BERMALAM DENGAN CEO

BERMALAM DENGAN CEO
Godaan maut


__ADS_3

Setelah makanan Alfano habis duluan, ia memperhatikan istrinya yang sedang lahap memakan porsi kedua.


"Enak banget ya?" tanya Alfano sambil tersenyum.


"Hmm" jawaban Asmara dengan deheman karena ia sedang sibuk menikmati makannya.


Jari jempol Alfano tiba tiba terangkat untuk membersihkan serpihan ayam krispi MCD yang ada si atas bibir Asmara ketika wanita itu habis mengigit ayamnya.


"Pelan - pelan kalau makan. Sampek kemana mana nih serbuk krispi ayamnya" ucap Alfano dengan lembut ketika membersihkan bibir istrinya dari serpihan ayam. Asmara langsung menatap tajam sang suami.


"Kok lihat aku gitu sih? Aku kan suami mu jadi udah halal kalau megang kamu" lanjut Alfano ketika melihat ekspresi Asmara padanya seperti maling yang habis mencuri sesuatu darinya.


"Ih kamu tuh, bikin aku badmood makan" gantian Asmara yang kesal karena suaminya itu bikin hatinya berdetak kencang dan grogi padahal lagi enak enaknya makan.


Alfano tertawa melihat ekspresi kesal sang istri.


"Udah habisin dulu baru boleh kesel sama aku" ucap Alfano.


Asmara pun dengan kesal menuruti ucapan sang suami untuk menghabiskan makannya. Lagian , Asmara adalah tipe wanita yang makan sesuatu harus habis kecuali memang keadaan tubuhnya sedang tidak enak atau sakit.


Tak lama kemudian, makanan Asmara habis. Ia pun berjalan menuju westafel untuk cuci tangan. Alfano tadi juga langsung cuci tangan ketika makannya habis.


Setelah tangannya bersih dan wangi, Asmara kembali duduk didepan Alfano dan meminum ice lemon tea gelas kedua.


Alfano tetap setia melihat istrinya yang semakin lama ia tatap, semakin terlihat cantik.


"Tega banget aku dulu bersikap sebagai pria pengecut ke wanita ini" batin Alfano yang tiba tiba merasa bersalah mengingat setidak bertanggungjawabnya dia sebagai pria ketika masalah one night stand muncul dihidupnya dan Asmara.


Alfano yang lagi bengong , disadarkan oleh ucapan Asmara.


"Ngapain bengong gitu, mikirin apa? Mikirin aku kalau makanku banyak dan lama ya?" tanya Asmara yang merasa tidak enak juga sebenarnya membuat Alfano lama menunggu dia selesai makan.

__ADS_1


"Eh nggak kok. Lagi mikirin se breng*** apa aku dulu sama kamu. Aku merasa bersalah untuk nyakitin kamu sampai seperti itu" jujur Alfano dengan wajah sendu.


Asmara malah tersenyum mendengar pengakuan suaminya. Tangannya terangkat untuk memegang tangan Alfano yang berada diatas meja.


"Aku mau ngomong serius sama kamu" kata Asmara dengan tatapan dalam penuh arti kepada suaminya. Alfano terkejut mendapatkan sentuhan fisik dari istrinya dan merasa penasaran dengan apa yang akan diucapkan Asmara.


"Kamu mau aku beri keputusan soal hubungan pernikahan kita sekarang atau nggak?" tanya Asmara dengan ekspresi tetap serius.


"Mau" jawab singkat Alfano tanpa ragu.


"Dengerin aku baik baik ya, Tuan Alfano. Entah apa yang aku rasain sama kamu sekarang, baru 2 hari kita ketemu lagi sejak minggu lalu kita nikah dengan dadakan dan belum ada persiapan lahir batin, udah membuatku merasakan sesuatu yang berbeda karena mendapatkan perlakuan mu yang juga berbeda sejak minggu lalu. Mungkin aku terlalu munafik kalau aku sebagai wanita hamil bilang tidak memerlukan sosok suami disampingku apalagi memang kita sudah menikah. Aku gak tau kalau bawaan orang hamil bisa jadi semanja ini. Mungkin karena aku tau ada lelaki yang jadi suamiku kali ya. Apalagi sikapmu yang perhatian sama twins dan secara tidak langsung ya ke aku juga. Perasaan benci ku sama kamu , juga gak tau pergi kemana sekarang kok kayaknya udah hilang malah diganti rasa lain yang sebenarnya aku gak mau ngungkapin sebelum kamu yang ngungkapin. Aku punya harga diri yang harus tetep aju jaga, Alfano. Jadi, aku ingin menunggumu mengungkapkan rasa itu dengan melanjutkan hubungan pernikahan ini minggu depan. Aku ingin kita nikah sah dulu , sampai kita benar benar yakin perasaan kita itu cocok jadi suami istri beneran atau hanya perasaan sebagai orang tua twins. Gimana menurutmu?" jelas panjang lebar Asmara dengan tatapan yang masih serius menatap Alfano yang terlihat terpaku dan speechless mendengarkan penjelasan sang istri.


