BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Gantian mandi


__ADS_3

Setelah subuh berjamaah, rumah Asmara jadi semakin rame dengan suara ibu ibu didapur menyiapkan sarapan dan minuman teh hangat.


Asmara dan Alfano disuruh para orang tua untuk membersihkan diri lalu mempersiapkan diri untuk akad nikah beberapa jam lagi. Sebagai anak, mereka menurut dan akhirnya masuk kamar.


"Sayang, kamu dulu atau aku dulu yang mandi?" tanya Alfano tiba tiba memeluk tubuh Asmara dari belakang ketika baru menutup pintunya.


Tangan Alfano mengelus perut buncit Asmara dengan lembut dan menaruh kepalanya di pundak istrinya itu.


"Hmmm, mas dulu aja. Aku masih ngantuk hehe" jujur wanita hamil itu memang ia ingin tidur sebentar lagi.


"Okeee, kamu tidurlah. Nanti aku bangunin kalau aku udah mandi ya" lirih Alfano sambil mencium pundak dan menghisap aroma wangi Asmara dibagian itu membuat hasratnya muncul.


Asmara yang merasa ciuman suaminya itu sudah berjalan ke lehernya langsung memutar balik badannya menghadap Alfano.


"Mas" panggil Asmara dengan lembut.


"Hehe, maaf. Lagian kamu bangun tidur aja wangi gini" celetuk Alfano sambil garuk garuk lehernya yang tidak gatal.


Asmara tersenyum menatap wajah suami yang salah tingkah karena habis mencuri ciuman di lehernya. Lalu ia berjinjit dan gantian mencuri ciuman di bibir Alfano.


Cup, suara kecupan sesaat dari Asmara.


"Buruan mandi, kalau gak mandi aku gak mau ngasih lebih" ancam Asmara dengan senyuman smirk.


Kecupa singkat itu membuat Alfano bergairah namun ia tahan. Ia tidak ingin memaksa Asmara untuk melakukan lebih selain dari kecupan itu, namun ia memilih menggoda istrinya.


"Berarti kalau udah mandi boleh minta lebih?" balas Alfano dengan kedipan mata.


"Hmmm, boleh apa nggak ya?" goda Asmara sambil tersenyum

__ADS_1


"Kalau gak boleh ya sekarang aja sekalian aku mau ciumin wajahmu" sahut Jerome yang merasa digoda pun balik menggoda.


"Hahaha, habis mandi kita harus siap siap Mas. Nggak enak ditunggu semuanya nanti. Lagian sabar dikit lagi yaaa, aku akan memberikan sesuatu yang memang hakmu tapi tidak pagi ini" ucap Asmara sambil mengelus pipi Alfano lembut.


"Kamu ada rencana memberikan hak ku sebagai suami? Kamu udah bisa menerima aku, sayang?" tanya Alfano dengan antusias dan mata berbinar.


"Lihat saja nanti. Udah mas, ayo buruan mandi udah jam 5 pagi loh. Kita harus berangkat ke KUA jam 7 karena akadnya jam 8" ingat Asmara berjalan menjauh dari Alfano dan menghampiri koper milik suaminya itu.


"Aku tata bajumu di lemari ku ya, Mas. Ini kamarmu sekarang jadi lemarimu juga" lanjut Asmara yang sudah berjongkok namun terlihat sulit melakukannya hingga Alfano yang mengamati gerakan wanita hamil itu berjalan menghampiri.


"Sini aku bangku angkatin, kopernya diatas kursi biar kamu ambilnya gak jongkok jongkok. Kasian twins kamu teken" ujar Alfano yang sudah menaruh kursi rias Asmara disamping wanita itu lalu koper miliknya ia taruh diatas kursi depan lemari baju.


"Makasih, Mas Alfano. Sana, mandi mas" suruh sang istri.


"Iyaa sayang. Kamu kok hobinya nyuruh aku mandi sih? Apa aku bau gak enak ya?" tanya Alfano.


"Hahaha, kamu wangi mas. Baumu aku suka, tapi karena pagi ini adalah hari bahagia kita ya masa kamu gak mandi" jawab Asmara sambil tertawa.


