BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Tak terduga


__ADS_3

Setelah mereka berdua masuk taxi, Asmara memberi taukan lokasi rumahnya. Lalu bertanya pada Alfano , tinggal dimana.


"Kamu tinggal dimana ? Kalau sebelum ke arah rumahku , kamu bisa turun dulu" kata Asmara dengan nada yg masih ketus.


"Tenang. Aku antar kamu sampek rumah dulu karena udah gelap. Baru aku bisa pulang sendiri" jawab Alfano dengan senyum senyum karena merasa ngerjain Asmara.


Asmara tak menyahut lagi. Ia duduk dengan menyandarkan tubuhnya dan mengelus elus perutnya. Alfano yang melihat aktifitas wanita disebelahnya ini jadi khawatir lagi, ia kira Asmara merasakan sakit lagi di perutnya.


"Kamu kenapa? Sakit lagi perutnya?" tanya Alfano panik hingga tubuhnya ia miringkan agar bisa menghadap Asmara.


Asmara senang meskipun rasa itu ia simpan dalam hati biar gak bikin Alfano keGRan.


"Wanita hamil emang suka elus elus perut. Kamu gak usah perduliin aku banget kayak gini. Risih aku" bohong Asmara padahal ia malah senang diperhatikan daddy dari twins.


"Hmmm, aku takut aja kalau bayiku kenapa napa" balas Alfano ikut sewot.


Asmara memberikan ekspresi datar menatap wajah Alfano setelah mendengar balasannya. Oh ternyata, pria disampingnya ini hanya memperdulikan bayi yg Asmara kandung bukan dirinya.


"KeGRan banget aku" batin Asmara meruntuki perasaannya ini.


"Kenapa wanita ini sewot lagi, padahal tadi udah lembut" batin Alfano heran dengan sikap Asmara yang berubah ubah. Jadi bingung abang dek 😂


Akhirnya mereka melalui perjalanan tanpa percakapan lagi hingga sampai depan rumah Asmara. Dari sore ternyata hp nya lowbat sehingga nggak bisa nemerima pesan atau telepon dari siapapun. Jadi, entah bagaimana keadaan keluarganya saat ini yang sedang berada di rumahnya. Asmara jadi takut sendiri membayangkan ekspresi ayah ibu dan adik adiknya ketika melihat ia datang dengan perut yg sudah membuncit.


Alfano melihat wajah takut Asmara ketika menatap pintu rumahnya dari dalam taxi.


"Kamu nggak turun?" tanya Alfano.


Asmara gak menjawab pertanyaan Alfano itu karena ia tiba tiba tidak ada nyali untuk turun.


"Maaf abang dan neng , udah sampek kan ? Ini taxinya udah bayar pake e wallet ya , jadi maaf ini saya mau ambil penumpang lagi" tegur driver taxi.


Alfano pun mengajak untuk Asmara turun taxi.

__ADS_1


"Aku temenin kamu masuk ke rumah dan aku akan tanggung jawab atas kehamilanmu. Aku akan mengakui kesalahan bej** ku pada keluargamu. Jadi, aku siap yang mereka salahkan bukan kamu" kata Alfano dengan serius membuat Asmara menoleh pada pria itu.


Asmara menatap lekat wajah Alfano dan menemukan keseriusan bukan pura pura.


"Aku buka kan pintu mu. Kamu tunggu bentar" ucap Alfano lalu keluar taxi duluan dan membuka pintu taxi disisi Asmara.


"Ayo turun" ajak Alfano sambil mengulurkan tangannya. Asmara pun dengan ragu meraih tangan Alfano dan ia pun keluar dari taxi.


Setelah taxi itu pergi, Alfano dan Asmara berjalan beriringan berdua hingga berdiri ditengah depan rumah gabungan mereka. Alfano malah seperti salah lihat rumahnya kok seperti ada orang didalam, lampunya nyala dan ada beberapa sepatu didepan.


"Eh rumahku kok kayak ada orang ya? Apa Jaka yang dateng ya?" batin Alfano bertanya tanya, tapi pikirannya ia alihkan pada Asmara yg menatap rumahnya dengan ragu.


"Ayo masuk rumah, gak baik udara dingin malam buat orang hamil. Aku antar ya" ujar Alfano sambil menuntun pelan Asmara.


Wanita hamil itu pun mengikuti langkah pria yang berada disampingnya. Berlahan tapi pasti, saat ini mereka berdua sudah didepan pintu rumah Asmara.


