
Setelah merasa dirinya menang, Asmara memundurkan langkah kakinya untuk menjauh dari Alfano tapi kejadian tak terduga terjadi.
Kaki wanita hamil itu seperti terbelit sendiri dan membuat ia akan jatuh, tapi dengan sigap Alfano menarik tubuh Asmara dipelukannya tapi pria itu juga melindungi kandungan istrinya agar tidak terbentur dengan tubuhnya.
Sesaat kemudian mereka berpelukan.
"Kenapa aku kok jadi khawatir banget kalau wanita ini kenapa napa ? Apa jangan jangan aku juga takut bayiku kenapa napa? Kalau begini terus , mau tidak mau aku akan bersikap baik padanya tapi jangan sampek aku jatuh cinta, bisa bisa ditinggalin lagi waktu sayang sayangnya kayak si Alex itu" batin Alfano sambil tetap memeluk Asmara dan satu tangannya yang lain menyentuh perut buncit wanita yg ia peluk.
Asmara masih menetralkan nafasnya karena hampir saja ia terjatuh ke lantai jika tidak ditarik oleh Alfano.
"Kamu gapapa?" tanya Alfano pelan di telinga Asmara.
"Gapapa, tapi aku masih kaget. Hampir aja aku jatuh dan membahayakan twins" sahut Asmara dengan suara pelan.
Alfano dan Asmara tidak sadar jika mereka merasa nyaman satu sama lain dalam pelukan itu.
"Enak banget dipeluk suami kayak gini dan perutku dipegang olehnya. Kalau dia lembut gini kan bikin aku tenang gak marah marah" batin Asmara ketika ia sudah mulai merasa tenang namun ia tidak ingin lepas dari pelukan Alfano, entah kenapa perasaanya langsung berubah juga dari kesal dan marah dengan suaminya eh sekarang pingin nya nempel aja , dasar bumil 😅
Perasaan yang sama pun dirasakan oleh Alfano. Apalagi ketika tangan yg memegang perut Asmara terasa tendangan si twins.
"Hey, mereka menendang!" seru Alfano sambil tetap posisi memeluk Asmara.
"Iya, aku juga heran. Mereka nendang nendang terus kalau ada kamu. Apa boleh se telepati itu kamu sama mereka ya?" sahut Asmara yang tetap nyaman juga dipelukan suaminya.
Beberapa saat hening, gengsi mereka muncul lagi. Mereka baru sadar jika sudah terhanyut pada pelukan urgent tadi. Alfano duluan yang menarik tubuhnya agar terlepas dari pelukan. Asmara pun mengikuti gerakan Alfano yg menjauh.
"Maafkan aku terlalu lama meluknya" kata Alfano dengan malu malu.
__ADS_1
"Gapapa. Makasih juga kamu udah selamatin aku tadi" sahut Asmara sambil salah tingkah membenarkan rambutnya dan mengelus perutnya.
Alfano menatap perut istrinya dan masih membayangkan rasa tendangan dari bayi bayinya.
"Asmara, setelah aku pikir pikir sepertinya memang kita coba aja jalani ini semua. Tadi pagi aku gegabah bilang yang seharusnya gak perlu aku omongin ke kamu. Omonganmu tadi bener dan aku tarik kata kataku yg menyebutkan bahwa aku terpaksa menikahimu untuk bertanggung jawab padamu. Sepertinya sejak kemarin hatiku berubah ubah, kemarin maunya gini sekarang maunya gitu. Aku hanya berusaha melindungi diri dari rasa kecewa ditinggal" kata Alfano mulai terbuka pada Asmara.
Asmara hanya tersenyum mendengar perkataan Alfano yg mulai lembut lagi dan karena mulai capek berdiri, ia berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya.
"Kamu capek ya?" tebak Alfano.
"Hmm" gumam Asmara menjadi jawaban iya.
"Yaudah, kamu tidur siang dulu aja. Nanti sore, kita antar keluarga kita buat balik ke tempat mereka masing masing. Oh ya, besok pagi juga aku akan balik ke Jakarta dan kamu bisa mulai kerja lagi di restauran. Anggap saja hidup kita seperti biasa" ucap Alfano.
