
Cleo baru saja turun dari motor second bekas pakai, istilah umumnya orang-orang menyebut motor bodong (motor tanpa surat-surat) yang baru beberapa hari ia beli dari seorang pengempul barang bekas.
Meski motor yang Cleo beli sudah bekas, namun masih dalam kategori masih mulus atau masih layak pakai.
Motor itu Cleo gunakan untuk mengangsongkan usaha dagangannya, untuk di masuk-masukan ke warung-warung terdekat.
Untuk menyambung hidupnya, Cleo membuat usaha yang berasal dari olahan singkong yang ia beli dari seorang petani kecil. Dan dengan kegigihannya, ia sulap singkong biasa itu menjadi makanan ringan berupa kripik. Atau biasanya orang menyebutnya kripik singkong.
Disamping itu, Cleo masih terus berusaha mengerjakan sketsa serta strategi marketing yang ia tawarkan ke setiap perusahaan. Meski kebanyakan mereka menolak, karena latar belakang Cleo yang seorang narapidana.
Tertulis jelas di dalam Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), yang pria itu lampirkan dalam surat lamaran yang ia kirimkan ke perusahaan-perusahaan besar.
Namun semua itu, tak urung menyurutkan semangat Cleo untuk bangkit dan memulai hidupnya kembali dari awal. Karena masih ada mama Dewi dan Sisie yang menjadi tanggungannya dan membutuhkan biaya untuk hidup.
...* * *...
Di dalam mobil Juna tengah ngambek merasa kesal karena Beauty mengajaknya singgah di rumah kontrakan miliknya yang kini sedang di tempati oleh Cleo sang mantan suami dan keluarganya.
"Ayank, kenapa kita harus kesini sih? Bikin bete aja," celetuk Juna.
"Junaa, bagaimana pun ini masih kontrakan aku. Barang-barangku masih banyak tertinggal disini. Aku harus mengambil beberapa untuk ku bawa," jelas Beauty dengan lembut.
Juna pun hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengedumel dalam hati.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau ikut, aku akan pergi sendiri saja."
"Ehh! Tidak..tidak bahaya itu ayank!" cegah Juna.
"Bahaya kenapa?" tanya Beauty tak mengerti.
Juna pun menghembuskan nafasnya dengan lesu. Mau tak mau ia harus ikut, untuk melindungi sang istri dari terkaman buaya buntung.
"Baiklah ayank, aku ikut saja. Aku juga tidak rela pria lain mencuri mata kearah istriku.Tapi sebenarnya aku malas harus bertemu mantan suamimu itu," gerutu pemuda itu lagi.
"Junaa, aku dan mas Cleo sekarang tidak ada hubungan apa-apa. Ya aku hanya kasihan kepadanya, oleh sebab itu aku berikan tumpangan kepada mereka. Karena seluruh harta dan perusahaan milik keluarga mas Cleo telah dibawa oleh Tere istri kedua mas Cleo."
"Itulah yang namanya Karma is real! Hahaha.."
Juna pun tertawa lepas mendengar musibah yang sedang menimpa mantan suami istrinya itu.
__ADS_1
"Junaa, tidak boleh begitu."
Tawa pemuda itu pun surut diiringi cebikan bibir bawah miliknya.
"Baiklah aku ikut, tapi dengan satu syarat. Jangan lama-lama ya."
"Iyaaa."
...* * *...
Di dalam rumah, langkah Cleo berubah melambat saat sayup-sayup terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah kontrakan dimana tempatnya tinggal.
Dengan rasa penasaran yang melalang buana, Cleo mencoba mengintipnya dari jendela. Betapa bahagia hati Cleo kala mendapati, seorang wanita yang beberapa hari ini sangat ia nantikan kabarnya, turun dari sebuah mobil taksi berwarna kuning itu.
Lantas, Cleo pun berlari kearah daun pintu untuk menyambut kehadiran sang mantan istri yang namanya masih terpatri dihati.
Namun, ketika pintu rumah sudah terbuka lebar-lebar. Semangat pria berjambang tipis itu ambyar seketika, bersamaan dengan turunnya seorang pemuda tampan dari mobil yang sama yang mantan istrinya tumpangi.
Senyum merekah yang harusnya ia berikan kepada sang wanita, yang tak lain dan tak bukan Beauty pun merosot langsung ke dasar jurang. Meski tangannya masih mengambang di udara berniat melambaikan tangan ke arah wanita itu.
