
Asmara membuka pintu kamar dengan sensor dari kunci kartu kamar yang ia bawa.
Ceklek. Pintu kamar terbuka dalam kondisi masih gelap. Asmara yang memang beberapa kali menginap di hotel berbintang ketika masih kerja di perusahaan Batu Bara karena ada meeting diluar atau rapat kantor sehingga tau bagaimana menghidupkan listrik di hotel. Ia menaruh kunci kartu tersebut pada tempatnya dibelakang pintu, dan seketika ruangan mewah yang telah dibooking Asmara terlihat.
Ada ruang tamunya, ada kamar mandi yang cukup luas beserta bathup lingkaran besar, serta kamar yang juga lebih luas dengan taburan petal mawar di atas ranjang dan bertuliskan ;
...'HAPPY WEDDING, MY HUSBAND'...
Alfano yang melihatnya langsung menoleh ke istrinya dengan tatapan terharu.
"Sayang" panggil Alfano lirih dengan mata yang sudah berkaca kaca lalu memeluk Asmara dengan erat namun tidak sampai menyakiti bayi bayinya. Cengeng amat sih CEO Batu Bara sekarang 🤣
"Happy wedding, suamiku. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah mau menikahiku karena kamu mencintaiku. Terima kasih sudah memberikan mobil untuk keluargaku, terima kasih banyak untuk semuanya. Aku berharap, kita akan selalu jadi suami istri hingga akhir hayat" ucap Asmara dalam pelukan Alfano.
Alfano tak menjawab , namun tetesan air mata sudah membasahi bahu Asmara. Tangan wanita hamil itu mengelus elus punggung suaminya.
"Ah, cengeng amat sih suamiku ini. Dikasih kejutan malah nangis" ejek Asmara.
"Suami mu terharu ini. Makasih banyak atas kejutannya, sayang. Oh ya, aku juga ada sesuatu buat kamu" sahut Alfano sambil menghapus sisa air mata lalu melepas pelukannya dan mengambil sesuatu dari saku celana yang ia pakai. Dikeluarkanlah sekotak perhiasan yang berisi cincin yang telah ia pilih di Rumah Perhiasan Berlian dan dibelikan oleh maminya untuk hadiah pernikahan.
"Tadaaa! Ini adalah hadiah pernikahan dari mami untuk kita, sayang. Cincinnya memang dibeliin mami tapi aku yang milih dan dicincinnya sudah ada ukiran 'A' nama kita" ucap Alfano dengan mata berbinar. Ditangannya kini ada sekotak perhiasan yang telah dibuka dan menampilkan 2 cincin indah berbeda ukuran.
Giliran Asmara yang terharu dengan kejutan yang diberikan suaminya. Matanya mulai berkaca kaca dan tak kuasa menatap wajah Alfano hingga ia menundukkan kepalanya.
Alfano tau istrinya itu menangis bahagia. Tangan yang tak memegang apa apa ia gunakan untuk mengangkat wajah istrinya yg sudah basah dengan air mata.
"Sayang. Kok sekarang kamu yang nangis? Jadi kita sama sama cengeng ya hahaa" celetuk Alfano untuk menceriakan suasana agar tidak menjadi bahagia dengan air mata saja namun canda tawa kebahagiaan juga.
Asmara tak membalas candaan Alfano, malah ia langsung memeluk suaminya itu hingga tangan Alfano yang memegang kotak perhiasan itu refleks ia jauhkan dari tubuh istrinya agar tidak jatuh.
"Udah sayang. Jangan nangis bahagia terus. Sini tatap aku dengan senyum mu yang manis. Aku akan pasangkan cincin ini di jari manismu bersanding dengan cincin nikah kita yang pertama" bujuk Alfano agar istrinya berhenti menangis.
Asmara pun menurut. Ia lepaskan pelukan kepada suaminya itu, lalu menghapus sisa air mata di wajahnya dan menatap Alfano dengan tatapan penuh cinta.
