
Akhirnya, pernikahan siri Alfano dan Asmara sudah dilakukan dan memberikan status baru untuk mereka. Bu Laras dan Bu Asih saling berpelukan dengan rasa haru bahagia dan campur perasaan masing masing yg berbeda apalagi ketika melihat pemasangan cincin nikah antara anak anak mereka.
"Untuk sang istri cium tangan sang suami dan sang suami cium kening sang istri. Agar makin sah, udah muhrim" goda penghulu .
Asmara dan Alfano saling tatap dan dengan keraguan yg masih ada mereka melakukan intruksi dari penghulu.
Cup!
suara ciuman kening dari Alfano untun Asmara. Pak Wawang yang melihat putrinya sudah jadi istri orang tak terasa meneteskan air mata entah karena bahagia atau karena perasaan tak rela putrinya meninggalkan dia dengan pernikahan siri terlebih dahulu.
Namun memang pernikahan siri ini mereka lakukan karena para orang tua ingin segera menikahkan Alfano dan Asmara dengan kondisi yang sudah menghasilkan calon anak. Mengingat urusan menikah sah atau secara legal perlu waktu dan dokumen dokumen yg harus disiapkan dulu, apalagi domisili Alfano dan Asmara berbeda.
Maka dari itu keputusan menikah siri didulukan dan rencana akan dilangsungkan pernikahan secara sah 2 minggu lagi dan para orang tua menyepakati akan menikah di KUA kota Bandung dimana rumah Asmara dan Alfano berada. Karena kalau menikah didesa , omongan orang akan menjadi guncingan pastinya. Sedangkan jika menikah di Jakarta, akan mudah ditemukan oleh tukang gosip untuk meliput seorang CEO yang menikah diam diam dengan wanita yg tengah hamil.
Setelah prosesi akad selesai, ada sesi foto keluarga dari fotografer yang disewa Bu Laras dari kenalannya juga. Memang acara ini acara besar bagi Bu Laras karena mantu pertama kali dan berusaha memberikan kenangan indah bagi keluarga besan. Acara dari awal hingga selesai pun diabadikan oleh fotografer ini.
Saat semua tamu dan keluarga sudah foto bersama, Bunga yang ikut menyaksikan momen penting hidup sahabatnya dan menjadi tamu, membagikan nasi kotak Enak Kabeh kepada para tamu yang tidak lain hanya 2 keluarga dan penghulu serta saksi. Yang pastinya ia lakukan setelah foto dengan pengantin terutama dengan Asmara.
Mereka menikmati sarapan bersama karena waktu masih menunjukkan sekitar pukul 9 pagi.
"Wawang, selamat atas pernikahan putrimu ya. Untuk urusan nikah secara hukumnya, akan aku bantu hubungi KUA daerah sini yang juga temanku di kementerian agama. Jadi, pernikahan Mas Alfano dan Mbak Asmara akan dipegang oleh temanku itu namanya Iskandar. Kamu akan dibantu oleh dia nantinya" kata Penghulu kepada Pak Wawang disela sela makan nasi kotaknya.
"MasyaAllah, terima kasih banyak loh Mas Joko udah mau bantu pernikahan anak saya. Mohon maaf memang keadaanya diluar rencana manusia, jadi saya sebagai ayah hanya bisa mendukung dan memberikan arahan mereka untuk menjadi lebih baik" sahut Pak Wawang sambil memanggil penghulu dengan namanya, Joko.
"Sama sama, Wang. Kamu orang baik, udah bantu aku juga disaat aku butuh bantuan. Kita sama sama bantu ya" ujar Joko.
Mereka pun berbalas senyum dan melanjutkan makan nasi kotanya yg enak kabeh isinya.
__ADS_1
Asmara dan Alfano pun makan nasi kotak dengan duduk berdampingan. Disela sela makan itu, mereka juga saling ngobrol dengan suara pelan kayak bisik bisik gitu, karena takut di dengerin yang lain padahal yg lain juga lagi sibuk makan nasi kotaknya dan ngobrol dengan yang duduk disampingnya juga. Pengantin baru ini terlalu waspada untk percapakan yang akan mereka obrolkan bersama. Masih terkesan kaku , ya namanya nikah dadakan gimana mau siap lahir batin duluan.
