
“Ditto! Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Beauty ingin tahu banyak.
“Maaf nyonya, saat saya baru datang ke mansion tuan Juna. Keadaan nyonya sudah tidak sadarkan diri terjatuh dari ranjangnya di temani bi Tum,” tutur Ditto jujur.
Beauty pun mengerti, wanita itu juga tidak bisa menyalahkan Ditto begitu saja. Bukan tipe Beauty jika menyalahkan orang tanpa sebab yang pasti.
Keadaan mami Lola masih dalam pemantauan dokter, dan Juna sedang berbicara dengan dokter mengenai kondisi maminya terkini.
“Bagaimana keadaan mami saya dokter?” tanya Juna.
“Maaf pak Juna, keadaan ibu anda saat ini sedang kritis. Ini karena efek samping dari penggunaan obat yang dosisnya tinggi dari yang seharusnya di konsumsi. Saya menemukan indikasi berbahaya dalam pil yang di konsumsi nyonya Lola. Kemungkinan pil itu mengandung bahan tertentu yang bisa membuat ibu anda merasa halusinasi terus menerus.”
“Tidak mungkin dok! Obat itu sudah berdasarkan resep dokter. Dan dosisnya pun sudah sesuai takaran tidak lebih. Tidak mungkin mami overdosis obatnya sendiri. Kecuali...”
“Kecuali apa pak Juna?”
“Ah..tidak dok, saya harus temui istri saya dulu. Saya minta tolong bawa obat mami saya itu ke ruang laboraturium dok untuk di teliti lebih lanjut. Saya ingin tahu penyebabnya lebih detail,” pinta Juna.
“Baik pak Juna, saya akan melakukan seperti apa yang anda pinta. Kalau begitu saya permisi.”
“Terima kasih dokter.”
Setelah melihat dokter yang baru saja keluar kamar rawat mami Lola, Beauty memilih masuk menemui Juna di ikuti Ditto di belakangnya.
“Apa yang terjadi Juna?” tanya Beauty pelan.
Bukannya segera menjawab, Juna malah menitah Ditto untuk mencari keberadaan Sri perawat pribadi mami Lola, membuat Beauty semakin dibuat penasaran.
“Ditto! Segera kamu temukan dimana Sri kini berada! Dan bawa gadis itu kesini tanpa melukainya, kamu paham?" tegas Juna.
“Baik tuan, permisi tuan nyonya.”
Pemuda berkacamata itu langsung berbalik arah dan menhubungi anak buahnya yang lain.
__ADS_1
“Apa yang terjadi Juna? Jangan buat aku semakin penasaran. Apa yang di katakan oleh dokter barusan?" desak Beauty lagi.
“Maafkan aku sayank, tadi kata dokter mami mengalami overdosis obat. Selama ini kan kamu tahu sendiri, obat yang di konsumsi mami sudah berdasarkan resep dokter. Aku curiga Sri melakukan sesuatu dengan mami sayank. Ditambah Sri sekarang menghilang,” ucap Juna mengungkap keresahan hatinya.
Apa?! Jadi benar, aku harus segera menghubungi Beny. Barangkali Beny sudah menemukan keberadaan Sri sekarang.
“Jika Sri pelakunya, atas dasar motif apa Sri menyelakai mami Juna?”
“Aku juga tidak tahu sayank.”
“ Kamu yang sabar ya, aku ingin keluar sebentar.”pamit Beauty.
Beauty pun keluar kamar rawat mami Lola setelah Juna memberinya ijin. Tepat di depan pintu kamar, Beauty yang berniat ingin menghubungi Beny pun tertunda karena ada sebuah pesan singkat yang berhasil mengalihkan atensinya.
Lalu di bukanya pesan singkat itu yang menampilkan sebuah foto yang agak buram. Lalu selanjutnya ada sebuah video yang membuat rasa penasarannya semakin membuncah.
Dengan segenap keberanian, Beauty mulai membuka video itu dan sedetik kemudian lututnya terasa lunak bagaikan jeli. Ia pun terduduk tak berdaya di lantai.
