
Sesampainya di UGD, Alfano langsung menghampiri perawat dengan panik.
"Tolong istri saya!" kata Alfano dengan tatapan begitu khawatir.
Perawat itu langsung mengarahkan Alfano untuk meletakkan wanita yang pria itu gendong di brankar kosong di UGD itu.
"Tenang, Pak. Anda juga pasien, jangan terlalu panik. Kami akan memanggil dokter kandungan terlebih dahulu" kata perawat itu setelah Asmara terbaring di brankar dengan memegang perutnya menahan sakit.
"Tolong cepat, istri saya kesakitan" mohon Alfano sambil memegang tangan perawat yang sudah ibu - ibu. Namun perawat itu salah fokus dengan tangan Alfano yang masih meneteskan darah.
"Anda tadi mencabut infus dengan paksa ya? Anda begitu sayang istri sampai menggendongnya kesini dengan tangan yg pasti nyeri banget itu" kata perawat dengan tersenyum karena ia mengira, Alfano adalah sosok suami yang sangat peduli dengan istrinya sampai rela berkorban.
"Saya panggilkan perawat lainnya untuk merawat tangan anda dan memanggil dokter kandungan agar segera kesini jika tidak ada pasien urgent lainnya. Sebelum itu akan saya panggilkan dokter jaga untuk memeriksa istri anda" lanjut perawat ibu ibu itu lalu berjalan menuju tempat daftar UGD untuk memproses perawatan Asmara dan memanggil rekan perawatnya untuk menghampiri Alfano.
Tidak lama kemudian , perawat lainnya datang menghampiri Alfano dengan membawa peralatan perban. Ia langsung merawat bekas infus ditangan Alfano yg masih mengeluarkan darah.
"Anda terlalu berani mencabut infus dengan paksa, Pak" kata perawat itu to the point.
Alfano tidak memperdulikan omongan perawat itu karena ia fokus melihat wajah Asmara yg masih terlihat kesakitan.
Perawat itu tersenyum karena melihat Alfano begitu peduli dengan istrinya.
Setelah bekas infus Alfano diperban, giliran dokter jaga yang datang untuk melihat kondisi Asmara.
"Permisi, saya periksa dulu pasiennya ya" kata dokter dengan ramah.
Alfano hanya bisa menunjukkan senyum terpaksa karena ia sudah tidak bertenaga untuk menjawab dengan kata. Wajahnya sudah pucat dan itu diperhatikan oleh dokternya.
"Sepertinya, bapak istirahat dulu. Wajah anda pucat sekali dan sepertinya memang kondisi anda belum pulih sepenuhnya. Lebih baik anda kembali ke kamar anda dan istri anda serahkan untuk kami rawat terlebih dahulu" ucap dokter jaga itu.
Alfano pun menolak saran yang diberikan dokter itu.
"Tidak, dok. Saya akan menemani istri saya sampai keadaannya membaik dan tau keadaan bayi kami" sahut Alfano dengan suara lemah.
Dokter hanya tersenyum pada Alfano yang ia anggap sebagai suami siaga. Lalu ia mulai memeriksa Asmara dan memegang perut wanita itu.
"Apakah masih sakit?" tanya dokter.
Asmara hanya mengangguk saja. Alfano menjadi tidak tega melihat raut wajah kesakitan wanita itu lebih lama. Ia beranikan memegang tangan Asmara yang berada di brankar.
"Maafkan aku" lirih Alfano sambil menatap Asmara dan wanita itu menatap balik dengan tatapan tidak berdaya.
Dokter memeriksa bagian bawah Asmara sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Darah yang ada di kaki wanita hamil itu sudah mulai mengering.
"Syukurlah, pendarahannya sudah berhenti. Mungkin tadi pasien mengalami syok sesaat sampai membuat kandungannya terguncang. Saya kira keadaan pasien sudah membaik. Mungkin saat ini pasien masih merasa perutnya sakit dan kencang, memang itu dampak dari pendarahan. Nanti ketika dokter kandungan datang , bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan USG melihat keadaan bayinya" jelas dokter jaga dengan ramah.
__ADS_1
Alfano bisa bernafas lega. Tangannya semakin ia eratkan dengan genggaman tangan Asmara.
