
Alfano sebenarnya penasaran istrinya kemana, tapi karena gengsi gede maka ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang dan merilekskan tubuhnya.
"Pukulan ayah masih terasa sampek sekarang" keluh Alfano. Namun beberapa saat kemudian, pria itu akhirnya tertidur.
Asmara masih beres beres ruang tamu seperti ngumpulin sampah nasi kotak dan sampah lainnya. Ia juga mengulur tikar yg di lantai. Pekerjaan bersih2 yang ia hindari adalah angkat kursi dan meja karena kondisinya yang sedang hamil, ia tidak ingin ambil resiko.
Setelah kurang lebih 1 jam bersih bersihnya, Asmara kembali masuk ke kamar karena sudah adzan dhuhur. Ia mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadanya. Wanita itu membiarkan Alfano tertidur pulang tapi terbesit rasa khawatir karena pria itu meringkuk di atas tempat tidur.
"Dia gapapa kan?" batin Asmara ketika akan menunaikan ibadah.
"Biarin deh. Sholat dulu baru mikirin dia nanti" lanjut Asmara dalam hati lalu mulai melanjutkan kegiatan ibadahnya.
Tidak lama , Asmara sudah menyelesaikan sholat dhuhur dan berdoa. Setelah itu ia lepas mukenah yg ia kenakan dan menatanya dengan rapi.
Ketika berdiri dan akan berjalan keluar kamar, ia melihat ekspresi wajah Alfano yg mengerutkan dahi seperti menahan kesakitan dan terlihat berkeringat.
"Jangan peduli jangan peduli. Dia gak peduli sama kamu, Asmara" lirih Asmara ketika merasa kasihan pada suaminya itu namun ia menyakinkan diri bahwa dirinya tidak akan tertipu dengan sikap lemah Alfano atau sikap manis pria itu. Sakit banget habis dibuat berharap terus dijatuhkan harapan itu.
Asmara memilih melangkahkan kakinya keluar kamar, tapi suara Alfano memanggilnya dalam keadaan seperti tidak sadar atau masih dalam tidurnya.
"Asmara. Maafkan aku" lirih Alfano beberapa kali hingga wanita yg ia sebutkan namanya mendengar dan menghentikan langkah kakinya.
Asmara membalikkan badannya lagi menatap Alfano yang meringkuk diatas ranjang.
"Dia meminta maaf kepadaku? Apa tidak salah? Atau hanya akal akalan dia aja biar aku kasihan terus merawatnya?" batin Asmara tak percaya.
Asmara tak mau peduli dengan Alfano tapi lagi lagi ketika akan membuka pintu kamarnya, ia mendengar Alfano memanggil namanya untuk minta maaf.
"Sebenarnya kamu minta maaf untuk apa hah? Kemarin udah hampir kumaafin terus kamu membuatku menyesal telah memaafkanmu. Lalu hari ini mintaa maaf lagi terus nyakitin lagi. Sampek kapan Alfano???" gumam Asmara.
Namun, kali ini Asmara memilih untuk mendekat dan melihat kondisi Alfano lebih dekat. Pelan pelan ia mendekat disamping ranjang dan melihat wajah Alfano yang memang benar sudah berkeringat sangat banyak.
__ADS_1
"Keringatnya banyak banget? Apa aku hidupin ac nya?" lirih Asmara lalu memutuskan untuk menyalakan ac di kamarnya. Sehari hari, wanita hamil itu jarang menyalakan ac karena Bandung sudah dingin dan pada dasarnya Asmara tidak suka terlalu dingin.
Klik! suara tombol ac dinyalakan. Lalu Asmara meletakkan remot ac kembali ke nakas sebelah ranjang. Perhatian kecil seperti ini, entah kenapa masih wanita itu lakukan padahal ia berusaha untuk tidak memperdulikan pria yang sedang tidur diranjangnya.
Ketika Asmara akan berjalan menuju pintu keluar kamar lagi, tangan Alfano menahan tangan Asmara untuk berhenti.
"Jangan pergi" lirih Alfano dengan mata menatap penuh harap kepada Asmara, membuat wanita itu heran, maunya apa sih pria ini. Tadi bilang kayak terpaksa nikahin Asmara, jadi pria angkuh lagi eh sekarang jadi lemah begini. Apa yang menyebabkan Alfano seperti orang plin plan atau memiliki 2 kepribadian berbeda?