Asmara membiarkan Alfano memikirkan omongannya yang ia rasa kepanjangan juga sih, tapi itulah isi hatinya sekarang.


Setelah beberapa saat mencerna omongan Asmara, Alfano pun membalas isi hati istrinya itu dengan beberapa kata singkat namun penuh makna bagi wanita didepannya. Sambil mengenggam tangan Asmara, pria ini berkata "Aku siap menikahimu secara sah , lahir dan batin. Ayo kita menikah"


Seketika itu mata Asmara menjadi berkaca kaca. Ia tidak menduga respon Alfano akan seperti itu. Sebelum setetes air mata jatuh ke pipi istrinya, jari Alfano sudah terangkat menyeka bawah mata Asmara.


"Jangan nangis disini. Nanti dikira aku KDRT" canda Alfano yang mencoba mencairkan suasana agar tidak penuh haru di tempat umum seperti ini.


Sang suami hanya tertawa mendengar omelan sang istri.


"Yaudah, romantisnya di rumah aja. Ayo pulang, udah mau subuh" ajak Alfano sambil berdiri dari duduknya.


Asmara pun ikut berdiri karena tangannya digenggam suaminya. Akhirnya mereka berjalan berdua sambil gandengan tangan menuju mobil untuk berkendara pulang.


Sesampai didepan mobil, Alfano melepas gengamannya dan membukakan pintu untuk Asmara.


"Silahkan masuk, nyonya Alfano" ucap Alfani yang membuat Asmara makin salah tingkah. Ia pun masuk ke mobil dan mendudukan tubuhnya di bangku penumpang sebelah driver.


Setelah memastikan istrinya masuk, Alfano menutup pintu mobil disisi Asmara dan ia pun masuk ke mobil disisi driver.

__ADS_1


Wajah Alfano cerah banget sampek mungkin langit yang masih gelap ini udah jadi pagi duluan kalau melihat pria itu.


Asmara yang masih malu malu pun tak kuasa menoleh menatap suaminya yang sudah menjalankan mobil menuju rumah mereka. Sebenarnya, saat ini bagi mereka adalah momen bahagia namun ya masih malu malu kucing jadi sama sama salah tingkah dan menyembunyikan kebahagiaannya.


Namun, ditengah perjalanan Alfano memulai percakapan agar suasana tidak kaku dan canggung begini.


"Aku sangat senang dengan keputusanmu untuk mau melanjutkan hubungan ini Asmara. Maksudku, kamu mau memberikanku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu yang telah menyakitimu" ucap Alfano sambil menoleh ke istrinya.


"Kalau ngomong pas lagi nyetir ngadep depan aja , bahaya" sahut Asmara sambil mengangkat tangannya untuk memegang rahang sang suami agar menghadap kedepan.


"Ih, main pegang pegang wajah tampan aku. Kamu ambil kesempatan ya?" goda Alfano yang makin bahagia karena sikap Asmara yang mulai berani menyentuh dia duluan.


"Soalnya kalau kamu diomongin doang, kadang gak mempan" sahut Asmara dengan senyum smirk.


"Oh gitu ya? Yaudah mulai sekarang aku kalau kamu omongin sesuatu harus pake sentuhan tubuh biar aku ngerti ya" ucap Alfano makin menggoda sang istri.


"Pasti pikiranmu udah ngeres ya. Cowok emang gitu, dikasih kesempatan dikit langsung tancap gas" ujar Asmara mencibikkan bibirnya.


"Kamu yang ngeres lah kalau beranggapan sentuhan yang aku bilang itu mengarah kesitu. Ya maksudku sentuhan lembut gini, kayaknya aku kalau kamu nyentuh pipiku kayak gini aku langsung nurut hehe" bela Alfano untuk dirinya sendiri.


"Hayo, kamu udah mikirin hubungan itu ya? Ya gapapa sih, kalau kamu mau kita bisa lakukan setelah kita pulang. Kan udah sah yakan, jadi gak menyalahi aturan" lanjut Alfano memancing Asmara untuk merespon godaanya.


"Ih siapa juga yang mau begituan sama kamu. Lagian aku hamil, gak boleh hubungan gitu kalau belum dapet izin dari dokter" sahut Asmara mencari alasan , padahal dalam dirinya entah kenapa juga muncul keinginan itu jika mengingat perlakukan Alfano yang tidak sepenuhnya kasar dan menyakitinya ketika melakukan itu di mobil.


"Berarti kalau boleh sama dokter, kamu mau ya?" tanya Alfano makin menggoda sang istri yang masuk ke jebakannya.


Asmara langsung menoleh ke arah Alfano dan memukul lengan suaminya.


"Gak usah bahas itu deh. Konsentrasi aja lihat depan" ucap Asmara setelah memukul tangan Alfano pelan.


"Hahahahahaha, udah berani main pukul juga ternyata" ujar Alfano yang tak henti hentinya menggoda Asmara hingga wajah sang istri memerah karena malu dan salah tingkah.

__ADS_1


Asmara hanya diam saja dan memalingkan wajah kesamping kaca pintu, menyembunyikan perasaanya yang tergoda saat ini.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah dengan mendengarkan lagu pop dari radio mobil.


__ADS_2