"Gimana perasaanmu kunikahi dan mendapatkan pertanggung jawabanku? Pasti kamu merasa menang kan?" tanya Alfano memulai percakapan yg mengarah pada keributan kecil diantara mereka nantinya.
Asmara langsung menoleh ke Alfano disampingnya dengan tatapan tak bisa diartikan dan terkesan kaget, kok bisa bisanya Alfano tanya seperti itu dan membahas kemenangan yg tidak dimengerti oleh Asmara.
Padahal kemarin mereka sempat berduaan, seperti layaknya sepasang kekasih yg menjaga anak mereka dalam kandungan, bercanda sedikit, dan sudah terkesan baik baik saja tapi kenapa baru saja SAH jadi suami istri malah si suami jadi angkuh lagi sebagai seorang pria. Apa memang udah bawaan Alfano yang sulit menghilangkan keangkuhannya sebagai CEO dan pria sekaligus?
"Kamu masih sakit ya? Kok bisa bisanya bahas soal menang kalah disaat seperti ini? Aku gak menyuruh mu menerima pernikahan ini ya. Kamu sendiri yang menerima rencana ini" jawab Asmara dengan nada mulai kesal.
Alfano pun menyeringaikan senyumnya, bagi dia Asmara masih sama seperti Asmara beberapa hari yang lalu jutek dan sok kuat, padahal udah jadi istrinya tapi tetep sama. Ya gimana mau jadi istri yang nurut suami, lah suaminya angkuh begitu 😅
"Ya gimana gak nerima, kemarin kita langsung dikepung dua keluarga. Aku sih yang paling diintimidasi ya dari pada kamu, kalau aku nolak dan bisa bisa dibunuh sama mami ditempat, ya aku kemarin mencoba bersikap baik ke kamu dan menerima pernikahan yanh secepat ini sampek hari ini aku gak masuk kerja dan menunda beberapa meeting penting demi acara ini" sahut Alfano.
Seketika itu juga Asmara menghentikan makannya, menaruh nasi kotak di lantai dan langsung berdiri lalu berjalan menuju kamarnya.
Bu Laras memberikan tatapan tajam pada putranya, lalu menginstruksikan dengan kode matanya untuk menyuruh Alfano mengikuti istrinya itu. Putranya emang gak peka, akhirnya Bu Laras mengeluarkan suaranya.
"Alfano, istrimu kenapa? Sana susul dia, takut dia mual mual karena biasa kalau hamil kan ada yg bawaanya gitu. Ini waktunya kamu kasih perhatian dan kasih sayang sama mereka" suruh Laras dengan senyuman di mulutnya tapi hatinya menahan marah dengan Alfano. Ia tau jika Asmara pergi ke kamarnya karena ulah putranya yg tidak benar benar jadi pria dewasa.
"Iya, Mam. Bentar habisin nasi kotak ini tinggal sesuap" sahut Alfano sambil menyuapkan sendok terakhir dari nasi kotak yang ia makan. Laras hanya geleng2 kelapa dengan tingkah Alfano yg selalu bikin naik darah. Pak Wawang dan Bu Asih juga memberikan tatapan tajam pada mantu mereka.
"Apakah dia akan bersikap baik sama putri kita, Yah?" tanya Bu Asih yang merasa putrinya akan tersiksa dengan pernikahan ini jika sikap dari Alfano begitu.
"Tenang, Bu. Kita coba percaya omongan Bu Laras bahwa ia akan menjamin putranya bersikap baik dengan putri kita. Ayah sendiri nanti yang akan membuat ia menyesal telah membuat putri ayah menderita begitu" ucap Pak Wawang dengan kepalan tangannya.
Alfano langsung berdiri dan berjalan menuju kamar yang dimasuki oleh Asmara. Pintunya tertutup tapi tidak terkunci. Pria itu mengetuk beberapa kali namun tidak ada sahutan, lalu ia memutar gagang pintu dan terbuka. Alfano melihat Asmara yang sedang duduk menangis di tepi ranjangnya.
__ADS_1
"Baru pertama kali aku melihat dia menangis begitu. Apa aku tadi keterlaluan?" batin Alfano merasa dirinya salah lagi.
