
Setelah semuanya kumpul di meja makan, pak Heru terkejut mendapati wajah sang menantu yang memerah terlihat kontras dengan kulit pemuda itu yang memang lah memiliki kulut yang putih bersih.
"Juna, wajahmu terlihat memerah kenapa?" tanya pak Heru.
"Masa iya yah?" Juna tampak meraba-raba wajahnya sendiri.
Memanglah tubuh pemuda itu masih merasakan gelayar aneh usai streaming modul proses perkembang biakkan mamalia.
"Juna kepanasan yah, maklum dirumah maupun di apartemen Juna selalu pakai pendingin ruangan," terang Beauty.
"Begitu Juna?"
"Iya yah," balas Juna yang merasa kikuk oleh tatapan mertuanya.
"Ayah minta maaf, disini memang di kampung. Jarang ada yang pakai pendingin ruangan, karena harganya yang memang tidaklah murah. Apalagi kondisi listrik disini suka spaneng, jadi suka ngerusak barang elektronik," papar pak Heru kalem.
"Tidak apa-apa yah, tapi boleh Juna tahu apa itu spaneng ?" tanya Juna tampak malu-malu.
Kerap di perlakukan sebagai tuan muda, di keliling oleh harta serta kehidupannya yang terbilang sangat mewah dan serba berkecupan membuat Juna tak pernah merasakan kehidupan sebagai warga biasa.
"Spaneng itu tidak stabil. Jadi listrik disini itu suka jeprat jepret terus meterannya. Makanya yang punya elektronik disini itu mudah rusak. Contohnya tivi bapak itu," tunjuk pak Heru kearah sudut ruangan dimana tivi rusaknya berada.
"Oh."
Juna hanya bisa ber'Oh' ria mendengar penjelasan pak Heru yang panjang. Karena memang pemuda itu tidak mengerti apa-apa.
Bahkan kondisi saat ini saja ia baru merasakan. Tinggal di perkampungan nan sunyi jauh dari deru ramainya jalan raya.
"Ya sudah, ayo kita segera makan," titah pak Heru dengan suara beratnya.
Kedua anak serta anak menantunya pun serentak makan bersama.
"Oh..ya ayah, Beauty ingin tahu bagaimana ceritanya ayah bisa duduk di kursi roda ini dan bagaimana pula ayah bisa mengenal Juna?" tanya Beauty di sela-sela makannya.
Pak Heru pun tampak menatap Beauty dan Juna secara bergantian.
"Begini ceritanya"
#FlasbackOn
Hari itu pak Heru berniat menjemput istrinya di butik dengan sepeda motor miliknya. Namun na'as, sepeda motor yang ia kendarai mengalami ban meletus dan oleng di tengah-tengah jalan raya.
Dan tanpa pak Heru duga dari belakang melintas sebuah mobil dan melindas kedua kakinya. Akibat peristiwa itu, pak Heru mengalami kelumpuhan karena tulang kakinya yang patah.
Dan karena mengalami kelumpuhan itu, istri mudanya pun menceraikan dirinya karena merasa sibuk mengurus butik dan tak sanggup lagi mengurus pak Heru lagi.
__ADS_1
Butik yang awalnya pak Heru modalin, dengan hasil penjualan rumahnya bersama almarhum ibunya Beauty dulu juga di bawa oleh istri mudanya. Bahkan rumah yang mereka bangun bersama di klaim oleh wanita itu. Dan pak Heru pun terusir.
Akhirnya pak Heru pun memutuskan mengontrak. Demi mencukupi kebutuhan sehari-harinya beliau harus berjualan koran keliling.
Siang itu pak Heru merasa kurang sehat, lalu beliau memutuskan untuk pulang ke kontrakan. Namun karena tidak fokus, pak Heru menyeberang jalan sembarang.
Akibatnya sebuah mobil hampir menabraknya. Dan pemilik mobil itu adalah Juna beserta sang sopir yang kebetulan ada meeting luar daerah.
Semenjak itulah pak Heru mengenal Juna. Semakin lama hubungan keduanya semakin dekat. Bahkan pak Heru suka menceritakan kehidupannya dan juga tentang Beauty anaknya.
Dan dari situlah Juna tahu, bahwa orang tua yang hampir ia tabrak adalah ayah Beauty. Dan diam-diam selama ini Juna lah yang merawat pria paruh baya itu.
#FlasbackOff
"Maafkan ayah Beauty, selama ini ayah tak peduli dengan keadaanmu. Ayah mengaku khilaf, bahkan saat kamu bercerai dengan Cleo ayah pun tak tahu apa-apa," ujar pak Heru dengan wajah penuh sesal.
Beauty pun menggeleng pelan mendengar pengakuan sang ayah. Lalu wanita berlesung pipi itu menarik lembut telapak tangan pak Heru dan menangkupnya.
"Harusnya Beauty yang minta maaf ayah, Beauty seperti anak yang durhaka. Jujur Beauty sendiri tidak tahu keberadaan ayah. Masalah perceraianku dengan mas Cleo, Beauty hanya tak ingin mengusik kebahagiaan ayah kala itu bersama tante Rosi dengan masalah yang Beauty hadapi."
