
Asmara yang sudah berada di dalam taxi menuju rumah, merasa seperti meninggalkan tanggung jawab.
"Aduuh kenapa aku kok merasa lepas tangan gini sama dia ya. Ngapain aku peduli sama lelaki kayak gitu? Udah pantes dia masuk rumah sakit untung cuma diare aja gak sampek operasi. Biarin dia Asmara, biar dia tau rasa" batin Asmara untuk menenangkan kekhawatirannya pada Alfano.
Selama perjalanan itu, Asmara tidak bisa mengalihkan pikirannya dari lelaki yang seharusnya tidak ia pedulikan. Hingga sampai rumahnya pun, Asmara tidak bisa tidur padahal sudah jam 3 pagi.
"Yaampun, kenapaaa sih samaa kamu, Asmaraa!!!" seru wanita hamil itu diatas ranjang karena kesal tidak segera tidur.
"Hmmm, ayoo twins buat mommy tidur doong. Jangan gerak terus yaaa. Besok kita jenguk lelaki itu, kalian puas kan?" tanya Asmara pada bayi yg ia kandung sambil mengelus elus perutnya yg dari tadi terasa tendangan kecil dan membuat ia makin tidak bisa tidur. Memang the powers of daddy begitu mempan pada so twins.
"Kalian yaaa, belum lahir ajaa udah maunya deket sama daddy kalian teruuus apalagi kalau lahir. Gimana mommy bisa buat lelaki itu ada buat kalian? Perbedaan mommy sama daddy kalian itu sangat besar. Sampai sekarang aja dia cuma pingin mommy maafin dia tanpa ada niatan tanggung jawab. Mommy gak mau disakitin dia lagi, apalagi sampek lelaki itu nyakitin kalian" kata Asmara dengan sendu, mengingat kemungkinan kecil bayi kembarnya akan bersama ayah kandungnya.
Mata Asmara berkaca kaca ketika mulai membayangkan masa depan ketika bayinya lahir. Apa yang akan ia jelaskan kepada mereka tentang ayahnya? Apakah ia bisa memberikan sosok ibu dan ayah sekaligus untuk si twins? Dan pertanyaan lainnya yg saat ini membuat ia berfikir kedepan, tidak bisa egois lagi untuk calon bayinya.
"Apakah aku harus merendahkan diriku lagi untuk meminta tanggung jawab pria breng*** itu demi anak anakku?" lirih Asmara pada dirinya sendiri dengan melihat perut buncitnya.
Beberapa detik kemudian sisi perempuan kuatnya muncul.
"Tidak tidak! Tidak boleh kamu lemah begitu, Asmara!!! Bayimu akan tumbuh dengan baik tanpa pria itu! Mereka tidak butuh pria tak bertanggung jawab seperti itu! Kamu harus kuat! Jaga harga dirimu, jangan rendahkan lagi!" seru Asmara untuk menyakinkan dirinya bahwa dia mampu menjadi single mom yang kuat bagi si twins.
"Aku akan menyelesaikan masalah yang kubuat dengan dia, aku adalah wanita bertanggung jawab tidak seperti dia. Besok aku akan menjengguk dia dan menyelesaikan masalah apapun dengan lelaki itu. Kalau dia ingin kata maafku, akan aku turuti hingga dia tak hadir lagi dihidupku. Akan aku selesaikan semuanya dengan dia" tekad Asmara dengan yakin.
Akhirnya Asmara memilih untuk sholat malam dan menunggu adzan subuh sekalian baru merebahkan tubuhnya lagi dan berusaha untuk tidur. Karena tenaganya sudah benar2 habis karena berkegiatan seharian dan ditambah lagi masalah Alfano, ia tertidur dengan susah payah ketika sudah jam set5 pagi
.
Matahari sudah bersinar terang, Asmara belum bangun padahal sudah jam 9 pagi. Maklum, tadi malam ia tidak bisa tidur sampai jam set5 pagi baru bisa terlelap. Lalu bel rumahnya berbunyi berkali kali yang membuat wanita hamil itu terbangun.
"Siapa sih pagi pagi neken bel rumah orang berkali kali!" gerutu Asmara yang masih mengira hari masih pagi banget karena ia merasa baru saja tidur kok udah diganggu tamu aja.
