BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Pemanasan


__ADS_3

Bubur ayam khas Bandung menjadi menu sarapan di rumah Asmara yang kedatangan ibu mertuanya. Setelah menyelesaikan sarapan, Bu Laras meminta kamar di rumah Alfano untuk dirinya istirahat sebentar dan membersihkan diri baru menuju rumah besannya di daerah desa.


Ketika Alfano dan Asmara mengantar Bu Laras melewati connection door rumahnya, sang mami terkejut jika ada pintu penghubung itu. Alfano pun memberitaukan tujuan pintu itu dibuka agar memudahkan jika ada keluarga berkunjung kesitu biar bisa saling terhubung. Tapi biasa seorang ibu kepo tentang sesuatu terhadap anak dan menantunya itu.


"Kalian tidur sekamar kan?" tanya Bu Laras penuh curiga ketika baru saja melewati connection door itu yang membuat Alfano dan Asmara saling tatap.


"Menurut mami gimana kita bisa baikan kalau gak tidur bersama? Jadi ya kita tidur bersama dong, iya kan sayang?" jawab Alfano sambil merengkuh pinggang sang istri untuk masuk ke pelukannya dari samping.


Asmara menatap suaminya dengan tajam tapi ia juga tersenyum terpaksa membantu Alfano menyembunyikan kenyataan bahwa mereka belum tidur bersama.


"Iya mami, bayi yang aku kandung suka dielus elus daddynya ya kan Mas?" sahut Asmara malah balik tanya ke suaminya lagi.


"Beneer banget. Nih bayi suka banget daddy sentuh" ujar Alfano sambil mengelus elus perut istrinya dengan satu tangannya yang bebas karena satu tangannya yang lain ia buat untuk memeluk pinggang Asmara. Suami istri itu kompak untuk memberikan alasan kepada sang mami agar tidak semakin curiga dan itupun tidak sepenuhnya berbohong kan karena memang benar twins suka dielus elus daddynya.


Bu Laras sebenarnya tau anak dan menantunya itu saling kerjasama menipunya tapi ia biarkan karena melihat mereka kompak begitu berarti sudah ada rasa.


"Yaudah, mami mau ke kamar dulu. Kalian juga beres beres dulu sana, nanti jam 10 atau 11 siang kita berangkat ke rumah Pak Wawang dan Bu Asih" ujar Bu Laras sambil berjalan ke kamar utama dirumah putranya,


"Iya, mami. Kami ke kamar dulu ya" sahut Alfano sambil memutar badannya dan tetap memeluk Asmara untuk berjalan berlawanan dengan maminya. Mereka berjalan kembali ke rumah Asmara.


Alfano langsung membawa Asmara masuk ke kamar baru ia lepas pelukannya dan menutup pintu kamar.


"Puas meluk meluk begitu?" sindir Asmara dengan senyuman smirk.


"Ya puaslah, meluk istri sendiri" jawab Alfano enteng.


"Oh gitu ya? Terus tadi kamu udah manggil aku sayang berapa kali? Udah siap buat nyatain cinta dan sayang sama aku?" tantang Asmara dengan senyuman menantang.


Alfano diam sebentar, ia masih memikirkan dengan kapan dan bagaimana untuk menyatakan cinta kepada istrinya itu. Ia masih perlu waktu lagi untuk memantapkan perasaannya.

__ADS_1


"Yakan gak bisa jawab. Dasar suami takut cinta, bilang gitu aja kok susah" ejek Asmara sambil memutar balik tubuhnya sehingga membelakangi Alfano.


Alfano menyeringai kan senyumannya dan agak tidak terima sih dibilang takut cinta sama istrinya karena ia yakin kalau udah ada rasa cinta di hati untuk Asmara memang belum siap aja nyatainnya.


"Istriku benar benar menantangku kalau bilang aku takut cinta. Meskipun aku belum memberikan cinta melalui kata kata , tapi sekarang aku akan memberikan cinta melalui sentuhan yang pasti tidak akan kamu tolak" batin Alfano sebelum melancarkan aksinya.


Ia pun berjalan berlahan dibelakang Asmara , hingga sudah berada disamping ranjang dan Alfano memberikan sentuhan tak terduga pada tubuh istrinya yang berniat akan menaruh tas di nakas samping ranjang. Hingga tas itu terjatuh di lantai.


Alfano tiba tiba mencium leher Asmara yang tidak tertutup oleh rambutnya karena ia ikat.


"Alfano!" reflek teriakan Asmara bersamaan dengan jatuhnya tas yang ia bawa ke lantai. Lalu wanita itu berbalik badan menatap Alfano dengan kesal.


Alfano pun tersenyum smirk.


"Ih balik lagi manggil suami pake nama doang ya? Mau dikasih hukuman apa ini?" goda Alfano pada Asmara yang masih terlihat kesal dengan serangan dadakan pria didepannya ini pada dirinya.


