Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
ExtraPart


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu....


Hosh!....hosh!


“Sayank, aku sudah tidak kuat!” pekik Beauty seraya meremas kuat pergelangan tangan sang suami. Bahkan tanpa sadar menusukkan kuku-kuku runcingnya yang baru saja wanita itu kikir, ke kulit Juna.


Juna yang berlari sambil mendampingi sang istri yang terbaring di atas brankar dan di dorong oleh beberapa suster. Karena sebentar lagi, Beauty akan memasuki ruang operasi untuk melahirkan.


Karena jarak kehamilan Beauty yang berdekatan dengan kehamilan pertamanya, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi kembali. Demi kesehatan bayi dan ibunya.


Sebab kondisi wanita yang belum lama melakukan operasi caesar, pigmen lapisan kulit dan jaringan sel yang belum sembuh sempurna akan beresiko mengalami pecah pembuluh darah dan kemungkinan memaksa membuka luka jahitan sebelumnya.


Jika si ibu bayi memaksakan untuk melakukan persalinan normal yang di haruskan mengejan.


“Akh! Sayank, sepertinya aku merasakan apa yang kamu rasakan sekarang! Akh! Kamu yang kuat ya, kali ini aku akan menemanimu! Akh!”


Gumam Juna yang merasakan kuku-kuku runcing Beauty menusuk-nusuk pergelangan tangannya.


Juna pun hanya bisa melek merem merasakan tusukan dari kuku-kuku runcing sang istri tanpa berani menepisnya.


Setidaknya dengan begitu, Juna bisa turut merasakan bagaimana sakitnya wanita yang hendak melahirkan. Meski itu tak sepenuhnya mampu ia rasakan.


Jika dulu waktu Beauty melahirkan baby J, Juna tak bisa mendampingi sang istri yang berjuang seorang diri untuk melahirkan buah cinta mereka. Karena Juna sendiri dalam keadaan koma.


Oleh karena itu, kesempatan kali ini Juna tak ingin kehilangan moment menegangkan dalam hidupnya. Ia ingin memberi support dan kekuatan untuk sang istri yang memperjuangkan hidup dan matinya hanya demi menghadirkan kehidupan baru yang akan menambah kebahagiaan keluarga kecilnya.


“Pak, maaf bapak harus menunggu di luar ruangan,” sela seorang suster.


“Sus ! saya sudah membayar lebih kepada direktur kalian untuk bisa masuk ke dalam ruang operasi mendampingi istri saya melahirkan, jadi jangan ngadi-ngadi kamu ya!” sungut Juna.


“Oh..begitu pak, maaf.”

__ADS_1


“Huh! Besok-besok aku mau komplen saja ke atasan kalian!” sewot Juna lagi.


Suster itu tidak tahu saja, bahwa Juna dan Beauty itu adalah pasien kelas Super VVIP. Dan harus di layani dengan sebaik mungkin.


“Jangan pak, maafkan saya saya tidak tahu itu!” balas suster tersebut memohon maaf sambil menunduk.


“Junaaa!”


Beauty pun menggeleng pelan kearah suaminya sambil meringis menahan sakit. Agar suaminya itu berhenti bertindak seperti anak kecil lagi.


“Maafkan aku sayank, aku khilaf!” seru Juna sambil menyengir.


Juna pun meraih telapak tangan Beauty yang tak terpasangkan jarum infus, lalu menciuminya berulang kali.


“Aku percaya kamu bisa sayank! Bayangkan saja nanti kita akan berempat dan aku akan membawa kalian berpesiar mengelilingi dunia. Aku sudah tidak sabar moment itu!” oceh Juna merasa gemas sendiri.


Beauty pun tersenyum penuh arti mendapati suaminya begitu antusias menanti buah hati kedua mereka.


“Epidural? Apa itu epidural? Kalian jangan sembarang menyuntik istri saya ya, hanya saya yang boleh menyuntiknya sembarangan,” larang Juna sambil berkacak pinggang.


“Junaa! Biarkan!” sela Beauty lirih.


Lagi-lagi Beauty merasa jengah akan sifat kekanakan sang suami.


Suster-suster yang berdiri di belakangnya pun terkikik geli mendengar celotehan Juna yang terkesan absyur sekali.


Lalu seorang bidan senior sekaligus asisten dokter masuk, dan menatap heran kepada tim bedah serta suami pasiennya.


“Ada apa ini? Apakah pasien sudah di beri anestesi?” sela bidan senior tersebut.


“Ini bu bidan, kami tidak boleh menyuntik sembarangan nyonya Beauty. Katanya hanya bapaknya yang boleh menyuntik sembarangan istrinya,” ujar petugas anestesi tersebut dengan jujur dan polos tanpa mengerti arah ucapan Juna sebenarnya.

__ADS_1


Sudah di pastikan petugas itu masih orisinil, jomblo dan belum menikah.


Bidan senior tersebut hanya bisa menepuk dahinya pelan. Sepertinya pasiennya kali ini mempunyai bodyguard yang sedikit dramatis.


“Maaf pak Juna, kami harus segera memberikan suntik epidural sebagai anestesi sebelum melakukan tindakan operasi. Coba bapak lihat, istri anda sudah kesakitan karena ingin melahirkan,” papar sang bidan memberi pengertian kepada Juna yang ngeyel.


“Tapi mereka semua para laki-laki, aku tidak rela tubuh istriku di jadikan obyek fantasi mereka disaat berkarir solo. Aku tahu mereka itu jomblo!” kilah Juna yang kekeuh menolak petugas laki-laki itu menyuntik istrinya.


“Baiklah, Yoyok segera kamu pindah ruangan. Yang ini biar saya aja yang menangani.” ucap bu bidan menyudahi perdebatan mereka.


Bu Bidan Senior itu pun hanya bisa menghela nafasnya pelan. Seharusnya menyuntik anestesi ini bukan tugasnya. Tugasnya hanya mendampingi dan memastikan persiapan operasi aman. Namun kini ia harus menggantikan petugas anestesi yang di tolak mentah-mentah oleh suami pasiennya.


“Sekarang saya yang mengganti Yoyok yak pak, kita harus melakukan anestesi karena dokter bedahnya sebentar lagi akan tiba.”


Juna pun mengangguk menyetujui jika yang akan menyuntik istrinya seorang wanita. Setelahnya bidan tersebut memastikan bius epidural bekerja dengan maksimal.


Tak lama dokter bedah yang bertugas pun datang dan menyalami semua anggotanya.


“Bagaimana nyonya, apakah kita sudah bisa memulai operasinya?”


Bagaimana? Lanjut tidak?


😂


Otor minta dukungan juga untuk karya othor yang baru saja netes kaya pinyik ayam..🤭😅



**Mohon dukungannya dengan cara tinggalkan like, koment dan bintang 5 nya. (Yaelah otor maksa banget🤭 ✌️)


Dan jangan lupa disubcribe biar tidak ketinggalan update. Terima kasih banyak yg sudh mmberi dkungan sma otor. Semoga Allah swt membalas kebaikan kalian nanti.

__ADS_1


Salam sayang dari otor gadungan ini..🤭😘😘😘😍**


__ADS_2