"Pria ini aneh banget. Tadi angkuh sekarang bersikap lemah begini. Emang apa yg bener bener dia rasakan ? Apa Alfano punya dia kepribadian berbeda ya?" batin Asmara sambil melihat tangannya ditahan oleh tangan Alfano.
"Nggak usah masang wajah lemah begitu. Tadi kita kan sudah bikin perjanjian kalau kamu gak baik sama aku, aku juga gak baik sama kamu atau sebaliknya diluar acara keluarga. Kalau aku bantu kamu, ngerawat lukamu , kamu mau ngasih aku apa atau mau ngasih sikap yang bagaimana?" tanya Asmara pada pria yang memegang tangannya dengan nada tegas.
"Iya, aku juga ingat. Aku tidak akan akan melupakan kesepakatan denganmu atau siapapun. Jadi jangan khawatir hubungan kita tetap setimpal. Aku minta kamu sesuatu, maka kamu juga bisa minta aku sesuatu. Gimana?" suara Alfano lirih mencoba menjelaskan perasaannya saat ini. Asmara masih diam terpaku berdiri disamping ranjang dengan tangan yg dipegang oleh suaminya.
"Aku berusaha nahan sakit karena memar diperut sama wajahku, tapi kayaknya harus dikasih salep memar ini. Apakah kamu punya salepnya, Asmara?" lanjut Alfano dengan suara kecil seperti meminta bantuan.
"Nggak ada. Sebelum kamu datang kesini, gak ada kejadian babak belur yg butuh salep memar. Lepasin tanganku, aku mau keluar kamar" jawab Asmara ketus.
Alfano masih menahan sakit dan nyeri disekujur tubuhnya. Tangannya yg mulai lelah memegang tangan Asmara, ia lepaskan tapi ia memohon sesuatu kepada istrinya sebelum benar benar ditinggalkan.
Asmara menoleh ke Alfano dengan tatapan tajam , tak percaya lagi lagi pria itu berlagak jadi korban.
"Kamu benar benar ya, tidak bisa jadi pria dewasa yang tidak menyalahkan orang lain karena kesalahanmu. Kamu nyalahin ayahku karena mukulin kamu? Seharusnya kamu berterima kasih karena dia tidak membunuhmu, Alfano. Please lah, jangan bikin aku capek dan emosi begini. Kasian anakmu, bisa ikutan stress lama lama kalau mommy nya marah marah terus" sahut Asmara dengan marah tapi tak sadar jika ia telah menyebutkan 'anakmu' kepada Alfano untuk pertama kali.
Alfano langsung terpaku mencerna omongan Asmara dan wanita itu pun langsunh terdiam ketika sadar apa yang ia katakan.
"Akhirnya kamu ngakui kalau bayi twins yang kamu kandung adalah anakku secara langsung" ujar Alfano dengan senyuman smirk tapi dalam hatinya entah ia juga merasa lega dan bahagia.
Asmara yang terlanjur mengakui secara langsung pun juga tidak mau kalah omong sama pria yg sudah jadi suaminya itu.
"Hahaha, ya memang ini anakmu. Kamu terlalu bodoh jika meragukan anak ini bukan anakmu dan sampek percaya kalau aku sudah menikah. Mana ada lelaki yang mau menikah dengan wanita yang sudah diperkaos orang lain hah? Siapa lagi kalau bukan karena perbuatanmu yang diluar akal sehat dan kemanusiaan itu aku bisa jadi seperti ini. Hamil diluar nikah dan harus pergi dari rumah orang tuaku untuk menghindari rasa malu. Eh kamu cari aku segala sampek jadi kayak gini. Seharusnya, kamu gak perlu cari aku, Alfano. Biar kita hidup tidak dalam penderitaan bersama seperti ini" omel Asmara.
__ADS_1
Alfano menyunggingkan senyumannya. Ia merasa bahwa wanita didepannya ini sudah makin berani padanya, tapi baginya semakin menarik untuk digoda. Alfano sendiri saat ini bingung apa yang ia inginkan dari Asmara. Pria ini tidak tau perasaanya yang suka berganti ganti gak jelas. Kadang baik, kadang angkuh, kadang ya terlihat lemah.
