BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Kebohongan terkuak


__ADS_3

"Kamu ternyata bisa bercanda juga" sindir Asmara dengan senyuman smirk.


Alfano malah tertawa dengan nada pelan karena ia sadar posisi berada dimana.


"Hahahhaa, menurutmu aku robot gak bisa ketawa" sahut Alfano.


"Iya, kamu robot gak punya hati dan breng***" ucap Asmara dengan kesal.


Alfano hanya tersenyum saja dibilang begitu.


"Sampai kapan aku menjadi breng*** , baji**an, dan gak punya hati untukmu?" tanya Alfano dengan ekspresi serius.


"Tidak ada batas waktunya" jawab Asmara dengan santai.


"Oke. Apapun itu anggapanmu tentangku , aku cukup berterima kasih karena kamu sudah mau nemenin aku disini meskipun sebagai suami pura pura mu" kata Alfano dengan lirih lalu tersenyum.


Asmara tidak membalas omongan Alfano lagi. Ia mulai menata hati untuk menyelesaikan masalah dengan lelaki itu dan mengatakan maksud tujuannya datang ke rumah sakit mengunjunginya.


"Seperti yang kamu katakan kemarin, kamu hanya perlu kata maaf ku kan?" tanya Asmara dengan serius untuk memastikan sesuatu.


"Benar. Aku butuh maafmu yg paling tulus hingga membuatku tak merasa bersalah lagi. Terus karena ibu dan adikku sudah tau kesalahanku ini, mereka memusuhi ku hingga aku bisa membawa kamu dihadapan mereka untuk bilang kalau km sudah maafin aku" jawab Alfano.


Mendengar jawaban Alfano yang terdengar dia takut sama ibu dan adiknya, Asmara tertawa terbahak bahak sampek ada keluarga pasien yg menegur wanita itu. Asmara pun langsung menghentikan tawanya dan fokus menatap Alfano lagi dengan tatapan tak percaya.


"Maaf maaf, aku tertawa karena lucu banget ternyata CEO Batu Bara takut sama ibu dan adiknya" ucap Asmara sambil menahan tawa.

__ADS_1


Alfano tidak marah pada Asmara yang menertawakan dia. Malah ia ikut senang melihat tawa wanita itu.


"Kamu kalau ketawa cantik juga. Aku tidak marah kamu remehin. Kalau dengan kamu bilang gitu bisa bikin kamu ketawa, hina aja aku sampek kamu puas" kata Alfano dengan tulus.


Asmara jadi kikuk sendiri, ia bingung menanggapi omongan Alfano itu sebagai pujian atau sindiran padanya.


"Beneran. Aku berharap setelah kamu memaafkanku dan aku pergi dari hadapanmu, kamu bisa tertawa begitu dengan suami dan anak anakmu kelak" lanjut Alfano benar benar dengan nada lembut dan penuh makna.


Asmara makin canggung kalau Alfano mode lembut gitu.


"Hmmm. Semoga saja begitu. Mangkanya aku kesini lagi untuk bilang ke kamu , kalau aku udah memaafkan kesalahanmu tapi kamu harus janji akan pergi dari hadapanku" kata Asmara dengan serius.


Alfano terkejut dengan omongan Asmara. Akhirnya, tujuan misi dari lelaki itu mendekati Asmara pun tercapai. Namun, kenapa hatinya tiba tiba menjadi tidak ingin menjauh dari Asmara. Raut wajah Alfano terlihat tidak suka mendengar perkataan Asmara.


Asmara pun bingung, kenapa wajah Alfano menjadi serius begitu padahal itukan yg lelaki itu inginkan.


"Hmmm, benar" jawab singkat Alfano dengan penuh tanya sebenarnya.


"Terus kenapa raut wajahmu kayak gak suka gitu? Ini kan yang kamu cari sampai rela makan makanan yg tidak layak kayak kmrn?" tanya Asmara heran dengan sikap Alfano ini.


Alfano masih diam. Ia mencari tau apa yg ia rasakan sebenarnya.


"Sadaaar Fan. Ini yang kamu inginkan. Jadi kamu harus seneng" batin Alfano mencoba mengingat tujuan awalnya mengejar Asmara.


Lalu ekspresi Alfano pun berubah jadi senang. Emang labil banget sih CEO ini 😏

__ADS_1


"Hahahhaaa beneeeeeeer. Tadi aku kayak percaya atau nggak kamu bilang gitu. Eh ternyata beneran ya kamu maafin aku" kata Alfano dengan tawa namun sebenarnya ia paksakan.


Asmara gantian yang beraut wajah kecewa.


"Memang dasar lelaki tak bertanggung jawab!" batin Asmara dengan menahan rasa kesal atau kecewa yg ia rasakan.


Lalu suasana diantara mereka menjadi hening. Tak ada suara namun saling tatap entah tatapan apa itu.


"Seingin itu kah kamu untuk aku pergi dari hadapanmu? Kenapa kamu tidak berusaha meminta pertanggung jawabanku semisal memang bayi yg kamu kandung adalah anakku? Kenapa kamu memilih berbohong untuk status pernikahanmu? Apa sekuat itu kamu jadi wanita? Wanita diluar sana mungkin berlomba lomba untuk bisa tidur dan hamil dari benihku lalu mengincar kekayaanku. Kenapa kamu gak gitu, Asmara?" batin Alfano merasa Asmara memang beda dengan wanita yang mendekatinya.


Dihadapan Alfano, Asmara juga sedang berbicara pada batinnya sendiri mencoba mengerti perasaannya yg tidak jelas ini, antara kecewa atau lega.


"Aku tidak berharap banyak padamu. Anak anakku akan tumbuh tanpamu dengan baik. Aku tidak perlu tanggung jawabmu, Alfano. Pergilah dari hadapanku segera" batin Asmara dengan kegundahan.


Lalu suara telepon dr Hp Asmara memecahkan keheningan. Wanita itu segera mengambil hp nya dan melihat nama Bunga menelepon dirinya.


"Halo, Bun. Ada apa?" sapa Asmara terlebih dahulu.


"Heh, ibu ayah dan adikmu datang kesini!" seru Bunga panik.


"Hah??? Serius???" tanya Asmara tidak percaya.


"Iyaa beneran! Ini aku izin ke kamar mandi buat telepon kamu. Mereka aku suruh di ruang tamu. Aku bilang kamu sedang meeting sama perusahaan yg akan kerjasama dengan restauran kita" jelas Bunga.


"Yaampun, gimanaaa ini? Aku belum cerita kalau aku hamil sama mereka. Bisa syok mereka tau kalau aku hamil diluar nikah" ujar Asmara ikut panik hingga ia lupa diruang rawat itu masih ada Alfano yang mendengar pembicaraannya.

__ADS_1


Alfano yang mendengar penjelasan Asmara itu langsung menegakkan tubuhnya dan menatap punggung wanita yg sedang menelepon didepannya.


"Berarti memang benar , Asmara bohong soal dia sudah menikah dan anak itu memang anakku!" batin Alfano. Pria itu menajamkan pandangannya ke arah Asmara yg belum membalikkan tubuhnya kearah Alfano.


__ADS_2