BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Hampir kesrempet


__ADS_3

Misi dijalankan oleh Alfano. Pagi - pagi ia bangun lalu keluar rumah barunya itu untuk jogging keliling perumahan yang ia tinggali saat ini, sekaligus mengenali lingkungan sekitar.


Ia berharap jika rejeki akan bertemu dengan Asmara. Ia pikir ibu - ibu atau wanita yg sudah berkeluarga akan keluar di pagi hari untuk belanja.


"Jogging dulu , siapa tau nanti ketemu wanita itu" lirih Alfano ketika memulai joggingnya. Alfano memang terkenal sangat memperhatikan fisiknya dalam berolahraga meskipun sempat memiliki hobby minum minuman keras jika sedang stress , tapi ia tetap mengimbangi tubuhnya dengan meminum vitamin serta suplemen dari dokter pribadinya yg juga adalah temannya sendiri bernama Randi.


30 menit Alfano jogging sudah mengitari perumahan itu hingga ia kembali lagi di depan rumahnya.


"Ternyata perumahannya gak terlalu besar. Cuma memang bangunannya modern dan minimalis jadi terlihat mewah disini" kata Alfano sambil mengatur nafasnya.


Lelaki itu lalu melihat rumah Asmara yang pintunya terbuka tapi belum menunjukkan kehadiran wanita itu.


"Kemana dia ya? Pintu dibuka tapi gak nonggol?" batin Alfano sambil menunggu wanita itu menampakkan diri.


Deg...deg...deg...


Detak jantung Alfano tiba tiba meningkat ketika berdiri didepan rumahnya tapi menghadap pintu rumah tetangga sebelahnya.


"Aduh, kenapa sih dadaku ini? Apa aku terlalu semangat jogging tadi ya sampek berdebar gini?" keluh Alfano sambil memegang dadanya yg tegang. Lelaki ini tidak mau menyadari bahwa ia menjadi tegang karena grogi ketika melihat Asmara muncul dari pintu yg terbuka itu.


"Relax. Relax Alfano" tenang Alfano pada dirinya sendiri.


Eh yang di tunggu tunggu akhirnya muncul keluar dr rumahnya sambil membawa tes kresek sampah untuk di taruh di depan agar diangkut tugas kebersihan perumahan. Tapi Alfano refleks memutar badannya membelakangi keberadaan Asmara dan sok sok an melakukan stretching.


"Kenapa sih lu kayak gini Fan! Cemen banget ketemu cewek aja gak berani!" gerutu Alfano pada dirinya sendiri karena salah tingkah melihat Asmara, tp ia tetap melanjutkan kegiatan pura pura olahraganya hingga merasa Asmara sudah masuk rumah.


Beda dengan Asmara yang merasa terkejut ternyata rumah sebelahnya sudah dihuni oleh orang baru. Otomatis wanita hamil ini memiliki tetangga. Ia melihat sosok lelaki melakukan stretching membelakangi dirinya.


"Wah, rumahnya udah laku ternyata. Mangkanya, beberapa hari kemarin ada orang yg beresin rumah itu. Kenalan gak ya?" lirih Asmara.


"Kenalan deh, mungkin nanti bisa menjadi tetangga yg baik" lanjut Asmara menyakinkan dirinya untuk menghampiri lelaki yg ia yakini adalah penghuni rumah disebelahnya.


Wanita itu pun berjalan berlahan menuju posisi Alfano yg masih saja beracting stretching.


"Wait, wait.. kok aku merasa ada yang semakin mendekat ya? Apa jangan jangan dia menghampiriku?" batin Alfano yg merasa ada langkah kaki menujunya.


Alfano semakin grogi dan panik sendiri hingga ia mendengar sapaan dari wanita yg memang ingin ia taklukan untuk bisa memaafkan kesalahannya.


"Hai, penghuni baru ya?" sapa Asmara dengan ramah dan lembut.


Sontak membuat Alfano berlari menuju jalan utama perumahan untuk menghindari Asmara.


"Hah, kok lari ? Aneh banget sih tuh cowok" omel Asmara karena heran tingkah tetangga barunya itu.


"Semoga kalau pun dia gak bisa jadi tetangga yg baik , juga tidak menjadi tetangga yg menyebalkan" lanjut Asmara merasa niat baiknya dibalas dengan abaian, lalu berjalan masuk kerumahnya.

__ADS_1


Alfano yg masih jogging merasa hatinya sangat aneh, kenapa tiba tiba dia menjadi memiliki perasaan lebih dari rasa menyesal pada Asmara. Hingga membuat dia malu jika harus berhadapan dengan wanita itu.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Alfano tugasmu adalah mendapatkan maaf darinya dan terbebas dari rasa bersalah ini. Anggap saja dia sudah menikah, so kamu gak perlu tanggung jawab lagi. Tapi kalau dia memang belum menikah, kamu juga belum tentu dimintain tanggung jawab kan, jadi cukup kata maaf darinya aja untuk menyelesaikan misi ini" kata Alfano menyakinkan dirinya sendiri lalu memutar arah joggingnya kembali ke arah rumahnya.


