BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Bukan sugar daddy


__ADS_3

Setelah Asmara sudah merasa lebih tenang dan bisa menghilangkan rasa panas ditubuhnya karena menahan hasrat, wanita hamil itu segera keluar kamar mandi dan melihat suaminya tertidur di ranjang.


"Habis ngetawain aku, bisa bisanya tidur" lirih Asmara sambil berjalan ke lemari baju untuk menganti pakaian yang akan ia pakai ketika bertemu keluarganya.


Ia memilih dress panjang dan lengan pendek. Merasa suaminya sudah tidur dan tak bisa melihatnya, Asmara berganti baju didepan lemari. Ia lepaskan dress selutut yang ia pakai untuk menjemput mertuanya tadi sehingga meninggalkan penutup 2 asetnya dan memperlihatkan perut lumayan buncit karena berisi sang kembar.


"Dia lagi tidur. Jadi aman dan gak mungkin kalau dia lihat aku ganti baju disini kan" batin Asmara.


Tapi diam diam, Alfano melihat istrinya itu melepas pakaian dan terlihat hampir polos karena ia terbangun dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka tadi tapi pura pura tidur.


Saat ini, pria yang berada diranjang itu curi curi pandang menoleh kesamping sambil menutup matanya lalu membuka sedikit seperti mengintip.


"Yaa ampun, istriku sexy banget kalau gini. Makin menggoda dengan perut isi twins kami. Aaaah, kapaan aku bisaa nyentuh dia sepenuhnya?" batin Alfano.


Asmara masih belum merasa jika suaminya itu mengintip dirinya ganti baju. Hingga dress panjang yang ia pakai sudah terpasang menutupi tubuh dan membalikkannya ke arah Alfano yang terlihat masih tidur.


Wanita hamil itu berjalan menuju suaminya di ranjang untuk ia bangunkan karena sudah hampir jam 10 , waktunya berangkat ke desa.


"Mas , bangun" panggil Asmara dengan posisi berdiri didepan ranjang.


Alfano pura pura bangun tidur , padahal ia sudah bangun sejak istrinya keluar kamar mandi.


"Huuuuaaaam. Ada apa sih , bangunin aku? Baru juga tidur" protes Alfano pura pura tidak suka dibangunkan padahal hatinya saat ini sudah bergairah menahan hasrat untuk menyentuh istri yang sexy dimatanya.


"Udah hampir jam 10. Nanti keburu diketok mami dan membuatnya nunggu kamu. Nggak enak mas" sahut Asmara.


"Iya iya. Ini bangun" ucap Alfano sambil mendudukan tubuhnya.


"Bentar, aku mau cuci muka dulu" lanjut Alfano sambil berjalan menuju kamar mandi.


Asmara pun duduk di ranjang dan menunggu suaminya sambil menelepon ibunya.


"Ibu" sapa Asmara pada Bu Asih ketika panggilan terhubung.

__ADS_1


"Halo anak ibu yang cantik. Mau ngabarin kalau kesini ya?" sahut Bu Asih yang tau tujuan Asmara meneleponnya.


"Hihi, ibu tau pasti dari mami yakan? Iya bu, ini Asmara, Mas Alfano, dan mami mau berangkat ke desa, tapi maaf ya bu kita ketemuannya di luar tidak dirumah karena Asmara masih belum siap diomongin tetangga" jelas Asmara dengan nada sendu.


"Iyaaa gapapa sayang. Bu Laras tadi udah jelasin kok ke ibu dan ibu juga udah jelasin ke ayah. Kami gapapa, pokoknya ketemu kamu sama suamimu aja, kami udah seneng banget. Eh tadi kamu manggil Alfano , Mas? Udah baikan ternyata" goda Bu Asih yang ternyata sama aja dengan Bu Laras suka menggoda anaknya.


"Ih ibu, kok sama aja kayak mami suka goda Asmara kalau manggil Alfano pake panggilan mas. Kan udah wajah, Asmara menghormati dan menghargai dia dengan panggilan gak langsung nama kan? Lagian dia lebih tua jauh dari aku" sahut Asmara dengan cukup berani.


"Hahahhaha, kalian cuma selisih 2 atau 3 tahun gitu gak sih? Ibu kurang paham tapi kali segitu ya wajar lah. Ibu sama ayah malah 5 tahun tapi Alhamdulillah baik baik aja sampek menghasilkan kalian bertiga. Pria dewasa lebih menarik loh buat dijadiin pasangan hidup bagi wanita kayak kamu. Wanita mandiri tapi aslinya juga pingin dimanja kan?" ucap Bu Asih.


"Hihi, ibu tau ajaa. Yaudah, Asmara mau siap siap dulu ya bu. Sampai ketemu nanti, bye bye, I love you Bu Asih, ibu terbaikku" pamit Asmara.


"I love you too, putri ibu yang tersabar" sahut Bu Asih lalu panggilan itu terhenti.


Pas banget ketika panggilan dengan ibunya selesai, Alfano keluar dari kamar mandi dengan wajah basah dan rambut bagian depannya juga sedikit basah. Dengan senyuman smirk ia menatap Asmara yang juga menatapnya.


