfano.
"Asmara, habis ini kamu akan menjadi istri lelaki angkuh dan kaku ya. Jadi kamu harus menggunakan trik untuk menaklukannya hingga kalau bisa bertekuk lutut dihadapanmu. Alfano sejak ditinggal mantan kekasihnya Alexa, pria itu jadi kayak gini karena memang ia benar benar sayang dan cinta sama wanita tidak tau diri itu. Sebelumnya ia hampir kayak Jaka, humoris, sopan, baik, tenang, dan sabar. Eh ya karena disakitin wanita aja ia menjadikan hidupnya lebih bahagia tanpa wanita" ujar Alfani menjelaskan awal mula Alfano menjadi pria angkuh hingga saat ini.
"Kunci yg ingin aku sampaikan dan paling penting saat ini untuk menghadapinya kalau lagi kumat angkuhnya, ancam dia soal harta warisan dari mami. Meskipun perusahaan batu bara sekarang ia pegang, tapi direksi masih mempertimbangkan saran dari mami karena sahamnya juga gede. Sebetulnya Alfano tidak gila harga, tp karena saat ini perusahaan batu bara adalah warisan yang paling ia sayangi dari kepergiaan papi maka ia tidak rela kehilangan itu apalagi gara gara kamu. Pasti dia akan menuruti semua maumu kalau kamu ancam pakai warisan itu" lanjut jelas panjang lebar Alfani dan didengarkan seksama oleh Asmara.
Asmara mencerna semua omongan Alfani untuk bisa ia terapkan nanti. Dan benar saja, saat ini Alfano terdiam dengan raut muka sudah agak panik karena istrinya menyebutkan warisan.
__ADS_1
"Wanita ini lama lama berani juga" batin Alfano tidak terima namun ia tidak bisa berbuat apa apa.