Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Garis Dua


__ADS_3

Betty menatap nanar hasil tes kehamilan yang sengaja ia beli di apotik karena rasa penasaran yang menggelora dalam dirinya.


Ini sudah minggu keempat setelah tragedi one nigth stand tak sengaja bersama Amir pemuda manis berkulit sawo matang itu. Perasaan Betty di selimut rasa khawatir, akan pertanggung jawaban yang Amir katakan saat terakhir kali mereka bertatap muka.


Betty berharap, semoga sesuatu yang khawatirkan itu tidak benar-benar ada. Jika itu terjadi, Betty akan merasa lega karena ia tidak harus kembali terikat dengan pria yang bernama Amir Narayan itu.


Sungguh kehilangan mahkota berharga dan satu-satunya yang ia miliki, itu saja membuatnya down beberapa hari.


Betty sangat menyesal karena kegad*sannya di renggut oleh pria yang baru saja ia kenal. Dan bukan pria yang ia cintai.


Namun takdir seakan bertolak belakang dengan apa yang gadis itu inginkan. 2 garis merah begitu tercetak jelas pada benda berbentuk stik yang kini ia pegang.


"Nggak! Ini nggak mungkin!" ucap Betty seraya menatap tak percaya.


Itu hal pertama yang Betty pernah lakukan kenapa malah bisa langsung jadi? Sedangkan temannya Dona sering melakukannya, tapi tidak pernah sampai kebobolan.


"Pasti alat ini lagi eror, aku harus membeli lebih banyak lagi untuk mencoba ke akuratannya," gumam Betty lirih.


"Betty! Betty! Apa kamu sudah bangun?" teriak mama Sulis dari luar kamarnya.


Betty terkesiap, jantungnya berpacu lebih cepat seakan ingin berlari dari tempatnya.


"Betty! Kamu ada di dalam kan? Betty!" teriak mama Sulis lagi.


Buru-buru Betty membuang alat pengetes kehamilan yang ia pegang ke dalam tong sampah kamar mandinya. Dan segera keluar menemui sang mama.


"Iya ma, Betty udah bangun," jawabnya seraya membukakan pintu.


"Kenapa lama sekali Betty! Apa yang kamu lakukan di dalam? Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu lagi dari mama?!" cerca mama Sulis penuh selidik.


Deg!


Otak Betty pun berkerja cepat untuk mencari alasan agar mamanya tidak curiga kepadanya.


"Eh..anu ma, tidak ada apa-apa tadi Betty lagi cuci muka di kamar mandi makanya lama bukain pintunya."


Mama Sulis mendelik dan memperhatikan wajah anaknya yang memang nampak basah seperti habis mencuci muka.

__ADS_1


"Ya sudah, mama hanya tak ingin kamu main api di belakang mama ya Betty. Apalagi membuat kesalahan besar dengan pria yang nggak jelas asal usulnya! Mama ingin kamu dapat jodoh yang mapan, dan jelas bibit , bebet serta bobotnya seperti Juna," tekan mama Sulis.


Deg!


"Itu...itu tidak mungkin ma, mama kan tahu sendiri Betty sekarang jomblo."


Duh! Bagaimana ini, mempunyai hubungan sama pria lain saja tidak boleh. Apalagi kalau sampai mama tahu, aku hamil. Tuhan! Help me!


"Oke, mama percaya padamu Betty untuk saat ini. Tadi Lola menelepon mama menanyakan keadaanmu, main lah kesana. Kasihan dia sedang sakit. Mama sudah iklas, jika pernikahanmu dengan Juna batal. Tapi Lola adalah sahabat mama sedari anak-anak, mama tidak bisa membencinya," tutur mama Sulis panjang.


"Baik lah ma, Betty akan main ke mansion tante Lola. Betty juga sudah kangen sama beliau."


"Oh..iya, mama dengar Juna juga akan kembali pulang. Mama sebenarnya masih berharap ada keajaiban dalam hubungan kalian Betty."


Deg!


Apa?! Juna akan pulang? Itu berarti ia akan datang bersama Beauty istrinya?


Betty meremas pelan piyama tidur yang ia kenakan. Sungguh ia belum siap untuk bertemu dan melihat kembali kemesraan mereka di depan matanya.


...* * *...


Sampai di dalam, Juna di sambut oleh beberapa asisten rumah tangga yang sudah mengabdi lama di keluarganya.