"Apa mereka mau menerima anak ini ya?" tanya Asmara pada Alfano dengan mata berkaca kaca.


Entah kenapa keberadaan Alfano saat ini menjadi keberadaan yang menengkan jiwanya. Tidak ada benci ataupun rasa takut, malah kenyamanan yang Asmara terima.


"Udah ya, kita masuk" ucap Alfano sambil menekan bel rumah Asmara.


Ketika pintu rumah dibuka oleh seorang wanita separuh baya yang masih terlihat modis dan cantik diusianya yg tidak muda lagi, Alfano adalah orang yang paling terkejut melihat siapa yang membuka pintu rumah Asmara.


"Mami!" seru Alfano sambil terbelalak tak percaya melihat ibunya ada didepannya dan dirumah Asmara lagi.


Mata Alfano seperti hampir copot padahal ibunya santai melihat putranya, malah Bu Laras seperti menyambut tamu yang ditunggu tunggu.


Asmara tak kalah terkejut. Wanita yg ia lihat didepannya adalah wanita yang ia temani makan di restauran Enak Kabeh beberapa hari lalu. Kok tiba tiba jadi ibu Alfano?


Alfano dan Asmara hanya terpaku dan tak berkata apa apa lagi selain seruan Alfano pada maminya tadi diawal ketika baru bertemu.


"Ngapain kalian bengong? Ayo masuk, kami semua sudah menunggu kalian" ajak Laras dengan sumringah seperti tidak ada masalah apapun diantara mereka semua.

__ADS_1


Alfano dan Asmara hanya saling tatap, mereka kira ini mimpi. Tapi sesaat kemudian, mereka sadar bahwa ini bukan mimpi ketika Jaka, Alfani, Rani dan Rian datang mendekat kepada mereka , seperti menyambut kedatangan mereka berdua.


"Ayo masuk kak, kami menunggu kalian. Ayah dan Ibu kangen banget sama kamu" ajak Rani menarik tangan Asmara berlahan.


Asmara tak bisa menolak, ia mengikuti tarikan dari adik perempuannya itu untuk masuk kedalam dan bertemu ayah ibunya.


"Asmara, putri tersayangku" sapa Asih sambil memeluk sebagai ibu Asmara yang seperti sangat merindukan putrinya itu hingga meneteskan air mata, entah air mata bahagia atau kesedihan. Pak wawang tidak kalah rindu putrinya, hingga ia ikut memeluk istri dan putri pertamanya dengan erat.


Rani hanya bisa melihat ayah ibu dan kakak perempuannya saling berpelukan. Ia memilih memeluk Rian sebagai saudara kembarnya.


"Isssh, ngapain peluk peluk sih. Geli" tolak Rian yang risih dengan pelukan Rani.


Alfano sampek tidak percaya apa yang ia lihat didepannya. Tidak ada amarah, tidak ada pukulan, tidak ada teriakan, semua terasa damai.


Ibu Laras pun mendekat ke putranya yg masih membeku di tempat. Wajahnya ia dekatkan di telinga Alfano dan membisikkan sesuatu.


"Kamu berutang banyak sama mami. Siap siap aja mami meminta balasan darimu" bisik Laras dengan senyuman menyeringai.


Jaka dan Alfani hanya tertawa saja melihat ekspresi Alfano yang begitu terlihat bodoh dan tidak tau apa apa.


Sebagai sahabat, Jaka pun membantu Alfano untuk memahami suasana ini.


"Hey brooo. Kamu sebentar lagi akan jadi suami. Lebih tepatnya besok, kamu akan menikah dengan Asmara. Selamat ya, Fan. Akhirnya mau tidak mau kamu akan mempertanggung jawabkan kesalahanmu" kata Jaka dengan terkekeh.


Alfani pun ikut mengatakan sesuatu yang lebih ke arah mengejek.


"Waduh waduh, yang habis opname langsung disuruh nikah aja. Udah gak diare nih, bahaya loh kalau waktu akad kamu kebelet buang hajat" ucap Alfani sambil tertawa.


Benar benar seperti berada di dunia lain, Alfano bingung dibuat oleh keadaan yang ia terima. Asmara pun sama. Ia tidak mengira, keluarganya menerima dirinya yg sedang hamil dengan begitu saja.


Ada apakah dengan dua keluarga ini? Apakah ada rencana yang sudah disusun untuk menyatukan Alfano dan Asmara? Siapa dibalik suasana yang penuh tanda tanya ini?


Nantikan episode selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2