Air mata tak mampu Beauty bendung. Entah apa yang harus ia lakukan. Menurut si pengirim foto atau melaporkannya kepada suaminya Juna. Namun disini juga mami Lola butuh dukungan suaminya, selaku anak. Sedangkan papi Tulus masih terjebak macet dalam perjalanan.
Demi keselamatan orang tercintanya, Beauty memilih mengikuti apa yang di minta si pengirim foto. Dan meminta alamat dimana ayahnya di sekap.
Ting!
Tak lama nomor tersebut memberi sebuah alamat yang nampak asing di ingatannya. Lalu Beauty pun segera bergegas bermodal pistol yang Beny berikan kepadanya.
Beauty pun memilih menaiki taksi daring menuruti apa yang si pengirim foto minta. Si pengirim foto itu meminta Beauty untuk datang sendiri dengan membawa sejumlah uang seperti yang mereka minta untuk menukarnya dengan sang ayah.
Tidak ada pilihan lain, Beauty harus melakukannya. Karena jika tidak, nyawa sang ayah yang merupakan keluarga satu-satunya yang ia miliki bakal menjadi taruhannya. Itu tidak akan pernah Beauty biarkan terjadi.
Sebelum ke lokasi yang di minta, Beauty lebih dulu mampir ke mansion untuk mengambil sejumlah uang.
Setelah semuanya siap, Beauty segera kembali ke taksi daring yang masih menunggu di luar pagar mansion.
__ADS_1
“Pak jalan sekarang!”
“Baik, neng.”
Kebetulan mansion sedang dalam keadaan sepi, hanya ada satpam yang mengontrol sekeliling dan bi Tum yang baru saja pergi menyusul suaminya di rumah sakit dengan mang Asep.
Sepanjang perjalanan Beauty dilanda gelisah, apakah langkahnya kali ini sudah benar? Datang ke sarang musuh seorang diri tanpa pengawalan. Tapi memang itu lah yang diminta si penculik ayah Heru. Beauty harus mengambil resiko, setidaknya ia membawa senjata pemberian Beny untuk berjaga-jaga.
Taksi daring pun sudah berhenti menandakan sudah sampai tujuan. Beauty pun menatap sekeliling. Tempat itu memang tampak asing di matanya.
“Neng yakin disini tempatnya? Ini seperti gudang yang sudah tak terpakai,” seru sang sopir membuyarkan lamunan Beauty.
“Saya yakin pak, ya sudah saya turun di sini saja.”
Beauty pun akhirnya turun sambil menenteng tas yang berisi sejumlah uang yang di minta si pengirim foto. Mobil taksi pun sudah menjauh, meninggalkannya seorang diri di tempat yang benar-benar terasa asing.
Sepanjang perjalanan janin dalam kandungan Beauty terus menendang, seperti tengah merasakan kegugupan yang ibunya alami.
“Kamu yang tenang ya sayang, semuanya bakal baik-baik saja kok,” hibur Beauty sambil memberikan sentuhan lembut pada perutnya yang sudah membuncit.
Tepat di tempat yang sepertinya terletak di pesisir pantai. Suara ombak pun dari kejauhan pun mampu Beauty dengar.
Bau air laut dan juga bau anyir dari bangkai bercampur jadi satu. Lalat berkerumun di mana-mana menandakan begitu banyaknya bangkai ikan mati yang berceceran.
Sepertinya ini memang bekas gudang ikan nelayan yang sudah tidak terpakai. Nampak dari bangunannya yang sudah rusak sebagian.
Beauty pun menelusuri tempat itu dengan berjingkak-jingkak. Sebelah tangannya mencoba menghubungi nomer si pengirim foto tapi di alihkan. Panggilan dari Juna dan anak buahnya Beny pun, Beauty pilih abaikan demi keselamatan sang ayah.
Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi kedatangannya dari gudang bekas itu.
“Ternyata nyalimu besar juga berani datang seorang diri ke sini Beauty,” sapa seorang wanita yang menggunakan topeng di wajahnya.
“Siapa kamu?!”
__ADS_1