Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Hampir Saja


__ADS_3

FlasbackOn


"Bee! Beauty ! apakah kamu ada di dalam Be? Tolong jawab aku!" teriak Juna didepan sebuah toilet yang pintunya tampak terlihat usang.


"Aku disini Jun!" jawab Beauty dari dalam toilet dengan lemah.


Akibat sedikit oksigen yang bisa wanita hirup karena ternyata ventilasi ruang toilet itu tertutup, membuat rongga pernafasannya sedikit sesak. Belum aroma khas toilet semerbak memenuhi indra penciumannya bahkan terasa bagai ujung tombak yang menghunus inti pernafasannya.


"Aku akan mendobrak pintu ini! Bertahan lah! Pindahlah ke sisi lain jangan di belakang pintu!" perintah Juna lagi.


"Tuan muda, biar kami saja yang membuka pintu toiletnya. Tuan tinggal menunggu saja," tawar salah satu bodyguardnya yang sengaja Juna panggil untuk membantu mencari keberadaan Beauty.


"Tidak! biar aku saja! Kalian amankan saja mereka yang norak itu!" bantah Juna seraya melirik kearah segerombolan mahasiswa yang membolos jam kuliah karena hanya ingin melihat huru hara yang diciptakan sang pangeran kampus.


Karena aksinya yang dinilai heroik itu, tak sedikit para mahasiswa dan mahasiswi yang menonton aksi itu. Sebagian dari mereka hanya menonton dan bahkan ada yang hanya ingin mengambil potret Juna yang ingin menyelamatkan seorang wanita yang terkunci di dalam toilet.


Bodyguard Jeki dan Jono pun menurut, lalu mulai melerai sekumpulan mahasiswi yang hanya ingin menonton saja. Namun ternyata mereka tak mengindahkannya, Jeki dan Jono pun tak mampu berbuat banyak karena mereka semua adalah para pelajar.


Tak berselang lama, seorang Dekan pun datang bersama penjaga gedung kampus.


"Kenapa kalian ngumpul disini? Semuanya bubar! Ini sebuah kecelakaan bukan tontonan! Gunakan waktu kalian untuk belajar!" tegur bapak Dekan dengan tegas membuat kikuk para mahasiswa.


Akhirnya mereka pun bersedia mengurai namun dengan wajah yang ditekuk serta mulutnya yang mengedumel.


Juna pun mulai menghitung 1 sampai 3 lalu mendobrak pintu kayu itu dengan sekuat tenaga. Begitu handle pintu rusak, pintu pun terbuka.


Semua orang terkejut mendapati Beauty yang terlihat lemas dengan baju yang penuh kotoran yang sepertinya bekas cairan muntahan wanita itu.


Dengan sigap Juna langsung membopong tubuh lemah Beauty menuju ruang kesehatan kampus.


FlasbackOff


Kini semua pengurus kampus berkumpul di ruang metting karena permintaan dari cucu dari pemilik kampus yang mereka huni.


Juna memandang sengak kearah para Dekan dan beberapa pengurus kampus lainnya. Kenapa bisa ada ruangan yang sudah tidak di gunakan lagi, tidak diberi palang peringatan kalau tidak diblokir saja? Tentu saja kejadian Beauty terkunci di kamar mandi itu tidak akan pernah terjadi.


"Maaf nak Juna, sebelumnya menurut penjaga kampus toilet itu sudah di kunci dan semua kunci ada pada tempatnya seperti biasa. Namun tiba-tiba saja kuncinya hilang, karena kebetulan toilet itu sudah rusak dan terkunci. Kami fikir kejadian seperti ini tidak bakalan terjadi," tutur bapak Dekan dengan tenang diiringi anggukan pengurus kampus yang lainnya.


"Apa Bapak punya rekaman cctv sekitar tempat itu? Kalau pintu toilet itu sudah terkunci, bagaimana Beauty bisa masuk ke dalam toilet itu? Kalau tidak ada yang membukanya. Tentu saja bukan Beauty orangnya, karena kami baru masuk hari ini," jelas Juna datar.


"Ada, tak jauh dari tempat itu ada cctv. Sebentar saya panggilkan orang bagian IT dulu."


Terlihat Bapak Dekan tersebut menelefon seseorang. Tak berselang lama, seorang petugas bagian IT pun datang membawa laptop. Lalu petugas itu terlihat menancapkan flasdisck yang mungkin terisi data seperti yang Juna minta.

__ADS_1


Dan benar saja, layar laptop tampak menampilkan video dari rekaman cctv yang terdapat di koridor dekat bangunan lama itu.


Awalnya gambar itu tidak terlihat apa-apa karena area tempat itu adalah tempat yang sepi karena semua kelas dan isinya sudah di pindah ke gedung baru. Namun tiba-tiba terlihat seorang wanita mengendap-ngendap.


Langkahnya slalu waspada, ia nampak berjalan kearah gedung lama yang sudah tidak terpakai itu. Namun rekaman cctv itu tak sampai terlihat di depan toilet karena tempatnya yang masuk ke dalam.


Sela beberapa menit, wanita itu kembali dengan langkah tergesa-gesa. Wajah yang tertutup membuat semua orang sulit mengenalinya, karena kemungkinan wanita itu si pelaku yang sengaja membuka pintu toilet itu dan menjebak Beauty. Seperti itulah asumsi yang ada di fikiran Juna.