Tiba tiba Alfano berlutut dengan satu kaki didepan Asmara seperti posisi melamar seseorang. Romantis banget sih Pak CEO nih , bikin author jatuh cinta juga 😍
"Aku tidak pernah melamarmu secara pribadi Asmara. Maka dari itu, biarkan aku melamar istriku sendiri untuk menjadi wanitaku seutuhnya. Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik untuk kalian. Maafkan kesalahanku, aku akan memperbaikinya dengan cinta dan kasih sayang untukmu. Terima lah aku, menjadi pria terbaik di hidupmu, sayang" kata Alfano tanpa sadar beriringan dengan setetes air mata yang turun di wajahnya.
Lagi lagi Alfano membuat Asmara menangis haru bahagia.
Alfano pasangkan cincin berlian cantik di jari manis istrinya yang sudah ada cincin pernikahan pertama mereka.
Lalu, Alfano berdiri dan mengarahkan kotak perhiasan yang ia bawa kearah Asmara agar istrinya bisa mengambil cincin untuk dirinya dan memasangkannya.
"Pakaikan cincinku, sayang" minta Alfano dengan senyuman manis.
Asmara yang masih meneteskan air mata haru pun mengambil cincin yang berada di kotak perhiasan itu dan memakaikannya di jari manis Alfano yang juga sudah ada cincin nikah sebelumnya.
Barulah Alfano memeluk istrinya lagi penuh kasih sayang. Beberapa saat berpelukan, Asmara sudah bisa lebih tenang dan menghentikan air matanya. Pelukan itu pun terlepas. Mereka saling pandang dengan sama sama memberikan tatapan cinta.
Alfano tergoda untuk mencium bibir Asmara yang menjadi lebih merah karena habis menangis. Ia majukan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir sang istri yang memang menimbulkan gairah pada dirinya.
Asmara tak menolak, ia kalungkan tangannya di leher Alfano. Menerima ciuman suaminya yang semakin lama semakin dalam. Pria itu mulai beraksi dengan ******* bibir istrinya, lembut dan penuh gairah. Alfano memang berusaha sebergairahnya dirinya jangan sampai menyakiti ibu dari calon anak anaknya itu.
Asmara yang awalnya hanya menerima luma**n serta aksi suaminya, akhirnya mulai membalas dengan ikut ******* bibir Alfano. Ciuman membara diantara mereka sudah membangkitkan nafsu tak tertahankan. Berlahan tapi pasti, Alfano menggiring dan membawa tubuh Asmara dalam dekapannya sambil berciuman hingga ke samping ranjang.
"Aku sudah tidak bisa menahannya, untuk membuat suamiku bahagia" batin Asmara yang ternyata Alfano pun merasakan hal yang sama saat ini yaitu tidak bisa menahan lagi apa yang seharusnya ia lakukan dengan istrinya.
Bedanya, Alfano mengungkapkannya untuk mendapatkan persetujuan Asmara.
Ia lepaskan ciumannya dan menatap penuh gairah mata Asmara.
"Sayang, maaf. Aku tidak bisa menahannya" lirih Alfano dengan nafas mengebu.
Asmara sudah bisa melihat tatapan penuh harap sang suami untuk ia layani di ranjang. Wanita hamil itu tersenyum lalu naik ke atas ranjang terlebih dahulu dan menarik tangan Alfano untuk mengikutinya.
"Kamu benar benar siap, Asmara?" tanya Alfano memastikan ketika tangannya ditarik oleh sang istri keatas ranjang.
__ADS_1
"Aku siap melayanimu, suamiku" jawab Asmara dengan senyum dan terlihat ketulusan dari wajahnya.
Alfano tersenyum lebar dan lega akhirnya ia akan menjadi suami seutuhnya untuk Asmara dan sama halnya dengan Asmara akan menjadi istri seutuhnya untuk dirinya.
