Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Perjuangan Amir


__ADS_3

“Amir!” gumam Betty lirih.


Betty pun menatap panik kearah pemuda manis berkulit sawo matang itu. Gadis berambut shaggy itu takut jika sesuatu terjadi terhadap Amir. Karena pada dasarnya sebenarnya Amir itu adalah orang yang baik.


“Pemuda misterius itu?” lirih Juna.


Jadi pemuda misterius itu adalah ayah dari bayi yang Betty kandung? Pantas saja! Lalu Bagaimana pemuda itu bisa ada disini? Padahal Ditto sudah mencarinya kemana-kemana, ternyata dia malah datang sendiri..


Batin Juna terus bertanya-tanya. Lalu Juna pun melempar pandangannya kearah anak buahnya Ditto, seolah tahu apa arti pandangan dari bosnya. Ditto pun mengedikan bahu seraya menggeleng pelan.


Juna semakin merasa aneh, bagaimana mungkin bisa seorang Amir masuk di kediamannya yang di jaga sangat ketat oleh beberapa bodyguard?


Dari seberang Beauty nampak bercakap-cakap dengan Cleo.


“Apa sekarang Beny bekerja kepadamu Bee?” tanya Cleo yang melihat Beny berjaga di pintu masuk dengan beberapa anak buahnya.


“Iya mas, kok mas Cleo bisa tahu?”


“Kami sempat bertemu di depan tadi, apa semua ini sudah kamu rencanakan?” tanya Cleo lagi.


“Iya mas, aku hanya ingin membantu Juna karena anak buah Juna kurang gesit dalam bertindak.”


“Beny memang tidak pernah mengecewakan jika bekerja, aku juga ingin memakai jasanya kembali nanti tapi berhubung kamu bosnya. Aku meminta ijin padamu Be,” gurau Cleo.


“Tidak apa-apa, kamu juga mantan bosnya bukan?”

__ADS_1


“Kita melihat saja semuanya dari sini, aku takut kamu kena amuk ayah Betty yang sepertinya temperamen,” usul Cleo.


Beauty pun membenarkan ucapan Cleo, ayah Betty memang terlihat mudah temperamen.


Keduanya pun menatap kembali kearah pelaminan yang masih dalam suasana tegang.


“Jadi ini laki-laki itu? Brengs*k kamu ya!” teriak om Pram seraya mengacungkan telapak tangannya kearah Amir. Namun Betty segera menghalangi langkah kaki ayahnya hingga tubuhnya terseret oleh langkah om Pram.


“Tidak! Jangan ayah, ini semua bukan salah Amir tapi Betty sendiri?!”


Meski tidak mencintai Amir, namun dalam hati Betty takut jika ayahnya sampai khilaf dan bisa berbuat hal yang bisa membunuh ayah dari calon anaknya.


“Jadi kamu membela badj*ngan ini Betty?! Dasar kamu memang anak yang memalukan keluarga Handoyo!” Om Pram kembali mengayunkan telapak tangannya untuk menampar Betty kembali.


Betty pun memejamkan kedua matanya. Rasa sakit akibat tamparan sebelumnya saja belum kunjung menghilang, kini ia akan di tampar kembali oleh sang ayahnya.


Plaaaakk!


Tamparan itu memang mengenai permukaan tubuh seseorang, terdengar nyaring di telinga siapapun yang mendengarnya. Namun kali ini bukan wajah Betty, melainkan seorang pria yang menjadikan tubuhnya tameng untuk melindungi Betty.


Betty pun membuka matanya, alangkah terkejut saat di hadapannya ada Amir yang tertunduk karena terkena tamparan ayahnya. Dari sudut pria itu mengalir darah segar. Sudah di pastikan tamparan ayahnya saat ini lebih kuat daripada sebelumnya.


“Amir, kenapa?” lirih Betty seraya menangis.


“Aku tidak akan membiarkan ibu dari calon anakku di sakiti Bett, bagaimana pun aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan. Meski aku harus mati sekalipun,” ucap Amir seraya menyeka darah yang keluar akibat sudut bibirnya yang robek.

__ADS_1


Betty pun semakin menangis haru. Bagaimana mungkin orang yang ia ingin hindari. Orang yang ia sia-siakan ketulusannya, kini malah memasang dada untuk melindunginya. Betty selama ini terlalu pic*k dan di butakan oleh cintanya kepada Juna yang sebenarnya hanyalah obsesi belaka.


“Kamu!!”


Om Pram pun bersiap akan memukul wajah Amir kembali, namun Juna bergegas meminta body guardnya Jono dan Jeki untuk segera bertindak mencekal tangan calon mertuanya yang gagal itu.


“Om! Sabar om! Jangan melakukan Kekerasan disini apalagi terhadap ibu hamil. Om Pram bisa kena pasal penganiayaan dan masuk penjara!” peringat Juna yang seketika membuat Om Pram sadar.


“Om minta maaf padamu Juna, tapi om ingin menghabisi laki-laki bejat ini saat ini juga!”


“Om, bagaimana pun dia ayah dari calon cucu om. Bagaimana nanti kalau cucu om terlahir tanpa ayah. Apa om tega?” Juna masih berusaha menyadarkan om pram.


Om Pram seketika terdiam. Hati Nuraninya kini mulai bekerja. Setelah cukup agak tenang, Jono dan Jeki pun melepaskan cekalannya dari lengan pria paruh baya itu sesuai arahan Juna.


“Om malu sekali Juna! Om sangat malu. Apalagi kini semua publik tahu kebenarannya. Mau di taruh di mana muka om ini?” isak om Pram.


“Sabar om, saran Juna semua ini sudah terlanjur. Lebih baik om biarkan pemuda ini mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada anak om.”


“Aku tak sudi punya menantu yang tidak jelas asal usulnya!” geram om Pram lagi.


Amir pun meringsek maju bersimpuh dihadapan om Pram. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh kaki pria paruh baya itu dan menciumnya sebagai bentuk meminta restu secara tidak langsung yang kebanyakan orang Tamil lakukan di negaranya.


“Om, izinkan saya mempertanggung jawabkan perbuatan saya. Saya akan membawa Betty ke negara asal saya di India. Kami akan tinggal di Mumbai, saya akan menikahi Betty om. Tolong beri kami restu,” ucap Amir sambil terisak.


Apakah om Pram akan memberi restu hubungan Amir dengan Betty reader?

__ADS_1


Next..dukung otor terus ya..,🤗😘😘


__ADS_2