Mendengarnya penjelasan putrinya membuat pak Heru tak mampu lagi menahan air mata yang selalu pria paruh baya itu tahan.
"Kamu anak yang baik Beauty, jika mamamu masih hidup pasti ia akan bangga melihat putrinya menjadi sosok yang kuat."
Beauty menatap pak Heru tak mengerti. Mengerti akan tatapan sang putri yang penuh tanda tanya, membuat pak Heru harus lebih menjelaskannya.
"Tidak mengapa ayah, semua sudah terjadi," balas Beauty seraya mengusap cairan bening yang tanpa sadar turut menetes membasahi sebagian sisi wajahnya.
"Cleo, anak itu benar-benar kurang ajar! Bahkan ia tak menemui ayah dan benar-benar tega menelantarkan kamu! Jika bertemu kembali, ayah ingin sekali memberikan pelajaran untuk pria brengs*k sepertinya!" geram pak Heru seraya mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi kursi roda yang ia kenakan.
"Sudahlah ayah, semua sudah berlalu. Mari kita buka lembaran baru kita lagi dan memulai semuanya dari awal."
"Sekali lagi maafkan ayah Beauty, kamu berhak untuk bahagia."
Beauty pun mengangguk, lalu semenit kemudian kedua ayah dan anak yang baru saja bertemu itu saling berpelukan.
Menyalurkan rasa rindu yang selama ini tercipta diantara keduanya. Beauty sendiri tak menyangka, ternyata ayahnya jauh lebih menderita daripda dirinya.
Luka batin saja belum seberapa dibandingkan luka fisik yang membuat ayahnya cacat seumur hidup. Melihat ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda membuat perasaan Beauty semakin bersalah.
...💐💐...
"Sekarang sudah malam, cepatlah kalian tidur. Kalau tinggal di kampung pukul 8 malam saja para warga sini sudah pada tidur," pesan pak Heru.
"Iya ayah."
__ADS_1
"Ya sudah, kalian selesaikan dulu makannya. Ayah ingin ke kamar beristirahat dulu," pamit beliau.
"Ayah biar Beauty antar ke kamar ayah," tawar Beauty.
"Tidak perlu nak, ayah sudah terbiasa sendiri. Tetaplah disini temani suamimu."
Beauty pun hanya mendelik kearah Juna yang tampak cengengesan sambil menaik turunkan alis tebalnya.
Astaga! kenapa suamiku seperti tidak dewasa sih? Malah cengar cengir begitu, ucap Beauty dalam hati.
"Baik ayah, kalau butuh sesuatu ayah tinggal panggil Beauty."
Pak Heru pun mengangguk, kemudian beliau pun menarik kursi rodanya agar berputar.
Setelah kepergian pak Heru, tiba-tiba saja Beauty memukul bahu Juna sedikit agak keras sampai membuat pemuda itu meringis tertahan.
Plaakk!!
"Ouw! sakit yank kamu kenapa sih?"
"Biarin! kamu tega ya selama ini nyembunyiin fakta bahwa kamu udah bertemu sama ayahku!" ungkap Beauty merajuk.
"Maafkan aku sayank, semua ini ku lakukan karena semata tak ingin menambah beban masalahmu. Itu saja sungguh," bujuk Juna.
"Tapi janji ya jangan sembunyiin apapun lagi dariku?"
"Iya aku janji yank, sungguh."
Lalu Juna pun memeluk tubuh istrinya dengan erat. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Dan menghirup dalam-dalam aroma vanila yang menguar dari tubuh Beauty.
Akibat pelukan itu, membuat sisi lain dalam diri Juna yang sudah meredam kini kembali bergelora. Lalu di lepasnya pelukan, dan pelan-pelan ditangkupnya wajah sang istri.
"Ternyata kamu benar-benar cantik Beauty."
Mendengar pujian dari suami kecilnya, membuat Beauty tersenyum samar. Lalu sedetik kemudian wanita itu menutup matanya, karena melihat wajah Juna yang mulai mendekat.
Saat benda kenyal keduanya saling bertemu menimbulkan getaran yang memabukkan. Seperti ribuan kupu-kupu menggelitiki perut keduanya. Membuat keduanya melupakan waktu dan tempat.
C*uman yang tadinya hanya berupa kecupan biasa kini berubah jadi lebih menuntun. Juna pun memperdalam sapuannya untuk menikmati manis madunya cinta.
Setelah cukup lama berpagutan, gelayar aneh yang ada pada dalam diri Juna seakan menuntutnya untuk melakukan lebih dengan sang istri.
"Kita lanjutkan di kamar ya?"
Beauty pun hanya mengangguk patuh. Lalu langkahnya mengikuti kemana perginya sang suami.
__ADS_1
...Untuk para readers setiaku, jangan lupa makan sama minum karena untuk baca juga butuh tenaga. Bener nggak? 😁😁😘😘...