
Fokus kembali ke pak wawang. Semuanya menunggu apa yang akan dikatakan ayah Asmara itu.
"Asmara, putri pertama ayah yang disayangi semua orang. Maaf, ayah dan ibu tidak tau kamu mengalami kejadian yang telah menyakitimu. Maaf, kami tidak berada disampingmu saat kamu membutuhkan kami. Kamu sudah berjuang sendiri nak, besok waktunya kamu dijaga oleh lelaki yang telah membuatmu seperti ini. Nak Alfano, saya ingin kamu mempertanggung jwabkan kesalahan mu pada putri kami. Besok kalian akan menikah siri terlebih dahulu, baru 2 minggu lagi, kalian akan menikah secara hukum dan agama lagi" kata Pak Wawang dengan jelas dan berusaha terlihat kuat mengatakannya.
Alfano dan Asmara saling tatap dengan penuh tanya sebenarnya, tapi mereka tidak bisa menyela omongan orang tua. Lagian memang sebelumnya Alfano sudah siap tanggung jawab meskipun tidak mengira secepat ini.
Bu Laras dan Bu Asih memeluk anaknya masing - masing.
"Kamu besok akan menikah dengan Asmara. Mami udah maafin kamu selama kamu bisa berbuat baik dan menjaga Asmara serta calon anakmu. Mami tidak akan memberikan kesempatan kedua untukmu jika kamu berani macam macam sama mantu mami" ancam Bu Laras dengan bisikan ditelinga Alfano yg ia peluk.
Alfano menjawab singkat karena ia tau ancaman ibunya itu bahaya dan tidak bisa dibantah.
"Iya mom" jawab Alfano.
Sedangkan Asmara yang sedang di peluk ibunya hanya bisa berkata "maafkan, Asmara bu. Tidak bisa menjaga diriku dengan baik"
"Putriku, kamu sudah mendapatkan jalan Allah terbaik. Mungkin awal jalan kalian tidak mulus, tapi ibu yakin kamu akan bahagia dengan Alfano. Mertua mu baik banget. Saudara pria itu juga baik jadi kamu akan baik baik saja" sahut Ibu Asih.
Setelah Pak Wawang mengatakan hal yang penting itu. Bu Laras menyuruh Alfano untuk sungkem ke orang tua Asmara sekalian meminta restu dan meminta maaf akan kesalahannya.
Alfano hanya menurut karena semuanya kesalahannya sudah terkuak dan dia wajib bertanggung jawab.
Lelaki itu melepas pelukan ibunya dan berdiri untuk menghampiri pak wawang. Ia tekuk lututnya di lantai dan seperti bersimpuh memohon ampun di kaki Pak Wawang.
"Maafkan saya, Pak. Saya adalah pria yang telah menyakiti Asmara hingga ia mengandung anak kami. Memang sebelumnya saya adalah pria tidak bertanggung jawab , namun mulai hari ini saya akan berbuat baik dengan putri anda. Saya akan merawat dia dan anak kami dengan baik. Mohon maafkan saya dan restui kami dengan ikhlas" kata Alfano dengan mata berkaca kaca.
Asmara dan Bu Asih terlihat terharu juga mendengar kata kata Alfano yang sedang berlutut di bawak kaki Pak Wawang.
Ayah Asmara langsung memeluk tubuh calon mantunya itu dengan erat dan membalas perkataan Alfano dengan bisikkan yang hanya bisa didengar oleh pria itu.
"Awas aja kalau kamu berani nyakitin putriku lagi. Aku tidak segan segan melaporkanmu ke penjara dan membuatmu menyesal seumur hidup karena membuat putriku menderita" ancaman yang dibisikkan oleh Pak Wawang ke Alfano.
__ADS_1
Entah Alfano kenapa tidak merasa takut dengan ancaman itu malah ia seperti mendapatkan tantangan baru yg ia sukai. Apa karena dari lubuk hatinya memang tidak ada niatan sama sekali untuk menyakiti Asmara dan tanggung jawab dengan tulus? Apakah memang di hati Alfano sudah tumbuh benih benih cinta untuk wanita yg mengandung anaknya? Yah kitaaa bacaaaa terus ceritanya ya 😁
Sementara Alfano yakin dengan keputusannya untuk bertanggung jwab dengan Asmara, namun ternyata perasaan berbeda dirasakan oleh wanita hamil itu. Ia merasa takut hidup bersama pria yang telah menyakitinya dan meskipun tak terlihat Alfano meninggalkan trauma untuk Asmara.
"Apakah aku baik baik saja menikah dengannya?" batin Asmara. Namun, wanita itu juga tidak bisa membantah keputusan ayah dan yang lainnya. Mau tidak mau ia harus menyetujui keputusan untuk bersama Alfano, meskipun hatinya belum siap. Ia juga tidak boleh egois dengan anak anaknya.
Ketika Alfano sudah menganalisis keadaan dengan baik, Pria itu sudah mulai mengobrol dengan calon adik iparnya, Rani dan Rian. Pria itu mendapatkan respon yang berbeda dari adik adik Asmara itu. Pendekatan yang baik ia dapatkan dengan Rani , namun kebalikan dengan Rian yang memberikan respon acuh dan seperti tidak suka Alfano.
