
Sesampainya mereka di ruang USG, perawat langsung memposisikan brankar Asmara didepan layar monitor yang nantinya gambar bayi yg ia kandung akan tampak disitu.
Alfano mengikuti Dokter Lana masuk ke ruangan USG dan melihat Asmara sudah siap untuk dilakukan tindakan karena perut buncit wanita itu sudah terlihat tanpa penutup kain. Memang dress yang dikenakan Asmara tadi diangkat keatas hingga ke atas perut dan bagian bawah Asmara ditutup selimut oleh perawat tadi.
"Sudah siap, ternyata. Mari kita langsung saja melihat keadaan si bayi ya" kata Dokter Lana sambil memegang alat USG disalah satu tangannya dan tangan lainnya mengoleskan gel untuk pelapis sebelum alat itu digunakan.
"Bapak dan Ibu siap yaa? Gimana calon ayah apakah anda sudah siap melihat bayinya? Sepertinya ini pertama kali melihat bayi yang dikandung istrimu ya? Benar begitu ya bu?" goda Dokter Lana karena melihat Alfano yang memilih berdiri membelakangi layar dan melihat Asmara saja yang sedang tersenyum.
Alfano tidak menyahuti godaan Dokter Lana karena tangannya sudah berkeringat dingin. Asmara yang melihat ekspresi Alfano menahan tawa. Begitu lucu memang seorang CEO angkuh jika sedang grogi karena melihat sesuatu yang tidak pernah pria itu bayangkan sebelumnya.
"Benar, Dok" malah Asmara yang menjawab pertanyaan Dokter Lana dengan sumringah. Ia sepertinya lupa jika sedang menyembunyikan fakta bahwa bayi yg ia kandung adalah milik Alfano.
Dari jawaban itu, sudah dipastikan Asmara mengakui jika memang Alfano adalah ayah dari bayi yang wanita itu kandung.
Alfano langung menatap Asmara dengan senyuman manis dan memastikan apa yang dia dengar itu benar. Ia mendekatkan wajahnya di telinga Asmara dan membisikkan sesuatu "Sudah jelas, bayi ini adalah bayiku. Jawabanmu tadi sudah bisa memastikan perkataan Dokter Lana itu benar jika aku memang ayah bayi ini kan? Kamu tidak bisa mengelak, Asmara" bisik Alfano dengan lembut tapi terdengar seperti ancaman untuk Asmara.
Ekspresi senang yang tadi Asmara tunjukkan ketika melihat tingkah lucu Alfano karna grogi akan melihat bayinya berubah jadi datar dan malah terlihat takut jika Alfano akan melakukan sesuatu pada anaknya nanti.
"Ish, kok bisa aku terjebak sama pertanyaan Dokter Lana ya? Aduh, udah gak bisa bohong lagi sama pria ini. Tapi aku tak akan membiarkan ia mengambil anakku dariku" batin Asmara merutuki kebodohannya sendiri karena sudah mengakui sesuatu yg ia sembunyikan.
"Loh loh loh , kenapa bapak bisik2 pada istrinya begitu sampai ekspresinya berubah? Bikin istrinya takut aja. Hmmm Yaudah semoga foto bayi kalian bikin ekspresi ibunya bahagia kembali ya. Apalagi ditemenin suaminya buat USG, pasti senang kan? Untuk bapak, mulai sekarang biasakan melihat calon bayi anda melalui foto USG dulu biar nanti waktu lahir nggak kaget" kata Dokter Lana mencairkan suasana sambil mulai meletakkan alat USG diperut Asmara dan diputar putar berlahan di area itu.
Alfano merasa tersindir dengan omongan Dokter Lana. Asmara yang tadi merasa takut dengan omongan Alfano jadi senyum lagi mendengar omongan Dokter Lana.
Beberapa saat kemudian, layar monitor sudah menampakan 2 janin yang mulai terbentuk seperti bayi dan mengkagetkan Dokter Lana yang melihatnya.
"Ah, ternyataa kembar bayinya!" seru Dokter Lana dengan semangat. Sontak membuat Alfano langsung menoleh ke layar monitor yang dari tadi ia hindari. Asmara melihat perubahan sikap Alfano juga menjadi bahagia, akhirnya si twins bisa dilihat daddy nya secara langsung.
"Gimana komentarnya nanti kalau tau anaknya kembar? Jangan sampek dia ingin merebutnya dariku" batin Asmara mencoba meyakinkan diri bahwa kedua anaknya akan selalu bersamanya.
