
“Siang nyonya Beauty, terima kasih sudah berkenan datang kemari silahkan duduk nyonya,” sambut Beny seraya mempersilahkan Beauty duduk di sofa Bean Bag berwarna biru lengkap bantal kecilnya.
“Ini baru Ben?” seloroh Beauty sambil mencermati sofa yang terlihat masih baru karena kakinya masih berbalut plastik.
“Eh..iya nyonya,” balas Beny kikuk sambil mengusap tengkuknya.
Beny sengaja membeli sebuah sofa bean bag baru untuk memberi kenyaman Beauty, mengingat bos wanitanya itu kini dalam keadaan tengah mengandung.
Beauty pun menatap sekeliling, sepertinya markas anak buahnya Beny dan anggota yang lain nampak terlihat berbeda dan lebih rapi. Di beberapa sudut ruangan itu, ada beberapa bunga yang menghiasi setiap sudut ruangan itu.
“Langsung saja ya Ben, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya Beauty to the point.
Sebelum menjawab tanya Beauty, Beny terlebih dulu mengintruksikan ke anak buahnya yang lain untuk menyediakan minuman.
“Sebelumnya saya minta maaf, karena panggilan saya nyonya hampir saja mendapat bahaya dalam perjalanan menuju kemari,” sesal Beny.
“Tidak apa Ben, untung ada Bimo yang melindungiku,” balas Beauty sambil melempar kalimat pujian kepada Bimo yang berdiri di samping Beny.
Dan Bimo pun membalas kalimat pujian itu, dengan membungkukkan setengah badannya kepada Beauty. Bimo termasuk kaki kanan Beny selaku pemimpin organisasi itu.
“Begini nyonya, beberapa waktu lalu tuan Cleo sempat mengabari saya. Bahwa tuan pernah melihat sekelibat bayangan yang mencurigakan. Lalu tuan Cleo menghubungi saya, untuk meminta saya menyelidiki orang itu.”
“Lalu?” potong Beauty.
“Dan berdasarkan hasil penelusuran anak buah saya, ini ada hubungannya dengan perawat panti jompo yang baru saja bekerja di rumah nyonya,” tutur Beny gamblang.
“Apa kamu yakin Ben? Karena sebenarnya, aku juga merasakan hal aneh pada Sri selama ini. Dan lebih anehnya tadi sebelum aku kemari, Sri menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan Ben. Lalu sebenarnya siapa Sri? Karena aku juga tidak bisa memecat pekerja rumahku tanpa sebab, pasti Juna dan papi Tulus akan banyak bertanya,” ungkap Beauty.
“Setelah anak buah saya selidiki, Sri memanglah dari yayasan yang nyonya minta. Namun ada yang aneh, Sri yang di foto biodatanya dengan Sri yang sebenarnya nampak ada perbedaan. Jika di foto Sri mempunyai tahi lalat sebelah kiri, sedangkan Sri yang bekerja pada nyonya mempunyai tahi lalat sebelah kanan.”
“Benarkah itu Ben? Jika itu benar, berarti Sri yang sekarang ada maksud lain bekerja di rumah Juna. Kenapa selama ini aku tak menyadarinya? Ya Tuhan!” rutuk Beauty seraya menepuk dahinya pelan.
“Semoga saja Ditto sudah datang tepat waktu, aku takut sesuatu terjadi saat aku tinggal sekarang Ben. Karena saat ini, mami Lola hanya seorang diri di mansion Jadi aku menghubungi anak buah suamiku saja yang sudah terbiasa datang ke mansion. Maaf ya Ben.”
“Tidak apa-apa nyonya, silahkan di minum dahulu minumannya nyonya. Maaf lemari es kami rusak, jadi hanya ada minuman jeruk hangat saja.”
__ADS_1
“Oh, terima kasih Beny dan semuanya,” ucap Beauty kepada seluruh anak buah Beny yang berbaris mengawal ruangan itu. Dan semua anggota yang berkumpul pun menunduk hormat kearah Beauty sebagai bos baru mereka.
Beauty pun langsung meneguk minuman jeruk hangat itu. Sepanjang di jalan tadi ia tak sempat minum karena panik. Apalagi ia sempat merasakan kram dan melilit pada perutnya.
Tiba-tiba gawai cerdas Beauty berdering, menandakan adanya panggilan masuk.
“Halo, iya Juna? Ada apa? Apa ?!” pekik Beauty tertahan.
“Ok, baiklah. Aku akan segera ke rumah sakit sekarang Juna.”
Tut!
