
Cleo merenung di dalam jeruji besi dengan gusar. Tak jarang pria tampan itu berpindah-pindah posisi untuk menghilangkan rasa kesal akibat penahanannya.
Penganiayaan yang ia lakukan bukan tanpa suatu alasan. Dan Cleo sudah menjelaskannya di hadapan para polisi, namun tetap saja itu termasuk tindakan penganiayaan yang sudah mengancam nyawa seseorang dan harus di selesaikan secara hukum.
Terlebih aunty Amanda selaku mama Anjar datang ke kantor polisi dan mengamuk. Wanita berpenampilan glamour itu menuntut agar Cleo dihukum seadil-adilnya sesuai hukum ketetapan polisi. Karena Cleo sudah merusak wajah tampan putranya sampai menyebabkan tulang hidung dan rahang mengalami patah dan retak tulang akibat pukulan yang bertubi-tubi.
"Cleo mana Cleo!" teriak aunty Amanda.
Wanita yang masih terlihat enerjik itu datang tergopoh-gopoh ke kantor polisi dan langsung menuju sel tahanan yang dihuni Cleo.
"Bu, maaf yang sabar jangan berteriak-teriak disini. Ini dikantor polisi bu," tegur seorang polisi yang berjaga sambil membuntuti langkah aunty Amanda yang tengah mencari sel tahanan Cleo.
"Bapak nggak tahu saja perasaan seorang ibu yang anaknya dianiaya hingga patah tulang hidungnya, menurut bapak apa saya harus terima-terima saja! Tidak!" sergah aunty Amanda dengan sarkastik.
Polisi itu langsung kincep seketika setelah mendapat balasan menusuk dari ibu korban. Namanya berbicara dengan ibu-ibu memang harus hati-hati jika salah bicara tentu urusannya semakin panjang dan melebar.
Oleh sebab itu ia membiarkan Amanda memasuki ruang tahanan setelah ia melapor ke keatasannya. Amanda memaksa ingin bertemu dengan Cleo.
"Cleo! apa yang sudah kamu lakukan kepada adik sepupumu sendiri! Tega kamu memukulinya hingga Anjar mengalami patah tulang! Sebenarnya apa yang kamu fikirkan?!" teriak Amanda tanpa permisi menarik baju yang Cleo kenakan dan menghentak-hentakannya dengan kasar.
"Aunty, Cleo minta maaf Cleo bisa jelasin penyebabnya!"
"Apa karena mantan istrimu yang mand*l itu dengan tega kamu menganiaya saudaramu sendiri? Dimana akal sehatmu Cleo! Aunty sangat kecewa padamu?! Bagaimana nanti kalau kak Dewi tahu? Lagian wanita itu sudah bukan siapa-siapamu lagi, Aunty yakin Anjar tidak mungkin melakukan hal yang sudah kamu ceritakan di depan polisi. Itu fitnah! Mantan istrimu bukan selera Anjar! Pasti janda mand*l itu yang sudah menggoda anakku yang jelas tampan!" pekik Amanda tak terima.
Cleo hanya bisa mengusap permukaan wajahnya dengan kasar. Rasanya percuma jika ia menjelaskannya kepada wanita yang emosinya sedang tak labil itu. Oleh sebab itu, ia membiarkan aunty Amanda menarik-narik bajunya dan memukuli dada bidangnya berulang kali.
"Ibu! ibu yang tenang ya ini dikantor polisi. Ibu harus bisa jaga sikap ibu," tegur seorang polwan yang ikut mengawal Amanda untuk bertemu Cleo.
"Bagaimana saya bisa tenang mbak Pol! Anak saya lagi sekarat di rumah sakit dan saya kesini untuk menuntut keadilan yang se-adil-adilnya!" balas Amanda berapi-api.
"Tapi nanti ibu juga bisa ditahan kalau ibu terus melawan dan membuat kegaduhan di penghuni lapas disini bu," ancam polwan lagi.
Seketika Amanda terdiam. Ucapan polwan yang mendampinginya terdengar sungguh-sungguh. Dalam hatinya pun ikut membenarkannya. Ia pun juga tak ingin ikut-ikutan di tahan. Membayangkannya saja ia jadi bergidik ngeri, karena jika berada di tahanan ia tidak lagi bisa melakukan treatment untuk kuku palsunya.
"Baiklah! saya akan pergi tapi mohon seadil-adilnya untuk keponakan saya yang durhaka ini! Tidak ada yang boleh mengeluarkannya dari kantor polisi disini Sebelum ia dihukum sesuai perbuatannya!" pesan Amanda sebelum berlalu dengan angkuhnya.
Cleo hanya bisa menghela nafas. Dalam hatinya sangat menyesalkan kenapa istrinya belum juga datang untuk menjenguknya. Padahal saat bertemu di lobi rumah sakit, wanita itu berjanji akan datang dengan membawa pengacara untuk membebaskannya.
***
__ADS_1
Di rumah Sakit
Dalam ruangan rawat rumah sakit tampak Juna menanti kesadaran Beauty penuh harap. Sudah setengah hari lebih wanita itu masih betah tak sadarkan diri. Entah seberapa kuat pukulan yang wanita itu terima, pastilah sangat menyakitkan bahkan mampu membuat wanita itu pingsan begitu lama.
Juna begitu menyesal sudah membiarkan wanita itu pergi seorang diri. Meski itu adalah permintaan dari wanita itu sendiri, harusnya ia mengutus para bodyguardnya untuk mengawal kemana pun Beauty pergi.