Ketika menyadari bahwa perasaanya jadi berdetak kencang ketika melihat Asmara yang melihatnya dengan tatapan sinis, Alfano pun ikut merubah raut wajahnya dengan datar.
"Ada apa sih sama perasaanku ini? Lagi lagi kayak gini. Gak jelas kalau berhadapan sama ni cewek. Aku maunya apa ya sebenarnya?" batin Alfano pada dirinya sendiri.
"Semua sudah terjadi. Saat ini kita sudah menikah secara agama dan 2 minggu lagi kita menikah secara hukum. Kalau kamu gak mau menderita dalam pernikahan ini, sebaiknya kamu yang menyampaikan pada orang tua kita jika kamu menolak menikahiku jadi kamu menolak aku bertanggung jawab kan. Setidaknya aku menerima saja semua keputusanmu yg penting aku terlihat ada niat untuk tanggunh jawab sama kamu" sahut Alfano.
Asmara memutar matanya jengah.
"Kok ada pria seperti dia dan jadi suami ku. Kalau aku pembunuh, saat ini dia udah pergi ke akhirat karena tanganku sendiri" batin Asmara.
Asmara pun udah gak mau peduliin Alfano lagi dan memutar badannya lagi untuk berjalan menujue pintu keluar. Lagi lagi, suara Alfano membuat ia berhenti.
"Kali ini aja, karena keadaanku kayak gini. Tolong aku buat beliin salep memar dan obat anti nyeri. Aku akan menuruti 1 permintaanmu juga" celetuk Alfano.
Giliran Asmara yang menyunggingkan senyumnya bertanda ia akan memberikan permintaan yg akan menyulitkan lelaki itu.
Asmara membalikkan badannya lagi menghadap Alfano di ranjang.
"Aku gak mau berdebat. Ini udah jadi keputusanmu ya. Aku turutin apa maumu tapi kamu juga harus nurutin permintaanku ini. Kamu harus bersikap baik padaku dengan memberikanku senyum termanismu setiap melihatku ketika dihadapan keluarga kita atau saat kita berdua aja dan jangan sekali kali marah sama aku tanpa alasan yang jelas bukan kesalahanku. Permintaan ini selama aku menikah denganmu dan akan berakhir jika pernikahan ini juga berakhir" ucap Asmara yang membuat Alfano melotot pada istrinya itu.
"Apaa???? Yang jelas aja kalau minta sesuatu. Aku kan minta barang kamu juga harus minta barang. Permintaanmu itu gak masuk akal" tolak Alfano.
"Ya suka suka aku dong. Aku mau minta apa. Lagian permintaanku ini untuk menjaga kewarasanku selama berada dalam penderitaan pernikahan ini. Gimana kamu mau nggak nerimanya?" tantang Asmara.
Alfano menghembuskan nafas berat karena keadaannya yang saat ini sudah butuh obat, maka ia pun menyetujui permintaan Asmara.
"Okedeh. Meskipun senyuman terpaksa yang penting aku senyum ya. Kenapa sih kamu membuat aku melakukan apapun jadi terpaksa kalau ada kamu? Hmmm aku pikir kamu juga harus bisa pastikan mau ngelanjutin pernikahan ini atau nggak sebelum 2 minggu lagi. Aku harap kamu benar benar mengambil keputusan yg tepat agar kita berdua sama sama keluar dari penderitaan ini" kesal Alfano.
Asmara seperti sudah biasa mendengar omongan tentang 'terpaksa' dan 'penderitaan' dari Alfano sejak beberapa jam lalu ia menikah. Ia sudah tidak memasukkan kata kata itu dalam hatinya.
__ADS_1
"Oke, sepakat. Aku telepon Rian dulu buat beliin obat kamu. Mumpung dia lagi restauran sama Rani jadi bisa pinjem motor. Aku pegang kata katamu ya buat nepati permintaanku. Dan untuk keputusanku 2 minggu lagi, aku jamin itu adalah keputusan terbaik untuk kita" sahut Asmara dengan senyum kemenangan lalu berjalan keluar kamar.
"Aish! Wanita itu sungguh membuat hidupku berubah!" gerutu Alfano ketika pintu kamar sudah tertutup lagi.