Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Pergi untuk Kembali


__ADS_3

'Juna, mamimu sakit. Cepatlah pulang, kami menunggu kedatanganmu.


Juna nampak membaca kembali pesan singkat yang di kirim sang ayah. Wajah pemuda tampan itu terlihat nampak bingung, dan beberapa kali terlihat menyugar rambutnya untuk menghalau kegelisahan yang melanda.


Matahari sudah menyingsing ke permukaan. Terdengar suara burung berkicau dan suara ayam berkokok menandakan pagi sudah tiba.


Setelah membersihkan diri, kini Juna nampak terduduk di meja makan seraya terus mengamati gawai cerdasnya di atas meja.


"Ponselmu tidak akan memberimu rasa kenyang Juna, cepatlah sarapan sebelum dingin," tegur sang Beauty seraya meletakkan segelas air putih di samping suami kecilnya.


Juna yang mendapat teguran langsung dari sang istri hanya nyengir kuda saja. Sedangkan Beauty hanya menggeleng pelan.


Pagi ini mereka hanya sarapan berdua saja tanpa ayah Heru, karena beliau sedang ada urusan dengan saudara.


Disaat keduanya tengah asyik menyantap nasi goreng buatan Beauty, Juna memberanikan diri berucap di sela-sela makan mereka.


"Bee, a..aku akan mengunjungi mansion, mami sakit," ucap Juna lirih.


Deg!


Seketika gerakan menyuapkan nasi ke dalam mulut Beauty berhenti. Lalu dengan tenang, ia meletakkan kembali sendok yang baru saja mengambang di udara.


Jantung Beauty berdetak cepat mendengar penuturan sang suami. Apakah ini artinya Juna akan membawanya bersama ke mansion orang tua pemuda itu? Beauty merasa kalut, ia belum siap untuk mendapatkan penolakan lagi untuk yang kedua kalinya dari orang tua Juna.


"Tapi...tapi aku belum siap Juna."


Menyadari ketidak siapan sang istri, Juna buru-buru memotongnya.


"Kamu tidak perlu ikut, aku tidak akan pergi lama kok," sahut Juna seraya mengusap lembut puncak kepala sang istri.


Mendengar jawaban sang suami membuat hati Beauty merasa lega. Bagaimana pun sebagai anak, tidak boleh melupakan baktinya kepada orang tua meski sudah menikah.


Dan Beauty juga sadar, ia tidak mungkin melarang Juna. Karena ia tak ingin memutus ikatan yang sudah terjalin sebelumnya diantara mereka.

__ADS_1


"Memangnya nyonya Lola sakit apa?" tanya Beauty ingin tahu.


Namun buru-buru Juna menempelkan jari telunjuknya kearah bibir Beauty dan mengusapnya lembut.


"Ssstt! Panggil mami, mami Lola juga mama kamu sekarang Bee. Aku tidak tahu mami sakit apa, makanya sekarang aku ingin kesana untuk melihat keadaan mami," ungkap Juna.


Beauty mengerti, memang semenjak kejadian pembakangan yang dilakukan Juna beberapa minggu lalu. Baik Juna maupun Beauty tak mendengar lagi kabar dari sang mertua.


"Memang kapan kamu akan pergi Juna?" Beauty memandang lekat-lekat sang suami. Seolah ada rasa ketidak relaan untuk melepas kepergian Juna yang bersemayam dalam hati wanita berlesung pipi itu.


"Sebentar lagi, kalau kesiangan mini bus dari sini ke kota sudah jarang."


...💐 💐...


Tepat pukul 10 pagi Juna sudah bersiap untuk mudik ke mansion keluarganya yang berada di kota. Tak banyak yang pemuda itu bawa, hanya gawai cerdas miliknya dan dompet yang berisikan beberapa kartu penting saja serta uang yang ia simpan di backpack kecil miliknya.


"Bee, kamu jangan cemas. Hatiku hanya untukmu dan akan selalu untukmu. Ingat jaga baby kita baik-baik ya," ucap Juna ngelantur.