"Wah dapet tantangan lagi nih buat naklukin nih anak" batin Alfano menyadari bahwa Rian belum menerimanya dengan baik.
Alfano tetap tidak menyerah untuk melakukan pendekatan pada mereka. Ia juga mengobrol dengan Bu Asih dan meminta maaf juga kepada Ibu dari Asmara itu.
Asmara hanya merasa terharu melihat aksi tanggung jawab seorang Alfano. Bu Laras juga mengambil kesempatan untuk mengobrol dengan Asmara.
"Akhirnya, kamu jadi mantu ibu juga" kata Bu Laras yang saat ini duduk disamping Asmara.
"Mulai sekarang panggil ibu , mami ya. Panggilan itu kayak Alfano dan Alfani, km pun akan jadi anak mami. Mami sangat berterima kasih kamu mau berjuang dan bertahan hingga saat ini. Kalau diawal , mami tau kamu tidak benar benar menikah, udah sejak minggu lalu ketika kita ketemu , Alfano udah mami minta nikahin kamu. Tapi ya memang prosesnya agak panjang tapi pada akhirnya mami dapat mantu kamu. Mami seneng banget. Semoga kamu bisa bertahan dengan Alfano ya" lanjut Bu Laras lalu memeluk Asmara dengan lembut.
Hingga pukul 10 malam pertemuan dua keluarga itu diadakan di ruang tamu rumah Asmara. Bu Laras izin untuk pamit bersama Alfani dan Jaka.
"Pak wawang , bu Asih, dan Asmara serta yang lain. Kami izin pulang dulu ya ke rumah sebelah, agar tidak terlalu lama bertamu. Kasian Asmara dan bayinya sudah waktunya dia istirahat" pamit Bu Laras.
"Oh iya bu. Mau saya antar kah?" sahut Bu Asih.
"Haha, ndak perlu Bu Asih. Hanya 5 langkah dari sini hahaha" canda Bu Laras.
Asmara masih belum paham jika rumah disebelahnya adalah rumah yg dimaksud Bu Laras. Alfano yang saat ini masih duduk disamping Asmara, mendekatkan wajahnya untuk membisikkan sesuatu pada calon istrinya itu.
"Rumah sebelah adalah rumahku, mungkin akan jadi rumah kita" bisik Alfano dengan senyuman lalu menjauhkan wajahnya dari telinga Asmara.
Asmara langsung menoleh ke Alfano dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Oh kamu itu ya pria yg gak jelas lari waktu aku sapa ?" tanya Asmara dengan raut wajah kesal.
Alfano hanya memberikan kekehan kecil tanpa dosa.
"Awas aja! Tunggu balesan dariku karena kamu kerjain!" batin Asmara dengan tatapan mengitimidasi pada Alfano.
Lagi lagi pria yg akan merubah statusnya jadi suami hanya ketawa kecil melihat ekspresi Asmara yg terkejut sekaligus kesal mengetahui bahwa yg jadi tetangganya adalah Alfano.
"Fan, ayo pulang. Besok kalian nikah habis itu bisa berduaan terus. Sabar ya" panggil Bu Laras yg melihat Alfano masih sibuk tertawa kecil didepan Asmara padahal ia sudah pamit untuk pulang.
"Iya iya mom. Godain cewek ini dulu bentar" sahut Alfano dengan perasaan senang dan membuat semua orang yg melihatnya selain Asmara juga ikut senang.
"Akhirnya, Alfano menjadi pria yang sesungguhnya. Bangga aku punya saudara kayak dia" batin Alfani yang salut melihat keberanian Alfano untuk bertanggung jawab meskipun ya bisa dibilang agak lama prosesnya.
Jaka disebelah Alfani pun ikut bahagia melihat sahabat sekaligus bosnya itu bisa menyadari kesalahannya. Ketika mereka berjalan berdua menuju rumah Alfano, dengan suara kecil mereka seperti bergosip.
"Mungkin itu bawaan bayi, Fan. Kembaranmu merasa ada ikatan batin dengan anak yang dikandung Asmara" bisik Jaka pada Alfani.
"Oh ya kah? Jadi memang benar dong anak itu anak Alfano?" tanya Alfani memastikan.
"Ya menurutmu? Wanita sebaik Asmara gak mungkin hamil diluar nikah kalau nggak gara gara kembaranmu itu" jawab Jaka.
"Hehehe bener juga. Wah aku seneng bakal cepet punya keponakan nih" ucap Alfani dengan gembira.
"Lebih seneng lagi kalau punya anak sendiri loh, Fan" goda Jaka sekaligus modus.
"Ih, Rama masih jauh. Dia masih ada proyek beberapa bulan lagi. Mungkin setelah dia pulang, baru bisa ngelamar aku" ucap Alfani yg membuat Jaka langsung terlihat lesu.
"Rama lagi Rama lagi" batin Jaka.
Mereka akhirnya sampai rumah Alfano dan masuk kamar masing2. Lebih tepatnya Jaka masuk ke kamar Alfano dan Alfani masuk ke kamar ibunya.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua beristirahat dengan tenang menyambut hari esok yang lebih bahagia lagi. Seharuuuuuuusnyaaa... 😁