Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Curahan hati Juna


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tanpa terasa Sri sudah bekerja di keluarga Narendra selama sebulan lamanya. Selama itu Sri selalu melakukan pekerjaannya dengan baik dan cekatan.


Kehidupan rumah tangga Beauty dan juga Juna berjalan dengan damai dan bahagia. Apalagi usia kandungan Beauty sekarang beranjak menuju 5 bulan, yang artinya sudah bisa di lakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin sang calon bayi.


“Junaa, apa besok kita bisa pergi ke klinik dokter Restin?” tanya Beauty kepada sang suami yang tengah serius mengerjakan sesuatu di depan laptopnya.


Dokter Restin adalah dokter spesialis kandungan yang selama ini menangani kehamilan Beauty hingga nanti tiba waktu persalinan.


Suara lembut Beauty sukses mengalihkan atensi Juna dari layar laptop yang menyala dan menghentikan aktivitasnya sejenak.


“Apakah besok kita sudah bisa melihat jenis kelamin baby kita yank? Aku merasa tak sabar,” tanya Juna antusias.


“Tentu! Sekarang sudah 5 bulan lebih. Kita sudah bisa melihat penampakan gendernya besok Junaa,” sahut Beauty seraya tersenyum.


“Terima kasih istriku, terima kasih sudah sudi mengandung benih milikku. Memberi kesempatan untukku merasa menjadi orang tua kelak,” ucap Juna dengan tulus.


Tanpa sadar, setitik buliran bening menetes dari salah satu sudut mata Juna. Dengan cepat Juna menghapusnya, namun gerakannya kalah cepat dari Beauty. Sebelum Juna sempat menghapusnya, Beauty lebih dulu memergoki.


“Junaa, kamu menangis?” tanya Beauty yang merasa sikap Juna kali ini sedikit berbeda.


“Ah. Tidak! Ini hanya kelilipan. Tidak mungkin seorang Juna menangis,, haha.”


Juna pun menyeka air matanya seraya tertawa, mencoba menutupi sesuatu dalam hatinya yang lemah.


“Ya sudah, lebih baik kita segera istirahat. Aku tak sabar ingin melihat calon jagoan kita besok,” ucap Beauty terlihat bahagia.

__ADS_1


Juna pun mengulas senyum manisnya, bukan hanya sang istri saja tapi dirinya pun sudah tak sabar menanti hari esok.


“Ayo yank, aku beresin ini dulu ya?”


Beauty mengangguk lalu tersenyum. Sambil menunggu sang suami, Beauty pun duduk di dasboard ranjang sambil melihat-lihat produk baru dalam katalog yang baru saja ia beli.


Juna pun segera membereskan beberapa berkas perusahaan dan juga mematikan laptopnya. Tak lupa pemuda itu mengecek beberapa email yang sempat masuk ke akun email pribadi miliknya.


Menanggung beban baru sebagai ceo sekaligus direktur membuat Juna selalu sibuk, namun sebagai seorang suami yang mencintai istrinya. Juna berusaha mengatur waktu yang ia miliki sebaik mungkin.


Saat sudah menunaikan hajatnya sebelum tidur, Juna pun menghampiri sang istri yang nampak sudah tertidur pulas dengan posisi yang sama saat terakhir kali mereka berbincang-bincang.


Juna pun tersenyum, lalu di raihnya buku katalog yang tergeletak di atas perut buncit sang istri.


Dengan perlahan Juna pun membenarkan posisi tidur Beauty yang kurang baik bagi ibu hamil. Karena tidur dengan posisi duduk, tidak bisa membuat tubuh kita relaks saat beristirahat.


Di pandanginya sekali lagi raut damai wajah sang istri yang nampak tertidur pulas. Tak terasa air mata jatuh membasahi wajah yang selalu menampilkan senyum riangnya itu.


“Aku tak tahu apa saja yang selama ini sudah kamu lewati sayank, Aku hanya ingin mengukir senyum di wajahmu yang cantik ini. Memberi kebahagiaan yang selama ini kamu inginkan. Tak peduli orang berkata apa tentangmu, tentang hubungan kita. Yang ku tahu aku hanya mencintaimu dan sangat mencintaimu. Terima kasih sudah mau mengandung buah cinta kita.”