“Ada apa nyonya, sepertinya ada hal penting yang baru saja terjadi?” tanya Beny ingin tahu.
“Kamu benar Ben, mami Lola kolaps dan sekarang sudah di larikan ke UGD. Aku harus segera menyusul ke rumah sakit, terima kasih jamuannya,” pamit Beauty sambil memasukan kembali gawai cerdas miliknya dalam pouch yang wanita itu bawa.
“Nyonya biarkan Bimo mengantar anda dan yang lain akan mengawal dari belakang untuk mengantisipasi jika sedan hitam itu kembali mengikuti nyonya Beauty,” usul Beny.
“Terima kasih, oiya ..ini ada sedikit untuk kalian. Belilah lemari pendingin untuk menemani waktu tugas maupun santai kalian,” ucap Beauty seraya menyerahkan sebuah amplop coklat.
“Ya sudah, aku pergi dulu!” pamit Beauty. Semua anak buah Beny pun menunduk kearah wanita hamil itu diikuti Beny dan Bimo yang akan mengantar sampai tujuan.
“Maaf nyonya, saya tidak bisa langsung mengantar anda. Karena ada suatu hal penting yang harus saya pastikan terlebih dahulu.”
“Tidak apa Ben, lakukan pekerjaanmu dengan baik dan segera kabari aku.”
“Baik nyonya!” Beny pun menunduk hormat kepada Beauty.
Tak lama mobil Bimo pun melaju keluar dari markas di ikuti beberapa pengendara motor dari belakang.
“Bim, kita langsung ke rumah sakit saja! Suamiku sudah menunggu.” titah Beauty kepada Bimo.
“Baik nyonya.”
Mobil alphard itu pun melaju dengan gesit agar segera sampai pada tempat tujuan. Dan benar, tak lama mobil Bimo sudah terparkir rapi di halaman rumah sakit. Sedangkan anggota lain yang mengendarai motor menunggu di luar sekalian memantau sekitar rumah sakit itu.
__ADS_1
Sampai di depan pintu, Beauty berpapasan dengan Ditto dan beberapa anggotanya yang sepertinya sedang berjaga-jaga.
“Nyonya, tuan Juna sudah menunggu anda,” sambut Ditto.
Beauty pun membalasnya dengan anggukan.
“Junaa! Apa yang terjadi?” tanya Beauty sambil berjalan menuju Juna yang sedang duduk di kursi tunggu. Sedangkan mami Lola sedang dalam pemeriksaan dokter.
Juna pun langsung memeluk tubuh berisi Beauty dan menghujani sang istri dengan kecupan-kecupan singkat.
“Mami kolaps sayang, tadi Ditto mengabariku. Ditto bilang tadi kamu meminta bantuan Ditto untuk menjaga mansion? Memang apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Juna beruntun seraya mengurai pelukannya dari sang istri.
“Dan papi sedang dalam perjalanan kemari,” imbuh Juna.
“Maafkan aku Juna, sebenarnya aku tadi hanya merasa khawatir jika meninggalkan mami sendirian di mansion. Jadi aku meminta bantuan Ditto saja ,” tutur Beauty.
“Memangnya kamu habis dari mana sayang?”
“Oh..aku, aku sedang mengunjungi club ibu hamil tadi.”
Maafkan kebohonganku sayang, batin Beauty.
Beauty terpaksa tidak jujur kepada Juna, karena sudah di pastikan suaminya itu pasti cemburu dan melarangnya keluar mansion, jika sampai tahu istrinya baru saja berkumpul dengan para pria bertubuh kekar.
Ya semenjak kehamilan Beauty, Juna nampak lebih posesif dari biasanya. Bahkan suaminya itu melarang Beauty menonton drama favorit sang istri, yang berisikan para aktor tampan.
“Lalu dimana Sri Juna?” tanya Beauty mengalihkan.
“Aku juga tidak tahu sayang, kata bi Tum tadi Sri ijin keluar mansion sebentar karena ibunya sakit,” tutur Juna mengatakan seperti apa yang bi Tum katakan kepadanya.
“Apa? Sri itu yatim piatu Juna. Sri sendiri yang mengatakan padaku,” tukas Beauty yang merasa terkejut.
“Jadi? Menurutmu apa Sri sudah berbohong kepada kita yank?” tanya balik Juna.
“Bisa jadi Juna, tapi kita harus memastikannya semua terlebih dahulu.”
__ADS_1
Apa kepergian Sri ada hubungannya dengan kolaps mami Lola? Jika itu benar, berarti Sri adalah orang yang sangat berbahaya! batin Beauty.