"Terima kasih dok" kata Alfano dengan senyum lega.
Dokter jaga itu pun izin untuk berpindah tempat pasien dan menyuruh Alfano menunggu dokter kandungan yang akan menghampiri Asmara.
Setelah Alfano ditinggal berduaan dengan Asmara di brankar UGD, akhirnya pria itu bisa duduk lega di kursi penjaga pasien sebelah brankar.
Tatapannya tidak lepas dari wanita yang terbaring didepannya. Alfano bagai terbius oleh wajah lembut Asmara yang tidak memiliki tenaga dan masih tersisa ekspresi menahan sakit.
"Masih sakit?" tanya lembut Alfano sambil tangan satunya terangkat untuk memegang perut Asmara.
Asmara merasakan debaran aneh di hatinya lagi. Baru tadi ia sangat membenci Alfano lagi tapi saat ini benci itu sirna sudah.
"Sedikit" jawab lirih Asmara.
"Aku boleh mengelus perutmu?" minta izin Alfano.
Asmara menganggukan kepalanya pelan pertanda ia memperbolehkan Alfano mengelus perut buncitnya itu. Sontak, pria itu menjadi sumringah sambil mendekatkan tubuhnya dengan brankar agar ia bisa leluasa mengelus perut Asmara.
"Jangan nakal yaa. Kasian mommy kalian kesakitan" kata Alfano pada bayi didalam kandungan Asmara.
Asmara terkejut kok bisa panggilan mommy untuk anak anaknya ketika ia berbicara pada mereka sama dengan sebutan Alfano.
"Maafkan aku, Asmara. Aku sungguh sangat menyesal" kata Alfano dengan tatapan sendu dan menghadap ke Asmara.
Asmara bisa melihat raut wajah penyesalan Alfano dengan jelas. Kepeduliannya terhadap pria itu kembali muncul ketika melihat wajah Alfano kembali pucat.
"Kamu gapapa disini? Wajahmu pucat. Kembali lah ke ruang rawatmu. Aku tidak apa apa" ucap Asmara menyuruh Alfano memperdulikan keadaan pria itu sendiri meskipun ia juga tidak ingin elusan Alfano di perutnya berhenti. Namun, melihat wajah pucat Alfano membuat ia merasa kasihan.
"Aku gapapa. Aku cuma butuh memastikan dirimu dan bayinya baik baik saja" sahut Alfano dengan senyum.
"Suara lembutmu dan senyummu membuat dirimu semakin tampan" batin Asmara memuji Alfano mode baik begini.
Tidak ada sahutan lagi dari Asmara, mereka hanya saling tatap dengan banyak pesan tersirat yang tidak terucap.
Kemudian, tatapan itu beralih ke sumber suara yang tidak lain adalah dokter kandungan yang sudah datang untuk memeriksa Asmara.
"Selamat siang menjelang sore, Bapak Ibu. Saya Dokter Lana, dokter kandungan yang sedang bertugas" sapa dokter kandungan yang sudah terlihat berumur dan kehadirannya sudah ditunggu oleh Alfano dan Asmara.
"Selamat siang, Dok" sahut Alfano yang terpaksa melepas gengaman tangannya dan menghentikan elusan di perut Asmara karena ia harus berdiri sebagai tanda sopan.
"Tenang, tenang jangan buru buru begitu. Saya biasa lihat suami istri sedang bermesraan apalagi ketika istrinya hamil dan suaminya jadi siaga" godaan Dokter Lana dengan senyum.
Alfano jadi salah tingkah jika dianggap sebagai suami yang siaga padahal belum berstatus resmi itu. Merasa kebohongannya berhasil mengelabuhi orang yg melihatnya, merasa malu dan berdosa sebenarnya. Tapi mau gimana lagi, sekali berbohong akan menghasilkan kebohongan baru.
__ADS_1
"Kok suaminya jadi malu begini? Yasudah saya goda istrinya saja. Gimana bu, masih sakit atau udah mendingan karena di elus elus perutnya sama suami?" goda Dokter Lana pada Asmara. Wanita yang digoda itu hanya bisa tersenyum dan juga malu mendengar status hubungannya dengan Alfano. Bukan marah yg ia rasakan sekarang tapi lebih ke malu untuk status pura pura suami istri antara dia dan Alfano.
