
" Aku tak sebaik yang kau kira, dan aku pun tak seburuk yang terlintas di hatimu "
"Hmm..Bee, mas ingin bertanya sesuatu. Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu sekarang?" tanya Cleo dengan tatapan intens kearah mantan istrinya itu.
Beauty sedikit terkejut akan pertanyaan yang Cleo lontarkan kepadanya. Entah apa yang tengah wanita berlesung pipi itu rasakan, rasanya begitu berat untuk menjawab pertanyaan Cleo yang terdengar ringan itu.
"Hmm...iya aku bahagia mas. Aku bahagia sekali," balas Beauty diiringi senyum terpaksa.
Saat ini Beauty masih merasakan delima akan pernikahannya. Pernikahan tanpa restu orang tua Juna, apakah selamanya bisa bertahan? Meski ia tahu, pemuda itu begitu memuja cinta kepadanya.
Namun bukan Cleo namanya jika ia tidak bisa menerka gaya bahasa tubuh yang Beauty ungkapkan tanpa sadar.
6 tahun bersama bukanlah waktu yang sebentar, Cleo cukup paham akan sang mantan istri jika tengah di liputi suatu masalah.
"Tapi pernikahan kalian belum go public kan? Karena mas tahu, keluarga Juna itu keluarga yang terpandang," pancing Cleo lagi.
Seolah Beauty tahu arah pembicaraan Cleo, lalu wanita berlesung pipi itu mencoba mengalihkan ke topik yang lain.
"Oh...iya mas, tadi ku dengar di kamar belakang seperti ada suara seseorang perempuan? Bukan maksud Be ingin ikut campur, tapi apa ada orang lain selain mas Cleo dan mama Dewi di rumah ini?"
Beauty tahu bahwa mama Dewi sudah pulang dari rumah sakit. Tadi saat menuju dapur, ia melihat mama Dewi tengah tertidur diatas ranjang miliknya.
Cleo masih nampak mencermati raut wajah Beauty yang terlihat enggan bertatapan dengannya. Dan lagi, wanita itu nampak mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Membuat pria berjambang tipis itu semakin menaruh curiga. Namun Cleo berusaha untuk tidak menampakkan rasa keingin tahuannya di hadapan Beauty.
"Oh..itu Sisie, ia sudah pulang kemarin."
"Sisie? Benarkah itu Sisie? Beauty ingin menemuinya mas."
"Mari ikut mas."
Cleo dan Beauty berjalan menuju kamar belakang dimana Sisie berada. Dari arah belakang Juna berlari-lari kecil mengikuti mereka.
Cleo pun membukakan pintu kamar Sisie, dan mendapati gadis itu tengah meringkuk ketakutan di kolong tempat tidur.
"Mas, Sisie!" pekik Beauty terkejut.
Dengan sigap Cleo menghampiri gadis itu dan mulai menenangkannya.
"Jangan sakiti aku, aku mohon lepaskan aku! Tolong jangan cambuk aku!" ratap Sisie diiringi suara pilu tangisannya.
"Sisie, tenang Sie! Ini mas Cleo dan ini ada kak Beauty dan juga Juna!"
__ADS_1
Cleo masih berusaha menyadarkan adiknya. Sudah beberapa hari ini adiknya sering menjerit-jerit karena ketakutan.
Namun bukannya sadar, Sisie malah semakin berang setelah mendengar nama Beauty diucapkan oleh bibir Cleo.
"Kau! Kau wanita mandul itu kan! Ini semua gara-gara kau! Jika kau tidak menikah dengan mas Cleo waktu itu maka, semua ini tidak akan terjadi! Kau itu hanya wanita pembawa sial!" umpat Sisie.
Beauty yang mendengarnya pun terkejut. Ada apa lagi ini?
"Pergi sana kau! Jangan balik lagi kesini! Kau itu cuma wanita pembawa sial!" maki Sisie penuh emosi.
Sisie pun terlonjak dan siap untuk menerkam Beauty. Beauty pun meringsut mundur. Menyadari pergerakan Sisie yang sudah tak terkendali, Cleo pun mengambil tindakan dengan mencekal pergelangan tangan gadis itu.
"Lepaskan aku! Aku ingin membunuhnya! Ini semua gara-gara dia! Huhuuu..." Sisie pun menangis tersedu-sedu.
"Sisie tenangkan dirimu! Juna! Tolong pegangin sebelah tangannya!" teriak Cleo kearah Juna.
"Akh! iya."
Karena perilaku Sisie yang sudah tak terkendali, Cleo memutuskan untuk mengikat kedua pergelangan gadis itu di atas ranjang.
Sisie pun terus meronta-ronta minta di lepaskan sambil berteriak-teriak.
"Lepaskan aku! Tolong mau kalian apakah aku!huhuu..."
Cleo membiarkan Sisie menangis sampai lelah. Jika sudah lelah, maka gadis itu akan terlelap tidur. Dan benar, tak lama setelah itu Sisie pun sudah tertidur dan Cleo pun mengajak Beauty dan Juna untuk keluar.
Beauty sangat terkejut akan keadaan Sisie yang sangat memprihatinkan, apalagi gadis itu depresi dalam keadaan perut yang nampak membuncit.
