Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
Morning Sickness


__ADS_3

Hari sudah berganti hari. Dan pagi pun datang menjemput mentari. Nampak 2 sosok anak manusia masih betah bergumul dalam selimut.


Udara pagi hari yang begitu dingin menusuk tulang seakan enggan membuat pasangan suami istri itu beranjak dari tempat peristirahatannya. Mereka masih bertahan dengan posisi mereka sedari semalam, saling berpelukan seakan tak ingin melepaskan.


Alarm pun berbunyi. Dengan malas Juna mengulurkan salah satu tangannya untuk mematikan alarm itu. Alarm pun mati, dan pemuda itu pun lanjut tidur kembali.


Tidak ada yang mereka kerjakan semalaman, karena masing-masing tengah merasakan lelah fisik, hati dan fikiran. Terutama Juna yang semakin tertekan dan bingung ingin menyampaikan perihal pernikahannya bersama Betty kepada istrinya bagaimana.


Namun urung pemuda itu lakukan, karena tak kuasa dengan kondisi psikisnya Beauty saat ini yang sedang dalam keadaan hamil muda.


Juna masih betah tidur dalam pelukan sang istri, menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher jenjang Beauty. Dan menghirup dalam-dalam aroma bayi bercampur vanila, yang menguar dari tubuh sang istri.


Rasanya begitu damai, tidur di tempat yang nyaman bersama orang terkasih. Seakan melupakan, bahwa waktu itu terus beranjak.


Berbeda dengan Beauty, wanita berlesung pipi itu mencoba mengeliatkan tubuhnya. Meregangkan otot-otot yang terasa kebas karena akibat pelukan kuat dari Juna.


Bulu mata lentiknya mengerjap-ngerjap secara perlahan, mencoba memahami keadaan sekitarnya. Senyum mengembang dari kedua sudut bibirnya, saat mendapati sebuah lengan kekar dan kokoh melingkar di area pinggulnya yang masih ramping.


Tiba-tiba rasa mual menghampiri, memaksa wanita berlesung pipi itu untuk beranjak meninggalkan pelukan ternyaman yang pernah ia rasakan. Dan melepaskan rengkuhan tangan Juna dari tubuhnya secara perlahan.


Hueeek! Huueekk!


Tak ada cairan kuning yang biasanya keluar jika seseorang merasakan mual dan ingin muntah. Hanya cairan bening yang terasa pahit di pangkal tenggorokan. Namun rasa mual itu terus saja memaksa untuk keluar.


Sampai Beauty pun terbatuk-batuk. Air matanya leleh begitu saja. Namun bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia yang kini tengah ia rasakan.


Bahagia karena ia akhirnya bisa merasakan moment spesial untuk menjadi seorang wanita seutuhnya.


Bertahun-tahun menunggu, bertahun-tahun selalu menyandang predikat mand*l, dan bertahun-tahun menebalkan telingan dari cacian serta hinaan orang-orang yang berada di dekatnya. Semua perasan yang pernah ia lalui, sempat membuatnya trauma untuk menjalani bahtera rumah tangga untuk yang kedua kalinya.


Bahkan Beauty sudah berkeinginan untuk mengadopsi seorang anak, jika nanti di pernikahan keduanya bersama Juna tak membuahkan keturunan.


Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Tuhan masih menyayangi serta mengasihinya sebagai seorang wanita.


Bisa mengandung dan melahirkan seorang anak adalah impian serta harapan besar bagi seluruh wanita yang ada di dunia setelah mereka menikah. Karena anak adalah anugerah tak terhingga dari sang pencipta. Sebagai fungsi perekat hubungan antara suami dan juga istri pula.


Penyinar dalam kegelapan bagi seorang hamba yang begitu mendamba kehadirannya seperti halnya Beauty saat ini.

__ADS_1


Beauty menyeka sisa cairan yang keluar dari rongga mulutnya. Di pandanginya wajahnya dalam pantulan cermin, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin agar rasa kantuk yang masih ia rasakan segera lenyap.


Hari pun semakin terang, Beauty bingung ingin berbuat apa. Suaminya Juna masih betah terlelap dalam tidurnya, lalu ia putuskan untuk keluar kamar dan menuju dapur.


“Eh...non Beauty, sudah bangun non. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya bi Tum pembantu senior di keluarga Narendra.


“Bibi sedang masak apa?” tanya Beauty mulai mendekat.


“Ini bibi mau masak bubur buat nyonya non, kesehatan nyonya kan belum stabil. Jadi belum mau makan yang keras-keras. Ya sudah bibi buatkan bubur ayam saja,” celoteh bi Tum.


“Begitu? Apa boleh saya bantu bi?” tawar Beauty.


