
Setelah kejadian malam itu, Juna dan Beauty di bawa oleh Beny dengan perahu yang di tumpangi para polisi dari darat.
Begitu pula dengan jasad Cleo, Tere dan juga Anjar. Dibantu oleh tim Basarnas, polisi dengan cepat berhasil mengevakuasi beberapa jasad yang tenggelam di dalam lautan.
Ditto anak buah Juna juga mengalami luka tusuk dan beberapa anak buahnya yang lain mengalami luka ringan. Hanya Beny yang selamat, karena Beny memang mempunyai ilmu beladiri yang mumpuni di samping ia ahli dalam bersenjata.
Juna pun mengalami kritis setelah hampir saja kehabisan darah akibat luka pada bagian perutnya. Dan luka tusuk itu berhasil mengenai organ vital Juna yaitu hati.
Dokter pun bergegas melakukan operasi untuk segera menyelamatkan nyawa Juna. Beruntung, Juna mendapatkan donor hati dari seseorang saat itu juga. Sehingga dokter segera melakukan transplantasi hati pada tubuh Juna.
Jika terlambat sedikit saja mungkin nyawanya tidak akan tertolong. Mungkin Tuhan masih memberi kesempatan padanya, sehingga Juna masih bisa bertahan meski kondisinya sangat lemah.
Sedangkan Beauty, wanita hamil itu harus bedrest selama 2 bulan. Akibat shock dan kelelahan hampir saja ia mengalami keguguran. Beruntung, bayi itu masih bertahan didalam rahimnya meski pendarahan sempat terjadi.
#
#
3 bulan kemudian....
Beauty terduduk di samping Juna, tangannya terulur menyentuh lengan suaminya yang tak tertancap selang infus.
“Junaa, kenapa kamu masih betah tidur? Apa kamu tak ingin melihat anak kita lahir?” monolog Beauty seraya menangis di samping brankar Juna.
Tiga bulan sudah berlalu, semanjak malam itu Juna masih bertahan dalam tidur panjangnya. Berbagai alat kedokteran menancap sempurna hampir seluruh tubuhnya.
Meski dokter sudah menyatakan, bahwa organ hati Juna yang di transplantasikan sudah mampu bekerja dengan baik. Namun sampai saat ini, belum ada tanda-tanda Juna akan siuman.
__ADS_1
Juna masih tertidur dengan damai. Dan setiap hari, Beauty tak jenuh menemani dan merawat tubuh Juna yang sedikit kurus karena kurangnya asupan.
Makan dan minum Juna melalui selang khusus makan yang langsung di hubungkan dengan organ dalam.
Beauty tak tega melihat keadaan Juna seperti ini. Wanita hamil itu akan menjauh dari brankar Juna, jika ia sudah merasa tak kuasa lagi untuk menahan air matanya.
“Beauty, kamu yang sabar ya,” hibur papi Tulus yang baru datang bersama istrinya.
“Iya sayang, mami doakan semoga Juna cepat sadar," sahut mami Lola.
Keadaan mami Lola sudah membaik dua bulan yang lalu. Beliau juga sudah bisa beraktivitas normal kembali. Hanya saran dokter, hindari stress dan aktivitas yang memicu andrenalin karena itu sangat beresiko bagi penderita jantung sepertinya.
Sedangkan pak Heru selamat. Ternyata waktu itu Tere hanya menyekap pria paruh baya itu saja untuk memancing Beauty.
“Kamu harus kuat Bee, kamu sudah melewati banyak penderitaan. Ayah doakan, semoga Juna sempat sadar,” ujar pak Heru memberi dukungan.
“Terima kasih ayah, papi dan mami Lola. Tanpa kalian mungkin Beauty tak sekuat sekarang. Terima kasih.”
Papi dan mami Lola pun tersenyum menanggapi kalimat ungkapan terima kasih dari Beauty.
“Sayang, lebih baik kamu istirahat saja. Kamu sudah terjaga semalaman di sini. Kamu pasti lelah, biar kami yang berganti menjaga suamimu,” kata mami Lola.
“Baik, mami, papi dan juga ayah Beauty istirahat dulu. Permisi.”
“Iya sayang, selamat beristirahat,” sahut mami Lola.
Namun tiba-tiba saja, rasa mulas yang semalam sempat datang kini kembali menyerangnya. Rasa mulas itu datang secara beraturan.
__ADS_1
Apakah ini yang namanya kontraksi? Tapi itu tidak mungkin, usia kandunganku belum cukup 9 bulan. Tidak mungkin aku melahirkan sekarang.
“Akh! ” Beauty pun mengaduh menahan rasa mulas pada area perutnya. Seperti sesuatu yang memaksakan untuk keluar.
“Ada apa sayang? Apa kamu ingin melahirkan sekarang?” tanya mami Lola yang terkejut melihat Beauty yang seperti menahan sakit.
Beauty menggeleng pelan.
“Tidak mungkin ma, usia kandungan Beauty belum ada 9 bu..lan,” jawab Beauty terbata.
“Kalau begitu kita harus segera membawamu ke dokter sayang, papi...papi cepat panggilkan perawat dan dokter.”
“Baik mi.”
Papi Tulus pun bergegas keluar ruangan untuk memanggil perawat dan dokter kandungan. Tak lama perawat itu membawa kursi roda untuk mengangkut tubuh Beauty.
Beauty tampak meringkuk diatas kursi roda menahan rasa mulas yang semakin menjadi-jadi.
Dengan cekatan para perawat memindahkan tubuh Beauty pada brankar pasien untuk pemeriksaan lanjut.
“Gawat dok! Detak jantung bayinya melemah kemungkinan kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar,” ujar seorang perawat usai memeriksa kondisi Beauty dan janinnya.
“Baiklah, segera siapkan semua perlengkapannya. Setengah jam lagi kita akan memulai operasinya,” sahut dokter kandungan itu.
Dokter kandungan itu berusaha memberi penjelasan kepada mami Lola dan yang lain mengenai Beauty yang harus segera di lakukan tindakan operasi. Sebagai anggota keluarga, mereka pun memberi ijin untuk tindakan operasi tersebut.
“Apapun tolong lakukan untuk menyelamatkan cucu dan juga menantu saya dok,” pinta mami Lola setengah memohon sambil terisak.
__ADS_1
Sebagai seorang ibu, mami Lola juga khawatir akan keadaan menantunya Beauty. Karena apa yang Beauty alami saat ini sama persis saat ia mengandung Juna beberapa puluh tahun silam.