Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Rasa curiga Juna


__ADS_3

Sebuah taksi baru saja terparkir tepat di depan mansion Narendra. Bertepatan dengan sebuah mobil yang tak asing bagi seluruh penghuni mansion itu. Siapa lagi kalau bukan mobil Juna.


Juna terkejut saat melihat sang istri baru saja keluar dari taksi yang lebih dulu terparkir di depannya. Dengan segera pemuda itu menghampir Beauty yang nampak membawa barang bawaan yang begitu banyak.


“Terima kasih ya pak, kembaliannya buat bapak saja,” ucap Beauty saat sudah selesai membayar tagihan argometer taksi tersebut.


“Terima kasih banyak neng, permisi."


Beauty pun sibuk menata satu persatu bagpack yang berisi belanjaannya, tanpa sadar kehadiran Juna yang sudah berdiri di belakangnya.


Tanpa permisi Juna memeluk tubuh Beauty yang sudah sedikit berisi dari belakang. Membuat wanita berlesung pipi itu terlonjak karena terkejut.


“Akh!”


“Juna! Jangan kaya hantu ah!” hardik Beauty.


“Kalau hantunya tampan kaya aku? Masa kamu juga terkejut yank? Tidak langsung naksir gitu?” canda Juna sambil menoel dagu sang istri.


“Juna, lepaskan! Malu tahu di lihat sama pekerja yang ada di sini.”


Juna pun akhirnya melepas pelukannya dari tubuh sang istri.


“Maaf ya Juna, tadi aku tidak sempat mengabarimu karena ponselku tertinggal di kamar. Aku hanya pergi untuk belanja ini,” tutur Beauty sambil menunjukkan barang belanjaannya.


Tidak mungkin Beauty mengatakan hal yang sebenarnya kepada Juna, karena Beauty sendiri ingin mencari sebuah kebenaran dari semua rentetan musibah yang menimpa suaminya.


Bukannya Beauty tak mempercayai suaminya Juna, namun sebagai seorang istri Beauty juga tidak akan rela berbagi suami untuk yang kedua kalinya dengan perempuan lain.


Kali ini ia tidak akan tinggal diam, jika ada yang ingin mengusik rumah tangganya. Kecuali jika hubungannya tanpa di dasari restu dari orang tua, Beauty akan memilih mundur secara perlahan.


Melihat Papi Tulus menyambutnya dengan baik, dan meski Mami Lola masih bersikap dingin kepadanya. Tak menyurutkan langkah Beauty untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Juna.

__ADS_1


“Kenapa tidak minta tolong bi Tum yank? Ingat kata dokter kamu nggak boleh capek yank,” tanya Juna seraya merebut tas belanjaan itu dari tangan sang istri.


“Bi Tum sedang sibuk bersama Mami Lola tadi, aku tak enak hati menyuruhnya.”


“Oh, begitu ya sudah kita masuk yuk.”


Juna pun menuntut Beauty untuk memasuki mansion keluarganya. Di ikuti pak Tarman yang membantu Juna membawakan barang belanjaan Beauty untuk kebutuhan dapur.


Bertepatan dengan masuknya Juna dan juga Beauty, muncullah Mami Lola bersama dengan Betty yang mengapit lengan perempuan paruh baya itu dengan manja.


“ Junaa! Kamu sudah pulang nak? Ini kebetulan ada Betty disini,” sapa Mami Lola yang mengacuhkan Beauty yang berdiri di samping Juna.


Juna pun melempar tatapan tak suka akan kehadiran Betty di rumahnya.


“Juna, lelah mi. Juna mau ke atas dulu mau mandi sekalian ganti baju.”


Juna pun langsung menarik tangan Beauty dengan lembut untuk mengajaknya menaiki anak tangga.


Sungguh berhadapan dengan ibu mertua itu rasanya seperti tengah berada di persidangan menunggu vonis hukum dari hakim.


Belum sampai setengah anak tangga, Mami Lola memanggil Juna kembali.


“Juna! Hari ini jadwal kontrol Lova ke dokter kandungan. Tolong kamu antarkan ya? Ingat sebentar lagi Lova juga akan menjadi tanggung jawabmu Juna!” perintah Mami Lola tegas.


Juna yang sedang menghentikan langkahnya pun menggeram pelan di tempat. Pemuda itu merasa kesal jika harus di paksa seperti ini. Sebagai istri, Beauty mengerti akan rasa keberatan Juna.


“Juna, turuti saja kata mamimu,” bisik Beauty dengan lembut seraya tersenyum.


“Tapi kamu bagaimana yank?”


“Aku tidak apa-apa Junaa, percayalah,” balas Beauty masih dengan tersenyum.

__ADS_1


Bukan tanpa suatu alasan Beauty membiarkan suaminya mengantar perempuan lain, namun semata karena ia sudah mengetahui fakta yang sebenarnya. Meski Beauty sendiri sempat terkejut dan tak percaya dengan fakta yang baru saja ia temukan.


“Baiklah mi, tapi nanti,” sahut Juna dengan malas.


Dari tempatnya Betty pun menarik sudutnya samar. Gadis berambut shaggy itu beruntung, ia bisa memanfaatkan kedekatannya dengan Mami Lola untuk memperoleh perhatian dari Juna.


Sementara Juna bersiap diri untuk mengantar Betty ke dokter kandungan, Beauty memilih untuk memasak makan malam bersama bi Tum di dapur.


Sebagai seorang menantu, Beauty cukup sadar diri saat menumpang di rumah mertuanya. Ia harus bangun pagi dan mengerjakan apa saja yang ia bisa kerjakan, seperti membantu bi Tum untuk menyiapkan sarapan atau makan malam untuk mereka.


Rasa mual yang tengah ia rasakan lantas tak membuatnya malas, karena Beauty masih berharap bisa meluluhkan hati orang tua Juna melalui perhatiannya terutama Mami Lola.


*


*


Malam pun tiba.


Seluruh keluarga Narendra berkumpul untuk melakukan makan malam bersama. Hidangan yang tersaji pun nampak memenuhi meja berbentuk oval tersebut.


”Juna, Lova kalian sudah pulang? Bagaimana hasilnya?” tanya Mami Lola penuh perhatian saat mereka sudah bertemu di meja makan.


“Hasilnya bagus mi, anak kami tumbuh dengan sehat,” sahut Betty penuh percaya diri.


Mendengar ucapan Betty, membuat Juna memutar bola matanya malas. Sungguh ia merasa jengah akan sikap Betty yang gemar sekali mencari perhatian kepada maminya.


“Gue tak percaya itu anak gue, kejadian itu belum ada sebulan kenapa dokter tadi malah bilang janin lo sudah berumur 7 minggu. Itu tidak masuk akal!” sahut Juna ketus yang ia lontarkan untuk Betty.


Juna sendiri merasa sangat janggal akan usia kandungan Betty yang menurutnya tak sesuai dengan waktu kejadian mereka.


Deg!

__ADS_1


Betty pun mematung di tempat. Gerakan tangannya terhenti seiring kalimat menohok yang Juna lontarkan kepadanya.


__ADS_2