
“Sri ? Apa yang gadis itu lakukan malam-malam begini ?” gumam Beauty saat tanpa sengaja melihat bayangan Sri, perawat pribadi mami Lola berlalu dan hendak keluar mansion melalui pintu belakang dapur.
Beauty pun mengikuti Sri dari arah belakang, saat gadis itu tengah membuka kunci pintu keluar yang ada di dapur keluarga.
“Sri ?” tegur Beauty pelan.
Teguran pelan Beauty justruk membuat Sri terlonjak dan tanpa sadar sudah menjatuhkan kunci pintu yang akan ia buka.
“Nyo...nyonya Beauty,” sahut Sri dengan raut wajah terkejut seperti maling yang tertangkap basah hendak mencuri.
“Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?” tanya Beauty dengan tenang.
Meski menyadari ada yang aneh pada perawat mamanya itu, Beauty berusaha untuk tetap tenang dan pura-pura tak mencurigai sama sekali.
“Oh..ini nyonya saya tadi mendengar kucing sedang berkelahi, saya ingin mengusirnya nyonya. Takut mengganggu tidur nyonya besar dan yang lainnya Termasuk nyonya Beauty pula,” ujar Sri seraya membetulkan letak kacamatanya yang ia rasa kurang pas di bingkai wajahnya.
Beauty pun menatap skeptis kearah Sri, perasaan sedari tadi ia tak mendengar suara hewan apa pun selain jangkrik yang memang bersuara di saat malam hari.
Menyadari ketidakpercayaan sang majikan, membuat Sri seketika menunduk. Gadis itu takut, jika majikannya menuduhnya berbuat yang nggak-nggak.
“Ampun nyonya, saya tidak melakukan apa pun. Sumpah demi Tuhan, saya tadi hanya ingin mengusir kucing yang sedang berkelahi saja,” ujar Sri menyakinkan Beauty.
Beauty pun menghela nafasnya. Meski ia merasa ada sesuatu hal yang terasa ganjal dan ia sendiri sulit pahami. Namun Beauty sadar, tatapannya sudah membuat gadis di hadapannya merasa ketakutan.
“Kamu tenang Sri, memang apa yang kamu fikirkan? Aku hanya merasa kok kamu berani sih keluar malam-malam begini? Berbahaya loh buat gadis sepertimu keluar malam sendirian,” ucap Beauty menenangkan gadis yang nampak bergetar ketakutan itu.
“Ya sudah, sekarang lebih baik kamu kembali saja ke kamarmu. Aku akan menelepon mang Asep biar berpatroli keliling mansion ini. Takut ada yang menyusup atau sebagainya.” titah Beauty kepada Sri.
__ADS_1
“Baik nyonya, terima kasih. Kalau begitu saya balik ke kamar saya ya nyonya. Permisi,” pamit Sri sambil berlalu meninggalkan Beauty.
Tanpa Beauty sadari, sedari interaksinya tadi Sri terus mengepalkan kedua telapak tangannya seperti menahan sesuatu.
“Ya Sri.”
Setelah kepergian Sri, Beauty pun menghampiri kunci yang sudah Sri jatuhkan dan memungutnya untuk di kembalikan ke wadah kotak persegi yang tergantung khusus untuk penyimpanan kunci.
Tiba-tiba sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang, membuat Beauty terjingkak karena terkejut.
“Arrrgh!”
“Sssttt! Jangan berteriak sayang, ini aku suamimu,” seru Juna seraya membalikkan tubuh Beauty yang ia peluk dari belakang.
“Junaa!! Kenapa tiba-tiba memelukku dari belakang?!” sungut Beauty yang berusaha menormalkan detak jantungnya kembali.
“Hei! Kamu kenapa? Seperti melihat hantu saja, aku kesini kan karena kamu tidak ada di sampingku. Jadi aku mencarimu, aku takut kamu pergi,” ungkap Juna dengan sedikit membual.
“Juna gombal! aku keluar karena aku hanya ingin buang air kecil saja. Kamar mandi atas belum selesai perbaikannya, mana akhir-akhir ini aku tak bisa menahan hasratnya, huft!” keluh Beauty.
“Aku minta maaf ya, mulai besok aku akan panggilkan tukang yang profesional yang bisa menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu sehari. Oke !” tutur Juna dengan pongahnya.
Ya memiliki harta yang cukup tak sulit bagi Juna untuk melakukan apa yang pemuda itu inginkan. Jika Juna sudah bilang seperti itu. Sudah Beauty pastikan, besok bakal ada rombongan pekerja yang mirip rombongan hajat menyatroni mansion mereka.
Juna memang tak pernah tanggung-tanggung dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan demi sang mami tercinta yang tengah sakit, Juna membangunkan sebuah lift yang hanya di perkhususkan untuk akses mami Lola yang terletak di kamar wanita paruh baya itu.
“Terserah kau saja suamiku,” sahut Beauty sambil beranjak meninggalkan Juna.
__ADS_1
“Hei, sayank mau kemana lagi?” tanya Juna yang mengekori Beauty dari belakang.
“Ambil makanan, malam-malam begini aku mudah sekali lapar Juna. Apa kau mau?” tanya Beauty yang mengambil piring untuk cemilannya nanti di kamar.
Sebenarnya Juna tidak merasa lapar, akan tetapi demi menyenangkan sang istri. Juna pun mengiyakan tanya wanita hamil itu. Juna pernah membaca sebuah artikel, menemani makan istri yang sedang hamil membuat moodboster tersendiri bagi ibu hamil.
“Boleh, akan menemanimu makan.”
Beauty pun tersenyum, lalu memenuhi piring kosong miliknya dengan beberapa potong kue brownis dan red velvet. Tak lupa setoples kue kering dan juga 1 liter air ia bawa pula menuju kamar.
“Yank sebanyak ini?” tanya Juna seraya meneguk salivanya berat.
Beauty pun mengangguk untuk mengiyakan tanya dari sang suami yang menatapnya heran.
“Kenapa ? kamu takut aku jadi gendut dan tidak cantik lagi?” tanya Beauty sambil menghentikan kegiatannya.
“Ti..tidak yank, mana mungkin. Mau seperti apa pun kamu, kamu tetap cantik di mataku kok. Apalagi ini demi buah hati kita.”
Juna pun menghela nafasnya, takut jika Beauty tersinggung dan merajuk. Sedikit demi sedikit Juna paham akan perasaan wanita, apalagi perasaan ibu hamil yang mudah sekali tersinggung.
“ Ya udah, Nih bawa ya yank, aku akan bawa yang ini,” ucap Beauty.
“Sini biar aku saja semua yang bawa, kamu sudah bawa beban berat di perutmu. Aku takut kamu keberatan nanti sayank,” tukas Juna sambil mengambil alih piring yang akan Beauty bawa.
“Makasih calon papa,” balas Beauty dengan bahagia.
Ya Beauty sangat bahagia memiliki suami sesigap dan sepengertian seperti Juna. Jaman sekarang, mana ada suami yang respek kepada sang istri yang tengah hamil. Kadang kebanyakan mereka hanya ingin di perhatikan, tanpa mau memperhatikan balik. Beauty sangat-sangat bersyukur akan hal ini.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari seseorang mengepalkan kedua tangannya seraya menatap kemesraan kedua pasangan suami istri itu dari balik penyekat yang memisahkan ruang makan dengan ruang dapur.