Berpisah Karena Mandul

Berpisah Karena Mandul
USG


__ADS_3

Semakin hari keadaan Cleo semakin menjadi-menjadi. Morning sickness yang pria tampan itu alami semakin parah sampai membuat tubuhnya terasa lemah.


Bahkan ia tak bisa memakan makanan kesukaannya yaitu sop iga sapi. Indra penciumannya pun semakin sensitif.


"Bagaimana mas? apa mualnya sudah mendingan?" tanya Tere saat mereka berdua duduk di balkon di pagi hari.


Tere memutuskan mengontrol perusahaan Cleo dari rumah. Tidaklah mungkin wanita hamil tua seperti dirinya harus bolak balik kantor. Meski kehamilannya hanyalah kehamilan anggur, namun ia tidak boleh ceroboh. Ia harus bersikap layaknya seorang ibu hamil sungguhan.


"Seperti yang kamu lihat Re, apa yang aku makan pasti keluar kembali. Apakah kalau kamu sudah melahirkan sindrom couvade ini akan segera berakhir? Sungguh keadaan ini sangat menyiksaku. Aku tak bisa menjalankan aktivitasku seperti biasanya," rengek Cleo bagaikan anak kecil.


Deg!


"Emm...ya Tere belum tahu mas, ini juga kan baru kehamilan pertama Tere," balas Tere dengan kikuk.


"Memang HPL (Hari Perkiraan Lahir) mu kapan? Perasaan mas akhir-akhir ini jarang mengantarmu buat kontrol ke dokter? Mas pengen lihat visual calon anak kita Re, Apa boleh mas ikut kontrol nanti? please", pinta Cleo dengan memohon.


Deg!


S*al! kenapa gue tak pernah memikirkan sampai situ? Bagaimana nanti kalau mas Cleo tahu kalau kehamilan gue ini hanya kehamilan anggur alias palsu?


"Bagaimana Re, apa mas boleh ikut? Mungkin dengan melihat visual calon anak kita, morning sickness mas bisa lebih membaik," sentak Cleo karena tak kunjung menerima jawaban dari wanita berambut cranberry red itu.


"Eh...eng..tentu saja boleh mas kenapa nggak, kamu kan ayahnya calon anak kita," balas Tere dengan senyum yang di paksakan.


Senyum mengembang dari sudut bibir Cleo. Pria tampan berjambang tipis itu merasa bahagia karena sebentar lagi statusnya akan segera berubah menjadi seorang ayah. Namun hatinya sedikit sedih, karena anak itu bukan anak dari wanita yang ia cintai.


Gawat! gawat! gawat! gue harus segera menghubungi dokter Suci!


"Kalau gitu Tere ke dapur dulu ya mas, soalnya haus. Apa mas mau nitip sesuatu?" tanya Tere beralibi.


"Apa ya ? sesuatu yang nggak bikin mual kalau ada?"


"Oke, Tere akan buatkan makanan yang nggak bikin mual buat mas." Seru Tere sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit agar kepanikan yang ia rasakan tak terbaca oleh suaminya.


Cleo yang mendapat kerlingan mata dari Tere hanya bisa tersenyum. Lalu laki-laki berparas tampan nan mempesona itu masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuh tegap itu di ranjang kingsize miliknya.


Raganya ada diruangan itu, namun fikirannya seakan terbang jauh. Sorot matanya fokus memandangi langit-langit yang bercat putih terang.



Ada rindu yang tak bisa tersalurkan. Ada hati yang masih diharapkan. Ia hanya bisa berharap kesempatan kedua akan datang kepadanya.


Jika saja itu ada, ia berjanji tidak akan pernah ia sia-siakan. Namun keluarganya tak ada satu pun yang menyukai wanitanya atau lebih tepatnya mantan wanitanya. Membuat pria berjambang tipis itu kembali merasa risau dan dilema.

__ADS_1


Sebenarnya sejauh ini, Cleo sudah berusaha menerima dan mencintai Tere seperti ia mencintai Beauty dahulu. Namun entah kenapa rasanya begitu sulit, kini setiap melihat wajah Tere malah bayangan Beauty yang hadir.


Cleo sadar, kesalahannya memang fatal. Namun ia masih berharap Beauty akan memaafkannya. Meski bukan sebagai partner hidup lagi, setidaknya ia masih bisa berhubungan dengan wanita berlesung pipi itu. Untuk mengobati rasa rindu yang begitu menyiksa relung hatinya terdalam.



Dipandanginya sebuah foto yang sengaja pria itu simpan di sebuah dropbox dengan kata sandi yang ia simpan di dalam ponselnya. Dan hanya ia seorang yang bisa membuka dan melihat isi daripada dropbox itu. Karena semua foto dirinya bersama Beauty sang mantan istri sudah di bumi hanguskan oleh Tere.


Potret Beauty terlihat biasa saja, namun senyumnya mampu membius semua kaum adam yang melihatnya. Apalagi jika mengingat kebersamaan sang mantan istri bersama pemuda yang katanya atasan sang istri di tempat kerja. Rasanya ia masih tak rela jika harus membiarkan sang mantan istri bersama pria lain. Tapi bagaimana dengan dirinya?


***


"Hallo! Suci kita harus bertemu segera ini penting!" sapa Tere tanpa memakai embel-embel dokter kepada wanita yang tengah ia telepon.