Asmara pun mendudukan tubuhnya dan mengambil hp di nakas sebelah ranjang. Dengan mata yang masih mengantuk, ia melihat layar hp yg menunjukkan sudah jam 9 pagi lebih pula dan tertera banyak telepon dari Bunga.
__ADS_1
"Astaga!!!! Kok udah jam 9 pagi ajaaa!!! Bunga pasti nyariin aku!" seru Asmara kaget dan buru buru untuk turun dari ranjang dan berjalan cepat menuju pintu rumahnya. Ia ingin lari tapi mengingat ia hamil jadi ya harus hati hati meskipun lagi panik.
Betul dugaannya, kalau Bunga nyariin dan yang menekan bel berkali kali itu siapa lagi kalau bukan partner bisnisnya itu.
Asmara melihat Bunga sudah dengan raut wajah kesal dan tangan disilangkan di atas perutnya. Asmara terkekeh dengan rasa bersalah kepada wanita yg ada dihadapannya itu.
"Hihi maafkan aku, Bun" kata Asmara menyambut Bunga.
Bunga tidak membalas sapaan Asmara itu, namun langsung nyelonong masuk ke rumah dan duduk di kursi tamu. Dengan wajah kesal, Bunga mulai mengeluarkan suaranya.
"Kamu kemana aja sih? tumbenan gak ada kabar? Aku telepon berkali kali gak diangkat. Aku kirim chat juga gak dibales. Bikin aku panik ajaaa" omel Bunga pada Asmara yang masih berdiri didepan pintu.
Asmara pun berjalan menuju Bunga dan duduk disampingnya.
"Maafkan aku, Bunga. Aku tidak berniat mengabaikan telepon atau chatmu. Aku baru tidur tadi habis subuh. Ngantuk banget. Aku gak sempet ngabarin kamu kalau mungkin hari ini memang aku bangun kesiangan dan izin ada yg harus aku lakukan. Jadi, maafkan aku yaa. Sekarang kamu tau kalau aku gapapa. Gak usah khawatir hehe" bujuk Asmara pada sahabatnya yg sedang merajuk.
Bunga menghembuskan nafas kasar dan baru menetralkan raut wajahnya normal.
"Aku khawatir banget sama kamu. Apalagi tau kalau pria itu lagi di Bandung. Takutnya di nekad buat ndeketin kamu dengan paksa. Soal restauran udah di handle sama Hani. Jadi, dapur enak kabeh tetap jalan tanpa kamu meskipun ya masakanmu lebih enak sih" ucap Bunga dengan raut wajah sudah rileks , tidak sekesal tadi.
"Makasih ya udah jadi sahabat terbaikku, Bun" kata Asmara dalam pelukan.
"Welcome. Aku juga makasih banyak kamu mau bersahabat sama aku yg suka marah2" sahut Bunga dan mengeratkan pelukannya kepada Asmara.
Mereka pun berpelukan beberapa menit. Setelah puas berpelukan , mereka melepas pelukannya dan saling tatap.
"Apa yang mau kamu lakuin hari ini sampek mau izin ke aku?" tanya Bunga ketika mengingat omongan Asmara tadi.
Asmara jadi kikuk sendiri, bingung mau jelasin apa ke Bunga soal Alfano.
"Hmmm, kayaknya aku udah keterlaluan ngasih sambel sama garam pada pria itu" kata Asmara dengan rasa sesal.
__ADS_1
Bunga langsung paham , siapa yg Asmara maksud karena ia tau kalau juru masak restauran milik mereka itu memberikan serangan sambal dan garam pada masakan yg disajikan kemarin dan itu hanya Asmara lakukan pada Alfano.
"Pria breng*** itu? Emang kenapa dia kok kamu bisa bilang gitu? Menurutku, sambel sama garam itu gak ada apa apanya sama kesalahan yg telah dia lakuin ke kamu" ujar Bunga dengan kesal.
"Dia kemarin malam, tiba tiba pingsan di depan rumahku dengan kondisi yg bikin aku takut. Sampek aku panggilin ambulance buat bawa dia ke rumah sakit" jelas Asmara yang membuat Bunga terperangah tidak percaya kalau efek dari sambal dan garam itu sampek bikin pria yg mereka anggap breng*** masuk rumah sakit.