Ketika Asmara melihat Alfano yang masuk ke kamarnya , wanita itu langsung menghapus air matanya namun air matanya gak mau berhenti.
"Ngapain kamu kesini? Sana pergi aja ke perusahaanmu. Lagian, acaranya udah selesai dan kita udah nikah jadi kamu bisa pergi kemanapun yg kamu suka. Aku gak akan nahan kamu disini" ucap Asmara dengan tatapan marah.
Alfano langsung menutup pintu kamar istrinya agar percakapan mereka tidak terdengar sampek luar.
Alfano berjalan mendekati Asmara tapi baru beberapa langkah , wanita itu menghentikan langka suaminya untuk mendekatinya.
"Jangan mendekat! Aku suruh kamu pergi dari sini!" suruh Asmara dengan nada lebih tinggi.
"Kalau aku bisa pergi dari sini sekarang, aku akan pergi. Aku udah tanggung jawab dengan menikahimu dan bayi bayi itu juga nanti akan aku nafkahi. Tapi saat ini, ada mamiku yang jadi pengendaliku. Ada ayahmu juga yang sudah mewanti wanti ku untuk memperlakukanmu dengan baik, tapi sungguh Asmara hatiku masih belum ada rasa apa apa sama kamu. Kamu paham gak sih tuntutan apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikan masalah ini?" sahut Alfano dengan nada serius.
Asmara menatap tajam Alfano yang berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu tiba tiba berdiri dan kali ini ia yang mendekati suaminya.
Alfano saat ini yg jadi grogi.
"Mau apa dia jalan ke arah ku?" batin Alfano.
Ketika hanya selisih 1 langkah antara jarak Asmara dan Alfano berdiri. Asmara mulai berbicara dengan tegas dan menatap tajam suaminya itu. Kali ini ia harus bersikap tegas karena jika tidak Alfano akan selalu menyalahkannya dan seolah olah pria itu yg jadi korban.
"Aku hanya sekali lagi ngomong kayak gini ke kamu ya Bapak Alfano yang terhormat. Aku tidak menyuruhmu untuk tanggung jawab kepadaku dan anak ini. Aku juga tidak mencarimu untuk memintamu bertanggung jawab padaku selama ini. Uang 500 juta yang kamu banggakan karena sebagai bukti tanggung jawabmu padaku , udah aku terima tapi aku tidak pernah menututmu untuk memberikan uang itu. Kamu sendiri yang memberikannya padaku selayaknya kamu membayar seorang pela*ur. Serius, saat ini aku lelah banget karena seolah olah kamu terpaksa melakukan semua ini. Kamu terpaksa , apalagi aku terpaksa mengandung anak ini karena mereka tidak bersalah. Kamu terpaksa nikahin aku gimana aku yang terpaksa juga menerima menikah dengan pria baji**an seperti mu untuk jadi suamiku? Coba pikir siapa yang paling menderita disini hah? Aku atau kamu? Kamu memang kaya Alfano, tapi hatimu miskin banget sampek aku pun tidak melihat ada kasih sayang antar manusia di hatimu. Kalau kamu mau pergi, pergi sana aku tidak akan menahanmu. Tapi jangan salah kan aku jika kamu akan dibunuh oleh Ayahku ditempat" jelas Asmara dengan nada penuh tekanan serta tangan yang mengepal disamping menahan amarah dan keinginan untuk memukul Alfano.
Alfano hanya diam dan mendengarkan omongan Asmara. Ia menceran omongan istrinya itu. Ia merasa memang kali ini dia sudah cukup keterlaluan dalam berkata pada wanita yang baru ia nikahi.
Diluar kamar itu, Pak Joko sebagai penghulu dan temannya yang menjadi saksi pamit untuk pulang kepada keluarga. Karena melihat kondisi suasana antar keluarga yang terasa perlu melakukan obrolan antara mereka , maka Pak Joko memilih untuk undur diri terlebih dahulu.
__ADS_1
Pak Wawang pun berterima kasih banyak atas kedatangan dua pria yang berperan penting dalam acara akad putrinya. Tidak lupa , Bu Asih dan Bu Laras memberikan bingkisan untuk mereka dibawa pulang.