"Iya" jawab singkat Asmara karena ia mulai ngantuk dan ingin segera tidur.
Alfano pun duduk di kursi rias kamar itu dan mulai membuka kresek obat yang dibeli Rian tadi. Ia membuka salepnya terlebih dahulu dan mengoleskannya ke wajah hingga sekujur tubuhnya yg memar dibantu oleh kaca rias Asmara.
Tapi ketika ingin mengoleskannya ke punggung, Alfano tidak bisa.
"Aduh susah banget sih ngolesin sampek punggung. Apa aku bangunin dia aja ya bentar?" tanya Alfano pada dirinya sendiri.
Akhirnya Alfano memberanikan diri membangunkan Asmara untuk meminta bantuan sebentar.
"Asmara bangun. Aku minta tolong sebentar aja boleh ? buat ngolesin punggungku salepnya" panggil Alfano untuk yg pertama tapi belum ada sahutan.
"Asmara bangun. Aku mau minta tolong" panggilan kedua namun Asmara memang sudah tidur.
__ADS_1
"Asmara bangun atau aku cium kamu?" goda Alfano dan membuat Asmara yg hampir saja memang akan tertidur jadi terbangun karena meskipun terlihat tidur tapi masih mendengar suara suaminya.
"aduh, pria ini pake ngancam segala!" batin Asmara ketika membuka matanya.
Menghindari perdebatan karena ia sudah ngantuk banget mau tidur siang, Asmara pun mengiyakan permintaan Alfano.
"Sini salepnya" ucap Asmara sambil mendudukkan tubuhnya.
Alfano memberikan salep yg ia pegang lalu duduk di tepi ranjang membelakangi Asmara. Wanita hamil itu langsung mengoleskan salep yg ia bawa pada bagian memar di punggung suaminya. Ia melihat beberapa memar yang sudah membiru.
"Sepertinya ayah memang sudah keterlaluan tadi waktu hajar pria ini" batin Asmara tiba tiba merasa iba melihat memar di punggung Alfano hingga tangan pria itu.
Dengan lembut, sentuhan jari Asmara meratakan salep yang sudah ia letakkan di memar yang terlihat. Oles oles salep di punggung putih Alfano membuat, wanita hamil itu merasakan hasrat terpendam yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
"perasaan apa ini? " heran Asmara pada perasaannya yg terasa aliran listrik di tubuhnya.
Alfano pun sama. Sentuhan jari Asmara yang lembut ternyata membuat sesuatu ditubuhnya seperti akan bangun.
"apa apaan ini? kok bisa dia bangun hanya karena sentuhan dari Asmara sih?" batin Alfano mulai panik.
Sebelum semakin bahaya sentuhan Asmara membangunkan sesuatu pada Alfano secara maksimal, pria itu pun langsung berdiri dan mengucapkan terimakasih kasih pada Asmara padahal oles oles salepnya belum cukup merata.
"Makasih banyak ya, Asmara. Aku kebelet buang air besar mau ke kamar mandi dulu" bohong Alfano padahal ia ke kamar mandi untuk menurunkan sesuatu yg mulai bangun. Pria yang sedang grogi itu, takut Asmara melihat kepunyaannya sedang bangun menjadikan wanita itu takut lagi mengingat malam panas di mobil mewah miliknya. Buru buru lah, Alfano berlari menuju kamar mandi didalam kamar ini.
Asmara heran dengan sikap aneh Alfano. Tadi minta tolong buat olesin eh ternyata udah diolesin dia malah pergi. Tapi ia tersadar jika tadi Alfano menutupi bagian bawahnya dengan kedua tangan ketika berlari menuju kamar mandi.
"Dasar mesum! " ucap Asmara ketika mulai mengerti situasi bahwa Alfano butuh pelampiasan di kamar mandi.
__ADS_1
Tapi tidak diambil pusing kelamaan, Asmara memilih untuk tidur siang aja karena sudah ngantuk parah, tadi pagi ia bangun pagi banget buat rias soalnya.