
Asmara yang masih terkejut dengan kedatangan orang tuanya di restauran Enak Kabeh, berusaha mencari ide dengan Bunga untuk memberikan alasan yang bisa diterima oleh keluarganya nanti.
"Gini aja, suruh keluargaku makan dulu nanti setelah makan tolong antar ke rumahku ya Bun. Sepertinya, aku akan jujur pada mereka apa yang sudah terjadi padaku. Aku tidak bisa menyembunyikan kehamilan ini lebih lama lagi. Apalagi kita berada di satu wilayah, pasti cepat atau lambat mereka akan tau juga" ucap Asmara pasrah karena memang tidak ada jalan lain selain jujur pada keluarganya.
Alfano hanya mendengarkan percakapan Asmara dengan Bunga melalui telepon.
"Apakah aku harus bertanggung jawab pada Asmara? Dia pasti kesulitan menghadapi masalah ini sendiri. Aku memang salah, mungkin Jaka benar aku harus menyakinkan diriku bahwa aku akan mempertanggungjawabkan kesalahanku jika benar itu adalah anakku dan dia belum menikah" batin Alfano untuk dirinya sendiri.
"Okedeh, Asmara. Semangat ya kamu, nanti aku temenin deh waktu kamu pulang ke rumah. Aku takut ayah dan ibumu marah besar sama kamu" sahut Bunga dengan nada khawatir.
"Tenang aja. Aku gak mau melibatkanmu dalam masalah ini, Bun. Aku bisa sendiri. Makasih ya udah bantu aku" ucap Asmara dengan senyum agar suaranya terdengar tenang.
Panggilan antar sahabat itu pun akhirnya selesai. Asmara langsung berbalik badan mengarah ke arah brankar dan terkejut melihat ekspresi Alfano yang serius dan tatapan penuh tanya.
"Astaga. Aku lupa banget kalau dibelakangku tadi pria ini. Pasti sekarang dia tau kalau aku bohong soal suami dan siapa ayah bayi di kandunganku" batin Asmara panik karena ia sendiri yang membocorkan kebohongannya pada pria yg membuat ia berbohong.
Namun raut wajah Asmara juga tidak kalah serius dengan Alfano untuk menyembunyikan kebodohannya.
"Aku ingin kamu menjelaskan kebohonganmu itu padaku" kata Alfano dengan nada tegas.
Asmara sok tidak tau apa yg dimaksud Alfano.
"Jelasin apa? Abaikan apa yg kamu dengar tadi. Tidak ada hubungannya sama kamu" sahut Asmara dengan acuh.
Alfano menghel nafas dengan berat dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia mencoba menahan amarahnya untuk kebohongan Asmara yang sudah ia ketahui. Pria yang sedang sakit ini menahan diri untuk tidak emosi pada wanita hamil di rumah sakit, apalagi bayi yang ada pada kandungan wanita dihadapannya sekarang kemungkinan besar memang anaknya.
"Aku bilang sekali lagi, tolong jelaskan apa yang kamu maksud dengan kehamilan di luar nikah. Aku tidak ingin marah padamu, Asmara" kata Alfano mencoba ia sampaikan dengan lembut tapi penuh penekanan.
Asmara memberikan seringai dari senyumannya karena mendengar Alfano menahan marah padanya.
"Apa? Kamu bilang tidak ingin marah padaku? Hahahaa. Aku tidak peduli jika kamu marah padaku disini dan dilihat orang banyak. Biar tau bahwa kamu memang lelaki breng*** dan tidak bertanggung jawab" sahut Asmara dengan terkekeh dan mengusahakan suaranya tidak terdengar di keramaian ruangan itu.
Alfano sungguh dipancing amarahnya oleh Asmara. Keangkuhan lelaki itu pun akhirnya muncul.
__ADS_1
"Oh maumu begitu? Kamu mau seluruh orang diruangan ini mendengar bahwa aku sudah menghamilimu? Iya?" teriak Alfano yg kehilangan kesabaran menghadapi Asmara yang masih bersikukuh bohong padanya.
Ruangan yang begitu ramai tadinya dengan suara suara pasien dan pengunjung , tiba tiba hening setelah mendengar teriakan Alfano.
Asmara pun ikut terkejut, Alfano bisa senekat itu. Ia diam terpaku melihat ekspresi marah Alfano dengan muka yg tadinya pucat terlihat memerah.
"Kurang keras aku ngomongnya, hah??!!! Kalau aku sudah memper**sa kamu? Ini yang kamu inginkan agar aku mengaku ke semua orang?" teriak Alfano sekali lagi hingga ruangan itu benar benar hening.
Mata Asmara mulai berkaca kaca. Ia merasa malu dan merasa aib mereka telah dibongkar didepan umum.
"Memang kamu bajing** Alfano!" teriak Asmara dengan bercucuran air mata lalu berlari keluar ruangan dan dilihat banyak orang.
"Astaga! Bodohnya aku!" seru Alfano pada dirinya sendiri. Ruangan masih hening tidak ada suara namun beberapa saat lagi ramai lagi karena para pasien dan keluarga pasien mengerti jika pria dan wanita yg sedang bertengkar itu akan menjadi canggung.
"Ternyata begitu masalahnya. Mangkanya, Nak Alfano ditinggal begitu saja di rumah sakit tadi malam" lirih pasien bapak bapak disebelah ruang rawat Alfano. Lalu berusaha membicarakan hal lain dengan keluarganya. Biarlah masalah pria dan wanita itu diselesaikan antara mereka sendiri yang sudah sama sama dewasa , pikirnya.
Asmara yang berlari hingga keluar ruang inap kamar 1 memilih meluapkan kesedihan dan rasa malunya di toilet rumah sakit.