Alfano makin suka melihat istrinya marah dan kesal dengan serangan itu. Ia merasa semakin tertantang untuk menggoda Asmara lebih jauh lagi karena ia pun ingin membalas omongan istrinya yang menyebutnya suami takut cinta.


Tangan Alfano terulur untuk ia lingkarkan di pinggang sang istri dan menarik tubuh Asmara berdekatan dengannya.


"Mas, kamu kenapa sih! Lepasin nggak?" ucap Asmara dengan wajah sudah merah padam. Tapi Alfano tetap memberikan senyuman manis kepada sang istri meskipun terlihat sedikit menyeringai.


"Kamu tadi bilang kalau aku takut cinta kan? Ini aku mau nunjukkin cinta ke kamu" sahut Alfano.


"Cinta gak kayak gini, Mas! Masa cinta maksa maksa gini!" Asmara sudah seperti mau naik pitam, tapi marahnya itu bisa aja karena menerima serangan mendadak dan belum mempersiapkan diri, atau sebenarnya ada respon lain yang ia rasakan ditubuhnya. Mungkin kalau udah siap, dia suka kali disentuh sentuh sama Alfano hihi 😁


"Apa aku menyakitimu?" tanya Alfano dengan nada mulai serius.


Asmara jadi diam mendapatkan pertanyaan itu karena malah ia tidak merasakan sakit sama sekali setiap sentuhan dari Alfano. Tapi hati dan tubuhnya sekarang yang tidak baik baik saja. Jantungnya berdetak kencang dan tubuhnya seolah olah ingin disentuh lebih oleh pria yang memeluknya saat ini.

__ADS_1


Mereka saling tatap dengan perasaan mereka yang sama sama amburadul.


"Kenapa gak jawab? Udah gak marah marah lagi aku sentuh?" tanya Alfano dengan senyuman manis sambil menatap Asmara yang juga menatap dirinya.


"Ini salah. Aku gak boleh jatuh secepat ini sama sikapnya yang calm dan menggoda kayak gini. Bertahan Asmara, bertahan dan tunggu dia nyatain cinta" batin Asmara pada dirinya sendiri.


"Aku belum siap" ujar Asmara dengan tatapan sendu karena tau kondisi diantara dirinya dan sang suami itu sudah mengarah kepada hubungan suami istri.


Malah Alfano memberikan senyuman menyeringai lagi, menggoda sang istri yang baginya saat ini menjadi wanita yang sudah masuk ke hatinya.


"Rasain seraganku ini , istriku sayang. Kamu akan meralat omonganmu kalau aku takut sama cinta" batin Alfano.


"Aku akan membuat kamu siap" sahut Alfano sambil merendahkan kepalanya lagi menuju ceruk leher Asmara dan menciumnya lagi dengan lembut dan dalam. Seketika itu tangan Asmara ia kepalkan di dress yang ia pakai menahan gejolak tubuhnya yang semakin memanas.


Alfano merasakan ciuman keduanya pada leher sang istri tidak mendapatkan penolakan malah ia bisa merasakan tubuh sang istri bergetar seperti menahan hasrat yg terpendam. Pria itu bersikap makin berani dengan menciumi leher hingga menjalar ke telinga dan mampu membuat Asmara mengaitkan tangannya ke punggung Alfano.


Namun, Alfano mengakhiri aksinya dengan memberikan ciuman terakhir di kening sang istri lalu ia menatap wajah Asmara yang sudah merah padam dengan tatapan penuh gairah.


"Aduh, istriku merah banget wajahnya. Kamu kan belum siap jadi ya cuma pemanasan gitu aja dulu deh sampek kamu benar benar siap buat melakukan hubungan itu sama aku" ucap Alfano menggoda sang istri yang memberikan tatapan seperti sudah minta lebih untuk dimanja sama suaminya itu.


Asmara diam saja, malah ia menundukkan wajahnya karena malu terlihat memerah bukan karena lagi demam atau marah tapi karena hasrat dalam dirinya yang tertahan membuat panas dalam tubuhnya keluar.


Menyadari kalau dia sedang digoda suaminya, ia mendorong tubuh Alfano jatuh ke ranjang dan masuk ke kamar mandi tanpa berkata apapun.


Alfano tertawa puas melihat tingkah istrinya yang lucu banget kalau lagi malu dan lagi bergairah tapi belum tersampaikan.


Asmara yang mendengar tawa suaminya dari dalam kamar mandi pun merasa malu pada dirinya sendiri sudah masuk perangkap godaan suaminya yang jahil dan penuh akal itu.


"Awas aja ya, Mas. Lihat aja pembalasanku, aku akan membuatmu bener bener gak bisa ninggalin aku" batin Asmara lalu memilih untuk membasuh muka agar sedikit memberikan sensasi dingin pada tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2