"Saya benar benar terkejut karena sebelumnya pasien tidak menginformasikan bahwa bayinya kembar. Saya sangat takjub kalau menemukan seorang ibu mengandung anak kembar. Selamat bapak dan ibu, kondisi bayi kalian juga baik baik saja. Pendarahan tadi mungkin bentuk protes bayi kalian karena menerima goncangan yang tidak pernah mereka terima sebelumnya. Bukan goncangan diranjang loh ya hahhaa, efeknya beda nanti" canda Dokter Lana menggoda calon ayah dan ibu didepannya yang sebenarnya belum terikat hubungan pernikahan.
Alfano dan Asmara jadi tersipu malu mendengar omongan Dokter Lana yang terdengar vulgar. Perawat pun ikut tertawa mendengar candaan dokter yg suka bercanda ini.
Alfano lalu menatap Asmara dengan lembut.
"Terima kasih kamu mempertahankan bayi ini, Asmara. Meskipun kamu membenciku, kamu tetap rela mengandung mereka" batin Alfano merasa ada getaran aneh pada dirinya.
Apakah ini cinta ? Entahlah, Alfano tidak percaya cinta dengan wanita. Tapi mungkin, dia akan menyadari bahwa tidak semua wanita seperti Alexa yang mengkhianati cintanya.
__ADS_1
"Eheem eheem. Tatapan teruuus sampai lahiran ya" goda Dokter Lana lagi karena melihat Alfano dan Asmara saling tatap dengan penuh arti.
Alfano pun menoleh ke Dokter Lana dan terkekeh.
"Maaf maaf, Dok. Saya terlalu bahagia mengetahui istri saya mengandung bayi kembar, anak kami. Saya memang bukan suami dan ayah yang baik untuk mereka beberapa bulan ini, namun saya akan berusaha menjadi lebih baik untuk kedepannya" ucap Alfano dengan lantang, tidak ada keraguan atau pura pura dalam perkataannya ini.
"Dia gapapa bilang begitu? Apa dia merasa bersalah karena tidak tanggung jawab atas perbuatannya ? Atau ada niatan lain untuk anak anak ini?" batin Asmara mencari tau maksud dari perkataan Alfano.
"Saya mendukung anda, Pak. Oh ya , USG sudah selesai dan sudah saya fotokan biar bisa dilihat perkembangan si kembar. Untuk jenis kelamin anak kalian sudah terlihat tapi saya rahasiakan biar jadi kejutan. Atau kalau nanti periksa lagi disini maupun dokter kandungan sebelumnya bisa ditanyakan lagi ya" kata Dokter Lana sambil menaruk alat USG ditempatnya dan membiarkan perawat membersihkan gel pada perut Asmara.
"Perawat, tolong bersihkan darah kering di kaki pasien ya dan berikan baju hamil yg baru untuknya" perintah Dokter Lana ketika akan duduk di kursi meja kerja ya.
"Baik, Dok" sahut perawat melaksanakan peringah Dokter Lana.
"Calon ayah sini. Ngapain berdiri disamping istrimu terus atau kamu ingin membersihkan darah di kaki istrimu ya?" goda Dokter Lana dengan senyuman smirk khas orang tua.
Alfano langsung salah tingkah. Lalu ia berjalan menuju kursi pasien. Dokter Lana menjelaskan kondisi Asmara dengan detail tanpa candaan karena informasi yang disampaikan cukup penting, meskipun kandungannya baik baik saja namun harus diberikan penguat janin dan vitaman serta sumplemen bagi janin serta ibu.
Alfano mendengarkan dengan seksama , selayaknya suami beneran. Di akhir percakapan antara Dokter Lana dengan suami pasien meskipun masih pura pura, Alfano diberikan foto hasil USG 4 dimensi dan wajah pria ini sangat bahagia.
"Bahagia sekali anda ya. Ya harus bahagia dong dapet anak kembar" celetuk Dokter Lana yang tidak tahan menggoda Alfano.
Lalu Asmara pun muncul dari ruang periksa dengan menggunakan baju hamil sederhana yang memang Dokter Lana siapkan untuk pasien urgent seperti ini.
"Wah, pasien sudah cantik lagi dengan pakai baju hamil ini!" seru Dokter Lana yang melihat Asmara keluar dari ruang periksa.
Alfano ikut menoleh kearah Asmara dibelakangnya. Ia terpesona melihat wanita itu memakai baju hamil dan memperlihatkan perutnya yang buncit.
"Cantik banget ternyata" batin Alfano.
