BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Kamar inap kelas 1


__ADS_3

Setelah petugas mengangkat Alfano masuk ambulance, Asmara mau tidak mau ikut menuju rumah sakit dan duduk di samping brankar.


"Kenapa aku peduli sama dia sih sampek nganterin dia ke rumah sakit?" batin Asmara ketika ambulance sudah berjalan menuju rumah sakit.


Namun seperkian detik batinnya berubah lagi. "Hmm, apa aku tadi keterlaluan ya ngasih sambel sama garam ke makanannya? Kalau dia meninggal karena keracunan atau diare akut gimana? Aku yg jadi tersangka dong" lanjut pergolakan batin Asmara.


Asmara pun menghembuskan nafasnya dengan berat hingga salah satu petugas pun menoleh pada wanita hamil itu. Petugas mengira dengan nafas berat Asmara, wanita itu sedang sedih dan menahan tangis melihat suaminya tak sadarkan diri.


"Tenang saja bu. Suami ibu sudah kami berikan pertolongan pertama, ibu jangan terlalu khawatir" kata petugas mencoba menenangkan Asmara.


Asmara terkejut dong dikira ia adalah istri dari lelaki didepannya ini. Mau menyangkal tapi dikira aneh aneh lagi karena kondisinya yg sedang hamil malah menolong pria lain yg bukan suaminya.


Asmara hanya memberikan balasan senyum dengan terpaksa tanpa berkata apapun.


Tidak ada percakapan setelahnya antara Asmara dan petugas ambulance hingga sampai di rumah sakit Kota Bandung. Asmara turun dulu sebelum brankar Alfano diturunkan.


Perawat UGD langsung ikut membantu brankar Alfano untuk dibawa kedalam. Asmara mengurus administrasi rumah sakit.


Setelah administrasi pasien sudah diurus, Asmara bimbang untuk menghampiri Alfano di UGD atau ia tinggal pulang karena bukan kewajibannya untuk menjaga lelaki itu. Namun, rasa bersalahnya ternyata lebih besar hingga ia memilih untuk menghampiri Alfano yg sedang diperiksa di UGD.


Asmara berjalan dengan enggan sebenarnya tapi mau gimana lagi dan sampailah ia di brankar perawatan Alfano yang masih diperiksa oleh dokter.


Dokter yang merasa ada kehadiran anggota keluarga dari pasien yang sedang diperiksanya, menatap Asmara dengan senyum.


Beberapa saat kemudian, pemeriksaan selesai. Dokter itupun menghampiri Asmara yang berdiri didepan brankar.


"Permisi, anda keluarga dari pasien ini?" sapa dokter perempuan yang mungkin sudah berumur 30an.


Asmara bingung mau jawab apa, tapi karena tadi di ambulance juga ia tidak menegaskan statusnya apa bersama Alfano, maka mungkin petugas ambulance menginformasikan jika ia adalah istri dari pasien ini.


"Iya dok" jawab singkat Asmara dengan pelan tapi terdengar oleh dokternya.


"Kok ragu ragu, apakah benar pasien ini keluarga dari ibu?" tanya dokter itu lagi karena heran dengan wanita dihadapannya ini terlihat mencurigakan.

__ADS_1


Menyadari raut wajah dokter yang tidak bersahabat dengan Asmara, maka wanita itu berbohong lebih dalam agar tidak dipandang mencurigakan atau sebagai pembohong padahal memang ia sedang berbohong.


"Iya dok. Saya istrinya" jawab Asmara lebih tegas.


Dokter yang awalnya memberikan raut wajah curiga berubah jadi senyum dan melanjutkan percakapannya.


"Saya tau, memang kalau baru nikah itu aneh ngakuin lelaki sebagai suami ya bu. Saya cuma butuh, kejelasan saja status anda dengan pasien karena hasil pemeriksaan pasien ini cukup serius hingga ia membutuhkan rawat inap beberapa hari. Diagnosis saya, pasien ini terkena diare akut dan kelebihan yodium pada tubuhnya membuat tekanan darahnya tinggi serta jari jari kaki dan tangannya sudah membengkak. Perlu kita aliri cairan penetral dari infus nanti" jelas dokter.


Asmara tidak percaya apa yang ia perbuat menjadi separah ini hingga Alfano harus rawat inap. Karena merasa bertanggung jawab, Asmara pun memberikan persetujuan untuk rawat inap.


"Baik dok, tolong rawat suami saya hingga pulih ya" sahut Asmara dengan wajah memelas agar terlihat seperti istri beneran yg sedang khawatir pada suaminya.


"Pasti. Kami akan memberikan perawatan yang terbaik. Jika sudah disetujui untuk rawat inapnya, ibu boleh mengurus kamar yg dipilih bersama perawat ini ya" kata dokter sambil menunjuk perawat disebelahnya untuk membantu Asmara mengurus rawat inap Alfano.


"Mari bu, saya antarkan ke resepsionis" kata perawat itu sambil berjalan didepan Asmara. Wanita hamil itupun mengikuti langkah perawat. Sedangkan dokter, beralih ke pasien UGD lainnya.


