
Setelah mendengar pertanyaan Beauty yang sukses menikam ulu hatinya, Juna memilih mengajak sang istri untuk keluar dari mobil mereka kembali.
Dan kini keduanya tengah terduduk di taman masih sekitaran rumah sakit. Piknik di tempat terbuka sepertinya memang sangat menyenangkan apalagi di temani oleh orang tercinta, namun ini bukanlah saatnya.
Bibir Beauty memang nampak mengulas senyuman, namun sorot matanya terlihat penuh dengan intimidasi.
Juna beberapa kali meneguk ludahnya kasar, beberapa kali membasahi kerongkongannya yang nampak tandus bagaikan gurun sahara. Meski berulang kali ia basahi dengan sebotol air mineral hingga tandas. Namun tak kunjung menghilangkan rasa haus yang tiba-tiba saja membelenggu kerongkongannya.
“Juna, apa kita akan berdiam terus disini sampai esok hari?” tanya Beauty yang sukses mengejutkan pemuda itu.
“Kyaaa!”
“Juna! Kenapa kamu malah kaget sih?!” tegur Beauty yang ikutan terkejut.
“Maaf yank, aku sedang banyak fikiran,” balas Juna seraya memijit pelipisnya karena pening yang tiba-tiba melanda.
“Junaa, kita kan sudah menikah. Aku ingin kita bisa berbagi masalah baik suka maupun duka. Baik sedih maupun tawa, ingat kita harus terbuka satu sama lain. Dan menghadapi masalah itu bersama-sama,” ucap Beauty menenangkan Juna yang tengah di liputi banyak masalah.
“Tapi masalahku ini bukan semudah seperti yang kamu fikirkan yank, aku tak ingin membebanimu dengan masalahku disaat kamu hamil seperti ini,” rintih Juna frustasi.
Pemuda yang selalu bahagia tanpa beban, kini harus menghadapi masalah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Ia butuh dukungan moril untuk menguatkan dirinya, karena Juna yakin ia tak pernah melakukan seperti apa Betty ucapkan saat ia terbangun diatas ranjang gadis itu.
“Katakanlah, aku siap mendengarkannya,” ucap Beauty lagi lebih lembut.
Lalu tiba-tiba Juna bersimpuh di hadapan istrinya Beauty. Juna sudah bertekat dalam hati, kali ini ia akan memberi pengakuan kepada sang istri. Pemuda itu juga tidak tega, jika terus-terusan harus membohongi Beauty dari masalah yang tengah ia hadapi.
“Junaa, apa yang kamu lakukan!” Beauty pun membelalakan matanya.
Seolah tak mengindah tanya sang istri, Juna tetap keukeuh bersimpuh di kaki wanita berlesung pipi itu.
“Bee, sebelumnya maafkan aku. Aku memang bukan laki-laki yang sempurna, aku seorang pendosa, aku penuh khilaf. Tapi yakinlah, di hatiku hanya mengukir satu nama yaitu namamu,” keluh Juna dengan tubuh bergetar.
Beauty yakin , suaminya kini sedang menangis. Nampak dari punggung pemuda itu yang terlihat bergetar.
“Aku juga tak yakin, setelah pengakuanku ini apa kamu masih sudi bersamaku? Aku sedang terlibat dalam sebuah masalah yang menjeratku, dan aku harus bisa menebusnya. Tapi aku rasa, aku sedang di jebak Bee. Aku sedang menyelidiki kasus ini untuk mencari buktinya, jadi....”
__ADS_1
“Apa ini berhubungan dengan pernikahanmu bersama Betty?” potong Beauty.
Reflek Juna membelalakan kedua bola matanya sempurna, dan secara perlahan mendongakan pandangannya ke wajah teduh sang istri.
“Jadi kamu sudah mengetahuinya Bee?” tanya Juna tak percaya.
Beauty pun mengangguk samar.
“Bangunlah! Dan duduklah di sampingku,” tuntun Beauty kepada Juna yang masih melongo tapi tetap menuruti ucapan istrinya.
“Bee, kamu sudah tahu masalah ini? Tapi kamu nggak marah sama aku? Kamu nggak benci sama aku? Apa kamu mau ninggalin aku? Jawab Bee,” ucap Juna setengah terisak.
Beauty pun menghela nafasnya berat. Jujur hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya adalah mendengar sebuah kejujuran yang sebenarnya.
Jika dulu bersama mantan suaminya Cleo ia lebih memilih melepaskan, namun kini Beauty memilih untuk menghadapinya.
