BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Saling berbisik


__ADS_3

Dalam perjalan menuju rumah Alfano dan Asmara, mobil itu hanya terisi suara wanita wanita yang tidak lain mami dan istri dari pengemudi mobil.


Alfano tak bersuara dan hanya mendengarkan obrolan yang diiringi dengan canda gurau para wanita.


"Kok diem aja sih, Fan? Kamu gak mau ikut ngobrol sama kita?" celetuk Bu Laras menggoda putranya.


"Alfano lagi serius nyetir, mam" sahut Alfano.


"Coba kamu lihat tuh suamimu, serius amat jadi orang. Gak bisa diajak bercanda emang. Kamu yang sabar ya punya suami kaku begitu" ucap Bu Laras pada Asmara , membuat menantunya itu membalasnya dengan senyum.


"Atau jangan jangan kalau berdua sama kamu , dia jadi Alfano yang baik, lembut, penyayang, perhatian dan mempesona yakaaan mangkanya kamu udah bisa maafin kesalahaaan besar anak itu?" goda Bu Laras pada mantunya.


"Mami! Mami jangan menggoda Asmara dong, nanti dia benci sama Alfano lagi gimana? Mami mau tanggung jawab?" sahut Alfano yang tidak suka maminya menggoda sang istri yang saat ini cuma menahan malu dan senyum aja.


"Hahahaha, sebelum kamu tanggung jawab, mami udah tanggung jawab duluan sama Asmara buat nikahin kalian. Pokoknya, sikap angkuhmu itu hilangin kalau sama Asmara. Jadi istri tuh susah kalau suaminya angkuh, kaku dan tidak berperasaan" ujar Bu Laras sambil tertawa dan memperingatkan putranya itu.


Alfano tak membalas karena dia tidak akan pernah menang melawan ibunya. Ia memang pria pintar, cerdas, tegas, angkuh, CEO hebat dan kemampuan lainnya yang keren namun hanya satu orang yang tidak bisa ia lawan yaitu sang mami.


Akhirnya, perjalanan itu penuh dengan obrolan Bu Laras yang menjelekkan atau merendahkan putranya sendiri di depan Asmara, tapi sesekali ya memuji putranya yang hebat sejak muda. Pastinya, dalam kontek/ bercanda yaa sambil orang tua itu menyampaikan karakter Alfano apa adanya pada menantunya. Putranya itu pun tak protes sama sekali karena benar semua yang diomongin maminya. Dia hanya sebagai pendengar saja.


Alfano sudah tau karakteristik maminya itu, bahwa sebenarnya Bu Laras tak pernah menjelekkan nya didepan banyak orang atau kepada orang lain yang tak ada hubungannya dengan kehidupan keluarga mereka. Bagi Bu Laras, kehormatan putranya itu harus ia jaga. Ibu Alfano ini juga jarang memuji atau membanggakan putranya didepan banyak orang hanya untuk pamer atau apalah , meskipun sang putra menjadi CEO dan penerus usaha keluarga. Tapi jika ada prestasi yang diraih Alfano, Bu Laras adalah orang terdepan yang menyambut dan mengucapkan selamat kepada putranya.


Tapi beda dengan Asmara. Wanita hamil yang saat ini duduk disebelahnya adalah menantu dan sudah menjadi bagian keluarga, sehingga untuk memberikan informasi karakter dan kehidupan sang putra pada menantu, Bu Laras harus menceritakan semua hal termasuk kejelekkan atau kebaikan dari Alfano yang dibalut dengan candaan. Maka dari itu, Alfano pun tenang tenang aja dan tidak marah maminya menggodanya dengan ngobrol apapun tentang dirinya didepan sang istri.


Tidak terasa obrolan dan candaan itu membuat mobil yang dikemudikan Alfano tiba tiba sudah sampai rumah.


"Akhirnya, sudah sampai ya. Wah gak kerasa sambil ngomongin Alfano , tiba tiba udah sampek aja" celetuk Bu Laras.


"Iya, mam. Mas Alfano emang kalau nyetir itu enak banget sampek gak kerasa" sahut Asmara mengiyakan perkataan mertua sambil memuji sang suami, karena dari tadi dia dan Bu Laras ngomongin Alfano terus sampek dalam hatinya kasihan juga sama suaminya itu. Udah jadi supir mereka , diomongin terus. Untuk telinga si supir kebal haha 😂


"Cieeeee, yang sering diajak jalan sama suaminya. Ayok deh masuk ke rumah dulu baru cerita lagi kemana aja kamu dibawa Alfano pake mobil ini" ujar Bu Laras sambil membuka pintunya dan keluar mobil.

__ADS_1


Asmara pun mengikuti mertuanya untuk keluar mobil dan bersamaan dengan suaminya keluar mobil juga.


Alfano pun mendekatkan dirinya dengan Asmara ketika sama sama habis menutup pintu mobil, lalu membisikkan sesuatu.


"Puas puasin ngobrolin aku sama mami yaa sambil menertawakan aku dan gak membela aku didepan mami padahal kan sikapku udah baik sama kamu. Jadi kalau kita berdua aja, siap siap aku akan membalas kejahilanmu ngomongin aku tadi" bisik Alfano bukan dengan nada marah tapi menggoda hingga tubuh Asmara beraksi seperti wanita dewasa dengan hembusan udara di telinganya yang ia rasa.