"Hahaha suami istri sama sama pemalu ya ternyata. Yasudah saya periksa dulu bagian bawah ibu ya. Melihat pendarahannya udah benar benar berhenti atau belum" kata Dokter Lana lalu menginstruksikan perawat yg bersamanya untuk membantu memposisikan kaki Asmara agar ditekuk dan memudahkannya melakukan pemeriksaan.
Setelah diperiksa, ternyata memang pendarahan kecil yang dialami Asmara sudah berhenti.
"Syukurlah. Pendarahannya memang sudah berhenti. Mungkin tadi pasien lari lari ya, bikin anaknya syok aja" tebak Dokter Lana yang langsung benar dan membuat Asmara meringis saja karena ketahuan bertindak gegabah.
"Lain kali, jangan bikin istrinya lari lari ya Pak. Meskipun anda sebelumnya juga pasien yang butuh ditemani istri, pelan pelan kalau menyuruh dia melakukan sesuatu" lanjut Dokter Lana memberikan peringatan namun dikemas dengan nada candaan.
"Baik dok" sahut Alfano.
"Untuk memastikan lebih lanjut kondisi pasien, saya akan bawa ke ruang USG untuk melihat kondisi bayinya" kata Dokter Lana dengan senyuman.
Alfano jadi kikuk karena ini pertama kalinya ia melihat bayi yg masih didalam kandungan apalagi kemungkinan besar bayi ini adalah bayinya.
"Kok wajahnya jadi tegang gitu?" ejek Dokter Lana memperhatikan raut wajah Alfano yang tegang campur grogi.
Alfano jadi makin malu karena ketahuan bahwa saat ini dia sedang grogi. Ia benar benar merasa belum siap melihat gambaran bayi yang dikandung Asmara. Ia takut akan makin tak bisa lepas dari wanita itu, eaaak 🤣
Asmara tersenyum melihat tingkah Alfano yang baginya lucu.
"Lihat anak sendiri kok grogi. Dasar Alfano" batin Asmara.
"Semoga bayinya baik baik saja ya, Dok" kata Asmara memecah kecanggungan agar Alfano tidak terlalu terlihat tegang.
"Pastinya dong. Ada ibu dan ayahnya yg sayang sama dia. Yaudah ayo kita berangkat ke ruang USG. Biar perawat yang mendorong brankarnya" sahut Dokter Lana sambil menginstruksikan perawat untuk perintahnya.
Brankar Asmara pun didorong menuju ruang USG, Alfano dan Dokter Lana berjalan beriringan dibelakang brankar itu.
"Saya pernah lihat wajah anda. Kalau tidak salah ingat, anda adalah CEO Muda Perusahaan Batu Bara di Jakarta kan?" tanya Dokter Lana tiba tiba mengenali identitas Alfano.
Pria yang ditanya itu langsung menoleh ke arah Dokter Lana disampingnya. Ia tidak menyangka dokter di Bandung mengenalinya.
"Benar, Dok. Tapi saya terkejut dikenali di rumah sakit yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya" jawab Alfano dengan senyum.
"Hahahaha. Saya mah dokter yang sudah melalang buana dan mengikuti berita bisnis. Tapi ya saya hanya mengikuti berita bisnis anda bukan berita pribadi anda. Jadi jangan khawatir, rahasia anda yang memang ingin anda simpan, akan aman" kata Dokter Lana sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Alfano agar suaranya tidak terlalu keras dan terdengar orang lain, seperti bisik bisik tetangga 😄.
Alfano tersenyum pada Dokter Lana. Ia tidak mengira ada dokter seramah dokter disampingnya ini.
"Ini rahasia yang tidak akan jadi rahasia lagi suatu hari nanti, Dok. Butuh waktu yang tepat saja dan pemantapan hati" ujar Alfano.
Dokter Lana pun mengerti apa yang dimaksud pria tampan disebelahnya ini. Namanya juga dokter kandungan, apalagi sudah berpraktek berpuluh puluh tahun sehingga sudah tau kehidupan anak muda yang tidak asing lagi sampai terjadi hamil diluar nikah.
Mereka pun melanjutkan obrolan antara pria hingga tidak lama kemudian sudah sampai ruang USG kandungan.
__ADS_1