
(Mengandung unsur 18±)
“Junaa! Apa..apa maksudmu ?!” sarkas Beauty.
Juna pun tergelak di tempat. Melihat wajah panik sang istri membuatnya bahagia. Setidaknya ada yang menginginkannya untuk tetap bertahan.
“Kamu takut aku pergi dan membiarkan mantan suamimu itu merebutmu kembali dariku? Itu tidak akan! Tidak akan ku biarkan, pria berjenggot itu menjadi ayah dari anakku,” tutur Juna seraya meringis seperti menahan sakit.
“Junaa! Apa yang kamu bicarakan? Jangan membuatku takut seperti ini.”
“Aku hanya bercanda sayank kenapa kamu jadi panik akhh...” Juna meringis tertahan sambil memegangi sesuatu yang terasa mengucur di balik kemejanya.
Kemeja putih itu nampak tak berwarna putih lagi karena banyaknya noda darah yang menempel. Entah darah dari Anjar atau pun darah dari Juna sendiri.
Rupanya Juna mendapatkan luka tusuk yang di layangkan oleh Anjar. Saat mereka berkelahi tadi. Karena terlalu emosi, Juna sampai tak menyadari bahwa sebuah pisau lipat sempat menusuk anggota tubuhnya.
“Junaa! Kamu terlukaa Juna!” Beauty pun menatap panik kearah suaminya, tanpa fikir panjang Beauty melepas sweaternya dan membelitkan pada tubuh Juna.
“Akh! Pelan-pelan yank!”
Juna pun memejamkan kedua matanya untuk menghalau rasa sakit dan perih yang terasa mengiris dagingnya.
“Junaa, maafkan aku! maafkan istrimu yang buduh ini! Juna! Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padamu,” isak Beauty penuh derai air mata.
Beauty pun memeluk tubuh Juna yang mulai melemah. Wajahnya yang tadinya berseri kini nampak putih memucat.
__ADS_1
“Junaa! Please jangan tinggalin aku Juna! Jangan tinggalin baby J juga...huhuu.”
Beauty menangis histeris, rasa kram yang ia rasakan tak seberapa di banding rasa takut akan kehilangan Juna.
Juna pun membuka matanya, lalu mengusap lembut surai hitam sang istri dan berbisik lembut di telinga sang istri yang memeluk tubuh lemahnya.
“Sayank...kenapa kamu menangis? aku..aku hanya ingin tidur sebentar sambil menikmati rasanya yang yah lumayan...nikmaat.”
Juna pun mengulas senyum tulusnya, lalu memejamkan kedua matanya kembali.
“Sayank, cium aku..” pinta Juna seraya memoyongkan bibirnya beberapa senti.
Beauty yang tak mengerti akan sikap sang suami pun hanya bisa menuruti permintaan konyol Juna. Ya bagaimana bisa, disaat genting seperti ini Juna masih sempat meminta ciuman darinya.
Beauty hanya fokus memberikan apa yang suaminya minta. Takut jika sesuatu hal buruk terjadi, dan permintaan konyol ini mungkin bisa jadi permintaan terakhir Juna.
Kecupan yang awalnya lembut, berubah jadi sebuah lum*tan yang menimbulkan percikan api cinta dalam diri kedua insan itu. Dan Beauty melakukannya dengan sepenuh hati membuat keduanya terhanyut dalam gelora asmara.
Jika biasanya Juna yang lebih mendominasi ciuman mereka, namun kini Beauty nampak berbeda. Beauty memberikan apa yang jarang ia lakukan. Begitu pagutan mereka terlepas, keduanya saling berebut oksigen.
Juna pun tersenyum masih dengan mata terpejam.
“Kamu ternyata bisa agresif juga yank,,aku mau la...hmmp”
Beauty pun mencium dan mel*mat kembali bibir Juna. Menyalurkan segenap rasa cinta dan kasih yang selama ini jarang Beauty ucapkan kepada Juna.
__ADS_1
Rasa takut kehilangan Juna mengalahkan rasa malu yang selama ini Beauty pertahankan sebagai kodratnya seorang wanita.
Tanpa terasa, semakin lama ciuman yang Juna berikan semakin melemah. Juna nampak terdiam tak membalas kecupan yang Beauty berikan.
“Junaaa! Please jangan sekarang Juna! Aku mohon!”
Beauty kembali menghujani wajah sang suami dengan kecupan yang bertubi hampir di sekujur wajah pemuda itu. Berharap suaminya kembali sadar dan tersenyum kearahnya.
Kini Juna dan Beauty berada di dalam badan kapal itu. Dari luar masih terdengar suara baku hantam dan beberapa tembakan yang terlepas terdengar bersahutan.
Rasa panik dan takut yang melebur dalam diri Beauty, membuat jiwa wanita berlesung pipi itu bertekan dan memperparah rasa kram yang melilit pada kandungannya.
Dengan segenap tenaga, Beauty berusaha berteriak untuk meminta bantuan.
“Tolong! Tolong! Siapa pun tolong kami!”
Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki seseorang yang berlari menuju kearah dimana Beauty dan Juna terkulai lemah.
“Nyonya! Nyonya! Bertahanlah polisi sedang menuju kemari!” seru Beny yang terkejut mendapati Beauty dan Juna dalam keadaan berlumuran darah.
Rasa pusing yang mendera tak mampu membuat Beauty merespon dengan baik ucapan anak buahnya Beny. Hanya satu kalimat yang berhasil Beauty ucapkan sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
“Tolong! Selamatkan suamiku!”
Setelah berucap itu Beauty pun tak sadarkan diri seraya memeluk tubuh Juna yang lebih dulu hilang kesadarannya.
__ADS_1