“Oh..boleh saja non, itu tinggal masukan bumbunya aja non,” sahut bi Tum mempersilahlan.


Bi Tum memperhatikan penampilan Beauty dari atas hingga ke bawah dan berujung membuat wanita paruh baya itu merasa takjub.


Beauty memang secantik namanya, memiliki paras yang ayu meski sederhana dalam berpenampilan. Orangnya ramah, tidak angkuh, mempunyai attitide bagus bahkan mau memasak. Itu lah kira-kira gambaran penilaian dari bibi Tum.


Pantas saja tuan mudanya Juna seperti terg*la-gila kepada wanita cantik nan sederhana yang berdiri di sampingnya saat ini.


...★★...


Acara masak memasak pun selesai. Beauty memutuskan untuk pergi mandi dan membangunkan suaminya Juna.


“Juna, bangun! Sudah pagi bukannya kamu akan ada rapat pagi?” tanya Beauty seraya membangunkan sang suami.


Seperti yang pemuda itu ucapkan malam harinya saat mereka masih terjaga..


“Morningkiss dulu dong yank,” pinta Juna manja dengan suara paraunya.


Cup!


Beauty pun segera mengecup singkat bibir suaminya. Jika tidak ia layani bakal ada drama ftv di pagi hari. Semenjak menikah, Juna memang terlihat manja kepadanya. Dan Beauty pun tidak keberatan jika Juna bersikap seperti itu asal hanya kepada dirinya saja.


“Makacih!” balas Juna dengan cengiran khas pemuda itu.


Selesai membersihkan diri, Juna pun langsung pergi menghampiri meja makan. Hanya ada papi Tulus dan juga Beauty yang sudah menunggu kedatangannya.

__ADS_1


“Bee, maaf hari ini aku harus meninggalkanmu sendirian. Jika nanti kamu merasa bosan, ajaklah bi Tum berkeliling dia senior di rumah ini,” ucap Juna di sela makannya.


“Benar, anggap saja di rumah sendiri ya nak jangan sungkan. Papi sama Juna harus mengurus masalah-masalah di kantor dulu,” sahut papi Tulus.


“Juna sama papi tenang saja, masih ada nyonya Lola di rumah dan juga pegawai yang bekerja disini. Aku tidak akan kesepian.”


“Baiklah, papi duluan ya,” pamit papi Tulus seraya menerima panggilan pada gawai cerdas miliknya.


“Baik pi.”


“Ya sudah kami berangkat dulu ya Bee, nanti sepulang kerja kita akan pergi ke dokter untuk memeriksa kandunganmu. Tapi ingat, jangan terlalu lelah seperti kemarin,” peringat Juna.


“Iya, aku mengerti. Hati-hati ya di jalan.”


Juna pun masuk ke dalam mobilnya di ikuti oleh papi Tulus yang baru saja selesai menerima sebuah panggilan dan duduk di samping kemudinya. Roda empat itu mulai melaju meninggalkan pelataran mansion keluarganya yang luas.


Sepanjang perjalanan nampak terasa hening. Tidak ada yang percakapan sama sekali antara bapak dan anak dalam satu wadah itu.


“Bagaimana? Apa kamu sudah mengatakannya kepada istrimu mengenai pernikahanmu bersama Lova nanti Juna?” tanya papi Tulus memecah kesunyian.


Juna nampak menggenggam erat kemudinya. Mood pemuda itu mendadak menjadi buruk jika itu sudah menyangkut masalah yang membuatnya menyesal seumur hidup.


“Belum pap, kondisi Beauty dalam keadaan kurang sehat. Apalagi sekarang dia sedang mengandung, Juna jadi tak tega kepadanya,” ungkap Juna jujur.


“Apa mengandung?” tanya papi Tulus terkejut.


“Iya pi.”


“Pantas saja aura wajahnya begitu pucat. Papi ucapkan selamat untukmu ya nak.”


“Terima kasih pi.”


“Papi tahu perasaanmu Juna, tapi bagaimana pun jujur itu lebih baik. Apalagi sekarang keluarga Handoyo sudah mulai go public mengenai masalah ini. Kita sudah tidak bisa mundur lagi, kalau sampai wartawan sampai mencium perbuatanmu kemarin. Bisa-bisa nama perusahaan kita jadi taruhannya."


“Juna akan mencobanya pi, tapi ada sesuatu hal yang harus Juna lakukan terlebih dahulu.”


“Papi serahkan kepadamu Juna, tapi sebenarnya papi juga kasihan kepada istrimu. Dia ternyata wanita yang baik. Kamu tidak salah memilih,” puji papi Tulus di balas anggukan oleh Juna.

__ADS_1


__ADS_2