"Sudah bisa jalan ya? Seharusnya bisa dan diperbolehkan. Tapi hati hati atau ingin rawat inap semalam?" tanya Dokter Lana pada Asmara yang sudah duduk disamping Alfano.
"Tidak, Dok. Saya merasa lebih baik. Dirumah juga sedang ada orang tua saya. Saya tidak ingin mereka khawatir" jawab lembut Asmara. Alfano hanya menatap wanita hamil disebelahnya masih dengan tatapan kagum.
"Waduh, kayaknya suaminya lagi pingin dimanja nih. Tatapannya itu loh kayak udah gak tahan bawa anda ke kamar hahaha. Tapi kayaknya, karena kejadian ini libur dulu mungkin sebulan ya. Biarkan bayi bayi kalian makin kuat dulu" peringatan Dokter Lana.
Asmara dan Alfano tak bisa berkata apa apa karena omongan Dokter Lana yang sekali lagi terdengar sangat vulgar untuk pasangan pura pura.
"Yasudah, kalian bisa menyelesaikan urusan administrasi didepan ya. Sudah ada banyak antrian ibu hamil lainnya. Sehat sehat yaa" kata Dokter Lana sebagai intruksi untuk Alfano dan Asmara sudah bisa keluar dari ruangan USG sekaligus ruangan dokter kandungan.
__ADS_1
"Aku bantu" kata Alfano sambil memegang kedua lengan Asmara untuk ia bantu berdiri dari kursi.
Asmara tidak menolak. Ia menerima perlakukan lembut Alfano dan membiarkan pria itu membantunya berjalan.
"Kamu udah beneran ngerasa baikan? Mau aku anter kamu pulang?" tanya Alfano sambil tetap memegang lengan Asmara untuk membantunya berjalan dengan pelan.
"Nggak usah. Kamu itu juga pasien. Pikirkan dirimu sendiri" sahut Asmara dengan sewot.
"Baru aja lembut terus jutek lagi" sindir Alfano.
Asmara diam saja tidak menyahuti sindiran itu.
"Aku akan izin ke dokter untuk keluar dari rumah sakit dan rawat jalan. Lagian hp ku kemarin ketinggalan di rumah, pasti si Jaka nyariin aku karena gak bisa dihubungi. Besok juga aku harus udah di Jakarta buat meeting. Jadi tunggu aku ya, kita pulang bareng" jelas Alfano memaksa untuk bisa mengantar Asmara pulang, padahal memang rumah mereka bersebelahan.
Asmara tidak punya alasan menahan Alfano untuk rawat inap lagi. Ia juga harus segera pulang karena hari semakin sore, pasti keluarganya mulai khawatir dirinya tidak segera pulang.
Mereka pun berjalan menuju recepsionis rumah sakit. Kali ini Alfano yang mengurus administrasi perawatan dirinya dan Asmara. Tapi dia lupa kalau gak bawa dompet maupun hp jadi gak ada uang sama sekali untuk membayar perawatan.
Asmara yang duduk di kursi tunggu melihat gerak gerik Alfano yg kebingungan. Ia tertawa melihat tingkah pria itu yg salah tingkah.
"Pasti dia gengsi mau minta uang ke aku buat bayar perawatan" lirih Asmara yang sudah tau kenapa Alfano jadi kebingungan sendiri.
Ia berdiri dan menghampiri Alfano di recepsionis.
"Habis berapa?" tanya Asmara pada Alfano.
"Loh kamu kok kesini sih? Biar aku yg ngurus" kata Alfano panik.
"Udah deh. Mau ngurus pake apa, kamu aja gak bawa apa apa. Biar cepet selesai juga dan kita bisa cepet pulang" ucap Asmara sambil mengeluarkan kartu debitnya.
Alfano hanya diam saja karena ya dia nggak bisa ngapa ngapain di kondisi yg gak bawa apa apa.
"Pakai kartu ini aja mbak" ujar Asmara menyodorkan kartu debitnya kepada petugas recepsionis.
"Baik, Bu" sahut petugas.
Akhirnya pembayaran dan administrasi diselesaikan. Petugas memberikan baju Alfano yg kemarin ia pakai ketika datang kesini untuk pria itu gunakan ketika pulang. Tidak mungkin, Alfano pulang pake baju pasien, dikiranya kabur 😂
Setelah Alfano berganti baju, Asmara memesan taxi untuk mengantarnya pulang. Ia kira Alfano tinggal di hotel dekat perumahan yg ia tinggali jadi masuk akal kalau pria itu ingin mengantarkannya pulang. Asmara tidak mengira jika Alfano lah yg tinggal disebelah rumahnya.
__ADS_1