“Junaa, aku memang sudah lama mendengar ini. Berita itu sudah ada dimana-dimana, pantas saja tiap kamu keluar selalu menggunakan masker. Dan juga, aku ingin dengar sendiri dari mulut suamiku awal mula kalian bisa tiba-tiba akan menikah. Karena aku tahu, kamu tidak akan menikahi Betty tanpa sebab,” tutur Beauty masih dengan sikap anggunnya.
Beauty sadar, ia harus bisa menjadi seorang istri yang cerdas dalam menyaring sebuah informasi. Tidak akan mudah terpengaruh sebuah issu belaka, kecuali ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Seperti kasus yang pernah Cleo lakukan bersama Tere dahulu.
“Maafkan aku Bee, maaf kan aku!” Juna pun meraih pergelangan tangan Beauty dan mengecupnya berulang kali
“Sekarang ceritakan, awal mula kalian bisa terjebak satu ruangan bersama Betty.”
Akhirnya Juna pun menceritakan awal mula pertemuannya bersama Betty sampai terbangunnya ia di apartemen wanita itu. Dan berakhir dalam keadaan tanpa busana dalam ruangan yang sama.
Juna pula menunjukkan rekaman-rekaman cctv yang menunjukkan gelagat Betty yang mencurigakan. Semua bukti-bukti itu Juna dapatkan dari rekaman cctv di sekitar cafe tempat Juna dan Betty kala itu berniat untuk makan.
Namun tidak mudah untuk mendapatkan semua bukti-bukti itu, karena pihak pemilik cafe yang tidak mudah percaya begitu saja. Mereka fikir Juna adalah saingan bisnis yang ingin menjatuhkan bisnis cafe mereka.
Hingga Juna harus turun tangan sendiri dan memberikan sejumlah uang jaminan. Jika cafe mereka mengalami kerugian karena tindakannya.
Setelah melihat itu semua, Beauty jadi merasa yakin. Jika semua ini bukan sepenuhnya salah suaminya Juna. Juna hanya di jebak oleh Betty.
Dan Beauty sendiri tahu, bagaimana temannya itu begitu terobsesi kepada Juna yang kini sudah menjadi suaminya. Namun ia hanya tak menyangka, ternyata tindakan Betty sudah sampai nekat dan sejauh ini.
__ADS_1
“Apa kamu akan menyerahkan bukti-bukti ini kepada papi dan mamimu Junaa?”
“Belum saatnya Bee, apalagi kesehatan mami yang belum stabil. Dan aku harus mendapatkan bukti-bukti lain yang lebih kuat. Karena anak buahku baru saja menyadari ada hal yang aneh dengan Betty.”
“Hal aneh seperti apa?”
“Anak buahku selalu melihat seorang pemuda tengah memperhatikan aktivitas Betty dari jauh. Setiap ingin kami tanyai, pemuda itu buru-buru pergi dan menghilang.”
“Mungkin dia orang yang ingin bertindak jahat kepada Betty Juna.”
“Bukan!” kilah Juna.
“Apa kamu yakin?”
“Orang itu selalu membawa bucket bunga dan sebuah bingkisan yang entah aku tak tahu apa isinya. Aku juga tidak mungkin menanyakan langsung kepada Betty, karena ia akan tahu kalau aku sudah memata-matainya selama ini.”
“Sekarang gini saja, kamu harus bisa mencari info dari orang itu dan apa hubungannya dengan Betty. Mungkin dia salah satu kunci dari permasalahan kamu ini Juna,” ucap Beauty memberi solusi.
Juna pun mengembangkan senyumnya sempurna. Pemuda itu tak menyangka, jika Beauty akan menanggapi masalahnya secara respect. Jika wanita lain mungkin ia akan menyalahkan dan menyudutkannya.
“Bee, apa benar kamu tidak marah kepadaku Bee? Setelah aku bercerita sebenarnya kepadamu tadi?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku mempercayaimu.” sahut Beauty jujur.
Sontak Juna pun memeluk tubuh Beauty dengan posesif dan mengecup puncak kepala wanita itu berulang kali.
“Terima kasih sayang, terima kasih karena kamu masih mau mempercayaiku, terima kasih,” lirih Juna sambil kembali terisak.
“Sudah, lepaskan Juna! Malu dengan yang lain!”
Juna pun hanya nyengir khas pemuda itu. Sungguh perasaannya kini sudah lega karena sudah berkata jujur kepada Beauty istrinya. Dalam hati Beauty juga ingin tahu, apa motif Betty sebenarnya sampai nekat menjebak Juna seperti sekarang ini.
__ADS_1