Pria itu mengikuti tarikan Asmara hingga ia berada diatas sang istri. Kedua tangan Alfano ia letakkan disamping kanan kiri tubuh istrinya untuk menompang tubuh. Wajahnya yang sudah sejajar dengan wajah Asmara memudahkan Alfano memanggut lagi bibir merah Asmara. Ciuman panas pun tak terhindarkan lagi.
Asmara kalungkan tangannya di leher sang suami agar wajah mereka lebih dekat dan ciuman mereka lebih dalam. Naluri lelaki Alfano mulai bangkit dan ingin melakukan step selanjutnya yaitu menuju third base atau adegan inti dari berhubungan suami istri.
Salah satu tangan yang ia gunakan untuk menompang tubuhnya, ia alihkan untuk menyusup ke sela dress Asmara dari atas. Ia mencari gunung kembar dimana ia bisa memainkan pucuk gunung itu dengan jarinya.
Dengan bra yang masih menutupi aset kembar didada sang istri, Alfano mampu menyusup lebih dalam hingga menemukan pucuk yang ia inginkan untuk dimainkan.
"Mas...." panggil Asmara merasa semakin bergairah ketika jari Alfano bermain di pucuk aset kembarnya.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Alfano polos dan jadi panik.
"Ng...nggaak....jarimu di bagian itu membuatku merasaa...aaaaah.." jawab Asmara terbata bata karena gairahnya sudah tak tertahankan.
Suara desa**n Asmara membuat Alfano yakin jika dirinya tak menyakiti sang istri. Ia tersenyum lega dan memindahkan aksinya dari aset kembar Asmara yang lebih berisi itu karena hamil ke bagian bawah dimana ada lubang dimana miliknya yang saat ini sudah menegang di balik celana yang masih ia pakai bisa masuk dan mencari kenikmatan disana.
Jari Alfano berlahan menyusup ke bawah dress Asmara hingga menerobos cd yang masih terpakai. Terasa basah san lengket dibawah sana. Pria itu makin bergairah mengetahui jika istrinya sudah siap ia masuki lagi untuk kedua kalinya namun dengan perasaan yang berbeda.
"Sayang" panggil Alfano dengan suara berat karena sudah menahan gairahnya terlalu lama.
Asmara melihat wajah Alfano yang sudah memerah dan tatapan penuh gairah namun masih terlihat bisa dikendalikan tidak seperti malam itu. Membuat wanita hamil itu yakin jika dirinya akan siap untuk melayani sang suami.
"Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, Mas" sahut Asmara dengan senyum dan membuat gairah Alfano langsung berada di puncak.
Ia pun langsung turun ranjang dulu, mematikan lampu lampu yang menurut dia sangat terang. Membuat Asmara mendudukan tubuhnya karena penasaran apa yang akan dilakukan suaminya itu sebelum menyatu dengannya.
"Kita akan menyatu didalam cahaya yang redup saja, sayang. Akan membuat kita lebih nyaman untuk pertama kali berhubungan suami istri secara sah" ucap Alfano memberikan penjelasan karena melihat wajah Asmara yang heran.
Asmara pun tersenyum dan mengangguk setuju.
Lalu Alfano lepaskan kaos polo dan celana jeans yang ia pakai hingga cdnya terlepas jatuh ke lantai. Asmara memalingkan wajahnya ke samping menahan malu dan jujur masih ada rasa takut sedikit ketika masih bisa melihat sesuatu milik suaminya itu sudah berdiri mengarah padanya. Meskipun cahaya redup, masih ada lampu tidur yang dinyalakan serta mendapatkan sinar senja dari sela sela jendela kamar hotel.
"Sayang. Jika nanti aku menyakitimu, bilang ya. Aku tidak akan meneruskannya" ucap Alfano lembut sambil mengarahkan wajah istrinya itu untuk menatapnya.
Asmara hanya mengangguk dan mencoba memantapkan hatinya lagi untuk melayani sang suami. Ia pun melepaskan dressnya dengan posisi diatas ranjang dan Alfano pun membantu menarik keatas dress itu untuk terlepas dari tubuh Asmara.