Sesampai didepan rumah, Alfano melihat pintu rumah Asmara sudah tertutup. Ia pun masuk kerumahnya dan memilih langsung mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air.


Hari semakin siang. Saat ini sudah pukul set 9 pagi, waktunya Asmara menuju restauran Enak Kabeh dengan berjalan kaki. Alfano yang setelah mandi tadi langsung berpakaian casual dan tidak mencerminkan gambaran seorang CEO , sudah menunggu Asmara untuk keluar dari rumah.


"Itu dia!" seru Alfano ketika melihat Asmara mulai berjalan menjauhi rumah yang wanita itu tinggali.


Alfano pun sudah memantapkan hatinya untuk mendekati Asmara dan menyingkirkan semua perasaannya kecuali keinginan untuk menyelesaikan misi dengan cepat. Ditolak atau tidak nantinya, lelaki itu sudah bertekad akan mengejar wanita yg telah ia sakiti setidaknya hingga ada kata maaf untuknya.


Alfano berjalan cepat menyusul Asmara yang berjalan dengan pelan santai dan penuh hati hati. Namanya juga orang hamil ya kan , gak mungkin lari lari pake dress lagi.


Rambut hitam panjang terurai indah dan ditambah dress selutut yang menampakan kaki putih Asmara membuat Alfano yg dibelakangnya sedikit oleng, tapi gengsi sang CEO begitu tinggi. Ia berkata pada dirinya sendiri, wanita cantik itu hanya bisa menyakiti pria yg tulus mencintainya berdasarkan pengalaman cintanya yg menjadi trauma terbesar dalam hidupnya hingga saat ini.


Padahal saat ini yang nyakitin sapa yang merasa jadi korban siapa , dasar Alfano 😈


Alfano memilih berjalan dibelakang Asmara dengan menjaga jarak. Tapi ketika berada ditikungan jalan raya saat keluar perumahan, ada sepeda motor ugal ugalan yang mau nyrempet Asmara didepannya. Dengan cepat Alfano berlari menuju Asmara dan memeluknya dengan erat.


Asmara terkejut dengan suara motor ugal ugalan yg hampir mencelakainya lalu ditambah lagi dengan pelukan seorang pria yg menyelamatkan dirinya.


Dengan nafas tersenggal senggal, Alfano melepaskan pelukannya dihadapan Asmara yang menunjukkan raut wajah syok dan tak bisa berkata apa apa ketika melihat pria yang paling ia benci saat ini menjadi penyelamat untuknya dari srempetan motor. Beberapa detik mata mereka saling menatap, dengan tangan Asmara masih memegang pinggang Alfano karena refleks perlindungan dirinya. Alfano pun masih memegang lengan Asmara dan memastikan wanita itu bisa berdiri sendiri dan tidak oleng ketika ia melepaskan tangannya.


Asmara masih speechless tak bisa berkata apa apa. Tapi beberapa saat kesadarannya sudah sadar, ia langsung mendorong tubuh Alfano agar menjauh dari tubuhnya.


Alfano hanya diam saja didorong begitu oleh Asmara karena ia tau pasti itu yg akan ia dapatkan dari wanita hamil didepannya.


"Apa apaan kamu!" teriak Asmara di pinggir jalan hingga menjadi tontonan beberapa orang yg lewat jalan disekitarnya.


"Aku menolongmu dari srempetan motor, malah kamu teriakin" balas Alfano membela diri.


"Aku gak perlu bantuanmu! Ngapain kamu muncul lagi!" seru Asmara yg masih panik kenapa pria yg berusaha ia hindari muncul lagi, membuat ia ingat kesakitan yg ia rasakan ketika malam itu.


"Kalau aku gak bantu kamu tadi, bisa bisa kamu sekarang udah di rumah sakit tau" omel Alfano yang mulai jengkel , niat baiknya masih tidak dibalas baik oleh wanita yg ia tolong.


Asmara tidak membalas tapi memberikan raut wajah marah , karena ia tau bahwa yg dikatakan Alfano itu benar. Karena tidak ingin ribut di jalan dan menjadi tontonan orang, Asmara memilih melanjukan jalannya menuju Enak Kabeh yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.


Alfano masih mengikuti Asmara dari belakang tapi jarak kali ini lebih dekat, takut kalau ada kejadian seperti tadi. Entah kenapa , Alfano merasa khawatir kepada Asmara jika terjadi apa apa pada wanita itu.


Asmara menyadari bahwa ia masih diikuti oleh Alfano, ia tidak ingin berdebat lagi dengan lelaki itu dijalan. Ketika menyabrang, Alfano membantu menghentikan kendaraan untuk Asmara agar wanita itu bisa menyabrang dengan aman.


Hingga keduanya sampai restauran Enak Kabeh, Asmara meluapkan kekesalannya telah diikuti.


"Mau mu apa? Aku sudah capek berurusan denganmu" kata tajam Asmara ketika memutar tubuhnya menghadap Alfano didepan restauran.