Saat ia tengah memandangi wajah damai Beauty yang tampak tertidur pulas, tiba-tiba benda pintar miliknya berbunyi menampilkan nama seseorang yang sangat ia rindukan.
Juna pun keluar dari ruangan rawat Beauty untuk menerima telepon dari seseorang itu.
"Mama?"
"Halo mam, how are you?" sapa Juna.
"I'm fine my peanut, and you?"
"Ma, please deh jangan panggil Juna dengan panggilan itu lagi Juna kan sudah besar," protes Juna tak terima akan nama panggilan masa kecilnya yang sang mama lontarkan.
"Okay..okay honey, mam cuma bercanda. Nanti malam kita makan malam di tempat biasa ya, mam ada surprise untukmu! Harus datang awas saja kalau sampai nggak! Mama bakal ngambek!"
"Jadi mama lagi ada di Indonesia sekarang? Kenapa mama nggak bilang-bilang Juna kan bisa jemput mama di bandara."
" Tidak perlu honey, karena seorang bidadari sudah menjemput mama dibandara tadi. Jadi kamu cukup datang untuk makan malam nanti, mama ada surprise untukmu."
"Baiklah ma, nanti malam akan Juna usahakan datang."
Terdengar sayup-sayup mamanya berbicara dengan seorang wanita.
Kau dengar Lov sayang, Juna akan datang untuk makan malam nanti. Bersiapkan dirimu secantik mungkin.
"Halo Juna, mama sudahi dulu ya. Jangan lupa nanti malam. Sekarang mama mau nyalon dulu. Bye...honey!"
"Eh..iya ma, bye juga."
Tut!
Telepon pun terputus. Juna tampak tercenung dengan kata-kata mamanya barusan saat berbicara dengan wanita yang berada di seberang sana.
Siapa tadi nama wanita itu? Lov ? Siapa dia? Perasaan gue baru saja mendengar nama itu.
__ADS_1
"Ah..sudahlah, bukan urusan gue! Yang terpenting nanti malam gue harus datang sebelum mama ngambek terus mogok makan kalau tidak aku turuti," gumam Juna lirih.
Lalu pemuda berambut silver itu tampak menekan nomor seseorang dan menghubunginya.
"Halo Jeki kirimkan anak buahmu untuk menjaga kamar inap sekretarisku segera! Tidak terima pertanyaan sekian!"
Tut!
Selaku bos muda Juna memang selalu berlaku seenaknya kepada para bodyguardnya, namun itu masih masuk batas tugas mereka. Apalagi seorang bodyguard harus siap sedia sewaktu-waktu jika dibutuhkan oleh majikannya.
"Aku pergi dulu ya Bee, sebentar lagi orang-orang suruhanku akan menjagamu," ucap Juna seorang diri seraya mengecup lembut punggung tangan wanita berlesung pipi itu.
***
Malam pun tiba. Juna tampak tampan dengan memakai setelan kemeja maroon dibalut jas berwarna abu. Sebenarnya ia juga merasa bingung kenapa sang mama mengharuskannya memakai kemeja formal seperti akan ada pertemuan penting saja.
Tak menunggu waktu lama Juna langsung berangkat menggunakan mobilnya menuju hotel yang mamanya maksud.
Sampainya ia disana, Juna langsung bergegas menghampiri sang mama yang tampak tengah mengobrol dengan seorang gadis yang duduk memunggungi bersama kedua pasangan paruh baya.
Begitu pandangannya bertemu dengan sang mama, wanita paruh baya yang masih terlihat bugar dan cantik melambaikan sebelah tangannya tanda Juna harus bergegas untuk sampai ke meja mereka.
"Malam om dan tante, maaf Juna datang terlambat," sapa Juna dengan sopan.
"Tidak apa-apa nak, ini juga masih sore ko," balas seorang pria paruh baya setengah bercanda.
"Ternyata putramu sangatlah tampan, pantas saja putriku langsung menyetujuinya begitu ia akan bertemu dengan putramu," celetuk pria yang terlihat hampir mirip dengan sang gadis yang duduk di seberang Juna.
Dari wajah mereka saja, Juna sudah bisa simpulkan kalau pasangan paruh baya itu adalah kedua orang tua dari sang gadis.
" Haha! tentu saja. Juna pun pasti juga menyukainya!"
"Honey! akhirnya kamu datang juga nak. Ayo silahkan duduk dan kenalkan ini suprise yang mama maksud!" seru mama Lola sambil menunjukkan seseorang yang duduk berhadapan dengan Juna.
Juna pun menurut lalu mengambil bagian kursi kosong yang berada tepat di depan sang gadis yang sedari tadi tampak malu-malu bertemu dengannya.
Begitu ditunjuk oleh mama Lola, spontan gadis itu langsung menyapa Juna yang sudah terduduk di hadapannya.
"Halo! selamat malam Juna!" seru suara gadis itu yang terdengar tak begitu asing di telinga Juna.
__ADS_1
Awalnya Juna tak mengenali siapa gadis itu. Gadis itu memang terlihat cantik dan manis. Matanya sedikit sipit dan tajam. Bibirnya tipis. Alisnya tebal namun tertata rapi. Make up yang gadis itu kenakan juga tak berlebihan. Namun tiba-tiba ia teringat akan seseorang yang lumayan ia kenal.
"Kamu!"