Asmara tersenyum melihat suaminya itu berjalan menuju kamar mandi lalu setelah terdengar suara air dalam kamar mandi, wanita hamil itu mulai memindahkan baju dari koper ke lemarinya.


Dengan rapi dan lipatan baju yang pas, Asmara berhasil memaksimalkan penataan baju di lemarinya. Lalu wanita hamil itu berjalan menuju ranjang dan menyandarkan tubuhnya sebentar dikepala ranjang sambil memainkan hpnya.


Tak berselang lama, Alfano keluar kamar mandi dengan segar dan aroma sabun sampooo menyeruak di ruangan.


"Waah seger banget suamiku" puji Asmara puas.


"Seger apa tampan?" goda Alfano sambil mengusek ngusel rambutnya dengan handuk.


"Dua duanya hehe" ucap Asmara sambil terkikih malu.

__ADS_1


"Yaudah sayang, gantian mandi" suruh Alfano.


"Iya, mas" sahut Asmara menurut. Ia pun berjalan menuju lemarinya lagi dan mengambil baju dress serta penutup kedua asetnya , aset inti dibawah dan aset kembar didada yang saat ini terlihat semakin padat.


Alfano hanya melihat istrinya dengan tatapan takjub ketika melakukan sesuatu , berjalan dengan perut buncitnya membuat sang CEO merasa wanita itu sunguh hebat, tidak hanya istrinya saja namun semua ibu.


"Wanita itu memang luar biasa. Hamil dengan perut besar pun mereka tersenyum dan melakukan aktifitas seperti biasa" batin Alfano.


Asmara yang ditatap suaminya dengan tatapan kagum, jadi malu sendiri.


"Mas, udah ah jangan ditatap lama lama akunya. Aku mau mandi dulu" celetuk Asmara ketika melewati Alfano didepan kamar mandi.


"Hehehe, maaf Asmara. Kayaknya aku beneran jatuh cintaa secinta cintanya sama kamu" ujar Alfano dengan senyum.


Asmara tersipu malu, wanita hamil itu memilih untuk segera masuk ke kamar mandi agar tidak digoda terus sama suaminya itu.


Alfano tertawa kecil melihat istrinya salah tingkah masuk kedalam kamar mandi. Pria itu pun setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia menyisir rambutnya dengan sisir milik Asmara di meja rias. Barulah pria tampan calon bapak anak dua itu keluar kamar untuk melihat situasi di luar.


Keluar kamar, Alfano disuguhkan dengan pemandangan hangat di dapur. Ia melihat ayah mertua, Pakde Jarman, dan Rian ikut membanti membawa makanan yang sudah matang ke ruang tamu. Ia pun ingin membantu, namun dilarang oleh Bu Asih.


"Loh, Nak Alfano udah seger banget. Gak usah bantu kita, habis ini selesai kok sarapannya, biar bapak bapak dan Rian aja yang bawa makanannya kedepan" sela Bu Asih ketika melihat Alfano akan mengambil piring di meja makan untuk dibawa kedepan.


Bu Laras yang mengetahui kehadiran putranya itu malah menyuruh Alfano membantu, biar tidak dimanjakan.


"Biarin dia bantu Bu Asih. Dia juga udah bapak bapak kali, wajar kalau mau bantu bawa kedepan" sahut Bu Laras.


Alfano pun tersenyum mendapatkan pembelaan ibunya meskipun yaa kayak bukan anak yang disayang sayang. Tapi cara inilah yang memang Bu Laras ajarkan yaitu memberikan kesempatan putra putrinya untuk membantu sesuatu apalagi berhubungan dengan kegiatan keluarga. Ia tidak ingin anak anaknya berpangku tangan melihat tanpa membantu.


"Mami memang terbaik" puji Alfano dengan memberikan jempol tangannya kepada Bu Laras yang menggoreng tahu.

__ADS_1


Bu Asih hanya tersenyum saja melihat interaksi ibu dan anak itu.


"Biar Alfano bantu ya bu, Alfano kuat mah cuma bawa gini kedepan aja tidak membuat tenaga berkurang" ucap Alfano kepada Bu Asih sambil membawa 2 piring makanan di tangan kanan kirinya. Bu Asih memberikan senyuman setuju saja menantunya itu membantu persiapan sarapan.


__ADS_2