"Apa...apa yang terjadi dengan Sisie mas?" tanya Beauty terbata dengan air mata yang masih menganak sungai.
"Aku akan jelaskan di luar," ajak Cleo.
Juna yang hanya melihat pun tak mampu berkata-kata. Gadis yang selalu memuja cinta kepadanya dulu, kini keadaannya begitu memilukan. Ia hanya bisa menatap iba kearah gadis itu.
...* * *...
Ketiganya pun berkumpul kembali ke ruang tamu. Dan Cleo pun mulai menceritakan secara detail, awal pertemuannya dengan Sisie beberapa hari lalu.
Cleo sendiri merasa geram, ia bertekat akan menemukan pelaku yang menyiksa adiknya itu hingga mengalami depresi seberat ini.
"Lalu mas Cleo sudah mencari tahu, siapa pria yang akhir-akhir ini dekat dengan Sisie?"
"Tidak, aku terlalu sibuk dengan masalah hidupku hingga tak memperhatikan pergaulan Sisie. Namun yang ku tahu hanya Reiner, anak itu yang dulu suka Sisie bawa main ke rumah," tutur Cleo menjelaskan.
__ADS_1
Beauty pun nampak berusaha menerawang. Ingatannya kembali saat ia masih membina rumah tangga bersama Cleo.
Ya, Beauty masih ingat dengan samar seorang Reiner. Pemuda yang sempat menggodanya saat Sisie mengundang pemuda itu untuk makan di rumah mama Dewi dulu.
"Aku turut prihatin akan keadaan Sisie sekarang mas, semoga Sisie cepat pulih. Lalu bagaimana dengan bayi dalam kandungannya?" tanya Beauty peduli.
Meski Sisie dulu pernah menyakiti batin Beauty. Dengan mencaci maki, bahkan melontarkan kalimat-kalimat tak berperasaan kearahnya.
Namun Beauty masih tetap peduli, karena Beauty sudah menganggap Sisie seperti adik sendiri. Dan berusaha memaafkan semua kesalahan gadis itu.
"Mas akan mencoba merawatnya, dan mencari tahu siapa ayah dari bayi yang di kandung Sisie ini."
Beauty sendiri sudah menerka, jika Cleo pasti akan melakukam hal yang sama dengan apa yang ia fikirkan. Karena sedari dulu, Cleo beserta ibunya Dewi sangat mendamba seorang keturunan. Apalagi kemarin Cleo sudah tertipu mentah-mentah oleh istri keduanya Tere.
"Syukurlah, jika bayinya ini sudah lahir nanti tolong kabari aku ya mas. Aku juga ingin membantu mengurusnya."
Beauty menawarkan diri untuk membantu Cleo nanti dalam merawat bayi Sisie jika sudah lahir nanti. Ini semua semata-mata ia lakukan atas dasar rasa kasihan serta peduli terhadap keluarga mantan suaminya itu.
Meski hanya kenangan pahit yang pernah mereka torehkan dalam hidup Beauty. Namun Beauty berusaha berbesar hati untuk memaafkan semuanya.
Bukankah Tuhan mengajarkan kita untuk saling memaafkan?
"Akh, mas tak ingin merepotkanmu Bee."
"Itu benar! Apalagi dirumah ada ayah dan juga aku yang sangat membutuhkanmu yank," sahut Juna sambil bersidekap.
Juna berusaha memprovokasi istrinya untuk membatalkan niatnya. Dan menyuarakan ketidak setujuan atas maksud baik istrinya itu.
Karena itu juga bisa membahayakan posisi Juna sendiri. Bagaimana nanti seiring berjalannya waktu mereka CLBK lagi? Bukan suatu hal yang mustahil, karena Juna bisa menangkap arti dari tatapan rival masa lalunya itu.
Dari tatapannya saja, Juna bisa melihat jika Cleo masih menginginkan istrinya itu. Tidak hayal, kemungkinan Cleo ada niat ingin merebut kembali Beauty dari dirinya suatu saat nanti. (Biasa mata lelaki mah lebih peka) ðŸ¤
Beauty hanya menghela nafasnya. Ia sendiri baru sadar, bahwa kini dirinya sudah tidak sendiri lagi.
Cleo hanya memandang jengah kearah pemuda itu. Sepertinya sebentar lagi bakal ada drama big baby lagi, batinnya.
"Ayank, kita kelamaan disini. Aku khawatir sama ayah Heru yang sendirian di rumah," rengek Juna ingin pulang.
Beauty pun hampir melupakan keberadaan ayahnya yang pagi tadi mereka tinggal seorang diri di rumahnya.
"Aku harus berkemas-kemas dulu Junaa, sebentar ya," ucap Beauty dengan lembut.
Sedangkan Cleo hanya menatap dengan rasa iri kearah kedua pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
Dulu saja, kata-kata nan lembut itu sering ia dengar hanya untuk dirinyanya. Namun kini, kata-kata lembut itu tertuju bukan untuknya lagi.
...Kira² siapa yang sudah menyakiti dan menghamili Sisie yang readers?🤔...