Tanpa pria itu sadari, kedua tuan rumah dan tamunya itu pun sudah berdiri di hadapan Cleo. Membuat Cleo bagaikan orang bodoh.
"Junaa."
"Hmm, baiklah."
Tawa pemuda itu pun meredup setelah mendengar teguran dari sang ratu. Ya bagi Juna, Beauty adalah ratu yang harus ia junjung tinggi-tinggi perasaan, harkat martabat, serta kehormatannya.
Cleo hanya mendengus kesal seraya melemparkan tatapan menusuk ke arah pemuda itu.
"Masuk Bee," ucap Cleo dingin kearah Beauty tanpa menyahuti ucapan Juna.
"Gue nggak di suruh masuk nih?" protes Juna kemudian.
"Terserah!" sahut Cleo acuh.
Beauty dan Juna pun duduk di sofa panjang milik wanita itu. Dan di hadapannya duduk Cleo dengan tatapan penuh tanya, kenapa Beauty bisa datang bersama bocah bau menyan itu.
Menyadari arti tatapan dari Cleo, buru-buru Beauty menjelaskan maksud kedatangannya kembali ke rumah itu.
__ADS_1
"Begini mas, kedatangan Bee kesini untuk memberi tahu pernikahan Bee bersama Juna kemarin. Dan Bee kesini berniat mengambil barang-barang yang bisa di bawa. Karena kami berniat untuk tinggal bersama ayah. Bee sudah bertemu kembali dengan ayah."
Penjelasan Beauty tampak samar terdengar di indra pendengaran Cleo. Seolah ia merasa salah dengar, Cleo pun mengulang kembali ucapan wanita itu.
"Apa? Menikah?" Cleo tak percaya secepat itu sang mantan istri berpindah kelain hati. Padahal ia tahu betul bagaimana watak seorang Beauty.
"Iya kami sudah menikah, nih lihat cincin yang kami pakai bagus kan?" sahut Juna dengan pongah.
"Hmm...ya, aku juga masih menyimpan cincin pernikahan kami."
Juna hanya mendengus kesal seraya mencebikkan bibir bawahnya.
Sedangkan Beauty hanya meringis, memang ia sudah mengembalikan cincin pernikahannya kepada Cleo saat mereka bercerai dulu.
Beauty hanya tak menyangka, ternyata Cleo masih menyimpan dengan baik cincin pernikahan mereka.
Aku sengaja menyimpannya untuk berjaga-jaga, andai suatu saat nanti kamu mau kembali lagi ke pelukanku Bee..
Cleo hanya bisa berkata dalam hati. Mendengar pernikahan Beauty bersama Juna saja sudah membuat hatinya merasakan sakit, apalagi untuk mengungkapkannya kembali ke wanita berlesung pipi itu rasanya tidak mungkin.
Hujan di luar pun mengguyur kawasan ibu kota. Begitu pun suasana diluar rumah kontrakan minimalis itu.
Atap teras yang terbuat dari seng seakan menghiasi keheningan yang sempat tercipta diantara ketiganya.
Suara rintikan hujan terdengar bagaikan kentongan yang saling sahut menyahut ketika sudah menyentuh atap berseng itu. Menambah ramai suasana ketika hujan turun.
"Apa kalian lapar? aku akan memasak untuk kita makan," ucap Beauty memecah kesunyian diantara mereka.
"Aku akan membantu!" sahut Juna dan Cleo secara bersamaan.
Kedua pemuda itu pun saling melempar tatapan sinis seolah seperti orang yang saling bermusuhan. Beauty hanya menghela nafasnya, ia juga tak akan menyangka kedatangannya bersama sang suami di sambut dingin oleh sang mantan.
"Kalian tunggu disini saja, aku akan tidak lama memasaknya!" ucap Beauty dengan tegas.
Bagaikan seekor kucing yang di perintah oleh majikannya, kedua pria dewasa itu pun menjatuhkan kembali bokong mereka keatas batalan sofa yang empuk.
"Baiklah, kami akan menunggumu masakanmu ayank."
Juna berusaha menekankan panggilan barunya kepada sang istri, agar pria berjenggot di hadapannya mengerti bahwa kini Beauty sudah menjadi miliknya.
__ADS_1
Cleo pun hanya mendengus kesal mendengar sapaan manis yang terlontar dari mulut Juna untuk Beauty.