Beauty hanya memukul ringan bahu sang suami. Hatinya bergetar saat Juna mengatakan bayi kepadanya. Entah dirinya sendiri tidak yakin, apakah benih Juna sudah berkembang di dalam rahimnya atau belum.


Juna hanya mengulas senyum lembut. Mungkin ucapannya terdengar cukup sensitif di telinga sang istri, mengingat Beauty selalu mendapat julukan 'wanita mandul' di pernikahan sebelumnya. Karena tidak bisa memberikan seorang keturunan.


"Bee, percayalah. Aku pergi hanya untuk kembali. Aku akan berusaha membujuk mami dan papi untuk menerima kehadiranmu. Doakan, semoga misiku ini berhasil."


"Apapun itu aku akan selalu mendukungmu Juna sebagai istri, tolong titipkan salamku untuk nyonya eh.. Salah mami sama papimu ," ralat Beauty.


Juna hanya terkekeh, istrinya selalu saja typo jika di minta untuk melakukan apa yang tidak biasa wanita itu lakukan.


"Sun dulu dong, mumpung nggak ada ayah," pinta Juna manja.


"Ma...maksudnya_"


Cup!

__ADS_1


Mata Beauty melotot sempurna dan merasa tegang saat mendapat serangan mendadak dari Juna. Namun sedetik kemudian, tubuhnya mulai rileks dan menikmati apa yang sudah suaminya berikan.


Dengan reflek Beauty mengalung kedua tangannya di bahu Juna, membiarkan pemuda itu mengekplor lebih dalam pagutan mereka.


Entah rasanya hati Beauty tidak rela melepas kepergian suami kecilnya Juna. Namun bagaimana lagi, sebagai istri ia tak ingin membuat suaminya durhaka kepada kedua orang tua terutama kepada ibunya.


Jalan perkampungan tampak berdebu karena beberapa dari ruas jalan itu belum tersentuh oleh aspal.


Beauty mengantar Juna sampai ke tempat mangkal mini bus yang biasa membawa penumpang menuju ke kota.


"Juna hati-hati ya di jalan," ucap Beauty saat mereka akan berpisah.


"Iya, kamu juga hati-hati. Jaga baik-baik baby kita ya Bee," balas Juna dari dalam mini bus itu.


Blussh!


Beauty menjadi salah tingkah sendiri karena ucapan Juna sukses membuat beberapa penumpang didalam menoleh kearahnya.


"Junaaa!"


Sedangkan pemuda itu hanya nyengir kuda seperti biasanya. Dalam hati pemuda itu berharap, semoga ucapannya menjadi doa yang di ijabah oleh Tuhan. Entah Juna selalu yakin, jika sebenarnya selama ini istrinya Beauty itu tidak benar-benar mandul.


"Aku berangkat dulu ya, bye. Saranghae yo!" ucap Juna konyol.


Beauty hanya bisa menutup mulutnya, akan sikap konyol Juna. Dan membalas ucapan pemuda itu dengan tanda hati yang ia peragakan dengan 2 jarinya.


Entah tiba-tiba perasaan Beauty menjadi gelisah, rasanya ia begitu berat melepaskan Juna. Namun ia sendiri sadar, Juna bukan miliknya seutuhnya namun milik mami Lola dan papi Tulus selaku pemilik sah sang suami.


Matahari semakin terik, menandakan hari sudah semakin siang. Beauty memutuskan segera pulang sebelum pak Heru kebingungan mencari keberadaannya.


Sebelum melangkah Beauty teringat kembali perkataan sang suami. Dalam hatinya, ia juga mengamini ucapan Juna yang terdengar tampak konyol.


Dibelainya perut rata miliknya dengan penuh kasih. Seolah apa yang Juna katakan itu benar adanya.

__ADS_1


"Semoga kamu benar-benar ada disana sayang."


Mohon dukungannya ya reeaders biar othor bisa up terus, soalnya othor sedang dilanda mager..🤭


__ADS_2