
Pov Beauty
Saat aku ingin merebahkan tubuhkan yang lelah, tiba-tiba saja rasa mulas itu kembali hadir.
Apakah ini yang dimanakan kontraksi? Tidak! Itu tidak mungkin. Usia kandunganku belum genap 9 bulan mana mungkin aku akan melahirkan? Batinku bertanya-tanya.
“Akh! ” rintihku.
“Ada apa sayang? Apa kamu ingin melahirkan sekarang?” tanya mami Lola yang terkejut melihatku seperti menahan sakit.
“Tidak mungkin ma, usia kandungan Beauty belum ada 9 bu..lan,” jawabku terbata.
“Kalau begitu kita harus segera membawamu ke dokter sayang, papi...papi cepat panggilkan perawat dan dokter,” teriak mami Lola dengan nada penuh khawatir.
Aku tak terlalu fokus dengan keadaan sekitar karena merasakan rasa mulas dan kram yang begitu melilit perutku.
Rasa mulas itu begitu terasa nikmat ku rasakan. Entah aku harus bahagia atau bagaimana. Setidaknya aku sudah merasakan apa yang semua calon ibu rasakan.
Bisa mengandung dan melahirkan adalah anugerah terbesar bagi seluruh wanita di bumi termasuk diriku.
Namun kepalaku mendadakan terasa pening, kala mendengar seorang perawat mengisyaratkan untuk segera melakukan tindakan operasi. Memang ada apa dengan bayiku?
Rasanya aku ingin bertanya pada mereka, tapi mulut ini terasa sulit untuk mengucap sepatah kata. Aku hanya bisa meringis menahan sakit. Dan pasrah saat mereka melucuti semua pakaianku dan memakaikan sebuah baju berwarna hijau. Sepertinya itu baju operasi, fikirku.
Rasanya aku malu ketika tubuhku di lihat oleh orang lain selain Juna suamiku. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini sudah biasa terjadi di rumah sakit. Aku pun berusaha menghalau semua rasa malu itu.
__ADS_1
“Minum ini dulu ya kak, biar lambungnya nggak mual nanti,” kata seorang suster sambil menyuapkan sesendok sirup ke arah mulutku.
Entah obat apa itu yang penting itu demi kebaikanku dan juga anakku.
Dan lagi, aku hanya bisa pasrah menuruti semuanya. Aku terdiam dengan mata terpejam sambil menikmati rasa mulas yang datang silih berganti.
Para petugas kesehatan terlihat berbondong-bondong mempersiapkan keperluan operasiku.
Ada yang memasangkan infus, selang oksigen dan juga ada yang menyuntikkan sesuatu pada lenganku yang lain. Dan mengatur tekanan darahku.
“Di suntik epidural dulu ya ka,” ijin salah satu petugas khusus penanganan bius epidural yang di gunakan khusus untuk pasien yang ingin operasi caesar.
Aku pun mengangguk mengijinkan mereka melakukan sesuai prosedur kerja yang ada.
Bagian tubuhku dari perut hingga ke bawah terasa mati. Mungkin bius epidural itu sudah bekerja dengan baik pada tubuhku.
Suhu pendingin ruangan pun begitu menusuk kulitku. Aku menggigil kedinginan namun aku juga tak bisa memeluk tubuhku sendiri.
Tak lama dokter pun datang dan melakukan prosedur operasi caesar itu. Hatiku sempat khawatir, bila mana bius itu menghilang seperti cerita temanku yang menjerit karena biusnya menghilang saat sedang operasi usus buntu.
Dokter itu pun tersenyum sebelum memulai aksinya membedah perut buncitku. Tak pernah terbayangkan dalam benakku masuk dalam ruang operasi, dan dalam keadaan sadar seperti ini.
Aku fikir aku akan dibius total. Ternyata tidak. Aku hanya bisa pasrah dan melantunkan doa dalam hati. Berharap bayiku selamat begitu pula dengan nyawaku.
Tiba-tiba kepalaku kembali terasa pening. Aroma obat dan juga aroma bau anyir menyergap indra penciumanku. Apakah ini bau darahku?
__ADS_1
Aku pun mencoba tersenyum kearah mereka yang berusaha menjaga kesadaranku meski sebenarnya mata ini ingin sekali terpejam. Tak lama, suara bayi menarik kembali nyawaku.
Owekkk...Oweekkk!
Aku pun menangis haru. Meski aku tidak bisa melahirkan normal seperti para ibu yang lain. Tapi aku bahagia, bayiku bersama Juna terlahir dengan selamat.
“Selamat ibu Beauty, bayinya terlahir laki-laki tampan seperti ibu,” puji dokter itu.
“Terima kasih dok,” balasku lemah.
Aku pun mengulas senyum bahagiaku. Namun samar-samar penglihatanku semakin menggelap. Dan aku tak tahu apa yang selanjutnya terjadi.
Pov end.
“Gawat dokter, sepertinya pasien mengalami pendarahan postpartum!” seru asisten dokter itu.
Pendarahan postpartum adalah pendarahan berlebih yang terjadi jika organ dipotong, pembuluh darah tidak terpasang sempurna atau keadaan darurat selama persalinan.
“Segera suntikan antifibrinolitik agar ibu ini tidak kehabisan darah, suster tolong ambilkan kantong darah cadangan untuk menyuplai darah pasien yang hilang,” perintah sang dokter.
“Baik dok.”
Berkat kuasa Tuhan dan juga kecepatan sang dokter dalam menangani pasiennya, akhirnya pendarahan yang terjadi pada Beauty dapat di hentikan. Dan kini hanya menunggu kesadaran wanita itu pulih.
Ditempat lain nampak, seseorang yang sudah lama terbaring lemah mulai menggerak-gerakkan jari jemarinya. Dan dengan berat ia mulai membuka kedua kelopak matanya.
__ADS_1