"Bisa bisanya, pria itu menggumbar aibnya sendiri dihadapan banyak orang! Memang pria itu benar benar g**a" kata Asmara sambil duduk di closet yang telah ia tutup dan menangis sesengukan.
Setelah dirasa tenang dan sudah tidak menangis lagi, Asmara berniat untuk keluar toilet. Namun, tiba tiba perutnya terasa mulas dan kencang.
"Aduh kenapa perutku ini?" tanya panik Asmara sambil mengelus elus perutnya. Wanita hamil itu kira akan buang air besar, maka closet yg diduduki , ia buka dan duduk lagi di closetnya. Namun, saat ia merasakan bukan kotoran yg keluar tapi tetesan darah , seketika itu Asmara panik.
"Darah?" kata Asmara meyakinkan dirinya bahwa yg ia lihat menetes kedalam closet yg ia duduki benar benar darah.
Meksipun hanya beberapa tetes, Asmara jadi panik karena darah itu pasti berhubungan dengan kandungannya.
"Kalian akan baik baik saja. Mommy janji. Bertahan ya sayang. Maafkan mommy membuat kalian kesakitan. Maafkan mommy membuat kalian tergoncang karena berlari tadi" kata Asmara mencoba tenang dan menyadari bahwa ia salah karena berlari dalam kondisi hamil tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan untuk melakukan aktifitas fisik.
Ia mengambil tissue di samping closet. Banyak tissue hingga ia jadikan seperti pembalut. Setelah itu , ia pakai untuk melapisi underwearnya agar darah tidak tembus hingga dress yg ia kenakan.
"Aku harus ke dokter kandungan, takut terjadi apa apa sama mereka" lirih Asmara yang sekejap saja sudah tidak peduli tentang Alfano atau perasaannya pada pria itu namun lebih memikirkan kondisi si twins.
__ADS_1
Ia berniat akan langsung menuju dokter kandungan, untuk memeriksa keadaannya lebih lanjut.
Setelah keluar toilet rumah sakit, ia berjalan berlahan karena perutnya masih kencang menuju tempat pendaftaran pasien poli kandungan. Tapi ketika akan melewati kamar inap kelas 1 dimana Alfano berada, ia melihat lekaki yg membuat ia menjadi kesulitan begini dengan darah yang menetes di lantai sedang berdiri menghadapnya yang memang dari tadi ia berjalan dengan menundukkan kepala memperhatikan perut dan langkah kakinya.
"Aku tidak akan peduli lagi dengan pria itu!" batin Asmara dengan tetap berjalan menuju arah dimana Alfano masih berdiri melihatnya.
Namun Alfano dengan berlahan juga berjalan ke arah Asmara. Wajah Alfano yang pucat dan darah yg menetes dari tangannya karena ia cabut paksa infus untuk mencari keberadaan wanita yang sudah ia teriaki tadi, tidak membuat Asmara peduli karena saat ini yang dipedulikan wanita itu adalah bayi yg ia kandung.
Sebaliknya meskipun menahan sakit dan memaksakan tubuhnya yang masih lemah , Alfano terlihat lega karena melihat Asmara didepannya. Ia mengaku salah karena sudah berteriak dan menggumbar aib mereka di depan orang banyak.
Para pengunjung rumah sakit lainnya dan lebih khususnya pengunjung pasien di kamar inap kelas 1 itu menonton dari balik jendela dan didepan pintu memperhatikan Alfano dan Asmara yang saat ini sedang berhadapan.
Alfano dengan pusing yang ia rasakan memaksa dirinya untuk berbicara pada wanita hamil didepannya itu terlebih dahulu.
"Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf, Asmara" kata Alfano dengan mata berkaca kaca.
Asmara dengan wajah datar dan tidak peduli sambil memegang perutnya , hanya mendiamkan permintaan maaf Alfano.
"Sungguh, aku akan melakukan apapun untuk kamu mau memaafkanku atas segala kesalahanku padamu" ucap Alfano sekali lagi dengan wajah memelas hingga ia berlutut didepan Asmara.
"Aku akan berlutut didepanmu seperti ini hingga kamu mau memaafkanku. Aku salah telah berteriak seperti tadi padamu. Aku sungguh marah karena kamu masih bersikeras berbohong padaku jika anak yang kamu kandung bukan anakku. Buatlah aku tanggung jawab padamu, Asmara. Aku sungguh bisa mati karena perasaan bersalah ini" jelas Alfano dengan tetesan air mata.
Asmara tetap tidak melihat wajah Alfano dibawahnya. Wanita itu hanya menahan air matanya untuk tidak jatuh dan melihat kedepan.
Namun, bayi bayinya tidak sesabar itu untuk diakui ayahnya. Mereka berulah lagi membuat perut Asmara kencang hingga wanita itu memegang perutnya lebih erat dan merintih kesakitan.
"Aaaakh!!! Sakit!!" rintih Asmara didepan Alfano sambil membungkukan tubuhnya menahan sakit.
Alfano langsung berdiri dan memegang kedua lengan Asmara.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Alfano khwatir dan panik.
Alfano terbelalak ketika melihat aliran darah di kaki Asmara.
__ADS_1
"Astaga Asmara, darah!" seru Alfano beneran panik dan langsung menggendong wanita hamil itu menuju UGD. Alfano dengan sekuat tenaga membawa Asmara dengan cepat karena ia sungguh benar benar merasa khawatir terhadap wanita itu dan bayi yang dikandung.
Dari jejak mereka berdua , ada darah mereka yg menetes ke lantai rumah sakit. Darah yang menjadi saksi untuk cerita mereka selanjutnya.