Semua orang yang hadir tak mampu mengenali wanita itu hanya rambutnya saja yang hitam dan panjang. Sedangkan di seluruh kampus, semua mahasiswi rata-rata memiliki rambut yang serupa yaitu hitam dan panjang.


"Bagaimana ini? rekaman ini tidak terlalu jelas. Jika wanita itu pelakunya, kita tidak boleh asal menuduh tanpa bukti?" tanya seorang yang juga merupakan anggota Dekan.


Bapak Dekan selaku pemimpin pun tampak berfikir begitu juga Juna. Ia harus mencari tahu ciri-ciri fisik yang tergambar jelas dalam video tersebut.


"Pak, maaf bisa di putar kembali videonya tapi dengan tayangan slowmotion. Saya seperti menemukan sesuatu," pinta Juna kepada petugas IT tersebut.


"Baik."


Video pun di putar kembali sesuai permintaan Juna. Pemuda itu memperhatikan tampilan video dengan seksama. Pas diakhir video tampak membuat Juna memekik.


"Gotcha!"


"Ada apa nak Juna?" tanya Bapak Dekan.


"Baik, kami akan mengumpulkan semua mahasiswi di setiap fakultas di kampus ini. Pak Taufik tolong kumpulkan semua mahasiswi dan temukan seorang siswi yang mempunyai 3 tatoo bintang di pergelangan tangannya," tunjuknya kepada salah seorang Kajur (Ketua Jurusan) yang bertugas bagian kemahasiswaan.


Ditempat lain


"Sie! Bagaimana ini? apa mereka sudah mengetahui siapa pelakunya? Kenapa semua siswi di minta berkumpul di aula?" tanya Marion dengan suara bergetar.


"Loe udah buang kan? Baju yang loe pakai tadi? kemungkinan mereka menemukan si pelaku dari rekaman cctv!"


"Udah! Duh gimana kalau mereka mengenali ciri-ciri pelakunya Sie gue takut banget kalau gue ketahuan kan bisa skorsing atau bahkan sampai kena DO Sie (Drop Out) bisa-bisa nanti gue di bikin ayam geprek sama bokap gue!" rengek Marion.


Sisie pun mulai menelisik penampilan sahabatnya Marion. Marion tidak boleh ketahuan, kalau sampai ketahuan bisa-bisa ia pun juga kena imbasnya.


"Lebih baik loe iket deh rambut loe itu, terus loe tempelin tatoo bintang loe itu pakai hansaplas ini!"


"Memangnya kenapa?" tanya Marion dengan polosnya.


"Bod*h, loe harus ngerubah gaya loe yang seperti biasanya itu biar gk ketahuan!" hardik Sisie.


"Oh..baiklah, tolong nanti bantuin gue Sie. Sumpah gue gugup banget ini," rengek Marion lagi.

__ADS_1


"Oke, asal mulut loe itu nggak asal bicara tanpa ijin gue kalau loe mau selamat!" ketus Sisie.


"Itu pasti Sie, gue masih pengen kuliah soalnya."


Tak berselang lama para pengurus kampus memeriksa para mahasiswi itu satu persatu. Hingga tiba giliran Sisie dan Marion.


"Ini kenapa tanganmu?" tanya seorang Dekan.


"Ini...ini anu pak..ini__"


"Ini tangan teman saya terluka dan melepuh terkena minyak panas pak, karena kemarin kita sedang belajar memasak bersama," jelas Sisie dengan tenang.


Sedangkan Marion sebelah tangannya hanya bisa mengcengkram lengan Sisie kuat-kuat. Gadis itu gugup setengah mati karena ini baru pertama kalinya ia melakukan sebuah kriminal. Ya mengunci seseorang di toilet sempit yang hanya berukuran 2x1 meter adalah tindakan kriminal yang bisa membahayakan nyawa seseorang.


"Oh...begitu, baiklah."


Lalu Dekan tersebut terlihat menelepon seseorang. Setelahnya kerumunan pun dibubarkan.


"Kalian boleh kembali ke kelas kalian masing-masing dan beraktivitas seperti semula," seru sang Dekan dengan suara lantang.


Kerumunan pun bubar termasuk Sisie dan Marion.


"Fyuhh! hampir saja Sie. Untung loe cepet tanggap tadi ngasih handiplast buat nutupin tatoo gue. Kalau nggak ya sudah wassalam!"


"Sudah gue bilang, loe bakal aman selama nurut sama ucapan gue," balas Sisie dengan pongah.


"Tentu saja, tapi entar anterin gue buat hapus ini tatoo ya. please!" pinta Marion.


"Siap! tapi nggak gratis ye!"


"Apapun bakal gue lakuin buat loe!"


"Loe emang pion gue yang penurut, nih gue kasih uang tipsnya lumayan kan buat jajan," ujar Sisie seraya menyerahkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Ini mah banyak banget Sie! makasih ya sering-sering deh ngasih gue uang jajan, hehe" gurau Marion sambil cengengesan.


"Masalah itu mah gampang! Asal loe mau ngerjain apa yang gue pinta."


"Siap! komandan!"


Sisie pun menarik sudut bibirnya kesamping. Ia mempunyai pion yang bisa kendalikan.


Lihat saja loe ipar mandul, seberapa kuat loe bisa bertahan di kampus ini! Lagian kenapa loe harus hadir dan mengganggu hidup gue lagi? Sungguh gue merasa muak dengan sikap loe yang sok cantik itu!

__ADS_1


To be continue_


__ADS_2