Karena hubungan keduanya memang cukup dekat. Bisa dibilang Suci adalah sahabat Tere. Bahkan mereka memang sudah berteman cukup lama semenjak menginjak bangku (SMA) Sekolah Menengah Atas.


Namun karena suatu hal, hubungan keduanya sempat renggang dan akhirnya kembali seperti semula.


"Memangnya kenapa? gue lagi sibuk banyak pasien."


"Ini penting Ci, tolong bantuin gue. Mas Cleo ngebet pengen nganterin gue buat USG (Ultrasonografi) sekalian kontrol kehamilan gue. Pokoknya kita harus ketemu, gue nggak bisa ngobrol disini. Masalah duit gampang gue bakal kasih lebih!" bujuk Tere agar Suci luluh.


"Oke-oke deh, gue kabari loe entar kalo gue ada waktu senggang. Udah dulu ya, pasien gue dah numpuk!"


"S*al! gue belum selesai ngomong malah di matiin! Kalau gue nggak butuh nggak sudi gue hubungi loe yang matre itu!" umpat Tere sambil bersungut-sungut karena ia tidak suka diabaikan.


Suci temannya itu memang tipe wanita matre. Setiap kali ia meminta tolong pasti wanita itu meminta imbalan. Bahkan imbalan itu harus sesuai apa yang ia minta.


Disaat wanita berperut buncit itu tengah merasakan kesal, tiba-tiba ia teringat sesuatu.


"Astaga! gue baru inget kan gue kesini mau ambil minum sama mau bikinin makanan yang nggak bikin mual mas Cleo. Kira-kira apa ya?" gumamnya pada diri sendiri.


Setelah lumayan lama berfikir, akhirnya ia mengingat makanan yang bisa membuatnya tidak mual saat di awal-awal kehamilannya dulu.


"Aha! mending gue bikin salad buah saja! Semoga aja mas Cleo nggak curiga sama gue!" serunya.


Beruntung ia pernah merasakan morning sickness itu seperti apa. Lalu Tere itu memutuskan mengambil beberapa buah segar yang tersimpan di lemari pendingin. Dengan cekatan ia mengupasnya untuk dijadikan salad buah.


***


Disebuah kost


Beauty mengerjap-ngerjapkan bulu mata lentiknya berulang kali. Seingatnya ia tengah berada di kampus dan terjebak di dalam toilet yang sudah tidak terpakai. Setelahnya ia sudah tak ingat apapun.

__ADS_1


Tanpa sengaja lengannya menyenggol sesuatu, dan betapa terkejutnya wanita itu. Seorang pria tengah tertunduk di tepi ranjang miliknya.


"Juna!" seru Beauty seraya membangunkan pemuda itu dari tidurnya.


Pemuda itu pun terbangun lalu mengucek-ngucek matanya agar pandangannya terlihat lebih jelas.


"Kamu sudah sadar?" tanya balik pemuda itu.


Bukannya menjawab tanya pemuda tersebut, Beauty malah balik bertanya.


"Apa yang kamu lakukan disini Juna?"


"Aku menungguimu, karena aku khawatir denganmu. Aku tidak bisa menghubungi keluargamu," jujur Juna.


"Maafkan aku sudah merepotkanmu, jadi saat ini biarkan aku sendiri," pinta Beauty.


"Tapi____"


"Aku mohon please! biarin aku sendiri dulu Juna," ucap Beauty dengan nada memohon dengan raut wajah sedih.


Juna pun mengalah, lalu pemuda itu pun bangkit dari tempat duduknya.


"Baiklah, aku pergi dulu. Tapi saranku lebih baik kamu menerima fasilitas yang perusahaan berikan. Karena keamanannya sudah terjamin, setelah kejadian ini aku tak tenang jika harus membiarkanmu sendiri."


Beauty pun tercenung. Wanita berlesung pipi itu belum sadar sepenuhnya. Kemudian Juna melanjutkan ucapannya kembali.


"Kejadian terkuncinya kamu dikamar mandi itu bukan suatu kecelakaan tapi faktor kesengajaan. Aku takut ada seseorang yang sengaja berniat menyelakaimu jika disaat kamu sendiri," ungkap Juna dengan lugas.


"Aku akan memikirkannya kembali Jun."


"Baiklah, aku pergi dulu."


Ada nada kecewa dari ucapan pemuda tersebut. Seharian ia merasa khawatir akan wanita yang juga menjabat sebagai sekretarisnya karena pingsan yang cukup lama. Setelah sadar, wanita itu malah memintanya untuk pergi.


"Maafkan aku Jun," lirih Beauty seraya menatap kepergian pemuda yang sudah menghilang dibalik pintu kamarnya.


Entah apa yang sedang ia fikirkan, untuk saat ini ia hanya ingin sendiri. Sesuatu memaksanya untuk menyendiri.


Setelah kepergian Juna, tiba-tiba saja rasa mual kembali menyerang. Beauty pun berlari ke westafel untuk mengeluarkan sesuatu yang mengaduk-ngaduk lambungnya. Namun hanya air yang keluar karena sedari siang dirinya belum sempat makan akibat pingsan.


Tiba-tiba saja wanita itu teringat akan sesuatu. Matanya membulat karena ia baru mengingat suatu hal yang terlupakan olehnya.


"Tidak! tidak mungkin. Itu sangat mustahil bagi wanita mandul sepertiku," gumamnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2