Tertinggal bra dan cd yang dipakai wanita hamil itu serta memperlihatkan perut buncitnya.
"Hello anak anak daddy. Habis ini daddy jenguk kalian ya. Kalian yang kuat didalam sini" ucap Alfano sambil mengelus perut Asmara langsung ke kulitnya.
Asmara menahan malu. Kali ini dia dengan sadar hampir terlanjang didepan seorang pria untuk pertama kalinya. Meskipun sudah menjadi suami, namun kali pertama memang terasa canggung.
Alfano mengalihkan kedua tangannya yg mengelus perut istrinya tadi menyentuh wajah cantik wanita didepannya ini.
"Aku akan pelan pelan" ucap Alfano.
"Aku lepas ya pengaitnya" lanjut Alfano ketika tangannya sudah berada di pengait bra dipunggunh Asmara.
Wanita itu hanya mengangguk saja karena sudah tak bisa berkata apa apa. Malu dengan sedikit rasa takut bercampur nafsu bercampur gairah jadi satu.
Terlepaslah sudah penutup aset kembar Asmara dan menonjolkan kedua aset kembarnya tanpa penutup apapun. Alfano tersenyum melihat sesuatu yang mungkin akan ia sukai untuk bermain disana.
Dengan pelan, pria itu merebahkan istrinya. Lalu ia beralih menurunkan cd Asmara.
"Sayang, aku turunkan ya" lagi lagi Alfano kebanyakan izin soal beginian sampai bikin Asmara yg dari tadi udah nahan malu dan nahan semua rasa jengkel.
"Mas, sekali lagi kamu izin mau ngapa ngapain aku soal beginian, kayaknya ditunda dulu aja kewajiban suami istri ini" celetuk Asmara dengan nada kesal.
Alfano pun langsung tertawa.
"'Maaf maaf. Aku cuma takut kamu merasa gak nyaman kalau aku asal buka aja" sahut Alfano.
Asmara tak menyahuti dan menunggu aksi pria yang sudah polos itu selanjutnya.
__ADS_1
Alfano pun melepas cd sang istri dan ia lemparkan ke sembarang arah. Lalu ia tak langsung mensejajarkan tubuhnya diatas Asmara, namun ia duduk disamping istrinya yg sudah berbaring polos dan menaruh jarinya di lubang yang akan ia masuki.
"Hmmmmpppp" suara deheman Asmara yang mencoba menahan desah** karena sentuhan Alfano di inti bawahnya. Refleks kaki wanita hamil itu ia tekuk dan semakin membuat Alfano bergairah karena terlihat jelas lubang yg akan ia masuki itu sudah sangat basah dan berlendir di jarinya.
"Mas, mulai ya" ucap Asmara yang sudah mengeratkan kedua tangannya di sprei ranjang.
Alfano sudah memposisikan tubuhnya diatas Asmara. Tangannya yang masih bermain di bawah, membuatnya bertumpu pada tangan yang lain.
Lalu ia lepaskan tangan dari inti bawah Asmara dan ia pegang miliknya yg sejak tadi sudah keras dan tegang. Alfano arahkan miliknya menuju lubang yang baru saja ia mainkan. Berlahan namun pasti miliknya menemukan tempatnya untuk berada.
Pelan pelan, Alfano memasukkan miliknya sambil melihat ekspresi Asmara yang mengigit bibirnya menahan rasa aneh yang ia rasakan.
Pria itu semakin menerobos lubang yang akan ia masuki meskipun terasa sulit kok nggak masuk masuk, tapi ia tetap bersabar untuk menembusnya dengan lembut meskipun ya akan sakit juga pada awalnya bagi si pemilik hole nya.
Beberapa saat mencoba lembut Alfano sampek berkeringat banyak namun belum bisa menembuskan, hingga Asmara mengalihkan tangannya memeluk punggung suaminya itu dan membisikkan sesuatu.