"Beneran ? Cuma karena sambel dan garam, dia bisa masuk rumah sakit?" tanya Bunga menyakinkan dirinya untuk mempercayai cerita Asmara.
"Iya beneran. Badannya dingin, kayak orang mau gak ada. Gimana aku gak panik coba. Yaudah aku ke rumah sakit nganter dia, ngurus asministrasi sampek dia harus rawat inap" ucap Asmara dengan nada yg menyakinkan.
Bunga hanya bisa geleng geleng kepala. Di satu sisi ia merasa tidak harus peduli sama pria itu karena perbuatan yg telah menyakiti sahabatnya, tapi di satu sisi lain ia juga merasa bersalah karena lelaki itu makan di restauran Enak Kabeh yang terkenal makanannya enak dan memuaskan bagi pelanggan. Ternyata, karena 1 makanan yang ia biarkan tidak layak makan diberikan pada pelanggan yaitu Alfano, membuat pria itu sakit.
Wajah Bunga jadi ikut merasa bersalah.
"Hmm, kok aku jadi ikut merasa bersalah ya. Mungkin karena aku tau kamu ngasih makanan racun itu ke dia ya jadi kayaknya aku membiarkan restauran kita memberikan makanan yg tidak layak makan untuk pelanggan. Tapi aku juga seneng sih, setidaknya dia gak meninggoy ditangan korbannya sendiri hahaha" diawal serius tapi diakhir dijadikan candaan oleh Bunga.
Asmara merasa tersindir dan memukul pelan lengan Bunga.
"Hisst kamu tuh! Mau aku masuk penjara gara gara bunuh bapaknya si twins? Tapi beneran sih, aku juga bersyukur dia gak meninggoy gara gara makanan super pedes dan asin itu. Bisa bisa aku yang jadi tersangka dan diselimuti penyesalan seumur hidup" sahut Asmara dengan nafas lega.
"Terus, sekarang apa yang ingin kamu perbuat sama pria itu? Kamu maafin dia karena kamu merasa bersalah udah nyelakai dia sampek masuk rumah sakit?" tanya Bunga serius.
"Aku akan menyelesaikan masalahku dengan dia sampai tuntas, terus gak mau terlibat apapun dengannya meskipun demi bayiku. Sebenernya dia itu cuma butuh maafku dan bawa aku ke keluarganya yang mungkin tau soal aku terus mereka marah ke Alfano. Ya mungkin dia pingin buktikan ke keluarganya kalau aku udah maafin dia kali" jawab Asmara sesuai pemikirannya.
"Terus kalau ternyata keluarganya tau kalau anak yang kamu kandung anak Alfano dan memberimu uang lagi untuk mendapatkan anakmu gimana? Mereka orang kaya, menurut ceritamu Alfano juga anak pertama yg mewarisi perusahaan Batu Bara sehingga pasti butuh pewaris selanjutnya. Atau kemungkinan lainnya, kamu disuruh menikah dengan Alfano sampai anak itu lahir lalu kamu disingkirkan karena tidak selevel dengan mereka" ucap Bunga yang membuat Asmara menyadari fakta baru yg menakutkan ini.
Benar juga kata Bunga, jika keluarga Alfano tau soal kandungan Asmara maka bisa jadi si twins direbut darinya. Asmara menjadi overthinking. Membayangkan bayinya diambil orang lain, ia tidak akan membiarkan itu.
"Aku baru sadar hal ini, Bun. Aku akan berusaha menjauhkan diriku darinya sejauh mungkin dan membuat dia tak menghampiri ku lagi. Lagian dia tau kalau aku sudah menikah, keluarganya juga tidak bisa memaksaku untuk memberikan anak anakku karena anak ini milikku. Aku hamil diluar nikah jadi akta lahir mereka hanya ada namaku" sahut Asmara dengan tegas.
Bunga melihat sosok ibu dari Asmara yang mencoba mempertahankan anaknya, lalu ia tersenyum.
__ADS_1
"Memang kamu sudah pantas menjadi ibu, Mara. Aku salut atas keberanian mu ini. Tapi kamu harus siap di berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Aku selalu mendukung keputusanmu" ucap Bunga lalu memeluk Asmara sebagai support mental pada temannya itu.
Asmara menerima pelukan itu dengan hangat. Memang Bunga adalah sahabat terbaik untuknya.