Juna pun berhenti sejenak seraya mengambil nafas panjang. Dadanya tiba-tiba terasa sesak bagai kekurangan asupan oksigen.


Memang, jika melihat ke belakang. Tak banyak orang tahu, tak banyak orang paham. Menyakinkan hati seseorang yang pernah tersakiti itu tidak mudah. Bagaikan mengeluarkan kapal yang karam di tengah lautan. Begitu pula saat Juna berusaha menyelami hati Beauty yang sempat karam.


“Bahkan jika nanti aku mati, aku hanya ingin bertemu denganmu di akhirat nanti. Dan kamu yang menjadi bidadarinya. Kita akan merajut kasih kembali di akhirat nanti. Hanya kamu yang aku inginkan, tidak ada orang lain. Hanya kamu Beauty Edelweis. Seperti namamu yang terpatri abadi di sanubari ini.”

__ADS_1


Juna pun menggeram pelan. Menahan buliran-buliran air asin itu agar tidak tumpah ruah begitu saja. Rasanya gengsi jika pria periang sepertinya tiba-tiba nampak cengeng di hadapan orang terkasih.


Tidak! Itu tidak boleh! Ia harus tetap tegar dan selalu tersenyum riang seperti biasanya. Agar senyumnya menular ke orang lain terutama sang istri dan calon buah hatinya.


Hidupnya selama ini sempurna, tak pernah takut kehilangan apa pun kini tiba-tiba baru merasa sebuah ketakutan akan kehilangan sesuatu. Takut kebahagiaan di depan matanya saat ini tiba-tiba lenyap terenggut begitu saja oleh sang pecipta.


Karena pada dasarnya, segala sesuatu yang ia miliki saat ini hanya sebuah titipan yang kapan saja bisa terambil oleh sang Pemilik-Nya.


Setelah berucap kata yang menyesakkan dada bagi siapa pun yang mendengarnya, Juna pun memejamkan kedua matanya. Sambil memeluk tubuh berisi sang istri yang lebih dulu terlelap.


Tak lama, terdengar deru nafas yang berhembus secara teratur. Menandakan sang empunya sudah terlelap di alam mimpi.


Saat itu Beauty pun membuka kedua matanya. Buliran air asin itu meluap begitu saja. Ia tak menyangka sebegitukah Juna mencintainya? Kalimat pujaan dari Juna sukses mengoyak-ngoyak hatinya. Mengoyak-ngoyak perasaannya yang memang akhir-akhir ini mudah sekali merasa sensitif.


Sebenarnya Beauty tadi terbangun kala Juna memindahkan posisinya. Namun ia tetap berpura-pura terlelap, agar tidak ada lagi dialog yang berkelanjutan karena jujur Beauty merasa lelah.


Dan tanpa sengaja ia mendengar sendiri pengakuan sang suami yang sukses menggetarkan hatinya.


Tiba-tiba saja rasa ingin buang hajat begitu memaksan Beauty untuk beranjak dari pelukan ternyamannya.


Karena usia kandungannya yang semakin berkembang dan janin di dalamnya terasa menekan kantung kemihnya, sehingga Beauty merasa akhir-akhir ini lebih mudah merasakan hasrat buang air kecil yang memuncak di setiap malam.


Lalu di lepaskan pelukan sang suami, dan beranjak keluar kamar. Kebetulan Pipa air yang ada di kamar mandi kamarnya sedang dalam perbaikan, terpaksa Beauty harus turun menuju kamar mandi tamu yang ada di lantai bawah untuk menuntaskan hasratnya itu.


Saat sudah selesai menuntaskan hasratnya, Beauty pun segera kembali menyusul Juna. Namun langkahnya terhenti kala ia mendapati sesuatu yang menurutnya ganjal.

__ADS_1


“Sri ? Apa yang gadis itu lakukan malam-malam begini ?”


__ADS_2