"Oh gitu, aku jauh lebih tua dari kamu ya? Berarti kamu nikah sama om om ya? Atau daddy sugar?" ejek Alfano yang ternyata dengerin pembicaraan istri dan mertuanya di bagian Asmara menyebut suaminya berumur lebih tua.


Asmara terkikih saja dan malu karena kepergok menuakan suaminya itu.


"Ya kepo dong. Namaku kamu sebut kan aku merasa terpanggil. Coba lihat dengan dekat, apakah wajahku ini udah jauh lebih tua dari kamu?" tantang Alfano sambil berjalan mendekat ke arah Asmara yang sedang duduk di tepi ranjang lalu dengan cepat bertumpu kan badannya menggunakan 2 tangan yang ia taruh di kanan kiri tubuh Asmara diatas ranjang.


Badan Alfano saat ini agak membungkuk dengan 2 tangan yang menahan tubuhnya agar dekat dengan wajah Asmara. Seketika membuat wanita hamil itu lagi lagi terkejut dengan serangan sang suami dan tak bisa berkata apa apa melihat wajah suaminya sangat dengan dengan wajahnya.


"Sungguh tampan, suamiku" batin Asmara.


"Ini wajahku udah dekat. Coba kamu lihat udah ada berapa keriput diwajahku hah? Coba lihat udah setua apa aku?" tantang Alfano lagi dengan senyuman menggoda.


Jantung Asmara lagi lagi tidak karuan digoda suaminya itu. Dengan refleks dan menghindari hasrat nya muncul lagi ia mendorong tubuh Alfano pelan agar menjauh darinya hingga kedua tangan pria itu juga menjauh dari tumpuannya.


"Iya iya, maaf. Udah jangan goda aku lagi, Mas. Bisa bisa kamu kasih serangan terus kayak gitu aku bisa kena serangan jantung" protes Asmara sambil memegang dadanya untuk menetralkan detak jantungnya.


"Kamu grogi kan deket deket sama aku? Udah deh sebenarnya kalau kamu bilang cinta duluan juga aku bakal bilang yang sama" ujar Alfano kembali angkuh.

__ADS_1


Asmara mengangkat alisnya tidak percaya pria yang ia tunggu tunggu menyatakan rasanya lebih dulu eh malah nyuruh wanita yang bilang duluan.


"Gak mau! Aku pingin kamu yang bilang duluan! Enak aja , kamu nyuruh aku bilang perasaanku sebelum kamu. Suami gak peka" omel Asmara lalu berdiri dan keluar dari kamarnya menuju mertuanya di rumah sebelah.


"Hahahhaa, bercanda. Aku pastikan , aku dulu yang akan bilang rasa itu ke kamu , Asmara" lirih Alfano sambil tertawa ketika melihat istrinya keluar kamar dengan kesal.


Asmara yang sudah masuk rumah suaminya melalui pintu penghubung langsung menuju kamar utama rumah itu dan melihat Bu Laras sudah rapi siap pergi.


"Wah, mami udah siap" sapa Asmara ketika sampai di pintu kamar utama.


"Wah, menantu mami juga udah cantik begini. Ini tadi mami agak lama karena nyari lipstick mami yang ternyata di dalam tas padahal mami cari didalam koper" ujar Bu Laras.


"Its okay, mami. Kadang kadang Asmara juga sering nyariin lipstick. Lain kali kalau mami butuh lipstick panggil aja Asmara, karena punya banyaak warna dan mami pasti suka" sahut Asmara.


"Maaaau. Okee , lain kali kalau mami butuh lipstick minta punyamu aja ya" ucap Bu Laras dengan senang.


Setelah Bu Laras sudah membawa berkas pernikahan Alfano dan Asmara yang perlu ia bawa untuk ia serahkan ke keluarga besannya, ia keluar kamar bersama menantunya itu dan menuju rumah sebelah yang ditempati Asmara.


Ketika sudah berada di rumah sebelah, Bu Laras dan Asmara melihat Alfano berada di ruang tamu menunggu mereka.


"Udah siap mami?" tanya Alfano ketika melihat Bu Laras keluar dari dalam rumah.


"Iya udah dong. Kamu gak bisa lihat mami udah cantik kayak begini?" ucap Bu Laras menggoda sang putra.


"Iya mami. Maminya Alfano emang cantik" puji Alfano terkesan terpaksa untuk membalas godaan sang mami.


Asmara hanya tersenyum manis saja disamping Bu Laras.


"Ya iya dong, kalau gak cantik gimana dapet putra seganteng kamu dan akhirnya mendapatkan istri secantik Asmara" sahut Bu Laras sambil menggandeng tangan menantunya.


Alfano tak menyahuti maminya lagi dan memilih untuk berdiri lalu berjalan keluar rumah menuju mobilnya.


"Ya emang gitu, Alfano tuh. Malu malu tapi mau" ujar Bu Laras pada Asmara yang berjalan disampingnya keluar rumah.

__ADS_1


Asmara juga hanya bisa senyum senyum saja mendengar apa yang dikatakan mertuanya. Lalu ketika sudah keluar rumah, ia terpaksa melepaskan gandengan Bu Laras dengan lembut untuk mengunci pintu rumahnya. Lalu ia gandeng lagi saat berjalan menuju mobil Alfano.


__ADS_2