Asmara memilih kamar biasa aja, kelas I. Ia ingin memberikan kehidupan sederhana bagi Alfano, meskipun kelas I adalah kelas tertinggi sebelum VIP. Kalau Asmara bisa lebih tega, bisa aja Alfano diberikan kamar inap kelas 3 yang 1 kamar isinya 12 orang. Tapi Asmara tak setega itu.


Meskipun ia merasa bersalah, namun rasa sakit atas kesalahan lelaki itu masih melukai hatinya terdalam serta memgambil harta berharga seorang wanita miliknya. Tak semudah itu melupakan rasa sakit yg tidak bisa dihilangkan dan disembuhkan dengan melukai tersangka meskipun sampai masuk rumah sakit.


Tak terasa proses membawa Alfano ke rumah sakit hingga berada di kamar inap membutuhkan waktu berjam jam. Kini jam sudah menunjukkan pukul set12 malam.


"Yaampun udah hampir tengah malam" lirih Asmara ketika melihat jam di hp yang ia bawa. Untung tadi Asmara bawa hp nya karena dia gak bawa dompet jadi informasi yg dibutuhkan untuk pendaftaran pasien hingga pembayaran ada di hp itu.


Alfano masih belum sadar dengan tangan diinfus. Asmara menatap wajah lekat Alfano dengan posisi duduk disamping brankar.


"Kamu memang mantan bos yang menjengkelkan" lirih Asmara dengan wajah kesal.


"Apakah aku semenjengkelkan itu sampai kamu bisa ngasih aku makanan yang tidak layak makan seperti tadi pagi?" sahut Alfano dengan suara lirih namun bisa didengar oleh Asmara.


Wanita itu terkejut ternyata, Alfano sudah sadar ketika ia mengumpat pada lelaki itu. Raut wajah Asmara menjadi datar.


"Kenapa wajahmu datar begitu? Kecewa karena aku tidak mati?" kata Alfano dengan senyuman smirk.

__ADS_1


Asmara berubah menjadi kesal karena merasa yg diomongkan Alfano itu tidak benar. Kalau semisal ia ingin lelaki itu mati untuk membalaskan dendamnya, bisa aja makanan tadi pagi tidak hanya diberi banyak sambal dan garam , tapi racun tikus atau obat tidur melebihi dosis.


"Iya aku kecewa. Seharusnya kamu bisa pergi dari dunia ini" sahut Asmara dengan sewot.


Alfano pun terkikih mendengar jawaban Asmara yang terdengar lucu.


"Aku akan mati ketika kamu sudah benar benar memaafkanku" ucap Alfano spontan dan terdengar serius membuat Asmara terkejut, apakah benar jka ia memaafkan lelaki itu maka lelaki itu akan pergi dari kehidupannya.


"Kamu kalau ngomong itu yang bener. Kalau aku udah maafin kamu terus kamu gak mati gimana? Boleh aku membunuhmu?" tanya Asmara menantang.


"Kalau itu maumu. Tapi maafin aku dulu dan kamu harus menemui keluargaku untuk bilang kalau kamu udah maafin aku" jawab Alfano dengan tenang.


Entah apa yg merasuki Alfano sampek ia berani bilang pernyataan soal mempertaruhkan kematiannya dihadapan Asmara.


Wanita hamil itu mengangkat alisnya karena merasa tidak percaya dengan yg diomongan lelaki yang dianggap paling breng*** di kehidupan Asmara.


"Kamu serius? Kamu tidak menjadi bo**h karena diare kan?" tanya Asmara lagi penuh keheranan.


Alfano senyum saja lalu mengalihkan pembicaraan.


"Udah tengah malam, kamu pulang aja. Gak baik buat ibu hamil berada di rumah sakit. Lagian suamimu juga akan marah kalau kamu nganterin cowok breng*** ke ini rumah sakit sampek nemenin lagi" ucap Alfano mulai perhatian.


Lagi lagi Asmara dibuat speechless dengan perhatian yang diberikan Alfano.


"Kok dia jadi perhatian gini sih?" batin Asmara membuat jantungnya berdetak lebih cepat juga.


Alfano tersenyum lagi melihat Asmara salah tingkah karena perhatiannya meskipun wanita itu masih terlihat bersikap dingin untuknya.


"Iya aku akan pergi. Males banget nemenin kamu disini" sahut Asmara lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh dari brankar Alfano. Tanpa menoleh, Asmara keluar kamar inap kelas 1 itu meskipun hatinya ingin sekali menoleh ke Alfano untuk melihat raut wajah lelaki itu sebelum ia tinggalkan.


"Jangan luluh, Asmara. Lelaki itu sungguh breng***" lirih Asmara yg mulai tidak bisa mengontrol hatinya ketika mendapatkan perhatian dari Alfano.


Alfano yg melihat Asmara keluar kamar inap menjadi sedih dan merasa sendirian.

__ADS_1


"Kenapa hatiku jadi melow begini sama dia? Kenapa aku jadi perhatian juga sama wanita itu? Jangan sampek aku jatuh cinta sama dia. Ini hanya misi meminta maaf bukan misi buat nikahin dia" lirih Alfano lalu ia memaksakan untuk tidur kembali agar melupakan bayangan Asmara di pikirannya.


__ADS_2