__ADS_1


"Mau ku? Aku cuma mau sarapan disini. Emang nggak boleh?" jawab santai Alfano dengan gayanya yg sol cool, beda banget sama Alfano tadi pagi yg grogian sampek rela acting pura pura stretching.


Asmara mengerutkan keningnya , kenapa sih pria ini gak bisa menghilang saja dari bumi ini kalau perlu.


"Apa aku perlu buatkan banner kalau restauran ini tidak menerima pelanggan pria breng**k kayak kamu? Hah?" ancam Asmara dengan wajah sudah kesal banget menghadapi pria didepannya ini.


Alfano hanya tersenyum smirk, merasa mungkin di dunia ini wanita yg menganggap dirinya breng**k hanya Asmara, Ibunya dan kembarannya. Wanita lainnya kalau sudah melihat Alfano pasti terpesona dan berlomba lomba ingin mendekati sang CEO.


"Hahahahaa, emang restauran mu berniat bangkrut kalau masang begituan? Yang bener ajaaa Asmara, itu bukan marketing yang baik" ucap Alfano dengan kikihan tawanya.


Asmara makin terbakar emosi karena tidak bisa membuat Alfano kalah dalam adu mulut mereka.


"Aku laper, mau saparan disini masa gak boleh? Anggap aja aku ini pelanggan biasa. Pertemuan terakhir kita kan sudah jelas kalau kita sudah tidak ada hubungan apa apa. Kamu juga sudah menikah lagi hamil pula, tidak baik marah2 dan menyimpan benci. Aku juga sudah bertanggung jawab memberikan mu kompensasi. Aku harap, kita tidak ribut seperti ini lagi" lanjut Alfano dengan nada tenang dan terdengar dewasa.


Asmara diam tak membalas, ia memilih untuk menjauh dari Alfano dan berjalan menuju kedalam restauran. Alfano tersenyum melihat wanita hamil itu berjalan pergi dari hadapannya.


"Aku akan membuatmu membutuhkan keberadaanku dan membuktikan sebenarnya kamu sudah menikah atau itu hanya kebohonganmu untuk menghindariku" batin Alfano.


Ketika masuk, Asmara disambut oleh Bunga yang sudah datang untuk membuka restauran milik mereka.


"Eh chef andalan Enak Kabeh udah dateng. Pagi pagi udah cemberut aja, kenapa?" sapa Bunga ketika sudah berada dihadapan Asmara.


"Ada lelaki itu lagi" jawab Asmara dengan singkat.


Bunga mengangkat alisnya merasa heran siapa yg dimaksud Asmara tapi ketika melihat lelaki tampan dengan pakaian casual masuk restauran, ia tau siapa yg di maksud oleh rekan kerjanya itu.


"Oh, laki laki baji**an itu" lirih Bunga dengan raut wajah ikut kesal.


"Aku ke dapur dulu" ujar Asmara lalu berjalan menuju tempat dimana ia akan melakukan pekerjaannya yaitu memasak.


Bunga terpaksa menyambut kehadiran pelanggan pertamanya hari ini meskipun pelanggan ini bukan yg diharapkan untuk datang.


"Selamat pagi, Pak Alfano. Ada apa pagi pagi sudah datang kesini? Untuk kerjasama perusahaan Batu Bara sudah clear dengan Team HRD, jadi kalau boleh tau ada kepentingan apa seorang CEO langsunh datang ke sini ya?" sambutan Bunga dengan sindiran.


Alfano menanggapinya dengan santai tanpa emosi karena ia sudah tau jika Bunga tidak menyukai dirinya karena kesalahan semalam pada teman dekat Bunga yang tidak lain adalah Asmara. Lelaki itu memberikan senyuman tampan tapi tidak menggoda bagi Bunga.


"Saya kesini tidak membawa nama perusahaan saya. Anda bisa lihat saya datang pakai baju casual begini, berarti memang saya kesini mau menikmati liburan di Bandung dan memilih sarapan disini" jawab Alfano.


Bunga jadi malu dan merasa dirinya tidak profesional dengan sikapnya pada pelanggan restauran. Namun ia tidak bisa menghilangkan rasa jengkelnya ketika menatap wajah tanpa dosa Alfano.


"Maafkan saya, Pak Alfano. Saya tidak mengira anda liburan ke Bandung lagi karena baru minggu lalu anda kesini kan. Tapi syukurlah, jika anda memilih tempat makan ini menjadi kunjungan kuliner" ujar Bunga.


"Saya akan sering kesini, mungkin tiap minggu karena saya merasa akan hidup disini bebrapa waktu untuk menghabiskan akhir minggu karena sudah lelah di ibukota rame banget. Jangan bosen bosen ketemu saya ya" ucap Alfano dengan senyuman khas miliknya lalu memilih langsung duduk di meja tamu restauran.


Bunga menghembuskan nafas kasar melihat keangkuhan Alfano dalam menghadapi dirinya yg sebenarnya juga salah karena tidak sopan pada tamu.

__ADS_1


__ADS_2