"Den Juna, den Juna sudah pulang?" tanya salah salah satu wanita paruh baya yang lari tergopoh-gopoh kearah Juna.


Wanita paruh baya itu merupakan salah satu asisten kepercayaan keluarga Narendra.


"Bi, mami kemana bi?" tanya Juna dengan nafas terengah-engah.


"Nyonya sedang istirahat di kamarnya Den. Kalau bapak sedang ada rapat di kantornya," tutur wanita paruh baya itu.


"Oke, makasih bi."


"Sama-sama den."


Wanita paruh baya itu masih berdiam menatap kepergian majikan mudanya, dalam hati sebenarnya ia ingin bertanya sesuatu namun ia urungkan.

__ADS_1


Karena rasanya tidak sopan, seorang pembantu sepertinya ikut campur urusan majikan dimana tempat ia bekerja


Sampainya di depan pintu kamar sang mama, tanpa permisi Juna langsung membuka pintu kokoh yang terbuat dari kayu jati itu.


"Mami!!" pekik Juna tertahan.


Wanita yang terbaring lemah itu segera membuka kelopak matanya yang sempat tertutup. Begitu kelopak matanya terbuka, senyum merekah menghiasi wajah cantiknya yang terlihat nampak pucat.


"Mami, mami sakit apa?" tanya Juna seraya menggenggam lembut tangan sang mama dan menempelkan pada sebagian wajahnya.


Sebelum menjawab mami Lola tersenyum tulus, ada rasa rindu yang membuncah dalam hatinya kepada putra satu-satunya yang ia miliki itu.


Rasa sakit akan pembakangan yang putranya lakukan hampir sebulan lalu, ia coba tepiskan.


Kedatangan Juna sudah cukup membuktikan, bahwa Juna masih memperdulikan keluarganya terutama dirinya.


"Junaa, kamu pulang nak?" ucap mami Lola dengan lemah.


Lengannya yang tengah tertancap selang infus tampak bergerak untuk meraih wajah sang putra dan membelainya.


"Mi, Jangan bikin Juna khawatir mi. Maafin Juna, kalau udah bikin mami sakit seperti ini," sesal Juna dalam.


Wajahnya yang tampan nampak terduduk karena cairan bening itu telah lolos begitu saja dari kedua sudut matanya. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang sudah ia anggap sebagai malaikat tanpa sayapnya di dunia.


Mami Lola hanya tersenyum lemah. Memang benar adanya, sakit yang ia derita saat ini karena di akibatkan oleh putranya sendiri yaitu Juna.


Setelah kepergian Juna dan menggagalkan semua rencana pernikahan yang sudah ia susun sebaik mungkin. Membuat rasa nyeri dan sesak menghimpit rongga dada hingga berhasil membuatnya pingsan.


Setelah di periksa oleh dokter, ternyata mami Lola dinyatakan mengalami serangan jantung stadium 2. Kini wanita paruh baya itu hanya bisa terbaring lemah di kediamannnya lebih tepatnya di kamar. Karena ia tidak ingin dirawat, mami Lola memilih menjalani rawat jalan di rumah saja.


"Junaa, mami tidak pernah mengajarkanmu untuk jadi lelaki pengecut dan menghindar dari sebuah masalah. Kepergianmu dari rumah ini sangat menorehkan luka mendalam bukan hanya bagi mami, akan tetapi bagi keluarga Lova juga. Mereka jauh lebih tersakiti daripada mami. Temuilah mereka dan memintalah maaf, terutama kepada Lova. Lova adalah gadis yang baik, mami kasihan kepadanya," ungkap Mami Lola penuh cucuran air mata.


Juna menggenggam tangannya kuat-kuat. Memang tindakannya tergolong sangat pengecut. Menghindar dari masalah yang sudah ia buat.


Tapi mau bagaimana lagi, bagi Juna saat ini cinta itu memang harus di perjuangkan. Ia hanya tak ingin, terjebak dalam sebuah ikatan tanpa cinta yang menyedihkan.


"Baik mi, Juna akan meminta maaf kepada keluarga Betty nanti."

__ADS_1


Bertepatan dengan itu, pintu kamar mami Lola terbuka secara perlahan menampilkan seorang dengan senyum yang ia kembangkan secara terpaksa.


Cuma mau ngingetin readers ini kan hari senin ya, hehe. Ya kalian tahulah maksud othor apa..🤭🤭


__ADS_2