"Buruan kamu masukin atau aku yang masukkan" bisik Asmara ditelinga suaminya yang bikin Alfano salah tingkah. Dan tanpa menjawab pun, pria itu menghentakkan sekali miliknya untuk masuk ke milik Asmara sepenuhnya.
"Aaaaaah!!!!" teriak Asmara sambil memeluk punggung Alfano erat.
"Kamu gapapa, sayang? Sakit?" tanya Alfano panik mendengar teriakan istrinya seperti kesakitan dengan posisi miliknya sudah berada sepenuhnya didalam milik Asmara.
Dengan mata yg berkaca kaca karena menahan sakit, Asmara menjawab "Pelan pelan ya, Mas".
Alfano pun merasa mendapatkan lampu hijau dari istrinya, ia gerakkan berlahan pinggulnya maju mundur pelan hingga ia bisa melihat perubahan ekspresi Asmara yang mulai menikmati.
Wanita hamil itu mulai merasa nyaman dan malah jadi menikmati permainan suaminya diatas.
Tiba tiba Alfano ingat sesuatu soal anak anaknya,
"Sayang, twins gapapa kan aku jenguk begini?" tanya Alfano khawatir.
Asmara yang udah merem melek terpaksa menjawab dengan nafas yang tersenggal senggal.
"Gap..gapapa Mas. Aku udah konsultasi sama dokter. Kamu lanjutin aja, gak udah tanya aneh aneh ya" jawab Asmara.
Alfano pun tersenyum lega dan mulai menggerakkan lagi miliknya maju mundur. Hingga Asmara mendongakkan wajahnya keatas dan menahan sesuatu yang akan keluar dari miliknya.
"Mas... aku mauuu...." kata Asmara terpotong.
"Barengan keluarin" sahut Alfano mempercepat tempo maju mundurnya sampai akhirnya mereka melakukan pelepasan bersama.
"Aaaaaakh!!!!" desah** pengantin baru menggema di seluruh ruangan kamar.
Alfano pun melepas miliknya dan merebahkan tubuhnya disamping Asmara, lalu mengecup kening istrinya.
"Terima kasih, Asmara. Sudah memberikan dirimu seutuhnya untukku" ucap Alfano dengan tatapan penuh cinta.
Asmara pun menoleh kearah suaminya dan tersenyum.
"Aku juga terima kasih kamu sudah mau nunggu aku sampai siap, Mas" sahut Asmara.
Beberapa menit beristirahat, hari mulai senja. Ternyata Asmara memberikan kejutan tambahan untuk Alfano. Tiba tiba ia berada ditubuh suaminya itu dengan posisi duduk diatas aset milik Alfano membuat pria itu terkejut dan refleks memundurkan tubuhnya hingga bersandar di kepala ranjang.
"Asmaraa... kamu???" tanya Alfano heran, membuat Asmara tersenyum smirk padanya.
"Giliran aku, yang memulai, Mas" lirih Asmara dan mulai memegang milik suaminya itu untuk ia masukkan lagi ke miliknya.
"Astaga, aku bisa semesum ini. Semoga Mas Alfano tidak berfikir aku adalah wanita tidak baik baik" batin Asmara yang aslinya ia malu melakukan hal ini, namun demi memuaskan suaminya itu ia harus pintar bermain di atas ranjang.
"Aaaah... Asmaraaa!!!" seru Alfano ketika merasakan miliknya sudah hangat didalam milik istrinya itu.
Gerakan up and down Asmara diatas tubuh Alfano dilakukan dengan pelan, hingga membuat sang suami mendesah berkali kali. Sang istri pun juga mengeluarkan suara seksi hingga membuat mereka berdua sama sama nakal di ranjang.
Permainan kedua yang dipimpin Asmara berhasil hingga sama sama melakukan pelepasan.
Akhirnya hubungan suami istri mereka lakukan pertama kali bukan disebut malam pertama tapi sore pertama beradu peluh di hotel bintang 5.
__ADS_1
*adem panas gak bacanya nih 🤣