"Kalian kok pada bisik bisik disitu? Ngomongin mami ya? Ayo masuk dulu, udah mulai panas nih sinarnya" panggil Bu Laras yang sudah berada di depan pintu rumah Asmara.


Alfano dan istrinya pun menoleh ke arah Bu Laras dan memberikan senyuman tipis. Asmara yang masih kikuk dengan respon tubuhnya masih diam saja berdiri didepan pintu mobil hingga Alfano berjalan terlebih dahulu didepannya.


"Astaga. Respon tubuh ini sama hembusan nafasnya ditelingaku bikin adem panas" batin Asmara sambil memegang dadanya yang juga terasa jantungnya berdetak cepat. Alfano yang baru 2 langkah merasa istrinya belum mengikuti langkahnya kemudian membalikkan badannya menghadap Asmara yang memang masih belum berjalan setelah dipanggil mami tadi.


"Hey, sayang. Ayo masuk rumah, udah panas nih" panggil Alfano dengan senyuman smirk yang menggoda.


Asmara pun langsung menatap Alfano dengan wajah pura pura senyum tatapan mata mengintimidasi setelah mendengar panggilan sayang yang seharusnya belum boleh diucapkan suaminya itu ketika ia belum menerima pernyataan cinta atau sayang dari Alfano.


Alfano pun sadar dengan panggilannya akan membuat Asmara jengkel padanya. Memang itu niatnya menggoda sang istri karena dari tadi sudah digoda oleh Asmara di mobil.


Bu Laras yang melihat anak dan menantunya saling bisik jadi senyum senyum sendiri.


"Dasar anak muda, pinginnya nempel nempel terus" lirih Bu Laras sambil tersenyum melihat hubungan pengantin baru yang awalnya dipaksakan itu terlihat baik.


"Maaf , buat mami nunggu ya" kata Asmara ketika sudah berdiri disamping Bu Laras didepan pintu rumahnya sambil membuka pintu itu dengan kunci yang ia bawa.


"It's okay, Mara. Mami tau kalian tuh pengantin muda gak bisa jauh jauh , pinginnya nempel aja kan?" goda Bu Laras.


"Nggak mami, siapa juga yang mau deket sama wanita hamil yang jutek banget sama suami sendiri" sela Alfano yang berjalan mendekat kearah 2 wanita yanh berdiri didepannya.


"Siapa juga yang mau deket sama suami beraninya ngancam dan ngelanggar perjanjian" balas Asmara dengan senyuman smirk sambil berhasil membuka pintu rumahnya.


Alfano terkikih saja mendengar balasan dari istrinya.

__ADS_1


"Wanita ini memang luar biasa. Udah bisa balas seranganku" batin Alfano .


"Masuk, mami" ucap Asmara ketika sudah masuk kerumahnya dulu.


"Iya sayang. Oh ya, tiba tiba mami lapar nih. Kalian udah sarapan?" tanya Bu Laras sambil berjalan menuju kursi ruang tamu.


"Belum mami, kita juga belum makan. Mami mau kita beliin sarapan apa?" sahut Asmara.


"Kalian juga belum sarapan ya? Tadi seharusnya mampir dulu sarapan dijalan" ucap Bu Laras ketika sudah duduk di kursi tamu dan diikuti oleh Asmara yang duduk disebelahnya.


"Tadi kita keasyikan ngobrol, mam. Makanya sampek gak inget kalau belum sarapan dan maaf aku lupa nawarin mami tadi buat sarapan bareng" sahut Asmara dengan nada sedikit ada penyesalan di akhir.


Alfano berjalan ke dapur melewati wanita wanita yang berada di ruang tamu untuk membuatkan maminya teh hangat.


"Loh anak itu kemana? Main jalan aja padahal kita disini" omel Bu Laras ketika melihat putranya jalan melewatinya tanpa kata apapun.


"Mungkin Mas Alfano sedang bikinin mami teh" tebak Asmara yang tidak tau kalau tebakannya benar.


"Istriku tau bener sih kalau aku lagi bikinin mami teh" sahut Alfano yang jalan keluar dari dapur sambil membawa 1 gelas teh hangat untuk maminya.


Asmara terkaget dan memberikan ekspresi tak percaya melihat Alfano yang sudah mendekat dengannya dan membawa 1 gelas teh hangat.


"Loh kok bisa bener tebakanku?" kata Asmara dengan wajah heran. Alfano dan Bu Laras hanya bisa tersenyum.


"Chemistry kalian memang jos dong kalau tebakan istri aja bener. Kamu harus bangga punya ikatan batin sama Asmara, Fano. Enak loh kalau punya pasangan sehati dan sepemikiran kayak gini" sahut Bu Laras.


"Hahahhahaa, Alfano setuju sama mami" ujar Alfano sambil meletakkan gelas teh yang ia bawa ke meja tamu di bagian depan Bu Laras duduk.


"Makasih anak mami yang tertampan" puji Bu Laras sambil menyeruput teh yang dibuatkan Alfano. Setelah tugasnya membuatkan teh maminya sudah selesai, ia pun duduk di kursi kosong sekitar Asmara.


Bu Laras yang merasa sudah pas untuk menceritakan urusan apa yang akan ia bereskan hari ini kepada Asmara dan Alfano , memulai obrolan antara mereka bertiga.

__ADS_1


Sebelum itu , ia menyuruh Alfano untuk memesan online food bubur ayam khas Bandung 3 porsi melalui aplikasi di hpnya. Barulah setelah pesanan selesai, obrolan mereka benar benar dimulai.


__ADS_2